
"Hahahahaha, benar-benar lucu!" tawa Afra membuat Iylasvi kesal.
"Kau! Kembalikan aku menjadi semula!"
"Hahaha, apakah harus? Kau seketika menjadi berbeda, Iyla!" Afra kembali tertawa dan menciptakan kekesalan bagi Iylasvi dan diri Iylasvi yang lain.
Gadis manusia bernama Afra Afifah itu terus tertawa, sedangkan Iylasvi yang kini menjadi dua itu menatap Afra dengan wajah kesal. Hasrat membunuh tidak tercipta lagi dalam dirinya.
Hanya ada kepanikan yang sudah menjadi kekesalan.
"Apa-apaan ini! Bagaimana bisa menjadi dua seperti ini!" batin Iylasvi dan Iylasvi yang lain. Keduanya saling membatin dan meluapkan kekesalan bersama.
Afra berhenti tertawa dan mulai berbicara, "apa aku buat kau menjadi lebih banyak lagi, ya?"
Iylasvi membelalakkan matanya mendengar perkataan Afra itu, "k –kau!"
Afra tersenyum layaknya dirinya yang dikendalikan oleh-'nya'. Iylasvi membelalakkan mata saat melihat dirinya yang semakin bercahaya. Dirinya yang lain ikut bercahaya.
"Aaaaakh!" Iylasvi berteriak kesakitan, begitu juga dengan Iylasvi yang satunya. Dan Iylasvi lainnya tercipta.
Suara teriakkan penuh kesakitan kini terdengar lebih menggaung dari sebelumnya. Iylasvi kini tidak hanya ada dua, tetapi ada tiga. Ukuran tubuh tetap sama dan tidak berubah, hanya diselimuti cahaya hijau saja.
Cahaya hijau yang menyelimuti tubuh Iylasvi sehingga tampak tembus pandang.
"A –apa yang kau lakukan!" teriak Iylasvi bersamaan dengan dua Iylasvi di kanan dan kirinya.
Afra menampilkan wajah terkejutnya yang tampak menikmati kondisi Iylasvi.
"Hanya membelah jiwamu menjadi tiga, Iyla-ku. Hihi," jawab Afra membuat Iylasvi merinding sesaat.
Takut dan terkejut, ketidakpercayaan juga ketidaknyamanan. Kini dirinya sudah tidak bisa melawan Afra. Cahaya terang, ekspresi wajah Afra, atau mungkin aura biru Afra. Entah apa yang sebenarnya ditakuti Iylasvi.
Semuanya terasa tidak bisa dijelaskan. Semua perasaan tercampur aduk dan tidak bisa dipisahkan. Afra hanya bisa menampilkan wajah penuh kepuasan pada Iylasvi.
"Sampai … dirimu menghilang dan tak terlihat, hahaha!" sambung Afra membuat Iylasvi semakin terkejut dan terbelalak.
Tubuh Iylasvi kembali diselimuti cahaya, begitu juga dengan dua Iylasvi di sisi dirinya yang asli. Iylasvi yang asli diselimuti cahaya hijau, sedangkan Iylasvi lainnya diselimuti cahaya putih. Bercahaya, bagaimanapun warnanya tetap saja …
__ADS_1
"Aaaakh!"
… itu membuat Iylasvi semakin kesakitan. Rasa panas dan membakar, menusuk dan terus membuat organ-organ di dalam tubuh bergejolak. Seakan menginginkan kebebasan melihat dunia luar.
Iylasvi yang lainnya seketika menghilang setelah bercahaya. Iylasvi yang asli mulai mendapatkan tubuh alami. Tidak tembus pandang dan terasa nyata. Meski cahaya hijau masih menyelimuti dirinya.
"Huh .. huh .. huh …." Iylasvi mengeluarkan napas penuh kesengsaraan.
Afra mulai menginjakkan kakinya ke tanah dan menggenggam sabit birunya, "tetapi, aku ingin mencoba sesuatu yang lain padamu, Iyla!"
.
"Tidak akan, Manusia!" tegas Iylasvi dengan lantang dan langsung mengeluarkan pedangnya.
Pedang dengan bilah berwarna hitam dan hijau langsung keluar dari tangan Iylasvi. Perasaan tersiksa masih dirasakan olehnya, tetapi ia tentu tidak akan membiarkan perasaan ini terulang. Dirinya sudah satu sekarang, tidak dua dan tidak pula tiga.
Iylasvi langsung melesat dan seketika sudah berada di hadapan Afra. Bilah tajam dari pedang Iylasvi kini siap menusuk leher Afra. Namun, Afra malah tersenyum dan membuat mata Iylasvi terbelalak.
"Hihi," tawa Afra memulai aksinya.
Waktu seakan menjadi lambat. Meski pedang Iylasvi sudah benar-benar hampir menyentuh leher Afra, Afra tetap tenang. Sabit biru mulai diayunkan oleh Afra dan langsung diarahkan pada tubuh Iylasvi.
Bilah tajam sabit biru Afra sudah menusuk tubuh Iylasvi dari samping, tetapi itu tidak hanya memberi rasa sakit. Bercahaya, Iylasvi kembali bercahaya dan seketika menjadi dua kembali.
"Hah …!" Iylasvi membelalakkan mata melihat dirinya yang menjadi dua. Bukan terbelah menjadi dua, tetapi dirinya yang menjadi dua.
Bagai ilusi mata untuk menjebak bahwa ada banyak target yang sama, padahal hanya ada satu targetnya. Itu adalah hal yang terjadi pada Iylasvi dan tentu, ia tidak akan membuang waktu.
Iylasvi langsung mundur menjauhi Afra, begitu juga dengan diri Iylasvi yang lain.
"Haha … ahahaha!" tawa Iylasvi membuat Afra sedikit kebingungan.
"Sepertinya aku bisa menggunakan ini, lho, Manusia!"
Iylasvi langsung melesat, begitu juga dengan Iylasvi yang satunya. Iylasvi yang merupakan belahan dari jiwa Iylasvi asli. Afra membelalakkan mata saat melihat bahwa Iylasvi ada pada kanan dan kirinya.
Afra mengayunkan sabitnya hingga melingkari pinggangnya dari belakang. Iylasvi yang tadinya ingin menusuk tubuh Afra langsung mengambil langkah mundur. Tentu Iylasvi yang satunya mengikuti. Aura biru seketika keluar dari bilah tajam sabit biru Afra dan bergerak menuju Iylasvi dan belahan jiwa Iylasvi.
__ADS_1
Iylasvi yang asli ada di kanan dan belahan jiwa Iylasvi ada di kiri. Tidak, bagaimana kalau menyebut Iylasvi yang satunya dengan sebutan bayangan diri?
"Hihi," tawa Iylasvi seketika kembali bercahaya, begitu juga dengan bayangan diri Iylasvi.
Aura biru yang keluar dari sabit biru Afra sontak lenyap setelah Iylasvi bercahaya. Dan Iylasvi kembali menciptakan belahan jiwa atau bayangan dirinya yang lain. Kini, ia sudah berhasil menggunakan sesuatu yang merupakan dampak aura biru Afra.
"Hahaha!" tawa Iylasvi dan bayangan diri Iylasvi yang kini sudah ada tiga.
Iylasvi masih di arah kanan Afra, sementara bayangan diri Iylasvi ada di kiri, depan dan belakang Afra. Afra membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan Iylasvi.
"Giliranmu untuk merasakan, Manusia!" ucap Iylasvi kini dengan nada khasnya yang cepat dan seperti memainkan alunan nada.
Iylasvi seketika mengangkat pedang hijaunya ke atas dan langsung menancapkan pedangnya pada tanah. Bayangan diri Iylasvi turut mengikuti apa yang dilakukan Iylasvi.
Afra membelalakkan mata saat tanah tempatnya berpijak mengeluarkan cahaya dan pola sihir berwarna hijau. Iylasvi adalah pencipta dari pola sihir ini. Karena Iylasvi langsung tersenyum miring dan mengungkapkan perasaannya.
"Meski ini adalah sesuatu yang membuang mana, akan ku buat kau benar-benar merasakan, Manusia!" Ucapan Iylasvi terdengar menggaung karena ketiga bayangan Iylasvi ikut berkata.
Afra membelalakkan matanya saat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sabit birunya seketika lenyap dan kepercayaan dirinya menjadi seperti-'nya' menghilang. Rasa takut dan rasa sakit, jati diri yang penuh dengan kelemahan.
Afra kembali pada ekspresinya yang normal. Napasnya terengah-engah dan ia langsung terduduk di tanah. Dan suara penuh kesakitan ia keluarkan.
"Aaaakh!" teriak Afra membuat Iylasvi tertawa-tawa.
Pedang hijau yang ditancapkan pada tanah mulai ditarik kembali oleh Iylasvi. Lingkaran sihir yang membentuk pola sihir mulai bercahaya dan semakin bercahaya. Membuat hutan tempat mereka berada menjadi terang.
Afra terus berteriak keras dan menyuarakan rasa sakit yang sebenarnya bukan berasal dari lingkaran sihir Iylasvi. Iylasvi berpikir bahwa teriakkan Afra adalah karena lingkaran sihirnya, meski sebenarnya itu karena ….
"Sayang sekali, kau masih terlalu payah menggunakan 'Ai', Afra!" bisik Ilva dengan suara yang lebih menggaung dari suara Iylasvi.
Ilva Ilyani, monster dalam diri Afra itu akhirnya kembali bertingkah. Dan dia adalah alasan Afra berteriak keras sampai akhirnya …
.
"Ritual es, beringin perpindahan!"
.
__ADS_1
Lingkaran sihir berwarna hijau dengan pola-pola sihirnya seketika mulai mengeluarkan jati diri aslinya. Bersinar dan membuat pandangan mata menjadi putih. Tidak ada lagi kegelapan, hanya ada cahaya putih dari lingkaran sihir berwarna hijau dan hawa dingin.
Ya, hawa dingin yang bukan berasal dari lingkaran sihir itu.