Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Sentuhan


__ADS_3

Pohon beringin bercahaya. Ini adalah pohon yang biasa saja jika dilihat. Namun, ini sebenarnya tidak seperti yang dikira-kira. Pohon ini adalah—


"Sia! Cepat pindahkan aku ke tempat mereka pohon kutukan! Berani sekali kau membuatku bertarung dengan monster sia itu!"


Tidak, sebenarnya pohon beringin bercahaya ini adalah pohon ajaib, bukan pohon kutukan. Jangan anggap serius semua perkataan Sira Siveria itu.


Sebelumnya, di saat Afra menghilang dari sisi Sira, itu bukanlah perbuatan Iylasvi, melainkan pohon beringin bercahaya ini. Atau lebih tepatnya, monster sihir yang baru saja dibunuh Sira sebelumnya.


"Hei, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu setelah berkata 'gadis manusia itu sudah aku bawa ke tempat ini pada saat aku tidak ada'!" tegas Sira mengulang kembali perkataan yang masuk ke dalam otaknya.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan memberi keheningan. Tidak ada jawaban dan sepertinya memang tidak akan ada. Sira yang masih dalam kondisi tidak senang mulai memikirkan kembali perasaannya.


"Haah, oke." Sira berbalik kemudian duduk bersandar pada pohon beringin bercahaya itu.


Setelah tidak berhasil membekukan dan membuat kulit pohon ataupun akar menggantung itu rusak, Sira akhirnya memilih untuk bersandar dan menghela napasnya. Sembari menikmati angin malam yang berhembus.


"Benar-benar, ya," gumam Sira membuka matanya dan melihat ke atas.


Cahaya terang berwarna putih kebiruan yang asalnya adalah dari akar menggantung pada pohon beringin bercahaya itu. "Afra …." Sira menggelengkan kepalanya dan bangkit dari duduknya.


"Apa yang kau lakukan hah! Apa kau akan kembali melupakan dengan mudah!" batin Sira sambil menutupi matanya dengan satu tangannya dan mengeluarkan suara erangan.


"Eh, buku itu …."


Buku sihir dengan sampul yang tampak kuno. Hitam gelap melebihi langit malam. Namun, ada pola sihir pada sampul buku itu. Pola sihir yang menjadi cahaya penerangan bagi kegelapan sampulnya.


Sira mengambil buku itu dan melihat sampulnya pada bagian depan dan belakang. "Ini 'kan milik—"


"Sekarang laksanakan apa yang dirimu pendam selama melawanku, Siluman!"


Pola sihir pada buku sihir yang dipegang Sira seketika menciptakan cahaya terang. Lebih terang dari sebelumnya sehingga membuat Sira tidak bisa melihat dengan jelas. Sira menutup matanya karena silaunya cahaya itu.


Semuanya menjadi putih dan membawa Sira pada ruangan hampa berwarna putih. Tidak ada pepohonan atau benda-benda lain di sini. Hanya ada kekosongan dan warna putih di segala sisi.


Sira membuka matanya dan mendapatkan perasaan yang pernah dirasakan sebelumnya.


"T –tempat ini 'kan—"


Seketika, persegi panjang berwarna hitam muncul di hadapan Sira. Persegi panjang itu membuat ucapan Sira terpotong saat tiba-tiba menampilkan kejadian saat Iylasvi mulai menancapkan pedangnya pada tanah.


Sira membelalakkan matanya saat melihat Afra yang terduduk ketakutan. "Afra!"


Ruangan hampa dengan kekosongan pada semua sudut dan sisinya. Hanya ada warna putih yang tidak bisa digenggam dan disentuh. Namun kini, layar hitam yang menampilkan gambaran waktu sudah menciptakan perubahan.

__ADS_1


Semuanya langsung menjadi retak dan pecah, sama seperti cermin yang tidak tahan melihat kenyataan. Pecahan-pecahan berwarna putih dari ruang hampa itu langsung lenyap dan menempatkan Sira di sisi Afra.


Sira membelalakkan matanya saat melihat Afra yang menutupi telinganya sendiri dan berteriak kesakitan. Afra terduduk di tanah dengan tanah yang kini sudah menampilkan pola sihir.


Cahaya terang mulai menyelimuti seluruh hutan dan membuat pandangan kabur. Iylasvi sudah menarik kembali pedang hijaunya dari tanah dan membuat lingkaran sihir berwarna hijau itu menunjukkan jati dirinya.


Iylasvi tersenyum jahat, begitu juga dengan ketiga bayangan dirinya. Kini cahaya sudah membuat dirinya tidak melihat keberadaan Afra dan itu artinya ….


"Pegang erat tanganku, Afra!" ucap Sira langsung menggenggam tangan Afra dan membuat Afra menoleh ke arahnya.


"S –Sira!"


"Ritual es, beringin perpindahan!"


Semuanya mulai disinari cahaya. Tidak ada lagi kegelapan malam dan kesunyian. Lingkaran sihir berwarna hijau itu sudah menciptakan suara ledakan dari hasil cahaya terang yang menyilaukan. Ledakan yang memberikan serpihan-serpihan kecil nan terang ke segala penjuru hutan.


Meski hawa dingin dan tanah yang membeku bukanlah hasil dari penciptaan lingkaran sihir itu.


"A –apa … yang terjadi?" Iylasvi membelalakkan matanya dan bayangan dirinya langsung menyatu dengan dirinya lagi.


Tanah membeku dan dilapisi oleh es yang benar-benar dingin. Beku dan tidak bisa menghilang kecuali jika memang ingin. Udara dingin ikut terasa saat angin malam berhembus. Iylasvi masih terbelalak.


"Si –Sira!"


"Pegang erat tanganku, Afra!" teriak Sira sambil terus menggenggam erat tangan Afra.


Afra mulai menggenggam tangan Sira dengan erat. Ia menambahkan tangannya yang satunya, begitu juga dengan Sira. Karena keduanya kini sedang terjatuh dalam lorong waktu.


Lorong waktu berwarna bening seperti air, tetapi bukan air yang tenang. Ini seperti berada dalam pusaran air, tetapi bukan pusaran air biasa. Ada serpihan-serpihan kaca di sekelilingnya.


Afra dan Sira saling berpegangan tangan. Keduanya harus bisa sampai tanpa terpisahkan. Sedang terjatuh dari ketinggian, seperti itulah kondisi keduanya. Sira yang ditarik gravitasi, sedang Afra dipaksa melayang dan terbang tinggi.


·


"Tidur dan pejamkan matamu, Afra Afifah!"


·


Lorong waktu seketika menghilang dan kini keduanya langsung berada di antara awan-awan malam. Udara dingin menyelimuti keduanya. Afra seketika memejamkan mata, setelah mendengar bisikan suara dari sang alter.


Cahaya terang berwarna biru muda menyelimuti tubuh Afra, sedangkan cahaya biru gelap menyinari tubuh Sira. Keduanya yang awalnya tertarik dengan cepat oleh gravitasi seketika melayang dan turun menuju tanah dengan perlahan.


Sira membelalakkan mata saat melihat apa yang terjadi pada dirinya dan Afra. Dimulai dari Afra yang memejamkan mata sampai cahaya biru muda dan gelap. Dan berakhir saat keduanya menapakkan kaki di tanah dengan selamat.

__ADS_1


Cahaya yang menyelimuti Afra dan Sira pun sirna. Afra yang sudah memejamkan mata langsung kehilangan keseimbangan diri. Dengan cepat, Sira langsung menarik tangan Afra dan membawanya ke dalam pelukannya.


Sira terkejut melihat Afra yang benar-benar tertidur. Afra sudah terlarut dalam tidur yang pulas. Sira tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengucapkan dalam diam.


"Afra …," batin Sira kemudian tersenyum tipis.


"Sira …," lirih Afra membuat Sira terkejut.


Sira sudah berniat melepaskan pelukannya, tetapi tiba-tiba Afra langsung membalas pelukan Sira.


"Afra …," ucap Sira dengan lirih dan kembali memeluk Afra. Afra tersenyum meski matanya masih terpejam.


"Kau … seperti manusia, Sira."


Sira membelalakkan matanya mendengar perkataan Afra. Ia merasakan sesuatu yang mencekam menyelimuti dirinya. Rasa ketidaknyamanan dan sesuatu yang berbeda ia rasakan dari diri Afra.


Sesuatu yang sangat berbeda, bahkan sangat lain dari awal kejadian buruk antara dirinya dan Afra. Kejadian ketika dirinya bertemu Afra di penginapan. Perasaan mencekam dan penuh dengan kejahatan, ini sangat-sangat berbeda.


Sira mulai melepaskan pelukannya, tetapi tiba-tiba Afra langsung mengalihkan tangannya. Tangan yang melingkari pinggang Sira itu langsung menggenggam kedua pergelangan tangan Sira.


Sira terbelalak dan keseimbangan dirinya goyah. Ia mulai terjatuh dengan mata yang kini sudah menatap mata Afra. Ada perubahan warna pada mata Afra yang biru gelap itu.


Suara badan yang menyentuh tanah dengan keras tercipta. Sira sedikit menyuarakan rasa sakitnya dan memejamkan mata sejenak. Dan ia langsung kembali mendapatkan tatapan dari mata Afra setelah membuka matanya.


Kedua tangan Sira terentang lebar dengan kedua tangan Afra yang menggenggam erat pergelangan tangannya. Sira terbaring di tanah dengan rasa mencekam yang menyelimuti dirinya. Afra kini berada di atas Sira dan sudah membuat Sira terpojok.


Sira menelan salivanya sendiri, sedang Afra tersenyum misterius. Netra biru Afra tampak menampilkan sesuatu yang lain. Afra sudah mengukung Sira saat ini dengan mata birunya yang mulai berubah.


Merah, warna biru pada matanya sudah menampakkan warna merah! Sira terbelalak dan semakin tidak percaya. Namun, Afra malah tersenyum melihat ekspresi Sira.


"Kau benar-benar menarik, Sira!" gumam Afra membuat Sira terbelalak.


"A –Afra— Mmmm …."


"Afra—"


Sira tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Gadis manusia bernama Afra Afifah itu sudah berbeda sekarang. Mata biru itu sudah berubah menjadi merah. Meski begitu, Sira kini tetap menampilkan ekspresi yang sama pada akhirnya.


"Ah …." Suara napas pendek yang dikeluarkan Afra dengan penuh kenikmatan.


Afra tersenyum dan mulai menyentuh bibir penyihir bertanduk bernama Sira Siveria itu. Bibir yang baru saja ia sentuh dengan bibirnya setelah pendekatan wajah.


"Sira …. Aku, benar-benar tertarik padamu!"

__ADS_1


__ADS_2