
Sekarang….
Garis bening, titik-titik air, butiran tembus pandang, semuanya menjadi identitas dari cuaca yang tak cerah ini. Tidak ada matahari, karena sekarang sudah malam. Kegelapan menyelimuti, meski awan hitam menjadi kegelapan yang sesungguhnya.
Menutupi bintang dan bulan sabit berwarna putih, seakan-akan tak memiliki penyesalan atau rasa bersalah. Meski begitu, tangisan langit adalah bentuk dari semua yang tertanam dan tertahankan di dalam dirinya. Dan semuanya, kembali pada kehidupan yang tampak abadi ini.
"Aakh …."
"Afra? Afra!"
Dua suara, satu tercipta karena baru saja mendapat kesadaran, sedangkan yang satunya tercipta karena keterkejutan. Gadis manusia bernama Afra Afifah, ialah yang baru saja membuka mata dan kembali melihat kenyataan.
Sementara gadis penyihir bernama Aura baru saja mendapat jawaban atas permohonan maafnya.
"Aakh …." Afra kembali menyuarakan rasa sakit dan itu membuat Aura terkejut.
"Afra!" Aura kembali mengatakan nama Afra, meski itu tidak terlalu membantu.
Afra sekarang sedang dalam posisi tidur, tetapi bukan di atas ranjang. Ini adalah penginapan dengan tempat tidurnya yang menggunakan kasur gulung. Jadi, tidak perlu dijelaskan lagi. Sementara Aura, si gadis penyihir ini hanya bisa menampilkan raut wajah khawatir, meski ada yang terlihat aneh darinya.
Ada sisa air mata di wajah Aura dan itu sudah menunjukkan bahwa dia baru saja menangis. Rasa khawatir semakin menjadi saat Afra kembali berteriak kesakitan, tetapi anehnya, tangannya tidak mau menyentuh Afra sama sekali.
Ya, tangan Aura sudah benar-benar dekat dengan kepala Afra, tetapi Aura langsung menarik tangannya dan menunduk. Afra masih kesakitan dan ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
Keheningan tercipta saat Aura menundukkan kepala. Afra hanya bisa terbaring di kasur yang tidak terlalu nyaman dengan napas terengah-engah. Hujan semakin deras dan gemuruh kembali terdengar, membuat suasana kamar inap itu benar-benar tak bisa diungkapkan.
Ya, lebih baik melihat sesuatu yang lain.
***
__ADS_1
Kota sihir, bangunan dengan susunan batu alam berwarna putih, juga pondasi kayu sebagai pelengkap. Jalanan yang juga disusun rapi dengan batu alam dan tidak menyisakan tanah untuk menumbuhkan tanaman di jalanan. Meski begitu, tidak ada genangan air yang tercipta di sana, di saat hujan deras seperti ini.
Air mata dari langit, atau lebih tepatnya dari gumpalan kapas hitam yang semakin lama akan semakin menghilang karena mengeluarkan cairan bening itu. Cairan bening yang turun menjadi tetesan dan menyentuh tanah, atau juga menjadi garis vertikal saat kecepatannya bertambah.
Topi besar, pakaian dengan jubah, tongkat sihir dan sapu terbang. Para penduduk yang semuanya diisi oleh ras penyihir, semuanya memiliki ciri-ciri seperti itu. Kebanyakan warna lebih mendukung ke warna gelap, meski ada yang menggunakan warna terang.
Bangunan yang saling menempel maupun saling memberi celah sebagai jalan alternatif. Di bawah rintihan dunia, tidak sedikit dari penduduk kota tetap berjalan tanpa payung dan hanya mengandalkan topi lebar sebagai pelindung.
Sapu terbang tak digunakan untuk kemudahan dan hanya dipegang dengan erat, seperti tongkat sihir saja.
"Ah, jadi di sini, ya?"
Sekilas, terlihat cahaya dari dua bola mata berwarna merah. Cahaya merah yang tentunya tidak terlalu terang seperti sinar mentari. Ini adalah malam hari, tetapi tidak ada sinar bulan di langit hitam itu. Hanya ada awan yang semakin menghitamkan langit malam dan memberi tetesan air tak berwarna bagaikan kaca itu.
Pakaian penyihir dan topi yang cukup lebar. Meski begitu, pakaian sangat berbeda dari kebanyakan penyihir yang memberi aksesoris berlian atau menggunakan sesuatu sebagai pencerah. Warna pakaiannya lebih mirip dengan para pelayan atau pembantu di istana kerajaan.
Warna hitam dan putih, itu adalah ciri khas pakaian penyihirnya. Netra merah dengan senyuman tipis yang menampilkan sebuah kesenangan dalam hal lain. Rambut kuning panjang dan tangan yang memegang sapu terbang.
Meski begitu, ada benda lain di tangannya. Benda berwarna kuning keemasan dengan bentuk segi enam. Air hujan mengenai benda itu beberapa kali dan benda itu mengeluarkan cahaya. Senyuman mulai dilebarkan oleh sang pemegang benda itu.
"Sepertinya aku bisa, melakukan ini padamu, Manusia." Kata-kata penuh nada merah dan cahaya kuning tercipta dan diucapkan oleh penyihir itu, penyihir yang biasa disebut penyihir kuning.
Penyihir dengan nama 'Iliya Viely'.
***
Masih pada lukisan hitam dengan arsiran gelap yang masih terlihat jelas, meneteskan dan menciptakan garis tipis berwarna bening di sana. Namun, kini latarnya bukan pada kotanya, melainkan salah satu bangunannya.
"Ini, Afra," ucap gadis dengan manik mata kuning, merah dan biru yang menjadi gradasi tak sempurna, tetapi tetap bisa dirasakan keindahannya.
__ADS_1
Gadis itu baru saja memberikan segelas air pada gadis berambut hitam kebiruan yang terduduk di atas kasur tipis nan cukup nyaman, sepertinya. Gadis yang dipanggil dengan nama 'Afra', itulah dia, gadis yang terduduk dan sudah menggenggam gelas berisi air.
"Terima kasih, Aura," kata Afra berterima kasih dan menunjukkan senyuman, kemudian meminum air dengan tenang.
Gadis dengan mata gradasi yang dipanggil dengan nama 'Aura' itu hanya terdiam dan sedikit menelan salivanya sendiri. Setelah berselang beberapa detik, Afra selesai meminum air putih tersebut dan meletakkan gelasnya di lantai, Aura mulai berbicara.
"Se –sekali lagi, aku minta maaf, Afra!"
Afra, gadis dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan itu membelalakkan mata birunya. Perkataan Aura, gadis bermata gradasi dan rambut panjang berwarna merah muda itu membuatnya terkejut.
"A –apa maksudmu, Aura?" Afra berkata dengan rasa kebingungan dalam benaknya.
"Aku … benar-benar minta maaf karena sudah melakukan ini padamu!" Aura langsung beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar, meninggalkan Afra yang semakin bingung setelah mendengar penegasan itu.
"Aku … tidak mengerti," lirih Afra masih memandang pintu kamar yang baru saja ditutup dengan keras oleh Aura.
Suara dalam keheningan, alunan nada yang tak beraturan. Dua hal yang menjadi satu itu membuat pandangan Afra teralihkan, dari pintu menuju jendela. Melihat garis-garis vertikal yang turun dengan cepat dari atas langit, kemudian menghasilkan suara saat menyentuh tanah.
Duduk dengan kaki yang diluruskan, juga ditutupi oleh selimut hangat. Rasa nyeri dan sakit masih terasa, meski itu tidak terlalu penting lagi sekarang. Mata biru gelap bagaikan kedalaman lautan milik Afra terfokuskan pada garis-garis vertikal itu.
Meski garis-garis itu terus jatuh dan digantikan dengan yang lain, tatapan matanya tetap tidak beralih dan teralihkan oleh apapun. Hanya fokus pada garis-garis vertikal itu.
"Haaah …." Afra menghela napas panjang dan berhenti memandang pemandangan di luar jendela.
Ketenangan perlahan-lahan mengalir dalam dirinya, begitu juga dengan iringan hawa dingin dari garis vertikal yang turun dari langit. Pandangannya kini sudah menatap lantai kayu alami itu, meski sepertinya sudah diberi sihir penguatan.
Warna coklat mengkilap, sepertinya tidak ada pohon yang seperti itu 'kan? Mungkin itulah yang terbesit di pikiran Afra.
"Haah …." Afra kembali menghela napasnya lalu memandangi tangannya sendiri.
__ADS_1
Melihat penampilan dan kondisi tubuhnya sendiri, itu yang dilakukan olehnya. Oleh gadis manusia bernama Afra Afifah ini. Meski itu hanya sebatas memperhatikan dan fokus melihat saja.
"Meski aku sudah melarang 'nya', tapi itu sia-sia saja,"