Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Semuanya


__ADS_3

"Kau … benar-benar lemah ya, Manusia!"


Afra terbelalak mendengar perkataan gadis bermata merah itu. Ia segera menundukkan kepalanya. Entah kenapa, rasanya seperti….


Kenapa … aku merasa bersalah seperti ini? batin Afra sambil terus menundukkan kepalanya dan menutup matanya. Ia merasa ketakutan.


Hihihi


Gadis bermata merah itu tertawa dengan nada jahatnya.


"Bangunlah sekarang … dan buka matamu, Afra!"


"Ah!" teriak Afra langsung terbangun dari tidurnya dan….


"WAAA!" teriak perempuan bertanduk rusa itu terkejut dan langsung merubah dirinya menjadi tembus pandang seperti angin.


Afra langsung menoleh ke arah perempuan bertanduk rusa itu. Ia melihat wajah perempuan itu seperti sangat terkejut dan ketakutan. Perempuan bertanduk rusa itupun semakin ketakutan ketika ia menyadari bahwa Afra dapat melihatnya.


"K-k-k-ka-ka-kau b-b-bi-bisa m-me-melihat-k-k-ku?" tanya perempuan bertanduk rusa itu benar-benar ketakutan sampai tidak bisa berkata dengan lancar.


Afra hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar perkataan perempuan bertanduk rusa itu. Dan itu membuat perempuan bertanduk rusa itu semakin tak percaya dan tubuhnya semakin gemetaran. Perempuan itu mulai melihat kembali….


Aura itu.


Ya, aura merah yang mulai muncul di tubuh Afra, meski Afra tidak merasakan ataupun melihat aura yang keluar dari tubuh nya itu.


"A-apa kau sudah menyembuhkan ku?" tanya Afra penasaran dan akhirnya tersadar kalau….


Ah! Kenapa aku menanyakan pertanyaan seperti itu! batin Afra.


Perempuan bertanduk rusa itu masih gemetar ketakutan.


"K-kau … sudah menyembuhkan ku, j-jadi … terima kasih!" ucap Afra berusaha agar perempuan bertanduk rusa itu lebih tenang. Namun, perempuan itu tetap ketakutan dan berjalan mundur menjauhi Afra sampai terpojok di dinding kamar.


Perempuan itu masih ketakutan melihat aura merah yang keluar dan menyelimuti tubuh Afra. Ia benar-benar ketakutan sampai tidak bisa apa-apa. Afra yang semakin keheranan melihat perempuan itu pun langsung beranjak dari tempat tidurnya.


"K-kau kenapa? A-apa kau k-kelelahan?" tanya Afra sambil berjalan mendekati perempuan bertanduk rusa itu, tetapi….


Perempuan bertanduk rusa itu tidak menjawab pertanyaan Afra dan berusaha untuk berjalan mundur menjauhi Afra. Namun, ia sudah terpojok duluan.


Apa yang harus ku lakukan sekarang! Aku tidak bisa menyentuhnya sekarang! Jika bukan karena aura itu! batin perempuan bertanduk rusa itu.


Aura merah di tubuh Afra pun semakin membesar ketika Afra terus melangkahkan kakinya dan mendekati perempuan itu. Aura merah itu membesar layaknya kobaran api, dan sepasang mata besar berwarna hitam seperti bayangan muncul dari aura merah itu.


"M-mata itu!" ucap perempuan bertanduk rusa tidak bisa apa-apa lagi sekarang. Afra semakin terkejut dan terbelalak mendengar perkataan perempuan itu.


Afra pun langsung menghentikan langkahnya, "k-kau—" Afra langsung menggelengkan kepalanya dan memotong ucapan nya sendiri.


Aku lebih baik memanggilnya perempuan cantik daripada kau! batin Afra.


"P-p-perempuan cantik … a-apa kau baik-baik saja?" tanya Afra belum terbiasa mengatakan nya, tetapi itu membuat perempuan bertanduk rusa itu berhenti gemetaran. Wajah perempuan itu terlihat keheranan dan juga tak percaya dengan apa yang dikatakan Afra.


"P-p-perempuan cantik!" ucap perempuan bertanduk rusa itu benar-benar terkejut dan tak percaya. Wajahnya terlihat memerah. Namun, Afra senang melihat ekspresi perempuan itu yang sudah tidak ketakutan.


Aku berhasil! batin Afra senang. Namun, tiba-tiba saja….


Suara teriakkan monster terdengar dari luar rumah pohon Afra, dan itu membuat Afra dan perempuan bertanduk rusa itu langsung melihat ke arah jendela kamar. Ekspresi wajah mereka sama-sama terkejut, tetapi hanya Afra yang sepertinya mulai kembali ketakutan.


"AKU AKHIRNYA MENEMUKANMU, MANUSIA!" teriak monster itu seketika langsung melompat ke atas dan menghancurkan dinding kamar Afra. Monster itu kini sudah berada di hadapan Afra dan tertawa jahat.


"DAN AKU JUGA MENEMUKAN MU, ERIA!" teriak monster itu sambil menunjuk ke arah perempuan bertanduk rusa itu yang sudah dalam keadaan siap menyerang. Perempuan itu seakan menjadi sosok yang berbeda ketika sudah dalam bahaya.


"Jangan dekati manusia itu, dasar monster pengganggu!" ucap perempuan bertanduk rusa itu dengan nada dingin dan langsung maju ke depan monster itu.


Perempuan itu langsung memukul perut monster itu dan membuatnya terpental jauh ke dalam hutan.


"Jangan lari dan tetap di belakang ku, Manusia!" ucap perempuan bertanduk rusa itu dengan lirih tetapi tegas.


***

__ADS_1


Kenapa … ini terjadi padaku?


Sebenarnya … kenapa … semua mengatakan kalau aku manusia?


Aku rasa … aku memang manusia. Tapi … kenapa?


Aku harus seperti ini?


Aku … tidak tau apapun!


"Awas!" teriak perempuan bertanduk rusa itu langsung menahan serangan duri dari monster itu dengan mengubah arahnya dengan angin kencang.


"KAU!" teriak monster itu benar-benar marah karena perempuan bertanduk rusa itu melindungi Afra.


"Tch, dasar monster haus darah!" ucap perempuan bertanduk rusa itu dengan nada dingin.


Akar-akar pohon pun seketika keluar dari tanah dan menusuk tubuh monster itu. Darah monster itu keluar dan membasahi tanah.


Afra hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak takut melihat apa yang dilakukan perempuan bertanduk rusa itu. Afra langsung terbayang-bayang akan kejadian ayahnya ketika melihat darah yang keluar seperti air hujan.


Angin malam pun berhembus dan membuat suasana terasa hening dan mencekam. Dedaunan pohon besar berguguran dan para monster itu sudah membuat Afra dan perempuan bertanduk rusa itu terjebak di tengah-tengah hutan.


Ya, Afra dan perempuan itu— tidak, bukan perempuan bertanduk rusa. Ya, karena dia punya nama dan namanya adalah Eria. Ya, Eria. Si perempuan bertanduk rusa itu kini sudah berada di dalam hutan bersama dengan Afra. Bagaimana mereka bisa ada di dalam hutan? Karena Eria lah yang membawa Afra lari keluar dari rumah pohon nya.


Kenapa? Karena tidak mungkin bertarung di dalam tempat sempit.


"KALAU KAU MASIH MELINDUNGI MANUSIA ITU, MAKA …,"-para monster itu langsung keluar dari bayangan pepohonan hutan-"MATILAH BERSAMA MANUSIA ITU!"


Para monster itu mengepung Afra dan Eria. Tubuh monster-monster itu mengeluarkan duri dan cakar yang panjang dan tajam. Afra tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa gemetar ketakutan dan langsung memejamkan matanya dan meringkuk di belakang Eria.


Eria pun tersenyum miring, "aku senang menerimanya, tapi sayangnya …,"-mengeluarkan cahaya dari tubuhnya-" … kalian yang harus ku musnahkan!"


Cahaya yang keluar dari tubuh Eria pun seketika langsung membuat semua monster itu terbakar dan lenyap menjadi abu. Dan juga … membuat Eria kehilangan kesadaran. Afra terkejut setelah membuka matanya dan melihat Eria yang terjatuh tak sadarkan diri.


"K-kau kenapa? Bangunlah! Apa yang terjadi!" teriak Afra sambil terus menggoyangkan tubuh Eria, tetapi tidak berhasil. Eria benar-benar sudah tak bisa bergerak dan membuka matanya. Namun, masih ada monster lain yang baru saja menunjukkan dirinya.


 


Kehidupan itu sementara, dan tidak ada yang abadi. Ya, tidak ada yang abadi … selama itu disebut kehidupan.


.


.


.


.


Hei…


.


.


.


Hei…


.


.


.


.


Buka matamu, Afra … dan lihatlah aku!


"Ah!" teriak Afra seketika langsung terbangun dengan posisi berdiri dan terkejut melihat dirinya berada di tempat itu. Namun, lantainya kini bermotif kotak-kotak berwarna hitam dan putih, sedangkan untuk yang lainnya masih sama. Sekeliling dan juga atas, semuanya tidak mempunyai ujung.

__ADS_1


.


.


.


"Kau akhirnya bangun juga, Afra…," ucap gadis bermata merah itu tiba-tiba muncul di belakang Afra. Afra langsung menoleh ke belakang nya dan melihat gadis bermata merah itu sedang tersenyum tipis padanya.


"Kau …," ucap Afra ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak bisa mengatakan nya. Gadis bermata merah itu hanya tertawa kecil mendengar perkataan Afra yang belum selesai itu.


Hihihi


"Apa kau ingin menanyakan pertanyaan padaku? Tentang …,"-gadis bermata merah itu mendekatkan wajahnya ke telinga Afra-"… apa yang terjadi padamu saat ini?"


 


Afra pun langsung kembali ke dalam hutan setelah tiba-tiba ia terbawa ke tempat gelap di mana gadis bermata merah itu berada. Afra terkejut ketika melihat….


"MANUSIA MEMANG LEMAH!" teriak monster itu yang sudah … berhasil membunuh dirinya.


A-apa itu … aku? batin Afra terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Ya, Afra melihat tubuhnya yang sudah tidak bernyawa dan penuh dengan darah. Dengan semua bagian-bagian tubuhnya yang sudah tak tersambung lagi. Afra benar-benar terkejut dan tak percaya.


Afra lalu meraba-raba tubuhnya dan melihat kedua tangannya.


A-aku … kenapa! Kenapa aku tidak merasakan apa-apa! batin Afra benar-benar tak percaya. Tangannya terlihat transparan. Dan Afra semakin terkejut melihat kakinya yang tidak menapak tanah.


Nafasnya mulai terengah-engah, dan …


Afra kembali ke ruangan hampa tanpa ujung itu, dengan gadis bermata merah itu yang tertawa jahat dihadapannya.


Hihihi … hihihi


"Kau sudah tau jawabannya kan, Manusia!" ucap gadis bermata merah itu dengan nada jahatnya, "semuanya … sudah berakhir untuk mu!"


Hiks … hiks


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku … sudah mati,

__ADS_1


__ADS_2