
Bulan dan bintang bersinar di malam hari. Dan di kawasan netral ini, di akademi Arknest ini, sang tokoh utama baru saja melihat ingatannya yang hilang.
Makhluk-makhluk di kawasan netral masih beraktivitas dan berlalu-lalang di bawah sinar rembulan. Beberapa ada yang sudah tertidur lelap di ranjangnya, dan Afra lah yang hanya terduduk di tempat tidurnya tanpa memejamkan matanya.
Afra masih terduduk di tempat tidurnya sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Tubuhnya sudah mulai kembali membaik, tetapi Afra masih merasakan rasa sakit di kepalanya … setelah melihat ingatan yang hilang itu.
"Ayah … Ayah … Ayah!" ucap Afra dengan nada lirih dan mulai meneteskan air matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa … ayah selalu mengatakan hal yang sama padaku…."
-------------------------------------------------------
Malam berlalu, pagi pun bertemu. Kesedihan berlalu, kebahagiaan? Belum tentu datang bertemu. Harapan itu berkorban, dan akademi adalah persekolahan.
Setelah semalaman menangis karena melihat ingatannya yang hilang, Afra pun akhirnya tertidur dengan rasa sedihnya. Walau pagi sudah datang, rupanya Afra masih ingat untuk bangun. Ya, itu juga karena ia sudah tidur di siang hari, tentu di malamnya … tidurnya tidak akan nyenyak.
Afra kini sedang berbaring di kasur nya dan menatap langit-langit kamar asramanya. Memang, kamar asramanya hampir mirip dengan kamar rumah pohonnya, hanya saja ukurannya berbeda. Kamar asramanya lebih besar dan luas daripada kamar rumah pohonnya.
Aku … harus bangun…. Ini sudah pagi, kan? batin Afra.
Suara pintu diketuk pun terdengar.
"Afra, apa kau sudah bangun? Aku masuk ya!"
Pintu kamar asrama Afra pun terbuka, Afra langsung menoleh ke arah pintu dan melihat Aura yang ternyata berada di depan pintu.
"Aura, ya …," ucap Afra lirih, lalu bangkit dan duduk di kasurnya, "… ku kira 'dia' yang akan datang."
Aura terkejut mendengar perkataan Afra, "d-dia? Siapa?"
__ADS_1
"Ah! Bukan apa-apa kok," jawab Afra spontan sambil menggelengkan kepalanya.
Kenapa aku berharap dia yang akan datang? batin Afra bertanya-tanya.
Aura terlihat masih penasaran dengan yang dimaksud Afra. Namun, Aura langsung teringat sesuatu.
"Oh iya! Kelas akan dimulai hari ini, apa kau sudah siap? Kondisi mu seharusnya sudah lebih baik sekarang!" ujar Aura dengan nada antusias.
Afra pun teringat ucapan Aura sebelumnya. Ya, Aura sudah bilang kalau besok adalah hari dimulai nya kelas, dan besok itu adalah hari ini. Namun….
"A-apa … kau bisa membantuku? Aku … lupa," ucap Afra dengan nada lirih, tetapi Aura masih bisa mendengar nya dan tentu ia terkejut.
"K-kau … lupa!"
***
Matahari sudah bersinar cerah, dan Afra sekarang sudah keluar dari kamar asramanya. Ya, sekarang ia dan Aura sedang berjalan-jalan di lingkungan akademi Arknest. Namun, sebelum Aura menjelaskan pada Afra, ia mengajak Afra untuk pergi menemui Iliya untuk mengecek kondisi Afra.
Ya, sepertinya Aura khawatir karena Afra mengatakan kalau dirinya lupa.
"Apa Afra hilang ingatan?" tanya Aura dalam benaknya sembari mengantarkan Afra ke tempat Iliya berada. Ya, lebih tepatnya ke menara sihir.
Afra hanya berjalan sembari berusaha agar tidak melihat sekeliling. Ya, Afra takut kalau dirinya bisa tiba-tiba tersesat dan tertinggal oleh Aura. Lagipula, sepertinya semua makhluk yang menjadi murid di akademi ini masih belum bangun, atau mungkin semuanya sudah masuk ke kelas … sepertinya.
Setelah beberapa menit berjalan, Aura dan Afra pun akhirnya sampai di menara sihir. Afra terbelalak dan kagum melihat menara sihir di depannya itu, meski Afra sebenarnya tidak tahu kalau itu adalah menara sihir.
"Ah, Aura, ya? Rupanya kau datang lagi ke sini," ucap penyihir perempuan itu lalu melirik ke arah Afra dan tersenyum tipis, "dan sepertinya kau sudah bangun ya, Afra Afifah!"
Afra terkejut mendengar penyihir itu menyebutkan namanya. Afra langsung tertegun dan mengira bahwa perempuan penyihir itu adalah 'dia'. Namun, ternyata tebakan Afra salah.
Ya, penyihir perempuan itu tingginya hampir setara dengan tinggi Eria. Mungkin jika disetarakan dengan manusia, sekitaran umur sembilan belas tahunan. Namun, ini adalah dunia monster!
"K-kau …," ucap Afra melihat penyihir perempuan itu dengan wajah bertanya-tanya. Penyihir perempuan itu tersenyum pada Afra.
"Aku Iliya, Iliya Viely. Penyihir muda yang sudah diberi wewenang di menara sihir ini!" ucap penyihir perempuan itu yang ternyata adalah Iliya yang dimaksud oleh Aura.
Afra pun menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Iliya.
"Aku datang karena Afra hilang ingatan! Jadi, aku harap kau bisa membantu Afra agar mendapat ingatannya!" ucap Aura dengan wajah datar lalu menoleh ke arah Afra, "semoga ingatan mu kembali ya, Afra!"
Aura tersenyum tipis setelah mengatakan itu pada Afra, dan ia pun pergi meninggalkan Afra bersama dengan Iliya.
Iliya hanya diam dengan wajah keheranan, "waah … sepertinya dia mengira kalau kau hilang ingatan, padahal kau hanya tidak tau apa-apa tentang akademi ini, iya kan, Afra?"
Afra terkejut mendengar perkataan Iliya dan langsung melihat ke arah Iliya. Iliya tersenyum tipis melihat ekspresi Afra yang terkejut itu.
__ADS_1
"Kau … bukan peserta tes kan? Dan kau bukan dari sini, benarkan? Afra Afifah!" tanya Iliya menatap mata Afra dengan tatapan tajam.
B-bagaimana ini? Aku harus apa? batin Afra bertanya-tanya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kau … dari kawasan terlarang kan, Afra?" tanya Iliya dengan nada serius.
.
.
.
.
.
Bagaimana ini! Aku harus apa sekarang! batin Afra sudah tidak bisa apa-apa setelah mendengar perkataan Iliya itu.
"Kau … dari kawasan terlarang kan, Afra?" tanya Iliya lagi dengan nada serius. Afra hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan Iliya itu.
"A-aku … memang bukan dari sini," ucap Afra tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menjawab yang sebenarnya. Namun, Iliya malah tertawa mendengar jawaban Afra itu.
"Apa kau menganggap serius pertanyaan ku?" tanya Iliya sambil terus tertawa, "kau ternyata mudah terpengaruh ya…."
Afra benar-benar terkejut dan tak percaya setelah mendengar perkataan Iliya itu.
"K-kau—"
"Aku hanya bercanda, jangan sopan seperti itu … tidak ada yang peduli di sini," potong Iliya berhenti tertawa dan tersenyum pada Afra, "baiklah, sepertinya kau hanya perlu membaca buku saja tentang akademi ini!"
"Dengan begitu, kau tidak akan lupa lagi, Afra!" sambung Iliya langsung berbalik dan masuk ke dalam menara sihir.
Afra benar-benar terkejut dan keheranan melihat Iliya yang baru saja mengerjainya itu. Afra masih menganggap bahwa Iliya benar-benar serius menanyakan pertanyaan itu.
"Ah! Ini dia!" ucap Iliya langsung keluar dan membawa dua buku yang terlihat sama, hanya saja yang satu tebal dan yang satu tipis.
"Kau bisa membaca ini, dengan begitu kau akan mengerti tentang akademi Arknest ini, dan juga tentang dunia bawah ini!"-Iliya mendekatkan wajahnya ke telinga Afra-"buku ini untukmu, jadi jaga baik-baik ya!"
Iliya pun menjauhkan wajahnya dari telinga Afra dan tersenyum. Setelah Iliya memberikan dua buku itu pada Afra, ia pun kembali masuk ke menara sihir meninggalkan Afra yang terbengong keheranan itu.
"A-apa … aku harus pergi sekarang?" tanya Afra sambil terus melihat ke arah pintu menara sihir dan berharap kalau Iliya akan menjawabnya, tetapi … tentu saja tidak ada jawaban. Sampai….
"Ya, Afra … kau harus pergi sekarang! Untuk apa kau ada di sini terus!" bisik gadis bermata merah itu di telinga Afra. Afra langsung menoleh ke belakang, yaitu ke arah gadis bermata merah itu. Namun, gadis itu langsung menghilang setelah menyuruhnya untuk pergi.
"Eum, sepertinya aku memang harus pergi!" ucap Afra langsung pergi menjauh dari menara sihir. Ya, tentu saja Afra pergi menuju kamar asramanya. Untungnya ia cukup pandai menghafal jalan.
__ADS_1
Setelah Afra sudah pergi jauh dari menara sihir, pintu menara sihir terbuka sedikit. Iliya terlihat sedang mengintip keluar, atau lebih tepatnya sedang melihat Afra yang sudah terlihat jauh dari menara sihir.
Iliya tersenyum tipis, "tebakan ku ternyata benar, ya…."