
"Ah."-Afra mendongakkan kepalanya-"hujan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Huh, hujan," gumam Sira sembari menggenggam tangan Afra.
Afra langsung mengalihkan pandangan dan memfokuskannya pada Sira. Sira tampak menunjukkan raut keseriusan.
"Kita cari tempat berteduh dulu." Sira langsung kembali berjalan dengan tangannya yang menggandeng tangan Afra.
Afra hanya mengangguk dan mengiyakan sembari merasakan garis-garis vertikal dari langit. Ya, garis-garis vertikal yang merupakan air dari partikel-partikel awan di sana. Partikel awan berukuran kecil yang berkumpul dan membentuk awan.
Afra dan Sira, keduanya sudah berjalan kembali setelah menapakkan kaki pada jalan layang dari kayu pohon. Jalan layang yang bisa disebut jembatan, meski sebenarnya tidak ada peyangga di bawahnya. Hanya menempel dengan pohon di sebelahnya yang diubah menjadi tempat tinggal para penduduknya.
Pohon adalah rumah, di sebelahnya adalah jalan dan di sebelahnya lagi adalah pemandangan alam. Pohon yang tetap hidup meski bagian dalamnya menjadi rumah, benar-benar keajaiban.
Langit biru tidak terlalu terlihat karena dedaunan pohon, tetapi air matanya masih bisa menyentuh tanah hutan. Sekarang, Afra dan Sira sudah menemukan tempat yang benar-benar cocok untuk berteduh juga membuat rencana.
"Tempat penjual informasi?" batin Afra bertanya-tanya setelah membaca tulisan pada papan di atas pintu.
Bangunan yang menyatu dengan pohon, tetapi masih terlihat bentuk pintu dan jendelanya. Jalan layang ini membawa Afra dan Sira ke tempat ini. Sira pun membuka pintu masuk tempat itu.
Bunyi bel pintu terdengar dan isi tempat itu pun terlihat sekarang.
"T –tempat ini .. mirip perpustakaan," batin Afra setelah melihat apa yang ada di dalam bangunan bernama 'tempat penjual informasi'.
Banyak rak-rak buku di sekeliling dan terdapat meja resepsionis tepat sejajar dengan pintu. Rak-rak buku memutar sesuai bentuk pohon dan beberapa buku tampak diletakkan di meja.
Suasananya seperti, cukup berantakan? Sepertinya begitu. Warna coklat kayu mendominasi di sini.
"Apa ada—"
Suara benda mati yang tertabrak keras dengan benda hidup terdengar. Sosok lelaki penyihir seketika muncul dari kolong meja resepsionis sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Oh? Hai, selamat datang, Manusia dan … Siluman?" sapa lelaki penyihir itu dengan ramah, tetapi membuat Afra dan Sira terbelalak.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki penyihir itu sambil tersenyum ramah.
Sira yang menyadari ada keanehan langsung memberi tatapan tajam pada lelaki penyihir itu. Afra memiringkan kepala dan melihat lelaki penyihir itu dengan tanda tanya.
"Dia …." Afra membatin dan membuat otaknya bekerja lebih, tetapi Sira langsung menciptakan sistem penghenti bagi Afra.
Sira memotong pemikiran Afra dengan mengeluarkan hawa dingin di segala penjuru. Afra tentu langsung menoleh dan memberi tatapan pada Sira.
"Oh, tentu saja ada. Tapi sebelumnya, aku ingin tanya. Bagaimana kau bisa dengan santainya—"
"Eh, bukankah itu hal yang wajar? Saat makhluk mempunyai ego, maka ia akan bisa berekspresi sesuai keinginannya?" potong lelaki penyihir itu langsung menjawab pertanyaan Sira.
Ya, meski itu sedikit membuat Sira kesal. Namun, itu malah menciptakan tanda tanya lagi dalam benak Afra. Lelaki penyihir itu kembali tersenyum.
"Kau ingin bertanya kenapa aku bisa santai berbicara pada kalian, sementara penyihir lainnya tidak 'kan? Itu mudah, kok. Aku punya ego, itu alasannya!"
Sira semakin menambahkan kesan dingin dan hawa mencekam. Udara yang tidak terlihat mulai menunjukkan diri, mengambil warna putih sebagai jati diri. Rasa dingin adalah ciri khasnya.
"Kau—"
"Sira!" Afra menghentikan niat Sira yang ingin menciptakan hal buruk itu.
Afra mengeratkan genggaman tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Sira yang satunya. Pemilik mata biru gelap itu menatap mata Sira yang sudah memberi hawa tajam.
"Huh, oke-oke," lirih Sira membuat hawa dingin yang menyelimuti seluruh ruangan menghilang secara perlahan.
Lelaki penyihir itu bersiul sejenak melihat Afra yang bisa merubah pemikiran Sira. Ya, meski sebenarnya lelaki penyihir itu melihat hal lain.
"Manusia dengan aura, benar-benar tidak normal, ya," batin lelaki penyihir itu sambil menunjukkan senyuman tipis pada Afra.
Afra yang menyadarinya langsung memberi tatapan tanda tanya, menciptakan rasa terkejut bagi lelaki penyihir itu. Namun, lelaki penyihir itu semakin menunjukkan senyumannya. Aura biru pada tubuh Afra mulai memberi penekanan pada lelaki penyihir itu, tentu Sira kini tidak merasakannya.
Afra, gadis manusia ini sudah memfokuskan rasa tekanan pada lelaki penyihir itu.
"Ah, kau tahu aku, ya?" batin lelaki penyihir itu lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Garis-garis vertikal mulai merubah diri, berubah menjadi titik-titik air. Tipis dan terasa ringan, semuanya berubah menjadi berat juga cepat. Rasa basah semakin terasa setelah perubahan.
Dedaunan, jalanan layang yang bisa disebut jembatan panjang, pepohonan tempat para penyihir tinggal. Semuanya terlihat mengalirkan air dan memberi genangan di beberapa sisinya.
Hawa sejuk antara udara hutan dan hujan, semuanya memberikan ketenangan. Para penyihir melihat keluar jendela, menyentuh dan membiarkan air mata langit memberi rasa basah pada tangan.
Beberapa memejamkan mata, beberapa tersenyum tipis. Menampilkan ekspresi yang sedikit sedih, berharap akan sesuatu.
.
"Baiklah, jadi kau ingin mengetahui tentang kerajaan penyihir?"
Lelaki penyihir dengan pakaian hitam, topi penyihir yang tidak terlalu lebar dan buku sihir di tangannya. Rambut pirangnya tetap terlihat meski ia mengenakan topi. Meski begitu, ia tentu memiliki postur tubuh seperti remaja sembilan belas tahun.
Umurnya? Tentu saja sangat jauh!
"Tidak, aku ingin tahu tentang istana kerajaan saja," jawab Afra dengan penuh keyakinan.
Sira mengeluarkan napas penuh keluhan dan memalingkan wajahnya dari lelaki penyihir itu, sementara Afra malah semakin memberi tatapan. Keduanya kini sudah duduk berhadapan dengan lelaki penyihir itu.
"Baiklah." Lelaki penyihir itu membuat buku di tangannya melayang.
Buku itu seakan-akan terkena angin sehingga tiap lembarnya tampak bergerak. Membolak-balik dan mencari lembar yang dituju. Pandangan Afra terfokuskan pada buku itu, sementara Sira hanya melirik.
Buku itu pun kembali kepada sang pemilik setelah menemukan lembar halaman sesuatu permintaan Afra. Gambar istana kerajaan dan juga beberapa tulisan terlihat di lembar halaman buku itu.
" 'Istana kerajaan penyihir. Dahulu kala, pada abad 'itu' telah terjadi'—"
"Eits, jangan dibaca!" potong lelaki penyihir itu sambil menutup buku yang sebelumnya ia tunjukkan pada Afra, "kau harus membayar ini jika ingin membacanya secara tenang."
"Nah!" Sira dengan cepat langsung melemparkan satu kantung berisi uang koin pada lelaki penyihir itu.
Lelaki penyihir itu pun menangkap kantung itu sebelum jatuh. "Seharusnya tidak perlu sebanyak ini," ucapnya kemudian menarun kantung itu ke dalam laci meja.
Sira berdecih, sementara Afra masih memfokuskan pandangannya pada buku di tangan lelaki penyihir. Lelaki penyihir itu tersenyum kemudian menyobek satu lembar halaman buku itu kemudian menggulungnya.
"Baiklah, terima kasih telah membeli informasi di sini." Lelaki penyihir itu tersenyum sambil menyerahkan gulungan kertas itu.
Afra menerimanya kemudian langsung membaca tulisan pada kertas itu. Ada gambar istana kerajaan beserta peta tiap sudut tempatnya, kemudian tulisan yang ditulis secara vertikal.
Afra membaca tulisan itu dengan seksama dan cepat, sampai matanya terbelalak.
"A –apa ini?"
__ADS_1