Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Es dan Lava


__ADS_3

"Es beku, nafas salju!"


Seketika, kabut putih tiba-tiba menyelimuti seluruh hutan, termasuk di sisi hutan tempat Afra berdiri saat ini. Kabut putih itu terasa sangat dingin, dan benar saja.


Tanah dan rerumputan seketika mulai berubah warna menjadi putih. Beku, dan dingin. Itu yang Afra rasakan sekarang.


"Apa … ini?" tanya Afra penasaran dan penuh tanda tanya.


Suara langkah kaki mulai terdengar, dan … kelima temannya mulai datang menghampirinya.


"Afra!"


Afra pun langsung menoleh dan mendapati teman-temannya yang menghampirinya, "Aura? Ada apa?" tanya Afra pada Aura yang terlihat khawatir itu. Namun, belum sempat Aura menjawab, cahaya merah mulai bersinar terang di sebelah mereka, dan … ledakan pun terdengar.


Semuanya membelalakkan matanya dan tertegun, setelah melihat dan mendengar ledakan yang sepertinya tercipta dari serangan.


"Sira," lirih Phia terdengar semuanya, dan … sayap putih nan lebar muncul di belakang tubuhnya.


Phia langsung terbang dengan sayapnya yang tak bersuara, dan membuat semuanya membelalakkan mata.


"Cepat, ikuti Phia!" perintah Vendry dengan tegas dan cepat.


Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, dan Vendry. Mereka berlima pun berlari mengejar Phia yang sudah duluan terbang menuju tempat asal ledakan itu.


***


Ini adalah kejadian yang terjadi sebelumnya.


.


.


.


Kejadian setelah Sira pergi mencari angin di hutan.


.


.


.


"Hoam … akhirnya ketenangan!" kata Sira dengan lega sembari bersandar di pohon yang ada di belakangnya.


Angin sepoi-sepoi berhembus meski kini terasa dingin dan mulai kencang. Awan putih sudah mulai menggelap dan menutupi langit biru yang cerah. Meski begitu, Sira tidak peduli dan tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


Sira mulai menutup matanya dan menghela napas panjang. Membiarkan angin sepoi-sepoi mulai berhembus dan memberi hawa dingin yang mencekam. Bagai sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.


.


.


"Hm?"


Sira membuka matanya dan mengusap wajahnya. Air menyentuh wajahnya, tetapi rasanya tidak seperti air. Panas dan agak lengket.


"Apa ini?" tanya Sira sambil melempar air berwarna merah api ditangannya jauh ke dalam hutan.


Seketika, ledakan langsung terjadi dan hampir membuat pepohonan hutan terbakar habis. Sira terkejut dan beranjak, tetapi belum beberapa lama ia berdiri…


"Sira Siveria,"


Sira menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apapun. Meski ia mendengar jelas bisikkan itu, tetapi tetap saja. Tidak ada apapun. Sira mulai menatap kegelapan dengan memejamkan matanya, lalu menghembuskan napas perlahan.


"Air membeku, menjadi es," lirih Sira dengan penuh keseriusan.


Seketika, hawa dingin mulai menyelimuti. Rerumputan hutan mulai membeku dan embun mulai tercipta di dedaunan pohon. Menetes dan menyentuh tanah, sehingga kristal es yang tajam muncul dari dalam tanah. Cahaya api mulai terlihat bergerak dan berpindah-pindah. Sira masih memejamkan matanya.


"Livra, pengendali lava!" Sira langsung membuka matanya dan mendapati makhluk perempuan dengan empat tanduk di kepalanya. Makhluk itu sekarang tepat berada di depannya.


"Heeh, kau ingat, ya, Rekan satu kelas?" kata Livra, siluman perempuan dengan wujud iblis itu.


"Lava!" ucap Livra langsung menyebarkan lavanya sesuai dengan es milik Sira.


Sira terkejut dan langsung mengeluarkan pelindung es. Namun, lava itu langsung menjadi ombak air dan melewati pelindung es nya.


"Es!" ucap Sira langsung membekukan lava itu. Namun…


Cahaya tiba-tiba bersinar di bawah kaki Sira. Dan … ledakan api mulai menyembur tepat setelah cahaya itu menghilang. Livra yang melihatnya tersenyum miring.


"Kemampuan mu belum berkembang, ya?" ejek Livra dengan penuh kesombongan.


Hawa dingin kembali terasa. Es yang menjadi air mulai membeku lagi. ******* napas mulai terdengar dan Livra pun bersiap-siap. Menoleh dan melihat sekelilingnya, sampai…


"Beku!" teriak Sira tiba-tiba muncul di belakang Livra. Livra terbelalak. Dan…


Kristal es raksasa muncul dari bawah Livra dan menghilangkannya dari pandangan Sira. Namun, Livra tentu saja menyadarinya.


"Lava!"


Ledakan lava bagaikan gunung meletus kembali terjadi, tetapi Sira sudah berhasil menghindarinya.

__ADS_1


Es kembali dikeluarkan, tetapi kini muncul dari atas langit. Livra menahannya dengan mengeraskan lava panasnya.


Serangan demi serangan, kekuatan demi kekuatan. Api membakar hutan, sementara es membekukannya. Air memadamkan api kemudian membeku, sedangkan lava mencairkan es lalu menyatu dengannya.


.


.


.


Ya, begitulah yang terjadi sampai semua serangan mereka berdua terdengar, terasa dan terlihat oleh semuanya.


---------------------------------


Es dan lava. Berawal dari air membeku dan api yang menirukan wujud air. Kelima murid akademi Arknest ini sudah sampai di tempat ledakan itu. Namun, mereka terkejut dan terbelalak. Sesosok makhluk dengan wujud iblis sedang bertarung dengan Sira sekarang.


"Beku! Beku!" teriak Sira melancarkan kristal-kristal es dari tangannya.


Makhluk itu tampak diam dan membiarkan kristal-kristal es itu sampai di depannya. Makhluk itu tersenyum lalu membuat semua kristal-kristal es itu meleleh dengan aura apinya.


Makhluk perempuan dengan empat tanduk di kepalanya, rambut putih dan netra biru kristal. Ia bukanlah ras iblis, tetapi wujudnya seperti ras iblis. Dan sepertinya, ia bukan makhluk biasa.


"Panas itu dingin, sedangkan dingin itu panas," gumam makhluk perempuan itu seketika muncul di belakang Sira dan memukul lehernya.


Sira pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Semuanya semakin membelalakkan mata dan mulai bersiap untuk menyerang. Namun, sebuah tekanan kuat tiba-tiba mulai dirasakan oleh beberapa murid akademi ini.


"Livra!" teriak Phia membuat semuanya tidak bisa bergerak. Ya, Phia lah yang sudah mengeluarkan tekanan kuat itu.


Tidak ada yang bisa bergerak, kecuali Afra. Afra benar-benar tidak merasakan apapun, tetapi ia tidak bergerak sama sekali dan hanya melihat. Sesosok makhluk yang dipanggil Livra oleh Phia itu terdiam dan tidak bisa bergerak.


Phia menatap mata Livra sehingga Livra tidak bisa bergerak. Sampai akhirnya Livra juga ikut terjatuh dan tak sadarkan diri, begitu juga dengan Phia. Tekanan kuat itu menghilang dan semuanya hampir kehilangan keseimbangan, kecuali Afra. Namun, waktu tiba-tiba berhenti sebelum semuanya kembali bergerak.


Hanya Afra yang masih dalam keadaan normal saat ini.


"A –apa yang terjadi? Ada apa ini?" tanya Afra terkejut dan kebingungan melihat semuanya yang menjadi hitam putih. Hanya dirinya yang masih berwarna di sini.


Afra melihat sekeliling dan mencoba mencari sesuatu. Ia melangkahkan kakinya dan menghampiri teman-temannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Sampai…


"Hai, Afra Afifah," kata Viesta tiba-tiba muncul di belakang Afra.


Afra terkejut saat mendapati senior pengendali waktu itu muncul.


"K –kau—"


"Sudah saatnya … mengulangi waktu, Manusia," potong Viesta membuat Afra terkejut dan ketakutan.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang setelah mendengar perkataan Viesta yang mengucapkan kata 'manusia'. Semuanya terasa seperti sudah berakhir bagi Afra.


"Modoru … Ningen!"


__ADS_2