Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Pergi


__ADS_3

"Aura," panggil Afra membuat Aura diam sejenak. Gadis penyihir itu menghampiri Afra.


"Sepertinya … aku harus pergi, sekarang," ucap Afra membuat gadis penyihir itu terbelalak.


"Tidak!" Aura berkata dengan tegas. Afra langsung tertegun dengan matanya yang spontan melebar.


"Kau tidak bisa pergi dari sini! Kau harus tetap di sini, Afra!" tegas Aura dengan kedua tangannya yang menggenggam erat tangan Afra. Afra tidak bisa apa-apa.


.


Sunyi tanpa suara. Air mata langit menjadi alunan musik yang hampa. Menghilangkan ketenangan dan kedamaian sementara dari kedua gadis itu. Mata mereka saling bertemu dan bertatapan. Tangan yang menggenggam mulai memberi kehangatan dan keheningan.


Spontan, Aura langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengalihkan pandangannya. Afra masih dalam keadaan tenang namun terkejut.


"Kau baru saja sadar, jadi … lebih baik kau tidur saja di sini. Aku akan pergi keluar sebentar," ucap Aura lirih lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


Afra hanya bisa menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Aura. Ia kembali mengingat kejadian setelah gadis penyihir itu menerima nama 'Aura' sebagai namanya.


Aura melirik Afra sejenak, lalu kembali berjalan keluar dari ruangan yang ia sebut rumah itu. Rumah yang sekarang sedang ditempati oleh gadis manusia. Afra masih dalam posisi tertunduk.


"Aku … ternyata lupa, kalau aku kembali ke sana," gumam Afra kembali membangun ingatan setelah perkenalan.


.


.


.


.


.


.


Sebelumnya…


.


.


.


.


Aku … ada di mana?


Apa aku … ada di sini?


.


"Selamat datang, Manusia."


.


Hitam dan putih, begitulah. Gadis manusia berambut hitam kebiruan itu sudah berada di sini, bersama dengan gadis berambut hitam kemerahan. Ya, belenggu dengan dua jiwa di dalamnya. Kini, dua jiwa itu kembali bertemu di tempat ini.


Gadis manusia menoleh dan berbalik, menghadap pada sang alter. Mata merah dari sang alter langsung membuatnya kehilangan jati diri. Awal terbelalak langsung berubah menjadi satu kekosongan tanpa makna.


"Hihi." Tawa Ilva menciptakan kembali titik cahaya di netra biru Afra.


Ilva, sang alter dan Afra, sang tokoh utama.


Afra kembali melebarkan matanya sejenak dan menatap netra merah Ilva. Ilva menyimpulkan senyuman tipis. Afra pun mulai berbicara.

__ADS_1


"Aku … kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Afra penasaran dan tetap pada posisi tenang. Matanya tidak langsung menghilangkan cahaya.


Ilva memunculkan sebelah gigi taringnya, "ya, apakah itu penting?"


Afra hanya bisa diam sejenak dan kembali berkata, "baiklah. Seharusnya aku tidak perlu menanyakan apapun lagi padamu," ucapnya datar dan menunjukkan senyuman, meski hanya setipis kertas.


"Heeh, kau sudah lebih baik rupanya, Manusia." Afra melebarkan matanya setelah mendengar perkataan sang alter.


.


.


.


Tiga langkah kaki dilakukan oleh gadis bermata merah itu. Tubuhnya senantiasa diselimuti aura merah bagaikan darah. Lantai berpola kotak-kotak berwarna hitam dan putih memberikan cahaya penglihatan. Kegelapan selalu menyelimuti ruangan ini.


Afra tetap diam dan tidak menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Hanya napas normal yang ia laksanakan. Tak lupa detak jantung yang hampir tidak ia dengar setiap kali berbunyi.


Hawa dingin dari tangan putih milik Ilva langsung membuat Afra terkejut dalam diam. Tangan itu menyentuh dan mengelus wajah Afra, sedangkan napas panjang langsung masuk ke lorong gelap miliknya.


.


"Jangan percaya siapapun, meski itu dirimu sendiri, Afra Afifah."


.


Bisikkan penuh makna dan tanda seru. Bagaikan embun di malam hari, Afra hanya bisa diam dan tidak mengatakan apa-apa. Ilva tersenyum setelah membisikkan kalimat itu pada dirinya yang lain. Ya, Afra lah dirinya yang lain itu.


.


.


.


"Apa … tujuanmu kali ini, Ilva? Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal seperti itu? Hal-hal yang selalu … membuatku diam karena ketidaktahuanku akan hal itu? Hal yang … kau katakan itu … kenapa?"


Afra hampir mengeluarkan semua pertanyaan dari dalam kepalanya. Ya, ia langsung mengatakannya dalam satu baris. Setiap jeda ia ambil untuk napas sejenak.


Empat pertanyaan. Keempat tanda tanya itu hanyalah pertanyaan yang tercipta dari kalimat milik Ilva. Satu kalimat yang diucapkan oleh Ilva langsung dibalas dengan empat pertanyaan oleh Afra. Ilva tetap pada dirinya.


"Heeh, kau cukup berani, ya," ucap ilva tak menjawab satupun dari empat pertanyaan Afra.


Afra tetap menundukkan kepalanya. Aura dingin dan keinginan untuk mendapatkan jawaban seakan tercipta dalam diri Afra, meski Ilva tetap pada pendiriannya.


"Ilva, kenapa …? Apa kau tidak bisa menjawabnya?" tanya Afra lagi dengan kepalanya yang masih setia menunduk. Ilva mulai merasakan keanehan dalam dirinya setelah mendengar perkataan Afra.


"Sifatmu mulai terlihat, ya, Manusia!"-Ilva menghela napas kasar-"Baiklah, aku akan menjawab ini dengan singkat, Afra!" jawab Ilva dengan tegas dan langsung menghilang.


Afra tentu menyadarinya. Keberadaan Ilva yang sudah tidak ada di hadapannya. Afra menatap ke depan dan mengarahkan pandangannya ke segala arah. Hanya kegelapan yang ditemukannya.


Meski, hanya beberapa saat saja.


.


"Tujuanku hanyalah … AI, Afra Afifah!"


.


Afra bergeming setelah mendengar bisikan dari sang alter. Tubuhnya tidak terasa ada sama sekali. Bagaikan belenggu yang terlihat, tetapi sebenarnya hanya ilusi. Sesuatu yang tidak nyata dan ada sama sekali.


Ilva memang pergi dan menghilangkan dirinya sejenak, tetapi ia kembali muncul. Menampakkan dirinya dan membisikkan kata-kata itu kepada Afra. Kedua tangannya langsung melingkar di leher Afra.


"Jangan lupakan dua huruf yang menjadi satu pengucapan itu, Manusia!" bisik Ilva tidak pada telinga Afra, melainkan di belakang kepala Afra.

__ADS_1


Afra masih terdiam dengan tubuh yang tidak bisa ia rasakan. Seakan-akan, dirinya sudah tidak memiliki apa-apa selain jiwa. Jiwa yang bahkan entah benar-benar ada atau tidak.


"Hihihi." Ilva tertawa dan menghilangkan dirinya.


Afra langsung mengeluarkan satu napas kasar dari mulutnya, diikuti dengan napas lainnya yang terpotong-potong. Ia kembali mendapatkan rasa atas tubuhnya, tetapi rasa yang didapatnya ialah …


"Akh!"


… rasa sakit.


.


Suara teriakkan menggema di ruang tanpa ujung. Teriakkan dari gadis manusia yang mulai kehilangan kesadarannya. Kegelapan menyelimuti tubuh gadis itu, sementara tawa penuh kesenangan mengiringi.


Afra Afifah, gadis manusia yang hanya bisa menerima semuanya. Semua tentang diri dan kehidupannya. Semua hal yang dialaminya. Takdir, keinginan, pertanyaan, semuanya. Ia hanya bisa menerimanya.


"Akh … sakit …," rintih Afra menahan rasa sakit yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya itu.


Rasa sakit yang entah bagaimana bisa tercipta setelah perasaan memiliki tubuh kembali ada. Afra tidak memegangi bagian tubuhnya sama sekali, tidak seperti pada umumnya ketika rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.


Posisi tegak dengan kegelapan yang mengikat tangan dan kaki. Tubuh yang perlahan terselimuti gelapnya garis hitam hanya bisa diam dan pasrah. Membiarkan rasa sakit menusuk dan mulut yang sudah tak bisa meneriakkan lara.


Hanya pikiran yang tersisa sebagai bentuk komunikasi terakhir.


.


Kenapa? Apa maksudnya ini?


Kenapa … aku … selalu seperti ini?


Kenapa?


Kenapa … Ilva!


.


.


.


"Karena … kau adalah manusia, Afra Afifah!"


.


.


.


Memang apa salahnya … jika aku melakukan ini semua? Bukankah aku hanya … menuruti perkataan mu!


.


.


"Pergi dan jangan percaya siapapun, Afra Afifah!"


.


.


.


Baiklah, jika itu yang kau inginkan, Ilva.

__ADS_1


Aku … hanya bisa menuruti perkataanmu.


__ADS_2