
"… Siapa namamu, Manusia?" tanya gadis penyihir yang sekarang masih ditangisi oleh Afra.
Afra mulai menghapus cairan bening yang ada di mata dan wajahnya. "Afra, namaku … Afra Afifah," jawabnya sambil menatap kembali netra gradasi Aura.
Aura kembali diam dan hanya bisa diam. Membiarkan gadis manusia itu menatapnya dengan rasa penuh air mata. Ia mulai membuka mulutnya lagi.
"Aura," ucap gadis penyihir membuat Afra terkejut, "panggil aku Aura, ya!"
Senyuman penuh kegembiraan langsung tercipta di wajah Afra, dilanjutkan dengan anggukan kepala. "Ya, Aura!" jawab Afra dengan senyuman senangnya.
Aura langsung membalas senyuman Afra dengan senyuman yang sama. Perasaan lain mulai tercipta dalam dirinya. Setelah semua yang terjadi antara dirinya dan gadis manusia itu.
"Aura … ya. Itu nama yang bagus."
***
Siang berlalu, senja pun mengikuti. Sinar rembulan pun bersinar di malam yang sudah dipenuhi butiran bening. Suara yang dihasilkan memberi kesan ketenangan meski sebenarnya membisik.
.
Genangan bening seketika menjadi sama dengan tanah, setelah satu langkah kaki menginjaknya. Titisan air dari langit masih menetes dan kembali menciptakan alunan lingkaran di genangan tersebut.
.
Suara rintihan dunia mulai terdengar menggema. Terus berulang dan menjadi nada yang semakin cepat. Semakin cepat dan semakin terdengar keras di lorong pendengaran. Bersamaan dengan langkah kaki yang kembali mengiringi.
.
Suara yang sama.
.
Terdengar.
.
Lagi.
.
Dan lagi.
.
.
Sampai pada satu titik terakhir.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Aaah, membunuh itu menyenangkan, ya …."
.
.
.
"Tapi, aku masih penasaran."
.
.
.
"Dengan manusia itu."
.
.
.
.
.
.
Iylasvi, itulah yang menjadi inti dari sisa merah dan berbagai macam jenis kesenangan nafsu.
Bulan purnama mulai tersamarkan oleh awan, sedangkan hujan semakin menangisi potongan demi potongan benda hidup. Basah dengan air merah yang warnanya memudar karena air bening, inti dan isi dari potongan hidup itu diikutsertakan dalam kemerahan ini. Merah dalam gelapnya malam dan sunyi suara hujan.
Bergantian dengan dialog di atas, titik-titik yang menjadi satu barisan kosong itu berisi sebuah cerita singkat. Tentang bagaimana nasib sang langkah kaki yang menapakkan kakinya pada genangan air di tengah hujan.
Empat langkah kaki. Tidak, lebih dari itu. Dua laki-laki yang melangkah dengan keringat dingin di tengah hujan, sedangkan satu gadis kecil tampak diam dan menatap kepergian mereka.
Suara napas panjang yang diputuskan oleh kecepatan kaki tercipta dari kedua pemuda tinggi itu. Ekor panjang di tubuh keduanya ikut bergerak sebagai tanda. Keduanya tentu saja makhluk, atau bisa disebut sebagai siluman. Siluman yang sudah siap untuk mendapatkan akhir dari gadis kecil bernetra api kristal.
"Hihi."
Tawa dilakukan oleh gadis berambut hijau dengan netra merah api kristal itu. Bersamaan dengan berhentinya pergerakan kedua pemuda siluman itu, kegelapan menyelimuti keduanya. Kedua pemuda itu bercahaya setelah kegelapan menyelimuti tubuh keduanya.
"Green blood," ucap gadis berambut hijau itu dengan tongkat sihir yang diarahkan pada dua pemuda itu. Dua pemuda yang kini mulai terselimuti cahaya hijau.
.
Suara teriakan langsung terdengar dan mengalahkan rintikan air bening yang masih terus berbunyi. Teriakkan penuh derita dan lara sampai tulang-tulang putih terlihat dari cahaya hijau yang mulai memudar.
Senyuman tipis langsung diutarakan oleh gadis berambut hijau. Melihat kedua pemuda yang kini sudah terpotong-potong tubuhnya menjadi beberapa bagian dengan tulang putih yang terlihat. Cairan merah kental membasahi tulang putih dan daging tubuh yang terpisah-pisah itu.
.
__ADS_1
Tubuh yang terpotong dan tak bisa menyambung, teriakkan jiwa penuh derita. Dan juga, merah darah di tengah hujan tanpa warna. Sang inti pembunuhan ini hanya bisa tersenyum tipis dan menghampiri kedua pemuda yang sudah tidak bernyawa. Dan juga, tak punya belenggu.
"Aaah, membunuh itu menyenangkan, ya …," ucap gadis berambut hijau itu sembari menyentuh potongan tubuh penuh darah.
.
Air merah langsung keluar dari potongan tubuh yang disentuh oleh gadis itu. Layaknya air tenang yang dilemparkan batu, cipratan darah tentu mengenai pakaian dan wajah sang gadis.
"Tapi, aku masih penasaran," ucapnya lagi seketika menciptakan hal baru.
Suara derita yang sebelumnya menghilang kembali terdengar. Bukan hanya membisik, tetapi membentak. Seakan memaksa agar kembali pada kehidupan semula.
.
"Dengan manusia itu," ucap sang gadis dengan netra merah kristalnya yang memberi kesan tajam.
Gadis penyihir yang entah bagaimana bisa menjadi pembunuh. Rambut hijau dengan netra merah, gadis penyihir bernama Iylasvi itu sudah di luar pemikiran.
***
Di tempat penyihir lain. Sebuah ruangan yang di isi oleh dua makhluk. Satu penyihir dan satu manusia. Keduanya saling diam membisu sekarang.
.
Semuanya benar-benar berubah, ya, batin Afra yang kini sedang melihat tangisan langit.
Kini, Afra bisa melihat pemandangan di luar dengan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang hanya terlihat putih dan kosong. Netra birunya menatap dengan tatapan setengah. Kekosongan sedikit tersirat di sana.
Gadis manusia bernama Afra itu, kini sedang duduk di ranjang. Sedangkan gadis penyihir yang sudah menerima nama 'Aura' sebagai identitasnya itu hanya diam. Duduk di kursi dan menatap gadis berambut hitam kebiruan itu.
"Akh."
Suara lirih karena lara berhasil membuat Afra mengalihkan pandangannya. Ia menatap Aura yang kembali menyuarakan sedikit rasa sakit.
"Aura!" Afra langsung beranjak dan menghampiri gadis berambut merah muda.
Aura memegang perutnya sendiri. Rasa sakit kembali timbul di balutan putih pada tubuhnya. Afra sedikit kebingungan karena tidak terbiasa dalam situasi seperti ini.
"Lukamu … kembali terasa?" tanya Afra langsung membuat Aura berhenti memegangi perutnya.
Gadis dengan warna mata gradasi itu langsung menatap mata biru Afra. Afra tertegun dan tak bisa apa-apa selain membiarkan mata itu menatapnya.
Aura terus menatap Afra sampai tangannya mulai mendekatkan ke wajah putih Afra. Afra diam tak bergerak, sedangkan Aura mulai menunjukkan wajah aneh. Serius, tetapi menyiratkan pertanyaan.
"Kau …," ucap Aura berhasil menciptakan tanda tanya di kepala Afra.
Afra memiringkan kepalanya sehingga tangan Aura terlepas dari wajahnya. Aura pun langsung menurunkan tangannya dan mengalihkan pandangannya dari Afra.
"… Bukan apa-apa," sambungnya setelah menjeda ucapannya.
Afra tetap pada dirinya sendiri. Diam dan tidak ambil peduli. Tidak, lebih tepatnya tidak ambil pikiran penuh. Ia hanya kembali ke posisi normal lalu duduk di ranjang sementara gadis penyihir tetap duduk di kursi.
"Hari sudah malam, lebih baik kau tidur di sini. Tidak ada tempat di dunia ini," kata Aura sambil beranjak dan menghampiri pintu.
Afra hanya bisa mengangguk dan tidak mengeluarkan kata-kata. Gadis penyihir itu mulai menutup pintu dan jendela juga ikut tertutup. Tidak ada lagi pemandangan sedih dari langit sekarang. Afra mulai membuka mulutnya.
"Aura," panggil Afra membuat Aura diam sejenak. Gadis penyihir itu menghampiri Afra.
"Sepertinya … aku harus pergi, sekarang,"
__ADS_1