
Kembali lagi ke tokoh utama. Polos dan tidak tahu apa-apa, itu memang menjadi ciri khasnya. Namun, bukan berarti ia tidak bisa apa-apa. Masih ada pemikiran dalam hatinya.
Gang kecil di antara dua bangunan besar. Lorongnya yang gelap meski cahaya mentari sudah bersinar memberi kesan, kalau dirinya bukan tempat yang nyaman. Dan, gadis bermata biru ini terlihat sedang sendirian di gang kecil itu.
"Ilva, tolong bantu aku … mencari assassin semalam!" pinta Afra langsung membuka matanya yang beberapa saat lalu ia pejamkan.
Gadis bermata merah dengan rambut panjang, itu yang langsung Afra lihat setelah membuka matanya.
"Heeh, apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti!" kata Ilva mengelak dan mengalihkan pandangannya dari Afra. Afra terkejut dan tak percaya mendengar perkataan Ilva.
"A-apa … aku harus … mencarinya sendiri?" tanya Afra dengan kepala tertunduk. Afra langsung tertegun dan tak bisa apa-apa setelah mendengar perkataan Ilva. Ya, hanya bisa menurut dan … melakukan.
Ilva tersenyum miring, "ya, dengan kemampuan mu sendiri, Manusia!"
Afra terbelalak mendengar perkataan gadis bermata merah itu. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap mata Ilva. Netra merah itu menatap tajam dirinya yang tak bisa apa-apa.
Gadis yang hidup bersamanya, dan menjadi bagian dari dirinya itu. Gadis yang selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya kebingungan dan penuh pertanyaan. Gadis yang sekarang … sudah menjadi 'tempat bersandarnya' itu.
"A-aku mengerti, Ilva … terima kasih, sudah menjawabnya," lirih Afra berterima kasih, sebelum akhirnya … Ilva langsung terjatuh ke tubuh Afra.
Satu detakan terasa lebih keras dari detakan sebelumnya. Afra melebarkan matanya saat alter nya itu tiba-tiba jatuh padanya. Namun, gadis berambut hitam kemerahan itu langsung memegang wajah Afra dan mulai mendekat ke telinganya.
"Lakukan sampai akhirnya kau kembali padaku, Afra Afifah!" bisik Ilva sebelum akhirnya … menghilang. Bagai sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya.
***
Matahari dan mentari. Jika dipikirkan, mentari lebih condong ke pertemuan. Sedangkan matahari lebih utama dibandingkan semuanya. Meski, itu tidak terlalu penting, sih.
__ADS_1
Sekarang ia sudah di atas kepala, meski waktu selalu berjalan, dirinya juga akan ikut berpindah. Meski yang bergerak bukanlah dirinya.
Awan putih menyelimuti, langit biru tercampur dengan putih, sinar matahari mulai menyengat penerimanya, dan tidak ada yang peduli dengan semua itu.
Tujuh murid akademi Arknest, mereka masih berlarian, terbang, menyamar, berpindah tempat, dan melihat-lihat sekeliling. Semuanya berada di arah tujuan yang berlawanan, dan Afra mendapatkan bagian tengah dari semuanya yang memilih menyebar.
Ya, Afra masih berada di dekat penginapan, lebih tepatnya di gang kecil itu. Gang kecil di antara bangunan penginapan dan bangunan lainnya. Baru beberapa menit berlalu setelah alter dirinya itu pergi, tetapi….
"Kemampuan ku … sendiri … lakukan … sendiri … dengan kemampuan mu," gumam Afra sambil menatap langit siang yang panas lagi kan silau, tetapi Afra tak acuh dengan itu.
Matanya benar-benar kosong. Tak ada paparan cahaya di matanya, dan juga … raut wajahnya terlihat seperti makhluk-makhluk di luar gang kecil itu. Ya, bahkan melebihinya.
Mata kosong, wajah datar tanpa senyuman, dan … otak yang sudah berhenti mengeluarkan tanda tanya.
"Assassin … perempuan itu seharusnya di sekitar sini," lirih Afra langsung mengalihkan pandangannya ke atap-atap rumah dan bangunan.
Satu persatu, ia mengalihkan pandangannya dari satu atap ke atap lain. Kegelapan gang tidak menghalanginya untuk mencari titik hitam di penerangan surya. Dan, mulailah melebar mata Afra setelah menemukannya.
Kekuatan manusia. Bertahan dan menerima semuanya, apapun itu. Itulah kekuatan dari Afra. Meski, itu adalah hal yang biasa untuk manusia, bukan untuk makhluk.
Keluar dari gang, menoleh kanan kiri, kembali berlari dan berusaha tidak menabrak makhluk yang berlalu-lalang. Afra terus mengubah pandangannya dari jalanan ke atap bangunan, dan terus mengawasi sosok makhluk yang masih setia di sana.
Tatapan matanya yang mulai mengecil, sehingga cahaya semakin hilang dari matanya. Itu membuatnya semakin tak terkendali. Ketidakpedulian terhadap sekitarnya, dan tetap pada tujuannya. Sehingga ia sampai di sebuah bangunan dengan tangga di dinding-dinding nya.
Afra menapakkan kakinya di anak tangga dan berjalan menuju tempat teratas dari bangunan itu. Dengan matanya yang terus melihat sosok itu, ia terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya….
"Aku menemukan mu, Assassin!" ucap Afra dengan nada penuh kemenangan. Matanya mulai memantulkan cahaya surya dan bersinar. Memandangi … makhluk dari bangsa werewolf itu.
__ADS_1
Rambut panjang berwarna hitam dengan telinga di atas kepalanya, netra orange bagaikan api yang menyerupai warna jeruk, dan mulutnya yang memegang ranting kecil. Kulit putih bening dan raut wajah yang tampak tidak ingin basa-basi.
Perempuan dari bangsa werewolf itu mengambil ranting kecil di mulutnya dengan kedua jarinya, "kau menemukanku, Gadis malam," ucapnya tersenyum tipis dan membuang ranting kecil di antara dua jarinya itu.
Nafas terengah-engah, itu yang Afra rasakan saat ini. Werewolf perempuan dihadapannya itu hanya diam melihatnya. Sedangkan dirinya, masih berusaha untuk menghilangkan rasa kelelahannya itu.
"Ras mu itu, apa kau benar ras monster?" tanya werewolf perempuan itu sambil mensejajarkan tinggi badannya dengan Afra.
Afra menatap netra orange werewolf itu. Tatapannya terlihat biasa saja, dan tidak berlebihan. Ya, werewolf perempuan itu tidak menunjukkan ekspresi wajah yang sesungguhnya. Hanya setengahnya saja.
"Ya, aku … adalah monster, dan kau … assassin yang semalam 'kan?" jawab Afra dengan nafas terputus-putus dan memberi pertanyaan pada werewolf perempuan dihadapannya itu.
Werewolf berambut hitam itu mengangguk sebagai jawaban iya, lalu mengeluarkan sesuatu dari pakaiannya.
"Aku juga yang mengambil dua surat ini," tutur werewolf perempuan itu kembali ke posisi tegaknya, dengan tangannya yang menjepit dua surat milik ketujuh murid akademi ini.
Afra mulai tersenyum senang, tetapi senyuman itu langsung menghilang dengan tatapan terbelalak saat…
"Black assassin!" teriak Yuu tiba-tiba muncul di belakang werewolf perempuan itu. Pedang hitamnya sudah siap memenggal kepala werewolf bernetra orange itu.
"White assassin," lirih werewolf perempuan itu seketika langsung berubah menjadi asap hitam. Serangan Yuu tak berhasil mengenainya. Hanya satu detik, kesempatannya langsung lenyap.
Yuu langsung menoleh ke belakang, dan tak mempedulikan Afra yang diam terbelalak itu. Werewolf perempuan itupun muncul kembali di depan Yuu, tentunya dengan jarak yang cukup jauh.
Atap bangunan yang luas tentu memberikan cukup ruang untuk mereka berdua bertarung. Eh?
"Kemampuan tingkat putih," ucap werewolf perempuan itu membuat Yuu mengepal erat tangannya.
__ADS_1
Pedang hitamnya mulai diluruskan. Yuu memegang pedangnya dengan arah vertikal menuju ke bawah, lalu ia tutupi sebelah matanya dengan pedangnya itu.
"Assassin time!"