
Pagi mulai datang, dan akan selalu berdatangan para tokoh-tokoh dunia. Semuanya saling melakukan kegiatan keseharian mereka, dan akan menjadi diri mereka sendiri. Diam adalah moto dunia, untuk apa ikut campur masalah yang lain!
Berantakan, itu selalu terlihat setelah rapi. Mulai hilang arah, tetapi ternyata mendapat yang lebih baik.
***
Kelas sudah dimulai, dan kini semua murid di akademi Arknest tidak sedang belajar di kelas. Ya, semuanya sedang berkumpul di halaman depan akademi, termasuk Afra, sang tokoh utama ini. Meski masalah utama belum terutama, tetapi … akan selalu ada hal-hal yang membuatnya menjadi utama.
"Wah, ternyata ramai juga, ya, kalau semua murid di akademi berkumpul," ucap Afra dengan senang sambil melihat sekelilingnya.
Semua murid dari kelas I, II, dan III sekarang sedang berkumpul di halaman depan akademi. Ya, lebih tepatnya di depan gerbang akademi yang sepertinya sudah lama tidak dibuka.
"Ya, walau ramai seperti ini juga … kau hanya kenal beberapa, Afra! Itu saja kau sering lupa!" ucap Aura yang sedang berada di samping Afra itu lalu mendengus kesal. Afra tertawa kecil mendengar perkataan temannya itu. Ya, Aura adalah yang pertama yang dianggap teman, lalu setelah itu tentu saja….
"Ya, teman sendiri saja kau lupa!" ucap Yuu menambah maksud perkataan Aura.
Ya, tentu saja Yuu.
Suara tepukan tangan pun terdengar dari atas langit. Para murid langsung mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang bertepuk tangan sebagai tanda.
"Baiklah! Kami akan mengadakan kegiatan di luar akademi, jadi kami akan memilihkan pasangan untuk kalian!" ucap Iliya yang masih berada di atas dengan sapu terbangnya.
Iliya pun terbang ke depan gerbang lalu turun ke bawah. Semua murid yang sebelumnya berkumpul tanpa barisan pun mulai membenarkan barisannya meski belum rapi dan sempurna.
"Oh ya, karena aku tidak bisa memilih pasangan untuk kalian, aku akan mengundang tamu yang akan memilihkan pasangan nya!" sambung Iliya membuat semua murid terkejut dan bertanya-tanya. Afra juga termasuk di dalamnya.
Seketika, sekumpulan ikan sihir muncul dan berputar di sebelah Iliya. Dan … sesosok makhluk dari ras penyihir langsung muncul dari ikan-ikan sihir itu. Semua murid terkejut dan terbelalak melihat siapa itu.
"D-dia kan…," ucap Afra terkejut melihat siapa yang berdiri di samping Iliya.
Iliya tersenyum, "kenalkan, dia murid kelas II yang baru saja kembali, namanya adalah—"
"Kisami Ki, salam kenal," potong Kisami yang ternyata adalah tamu yang dimaksud oleh Iliya, dan ya … dia sudah berdiri di samping Iliya saat ini.
__ADS_1
Semua murid terkejut dan tak percaya. Ternyata kebanyakan dari murid-murid di akademi sudah mengetahui tentang Kisami, meski beberapa ada yang tidak tahu.
"Baiklah, kau bisa melakukannya!" ucap Iliya langsung menaiki sapu terbangnya dan terbang ke atas menjauh dari kerumunan murid-murid.
Kisami pun langsung mengeluarkan pedang hitamnya dan menancapkannya di tanah.
"Kill to save!" ucap Kisami dengan nada tinggi. Seketika, lingkaran sihir raksasa keluar dari belakang tubuh Kisami, dan … ikan-ikan sihir langsung berenang di udara dan langsung masuk ke dalam tubuh murid-murid.
Semuanya terkejut dan tak percaya, tetapi mereka juga tidak bisa apa-apa. Lingkaran sihir lain langsung muncul di bawah kaki mereka dan ikan-ikan sihir lainnya keluar dan masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka langsung kehilangan kesadaran dengan tubuh mereka yang tetap tegak, seperti boneka. Namun, ada yang aneh.
"B-bagaimana kita bisa ada di atas sini?" tanya Afra yang terkejut saat melihat dirinya berada di lantai atas akademi. Di sampingnya, ada Aura dan juga Yuu yang tersenyum padanya.
"Aku sudah tau apa yang akan terjadi," ucap Yuu sambil melihat ke arah murid-murid yang terlihat diam seperti boneka itu.
"Jadi, aku memindahkan kita ke sini!" sambung Aura dengan antusias, "dan juga karena …."
"Kami yang menginginkannya," ucap Viesta tiba-tiba muncul di belakang Afra. Afra terkejut melihat kedatangan Viesta, juga Rye dan Luna.
"A-apa maksudnya?" tanya Afra kebingungan. Namun, Viesta malah tersenyum pada Afra, dan Luna tertawa kecil. Sedangkan Rye, tak usah ditanya lagi. Ekspresinya tetap sama.
***
Hari masih berjalan, dan mentari mulai menjadi matahari. Dari pagi menjadi siang, dan sekarang beberapa murid terpilih sudah berada di luar akademi Arknest dan sedang dalam perjalanan menuju kota. Lalu, apa yang terjadi sebelumnya?
Singkat kalimat, sebenarnya yang terjadi adalah….
Sebelumnya….
"Kota," ucap Rye dengan nada dinginnya sambil melihat ke arah Kisami yang masih fokus melakukan sesuatu pada semua murid dari kelas I sampai III.
Tidak, sebenarnya tidak semuanya. Iliya, Rye, Luna, dan Viesta tidak termasuk karena mereka sudah menjadi senior pengajar tetap. Dan Kisami juga termasuk karena ialah pengguna sihirnya, lalu ada….
"Hai, hai! Satu kata tidak cukup, lho, Rye Else!" ucap Xiania sambil menepuk pundak Rye, tentunya dengan kakinya yang tidak menapak lantai.
__ADS_1
Afra terkejut melihat kedatangan Xiania, apalagi Xiania sampai datang dengan kakinya yang tidak menyentuh lantai atau melayang. Namun, Afra lebih penasaran dengan maksud perkataan Rye tadi.
"A-apa kita semua akan pergi ke kota?" tanya Afra membuat semuanya terkejut dan tertegun. Yuu dan Aura yang sebelumnya terlihat ceria tiba-tiba mengubah ekspresi.
"Bagaimana kau tau tentang kota sampai bertanya ke intinya, Afra?" tanya Yuu penasaran dan keheranan melihat Afra yang merupakan gadis paling polos dan tidak tahu apa-apa.
Ya, Afra memang jarang bergaul dan berbicara karena kebanyakan murid-murid di kelasnya saja tidak mengajaknya berbicara tanpa kecuali.
"Tidak, tidak, jangan bilang kau mengingat semua isi buku itu!" tegas Aura membuat semuanya melebarkan mata, kecuali Afra yang malah langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban.
"Ya, aku ingat semuanya dari buku itu," jawab Afra membuat Aura menghembuskan nafas pasrah.
"Waah, ternyata gadis monster yang polos ini pintar juga dalam menghafal, ya!" puji Luna dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit menyindir, tetapi Afra langsung merespon dengan tawa kecil. Ya, Afra tidak merasa tersindir sama sekali.
"Bukankah itu bagus? Tak apa kan ada murid unik di akademi ini, apalagi kenyataan kalau dia adalah ras monster," tutur Viesta sambil mengelus rambut Afra. Afra terkejut dan hanya bisa membiarkan Viesta mengelusnya.
"Aura merah!" batin Viesta langsung melepaskan tangannya yang menyentuh dan mengelus rambut Afra setelah … melihat Aura merah Afra.
Afra sedikit tersipu saat Viesta mengelusnya, tetapi Viesta terlihat sedang menyembunyikan rasa gentarnya.
"Buku, ya…," gumam Rye membuat semuanya melihat ke arah Rye.
"Save the last time!"
Seketika, pandangan Afra, Aura, Yuu, Viesta, Rye, Luna, dan Xiania tertuju ke arah Kisami yang ternyata sudah selesai melakukan … sesuatu. Entah itu benar pemilihan pasangan atau bukan.
Semua murid yang sebelumnya kehilangan kesadaran sesaat perlahan kembali mendapatkan kesadarannya, tetapi kebanyakan dari mereka … jatuh dan tetap kehilangan kesadaran. Hanya tersisa kurang dari sepuluh diantara sekian banyaknya murid-murid dari kelas I, II, dan III. Meski jumlah murid kelas II dan III lebih sedikit bahkan jauh dari jumlah murid kelas I.
"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya pingsan?" tanya Yuu terkejut dan tak percaya melihat apa yang terjadi.
Iliya pun turun ke bawah setelah terbang naik jauh ke atas.
"Baiklah, kita sudah dapat murid terpilih di sini!" ujar Iliya dengan lantang sambil bertepuk tangan, "dan itu artinya, kalian akan mulai menjalankan tugas sebenarnya sebagai murid akademi Arknest!"
__ADS_1