
"Afra …,"-Aura menghembuskan napas tipis sebagai pemutus ucapannya-"aku ingin mengatakan sesuatu padamu …."
"Tentang ras manusiamu itu," sambung Aura menampilkan raut wajahnya yang mulai tertutupi bayangan hitam di bagian mata.
Afra seketika langsung tertegun dan tak bisa apa-apa. Rasa takutnya seakan mulai bertambah. Dan sesuatu yang lain mulai membuat tubuhnya tidak bisa tenang. Sesuatu yang terasa mengikat leher dan dadanya.
"A –apa maksudmu, Aura?" tanya Afra dengan wajahnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Ini hanya … tentang rasmu, Afra," jawab Aura membuat ruangan yang baru dimasuki dirinya dan Afra terasa sunyi.
Sunyi dan penuh ketakutan, rasa tegang juga keringat dingin yang tercipta di wajah Afra. Afra, gadis manusia ini tentu hanya bisa diam dengan tubuh yang mulai merasakan sesuatu.
Ya, sesuatu yang lain dan hanya bisa dirasakan olehnya. Sesuatu yang membuatnya semakin ketakutan dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Benar-benar tidak bisa apa-apa.
Suara rantai yang bergoyang terdengar. Namun, hanya Afra yang menunjukkan tanda-tanda balasan dari bunyi rantai itu. Aura masih dalam posisi menunduk dengan mata yang tertutupi bayangan. Begitu juga dengan Afra yang sama-sama menundukkan kepala, hanya saja …
"R –rantai … besi."
… pandangan matanya terfokuskan pada rantai yang mengikat dadanya. Tidak, rantai itu mengikat bagian leher lalu merambat ke bagian dada dan berakhir di punggungnya. Namun, rantai di bagian dadanya itu benar-benar berbeda.
Ya, tidak bisa disebut sebagai rantai, melainkan sebuah lubang kunci yang seakan-akan tertanam di dadanya. Itulah bagian dari rantai yang mengikat dadanya. Seakan-akan, bagian dadanya adalah tempat di mana kunci untuk membuka rantai itu.
Tidak, memang di situlah tempat di mana rantai yang mengikat tubuhnya bisa terlepas. Hanya saja, tidak ada kunci untuk membukanya. Dirinya baru saja mengatakan dalam diam rantai di tubuhnya itu.
"Hei, apa kau akan diam saja, Manusia?"
Satu kalimat pertanyaan langsung keluar dari mulut gadis penyihir. Gadis penyihir dengan jubah berwarna biru gelap, ada tiga warna pada iris matanya dan rambut panjang berwarna merah muda. Gadis itu masih menundukkan kepala dan menampakkan kesan bayangan di matanya.
"Hei, Manusia!"
Satu kalimat penegasan langsung dikeluarkan oleh gadis penyihir itu. Aura, itu adalah namanya. Nama yang sebenarnya diberikan oleh gadis manusia. Gadis manusia yang kini berada di hadapannya. Meski ada jarak sekitar satu setengah meter.
"A –Aura …."
__ADS_1
Gadis manusia mulai berbicara. Kepalanya mulai berhenti menunduk dan matanya mulai menatap wajah Aura. Gadis manusia yang kini sudah merasakan perubahan dalam dirinya. Tidak, lebih tepatnya pada apa yang dikenakannya.
Gadis dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan, matanya memiliki iris berwarna biru gelap, meski warna matanya lebih mirip dengan air laut di kedalaman yang paling dalam.
Pakaian yang dikenakannya hanyalah pakaian akademi. Ya, meski sebenarnya pakaian itu mulai menghilang dan diganti dengan gaun putih yang diikat oleh rantai. Ya, rantai yang mengikat leher dan dadanya, sampai ke punggungnya.
Pusat rantai itu ada pada lubang kunci di dadanya.
"Apa … maksud perkataanmu itu?"
Nama gadis manusia itu adalah, Afra Afifah. Gadis manusia yang kini sudah merasakan perubahan dalam dirinya, atau lebih tepatnya pada pakaiannya. Pakaian akademi yang mulai berubah menjadi gaun berwarna putih. Gaun yang ia pikir adalah pakaian awalnya.
Entahlah, belum ada hal tidak penting yang masuk ke sini.
"Hei, Aura— akh!"
"Aakh!"
"A –apa … bagaimana bisa!"
Baiklah, kembali mengulang kejadian dengan rinci.
Pandangan mata biru sudah terfokus pada gadis penyihir yang berdiri sekitar satu setengah meter di depannya itu. Meski gadis penyihir itu menundukkan kepala, sang pemilik mata biru masih bisa melihat mata dari gadis penyihir itu.
Mata dengan tiga warna pada iris yang sudah tertutupi bayangan hitam. Sang mata biru itu masih menatap gadis penyihir dengan tiga warna pada irisnya. Namun, sesuatu yang lain kembali menghantui telinganya.
Suara rantai yang bergoyang dan mulai mengikat erat lehernya. Tubuh di bagian dada juga punggungnya terasa sesak. Ia langsung memandang dirinya sendiri, sampai mata birunya terbelalak.
Sang pemilik mata biru adalah gadis manusia. Gadis manusia yang kini sudah terbelalak setelah melihat perubahan pada dirinya. Pakaian akademi berwarna biru miliknya mulai berubah menjadi gaun putih yang belum pernah ia kenakan.
Ya, bukan gaun putihnya yang dulu, melainkan gaun putih yang benar-benar berbeda. Ada warna hitam yang menjadi warna pelengkap di gaunnya. Ini bukanlah gaun miliknya, tetapi …
"Ini hampir sama dengan gaun milik-'nya'!"
__ADS_1
Gadis manusia ini baru saja mengatakan satu kalimat dalam pikirannya. Satu kalimat yang di mana ada satu kata di sana. Satu kata yang merujuk pada sosok lain dalam dirinya. Ya, jiwa lain dalam dirinya.
"Hei, Aura— akh!"
Afra Afifah, itulah namanya. Ini sudah diulang-ulang setiap kata dan paragraf, tetapi ini adalah sesuatu yang berguna. Ya, meski ini tidak terlalu penting.
Afra Afifah, gadis manusia ini baru saja mengeluarkan satu teriakkan dari mulutnya. Satu teriakkan yang langsung membuat gadis penyihir itu menatap dirinya. Ya, menatap dan melebarkan mata saat melihat Afra, si gadis manusia itu tiba-tiba terangkat ke atas.
Cahaya biru menyelimuti tubuh Afra. Tubuhnya terangkat dan kakinya tentu tidak menyentuh tanah. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Matanya terlihat berusaha untuk tetap terbuka, meski sepertinya pandangannya sudah tidak berada di ruangan ini.
Gadis penyihir dengan tiga warna pada irisnya. Kuning, merah, biru, itulah urutannya. Netra itu, kini sudah merasakan yang namanya ketidakpercayaan. Terbelalak dan tak bisa melepaskan pandangan dari Afra Afifah.
Nama gadis penyihir itu adalah Aura, ini juga sudah diulang-ulang setiap saat. Meski begitu, belum ada yang menyadari tentang identitas aslinya.
"Apa … yang—"
"Aaakh!" Suara teriakkan berhasil lolos dan keluar dari mulut Afra.
Suara teriakkan yang baru saja memotong suara dalam diam dari gadis penyihir bernama Aura itu. Suara teriakkan yang mulai merubah tampilan gadis manusia bernama Afra ini.
Cahaya biru menyelimuti tubuh Afra dan menampilkan kesan gelap. Meski ini adalah cahaya, tetap saja. Warna biru laut yang gelap itu membuat semuanya menjadi terang gelap. Ya, anggap saja seperti lukisan hitam di langit yang disinari cahaya biru.
Hasilnya tetap saja gelap, meski ada satu isyarat yang menghasilkan sebuah senyuman. Namun, isyarat itu tidak berlaku di sini.
Afra masih berteriak dan mengeluarkan suara kesakitan. Matanya seakan dipaksa untuk terpejam, tetapi dirinya tentu tidak menginginkan hal itu. Aura masih terbelalak dan tidak ingin mengalihkan pandangannya dari Afra.
Karena, ada penampilan yang baru pada diri Afra.
Cahaya biru semakin menyelimuti dan mulai merubah pakaian akademi yang dikenakan Afra. Awalnya, pakaian akademi itu hendak berubah menjadi gaun putih, tetapi cahaya biru langsung mewarnai gaun putih itu.
Mewarnai dan merubah gaun putih itu menjadi gaun lain yang sangat-sangat berbeda.
"A –apa … bagaimana bisa!"
__ADS_1