
"A –Aura!" ucap Afra menyebutkan nama gadis itu. Ya, gadis itu adalah Aura, teman pertamanya.
Meski, ekspresi Aura seketika langsung menunjukkan tanda tanya saat Afra menyebutkan kata 'Aura'.
"Aura? Siapa itu? Apa kau menyebutku dengan nama 'Aura'?" tanya Aura membuat Afra terbelalak. Perasaan penuh ketidakpercayaan semakin menjadi-jadi saat mendengar perkataan dari temannya itu.
"B –bukankah itu namamu? Apa kau tidak ingat?" tanya Afra masih dengan mata terbelalak.
Gadis penyihir itupun langsung menggelengkan kepalanya, "aku tidak ingat apa-apa tentang nama itu. Lagipula, aku tidak punya nama," jawabnya membuat Afra semakin tidak percaya.
Ya, benar-benar penuh dengan ketidakpercayaan. Afra semakin melebarkan matanya dengan mulutnya yang sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Setelah mendengar kata 'aku tidak punya nama'.
Suara kosong tercipta. Tidak ada kata-kata yang keluar dari kedua mulut gadis itu. Sang penyihir tampak memiringkan kepalanya dan mencoba memeriksa ekspresi gadis manusia. Mata terbelalak dengan wajah yang masih bergeming ditunjukkan oleh Afra sedari tadi.
"Halo? Kenapa kau diam?" Aura memecahkan rekor kekosongan Afra. Tidak, gadis penyihir itu saja tidak punya nama, tetapi 'Aura' memanglah namanya. Meski nama sebelum pengulangan waktu.
Afra kembali kepada jiwanya. Ia masih tidak bisa mengatakan apapun meski sudah menatap mata gadis penyihir itu dengan mata yang memantulkan cahaya. Tentu, itu membuat gadis penyihir berjubah menghela napas panjang.
Aura berjalan menghampiri Afra yang sudah semakin melebarkan matanya. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Afra dan perasaan labil sudah menyelimuti. Tanpa basa-basi, Aura pun duduk di kursi yang di ambilnya dari bawah ranjang tempat Afra duduk.
Afra terus memfokuskan pandangannya pada gadis penyihir yang ia anggap teman itu. Meski sekarang gadis itu tidak menganggap dirinya sebagai teman. Gadis penyihir itu saja bilang sendiri kalau dirinya tidak mempunyai nama.
Sentuhan tangan langsung mendarat di dahi Afra. Afra tentu semakin terkejut.
"Tidak panas," lirih Aura masih terdengar oleh Afra.
Aura mengalihkan tangan dan pandangan pada lemari di belakangnya. Ia beranjak menghampiri dan mengambil sesuatu dari dalam benda yang terbuat dari kayu itu. Ia pun kembali pada sang tokoh utama.
"Ini, makanlah!" Aura memberikan makanan yang dibungkus daun.
__ADS_1
Afra memandang bungkus makanan yang sudah berada di tangannya itu. Kepalanya mulai dimiringkan dan memunculkan tanda tanya.
"Kau itu manusia. Sekuat apapun dirimu kau tetap akan mati jika tidak makan!" tegas Aura semakin menimbulkan tanda tanya di benak Afra.
Meski begitu, gadis manusia itu hanya bisa diam dan mengangguk kecil. Kini ia menyadari sesuatu. Gadis penyihir itu tidak mengenal dirinya sebagai monster, melainkan manusia.
Bungkus makanan mulai dibuka oleh Afra. Meski ia tidak merasakan lapar akhir-akhir ini, ia tidak mungkin mengembalikan apa yang sudah diberi?
Afra pun mulai memakan makanan itu, begitu juga dengan Aura. Gadis penyihir itu tentu membawa bungkus makanan lagi untuk dirinya sendiri. Ketenangan menyelimuti keduanya.
Rumah kecil yang hanya memiliki satu ruangan. Semuanya seakan digabung menjadi satu meski tidak semuanya. Pemandangan di luar tidak bisa dilihat oleh Afra meski pintu rumah masih terbuka. Ia akhirnya kembali makan dengan lahap dan tenang.
***
Masih pada mentari pagi yang belum menampakkan diri dengan sempurna. Kapas putih yang entah bisa dipijak atau tidak itu masih menyelimuti. Lukisan biru baru bisa dipandang sedikit bagi yang berada di luar.
Gadis berambut hitam kebiruan itu tampak diam dan masih dalam posisi duduknya. Matanya tetap memandang gadis penyihir yang entah sedang melakukan apa di dekat meja.
"Sudah saatnya untuk kembali ke awal, Manusia!" lirih Aura dengan nada yang terdengar tajam. Afra tertegun dan tak bisa apa-apa. Namun, ia tidak mungkin diam saja.
"A –apa maksudmu, Aura—"
"Jangan panggil aku dengan nama itu, Manusia! Kau bukanlah makhluk yang boleh hidup di sini!" potong Aura dengan tegas dan menatap tajam mata Afra.
Afra benar-benar terkejut dan tak bisa berkata-kata. Ia mulai menundukkan kepalanya dan diam membisu. Meski demikian, Aura tetap pada tatapan tajamnya dan tidak mempedulikan Afra.
"Kenapa? Apa karena aku manusia, aku tidak boleh hidup?" tanya Afra dengan kepala tertunduk.
Aura mulai mengepalkan tangannya, "sifatmu ternyata tetap sama saja dengan mereka yang sudah mati!"
.
__ADS_1
Seketika, Afra langsung mendapatkan keringanan di tubuhnya. Tidak, lebih tepatnya, ia terangkat dan tidak bisa menyentuh tanah. Kedua tangannya tiba-tiba terentang lebar dan diikat oleh lingkaran sihir berwarna kuning. Lingkaran sihir itu mengikat kedua pergelangan tangan dan juga kedua kakinya.
Menghilang. Itulah yang terlihat pada pergelangan tangan Afra. Ia masih merasakan tangan dan kakinya yang masih utuh, tetapi ia tidak bisa melihatnya. Matanya tentu terbelalak dan kembali menyinarkan titik cahaya.
"Aakh!" Afra mengeluarkan suara penuh kesakitan.
Rasa sakit yang terasa sangat sakit. Kedua tangan dan kakinya seakan-akan mulai terpotong oleh lingkaran sihir itu. Gadis penyihir tentu tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Afra.
"Manusia, bagaimana kau bisa ada di sini hah! Seharusnya kalian semua sudah mati!" tegas Aura membuat lingkaran sihir yang mengikat tubuh Afra semakin kuat.
Suara rasa sakit keluar dari mulut Afra. Pengambil dan penggeraknya terasa mulai hilang. Lenyap dengan kikisan penuh tanda merah. Udara yang mulai terpotong-potong dihembuskan olehnya.
Aura semakin mengeraskan kepalan tangannya. Ekspresi api ditunjukkan olehnya. Afra tidak percaya melihat raut wajah temannya itu. Ya, temannya yang sudah tidak mengenalinya.
"Kau … berasal dari 'sana', ya?" tanya Aura membuat Afra terbelalak.
Kosong. Gadis berambut hitam kebiruan itu mulai menghilangkan jiwanya. Tidak ada ekspresi yang tercipta di wajahnya, termasuk netra birunya. Meski lingkaran sihir di kedua tangan dan kakinya semakin menyinarkan sinar rasa sakit, itu tidak membuatnya tersadar dari kehampaan.
"Hihi."
Suara tawa terdengar di telinga Afra. Suara merah yang sangat dikenalnya. Suara yang hanya bisa didengar olehnya.
"Biarkan aku yang menjawabnya, Afra!"
Bisikkan penuh makna yang memberi kesan darah bagi Afra. Ilva, sang gadis monster yang berada di dalam tubuh Afra mulai menunjukkan jati dirinya. Netra biru yang perlahan diselimuti warna merah. Optik itu sudah berubah sempurna seperti darah.
Bayangan hitam yang terselimuti merah darah seketika muncul pada diri gadis manusia. Mata dan rambutnya berubah menjadi merah. Namun, ekspresinya masih tetap sama. Meski itu membuat gadis penyihir dengan jubah itu terkejut.
Netra gradasi milik Aura terbuka lebar, begitu juga dengan mulutnya yang mulai membuka tak mengeluarkan suara, ataupun hembusan napas. Kakinya mulai melangkah ke belakang, meski tubuh yang bergetar membuatnya tidak bisa apa-apa.
Optik merah gadis manusia mulai menciptakan jiwa jahat. Senyuman miring ditampilkan pada gadis penyihir.
__ADS_1
"Heeh, kau hanya pintar bicara, ya, Penyihir tanpa nama!"