Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Pendamping


__ADS_3

"Aku … sebenarnya kurang setuju dengan pertanyaanmu itu, Sira. Namun, aku … ingin mengajukan hal yang lebih baik ….


… Daripada menjadi penjaga, bagaimana kalau kau … menjadi pendampingku, Sira?" ungkap Afra sambil tersenyum.


Sira terkejut dan terbelalak mendengar perkataan Afra. Apalagi saat aura biru Afra mulai menyebar menjadi beberapa aliran. Aliran berwarna biru yang mulai menyentuh dan mengikat bunga-bunga salju ciptaan Sira.


Afra memberi tatapan yang cukup tajam bagi Sira. Tatapan tajam Sira seakan melemah terhadap tatapan mata Afra. Tatapan mata yang tampak berbinar, tetapi juga tampak kosong.


"Bagaimana, Sira? Apakah .. kau mau menjadi pendampingku?" ulang Afra sekali lagi sambil tersenyum.


Sira mulai membuka mulutnya dan berkata, "ya, sepertinya itu tidak buruk sih? Okelah."


Bunga-bunga salju mulai memancarkan cahaya biru yang terang. Warna biru pada bunga salju berubah menjadi warna putih. Aura biru milik Afra yang mengikat bunga-bunga salju ikut mengeluarkan cahaya.


Kedua cahaya itu saling menyatu dan melengkapi.


"Ikuti kata-kataku sekarang, Afra!" perintah Sira yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Afra.


"Dengan ini …." Sira mulai mengawali kata-katanya.


"Dengan ini …." Afra mengulangi kata-kata Sira.


"Kami, membuat janji, dengan tiga isi di dalamnya." Afra dan Sira berkata secara serempak, meski Afra masih belum menyamai waktu bicaranya dengan waktu bicara Sira.


"Ucapkan saja setelahku," lirih Sira membuat Afra mengangguk kecil.


"Satu."


"Satu," kata Afra mengulangi perkataan Sira.


"Afra Afifah dan Sira Siveria akan melakukan perjalanan menuju kota utama dari kota Sihir setelah waktu menginap di sini selesai, tepat pada malam hari," ucap Sira dengan nada serius sambil memejamkan matanya.


Afra yang masih memandang wajah Sira sedikit menciptakan keheningan, tetapi dengan cepat ia mengulang kembali perkataan Sira.


"Afra Afifah dan Sira Siveria, akan, melakukan perjalanan menuju kota utama dari kota Sihir setelah waktu menginap di sini selesai.


Tepat .. pada malam hari …?" ulang Afra dengan nada yang terdengar berbeda, tetapi Sira tidak mempedulikannya.


"Ya, lanjut yang kedua," lirih Sira kembali dijawab dengan anggukan kecil oleh Afra.

__ADS_1


"Dua."


"Dua."


"Sira Siveria akan menanggung biaya kehidupan Afra Afifah selama menginap dan pada saat perjalanan!" ucap Sira dengan nada tinggi dan dengan perasaan yang sedikit tidak terima?


"Sira Siveria akan menanggung biaya kehidupan Afra Afifah selama menginap dan pada saat penerimaan," ulang Afra sambil tersenyum pada Sira, meski Sira tidak tahu karena masih memejamkan mata.


"Tiga."


"Tiga!" ulang Afra dengan nada yang lebih bersemangat.


"Sira Siveria, dengan segala kehormatan .. akan menjadi pendamping bagi Afra Afifah!" kata Sira dengan penuh keyakinan dan langsung membuka matanya. Dan, ya …


… Sira langsung mendapatkan tatapan mata dari Afra.


Afra menatap mata Sira dengan matanya yang berbinar. Sedang Sira menatap mata Afra dengan mata yang sedikit terbelalak. Rasa gugup seketika tercipta pada dirinya, meski sebelumnya ia sudah sangat yakin.


"Apa ini? Ada apa denganku?" batin Sira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Keheningan tercipta, tetapi Afra langsung merubahnya menjadi senyuman dan mengulang kembali perkataan Sira.


"Sira Siveria, dengan segala kehormatannya, akan menjadi pendamping bagi Afra Afifah, mulai dari sekarang sampai ke depannya," ulang Afra dengan merubah dan menambahkan beberapa kata pada ucapannya.


Sira semakin membelalakkan matanya mendengar perkataan Afra. Meski Afra mengubah dengan menambahkan beberapa kata, tetapi itu memberi pengaruh yang besar.


Afra tetap tersenyum sambil memberi tatapan pada Sira. Sira mulai berbicara setelah diam sedari tadi.


"Dengan demikian, perjanjian ini kami buat dan akan kami laksanakan," kata Sira dan Afra secara bersama-sama. Dan perjanjiannya pun selesai.


Bunga-bunga salju, juga aliran aura berwarna biru gelap, keduanya saling menyatu dan menjadi cahaya indah. Bagai bintang biru abadi, bersinar menghiasi dan mengelilingi Sira dan Afra.


Afra tersenyum, begitu juga dengan Sira yang membalas senyuman Afra. Dan ….


Kembali lagi pada malam di waktu sekarang.


Cahaya bulan bersinar, Afra dan Sira sudah dalam perjalanan. Berjalan kaki bersama tanpa menunggangi atau menggunakan sihir apapun. Bangunan kota yang mulai ditinggal pergi oleh keduanya menjadi saksi bisu akan semua ini.


Meski begitu, sorotan kali ini adalah tempat penginapan yang sudah ditinggal pergi oleh Afra dan Sira.

__ADS_1


"Pendamping, seperti ramalan," ucap penyihir perempuan berambut panjang berwarna putih.


Pakaian penyihir berwarna hitam, tetapi terlihat seperti pakaian prajurit di medan perang. Pakaian yang dikenakan terlihat lebih tebal dan tampak lain dari pakaian penyihir lainnya.


Rambut panjang berwarna putih, topi lebar berwarna hitam dengan bagian lancipnya yang seperti sirip ikan hiu. Namun, bentuk lebar topi itu tampak seperti ikan pari. Netra dengan iris merah dan wajah yang tampak dingin.


Sarung tangan selalu dipakai olehnya, tetapi yang paling penting darinya adalah pedang besar berwarna hitam. Pedang yang menjadi ciri khasnya sebagai penyihir. Pedang yang digunakan sebagai pengganti tongkat sihir.


Penghuni kamar di sebelah kamar inap Sira, dialah sang penyihir yang berpura-pura menjadi lelaki penyihir.


"Aku banyak bicara," ucap penyihir yang bisa disebut sebagai penyihir hitam itu.


Sekarang, penyihir hitam itu sedang duduk dan melihat bulan purnama. Bersama dengan ikan-ikan sihir yang terbang mengelilinginya. Merah, biru, hijau, kuning, itulah warna-warna dari ikan-ikan sihir di sekelilingnya.


Tangannya mengelus dan memegang pedang hitam. Matanya memandang bulan purnama yang bersinar terang.


"Keduanya sudah melangkah, menuju pintu takdir sekarang."


Kembali kepada perjalanan Afra dan Sira.


Angin sepoi-sepoi berhembus, menyentuh dan seakan mengelus tubuh. Menciptakan dan memberi hawa dingin nan tidak sejuk sama sekali. Tengah malam, sekarang sudah memasuki waktu tersebut.


Afra dan Sira, keduanya sudah benar-benar keluar dari kota Sihir wilayah perbatasan. Keduanya telah memasuki hutan penyihir, tempat di mana kota Sihir wilayah utama berada.


Hanya ada penerangan dari cahaya bulan dan tanaman-tanaman yang menghasilkan cahaya hijau. Ada pepohonan kayu yang tumbuh sangat tinggi di sekeliling.


Rerumputan dan tumbuhan tanpa kayu juga ditemukan. Tumbuhan itulah yang menghasilkan cahaya. Sementara pohon-pohon besar nan tinggi menjadi tempat di mana terdapat rumah-rumah penduduk.


Ya, meski sepertinya Afra dan Sira belum menemukan pohon yang menjadi tempat para penduduk kota menetap dan tinggal.


"Hoaaam, aku .. mengantuk sekali," ucap Afra sambil mengusap-usap matanya yang mulai kelelahan.


Meski begitu, entah bagaimana dirinya masih kuat berjalan mengikuti Sira yang langkah kakinya cukup cepat. Sira melirik Afra dan berhenti berjalan.


"Seperti yang kuduga, kau pasti akan mengantuk meski sudah tidur," ujar Sira sambil memutar bola matanya.


Afra hanya bisa tertawa dan kembali mengeluarkan napas panjang sebagai tanda bahwa dirinya sudah tidak kuat. Ia benar-benar mengantuk. Hawa dingin adalah penyebab dari hal ini.


"Oke-oke, kita bisa beristirahat sejenak di dekat pohon itu," ujar Sira sambil menunjuk ke arah pohon beringin di sana.

__ADS_1


Afra sedikit melebarkan matanya saat melihat pohon beringin itu, tetapi pandangannya seketika teralihkan pada uluran tangan Sira.


"Pegang tanganku, Afra,"-Sira menampilkan wajah serius-"ada aliran 'mana' lain di sini."


__ADS_2