
"Aku harus pulang! Aku tidak mau berada di sini!" ucap Afra sambil terus berlari dan menoleh ke kanan dan ke kiri barangkali ia melihat cahaya lampu lentera rumahnya. Namun, tidak ada.
Hanya ada pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi di sekeliling nya. Dan pohon-pohon itu terlihat berwarna hitam gelap meski sudah disinari cahaya rembulan.
"Aku tidak mau di sini! Aku takut sekali! Aku tidak mau sendirian, Ayah!" teriak Afra ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
Wush
Angin malam tiba-tiba berhembus kencang dan membuat teriakkan Afra menggema dalam hutan.
KHUAAAA
"AKU MENEMUKANMU, MANUSIA!"
Afra langsung menoleh ke belakangnya dan terkejut melihat monster yang mirip seperti manusia, hanya saja tubuhnya penuh bulu yang tumbuh seperti duri landak.
KHUAAAA
Monster itu berteriak keras dan mengarahkan cakarnya ke arah Afra.
Afra terbelalak dan tak bisa apa-apa. Namun, tiba-tiba….
Wush
Angin kembali berhembus kencang dan mendorong tubuh Afra sehingga menjauh dari serangan monster itu. Alhasil, cakar monster itu menancap dalam ke tanah sedangkan Afra dibawa terbang oleh angin yang tiba-tiba berhembus itu.
Bruk
"Akh!" rintih Afra kesakitan. Ia langsung dijatuhkan ke tanah begitu saja setelah angin itu berhenti berhembus. Afra pun terkejut melihat dirinya yang masih baik-baik saja.
"A-aku baik-baik saja? B-bukankah tadi monster itu menyerang ku?" tanya Afra pada dirinya sendiri sambil menoleh ke sekelilingnya. Dan Afra terkejut ketika melihat….
"I-itu rumah ku! Aku sudah dekat dengan rumah!" ucap Afra terkejut dan senang, tetapi….
KHUAAA
Monster lain tiba-tiba muncul di hadapan Afra dan langsung memukul Afra sehingga Afra terpental jauh. Namun, lagi-lagi….
__ADS_1
Wush
Angin kencang langsung berhembus dan menahan tubuh Afra sehingga Afra tidak menghantam pohon besar. Namun, Afra sudah kehilangan setengah kesadarannya.
"K-kau …," ucap Afra dengan lirih melihat angin itu seketika berubah menjadi sesosok perempuan dengan tanduk rusa di kepalanya dan berambut hitam panjang.
Perempuan bertanduk rusa itu lalu tersenyum tipis melihat Afra yang masih belum kehilangan kesadaran nya itu.
"KAU! KENAPA KAU MELINDUNGI MANUSIA ITU, HAH!" teriak monster itu yang memiliki bentuk tubuh yang sama seperti monster sebelumnya.
"Jangan banyak tanya," jawab perempuan bertanduk rusa itu dengan nada dingin dan….
SRAAARRK!
Akar-akar pohon seketika keluar dari dalam tanah dan mengikat tubuh monster itu.
AAAKHHHH
Teriak monster itu kesakitan dan langsung merubah bulu-bulu tubuhnya menjadi lancip seperti duri. Duri itu memanjang dan langsung menghancurkan akar-akar pohon yang mengikat tubuhnya. Namun….
Wush
Tanah-tanah di sekitar monster itu pun seketika langsung runtuh dan mengubur monster itu. Lalu, akar-akar pohon mulai keluar dari dalam tanah dan kembali masuk ke dalam tanah, tepatnya ke dalam tempat monster itu terkubur.
Perempuan bertanduk rusa itu tersenyum menyeringai, lalu kembali merubah dirinya menjadi angin dan membawa Afra yang masih setengah sadar itu masuk ke dalam rumah pohonnya. Ya, Afra masih mengetahui apa saja yang terjadi dengan monster itu meskipun hanya bisa mendengar suaranya saja. Afra tidak bisa melihatnya karena sekujur tubuhnya yang sudah tidak bisa digerakkan.
***
Monster dan makhluk. Itu adalah kehidupan yang hidup di dunia bawah. Bentuk mereka kadang menyerupai hewan, atau kadang manusia. Namun, monster tetaplah monster dan akan selalu identik dengan kata menyeramkan, kejam, dan haus darah. Walau tidak semuanya seperti itu di dunia ini.
"Akh…," rintih Afra masih merasa kesakitan di seluruh tubuhnya.
"Jangan bicara dan bergerak dulu, Manusia!" pinta perempuan bertanduk rusa itu dengan nada lembut, meski kata terakhirnya membuatnya terdengar tegas dan mengancam.
Ya, perempuan bertanduk rusa itu kini sedang mengobati Afra. Walaupun sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang Afra adalah perempuan itu sedang mengarahkan kedua telapak tangannya pada Afra. Dan telapak tangannya itu mengeluarkan semacam cahaya yang membuat tubuh Afra terasa hangat.
Afra pun diam dan membiarkan perempuan itu selesai mengobati dirinya. Afra perlahan memejamkan matanya dan membiarkan rasa hangat dari penyembuhan perempuan itu agar lebih terasa. Namun, sepertinya ada yang aneh dengan perempuan itu.
__ADS_1
"Hah … hah … hah….."
Perempuan bertanduk rusa itu tiba-tiba mengambil nafas pendek berulangkali sambil terus mengeluarkan cahaya penyembuhan dari tangannya. Nafas perempuan itu terengah-engah dan sepertinya ia kelelahan. Atau….
Kenapa … aku tiba-tiba merasa lelah? Dan kenapa penyembuhan ku tidak berhasil? batin perempuan bertanduk rusa itu seketika langsung berhenti mengeluarkan cahaya penyembuhan nya.
Perempuan itupun seketika langsung terduduk di lantai dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Sedangkan Afra sepertinya tertidur karena ia tau tubuhnya tidak mungkin untuk digerakkan. Afra masih merasa sedikit kesakitan, tetapi rasa sakit itu sudah sedikit menghilang karena penyembuhan perempuan bertanduk rusa itu.
Hanya saja, sepertinya penyembuhan perempuan itu tidak seutuhnya berhasil. Penyembuhan nya hanya membuat Afra merasa hangat saja dan tidak menyembuhkan luka-luka Afra.
"Apa … yang ku lakukan hanyalah … membuat aura itu menjadi kuat?" tanya perempuan bertanduk rusa itu masih berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia mengatakan hal seperti itu karena … aura merah itu kembali muncul di seluruh tubuh Afra dan aura itu menjadi seperti penghalang bagi nya untuk melakukan penyembuhan.
***
Sementara di dalam hutan, para monster yang baru saja sampai di ujung hutan, atau tepatnya di dekat rumah pohon Afra, mulai menghentikan langkahnya. Para monster itu sepertinya menyadari kawan mereka sudah dikalahkan di situ. Para monster itupun langsung pergi dan kembali ke hutan tanpa menyuarakan satu kata maupun teriakkan dari mulut mereka.
-------------------------------------------------------
Hei, Afra….
Bangunlah … bukalah mata mu …
… Sebelum aku membuatmu memejamkan matamu selamanya!
"Ah!" teriak Afra langsung terbangun dan melihat gadis bermata merah itu yang ternyata sudah membangunkan nya. Afra melihat sekelilingnya dan menyadari dirinya berada di ruangan gelap tanpa ujung.
Ya, ruangan gelap tanpa ujung. Ruangan dimana Afra selalu berada ketika ia bermimpi. Dan juga, ruangan tempat gadis bermata merah itu yang selalu muncul dan membisikkan sesuatu yang membuat Afra semakin kebingungan dan ketakutan.
"K-kau …," ucap Afra berusaha mengatakan sesuatu, tetapi Afra tidak tahu ingin mengatakan apa.
Gadis bermata merah itu tersenyum tipis, "kau … benar-benar lemah ya, Manusia!"
Afra terbelalak mendengar perkataan gadis bermata merah itu. Ia segera menundukkan kepalanya. Entah kenapa, rasanya seperti….
Kenapa … aku merasa bersalah seperti ini? batin Afra sambil terus menundukkan kepalanya dan menutup matanya. Ia merasa ketakutan.
Hihihi
__ADS_1
Gadis bermata merah itu tertawa dengan nada jahatnya.
"Bangunlah sekarang … dan buka matamu, Afra!"