
Alunan nada yang tak beraturan mulai terdengar, meski berisik tetapi menenangkan. Butiran-butiran bening yang sebelumnya berukuran kecil mulai menjadi lebih besar dan menjatuhkan diri dengan cepat. Menciptakan genangan yang kemudian mengalir di celah-celah bebatuan jalan.
.
.
"Permisi, apa aku bisa melihat daftar pengunjungnya?"
.
.
.
.
.
Suara bel sebelumnya berbunyi, tetapi sang penyihir resepsionis sedang melayani pengunjung yang lain. Penyihir perempuan yang terlihat seperti gadis remaja, tetapi tingginya menyamai tinggi penyihir resepsionis.
"Terima kasih, ya," ucap pemuda penyihir mengambil buku di meja resepsionis setelah diberi tanda pinjam oleh penyihir resepsionis.
Pemuda penyihir itupun pergi melewati penyihir perempuan yang masih berdiri di dekat pintu itu. Tidak ada yang terjadi dan hanya ada angin lewat hasil pergerakan pemuda penyihir.
Penyihir resepsionis pun melihat penyihir perempuan itu dan mulai melakukan tugasnya, "selamat datang di perpustakaan kami. Ada yang bisa dibantu?"
"Ya, apa saya bisa melihat daftar pengunjung hari ini?" tanya penyihir perempuan itu sambil berjalan mendekati penyihir resepsionis itu.
Pakaian penyihir seperti pakaian pelayan, rambut kuning panjang dan netra berwarna kuning cerah. Topi lebar dan cukup besar, tetapi tidak menghalangi pandangan untuk bisa melihat wajahnya. Warna hitam dan putih adalah ciri khasnya.
Tangan penyihir perempuan itu mengetuk-ngetuk meja resepsionis, sedangkan matanya menatap tajam pada penyihir resepsionis. Meski begitu, senyum ramah ditampilkan dengan baik olehnya.
"Maaf, tapi anda harus mengatakan identitas anda terlebih dahulu, juga alasan—"
"Berikan saja daftar pengunjungnya," ucap penyihir perempuan itu mendekatkan wajahnya pada telinga penyihir resepsionis.
Mata penyihir resepsionis itu langsung berubah dan kehilangan tanda kehidupan. Kosong dan hampa, benar-benar hanya bisa diam dan mengatakan 'ya' dengan tindakan.
Penyihir resepsionis itu langsung mengambil buku catatan pengunjung di laci meja resepsionis dan memberikannya pada penyihir perempuan itu. Penyihir perempuan itu langsung menerimanya dan tersenyum, kemudian pergi meninggalkan penyihir resepsionis.
Bukan pergi, melainkan masuk ke ruang perpustakaan dan menghilang di antara rak-rak buku.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Entahlah, tetapi tokoh utama harus menjadi sorotan lagi sekarang.
***
"Huh, buku yang mem-bo-san-kan!" ucap salah satu pengunjung yang baru saja membaca buku berjudul 'Pedoman Berbicara Sopan'.
Pemuda penyihir dengan sepasang tanduk biru mengkilap di kepalanya, netra kuning keemasan dan ekspresi wajah dingin. Pakaian penyihir bagai sang elite, tetapi setiap ucapannya terasa tidak sesuai dengan tampilannya.
Meski wajahnya sudah menyelaraskan semua hal itu.
"Ha? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya pemuda penyihir bernama Sira Siveria itu.
Pandangan matanya kini sedang menatap manik biru gadis manusia yang baru saja menoleh ke arahnya. Gadis itu duduk di sebelahnya dengan tangan yang memegang buku tebal.
Meski begitu, gadis manusia ini terlihat tidak terlalu memikirkan apa yang dikenakannya. Lagipula, pemikirannya saja sedikit konslet. Begitulah tanggapan dari pemuda penyihir bernama Sira Siveria itu.
"Eum, sudah cukup lama .. sekitar setengah waktu pagi yang lalu," jawab Afra Afifah, si gadis manusia itu memberi senyuman sekilas pada Sira kemudian kembali pada buku di tangannya.
Sira mengikuti pandangan Afra dan ikut melihat tulisan-tulisan yang sangat lain dari tulisan di bukunya. Sira melebarkan matanya kemudian membuka buku yang diambilnya di rak buku, yaitu buku berjudul 'Pedoman Berbicara Sopan'.
Sira melihat tulisan di bukunya, kemudian beralih ke tulisan di buku Afra. Ia semakin terbelalak dan menciptakan rasa terkejut dalam benaknya.
"Bukumu …." Belum selesai Sira berucap, Afra sudah menoleh dan menatap mata kuning keemasan Sira. Mata tajam yang selalu memberi aura dingin nan menusuk.
Sira tertegun sejenak dan menelan salivanya sendiri. Netra keemasannya yang tajam itu sepertinya tidak bisa bertahan lama dengan netra biru gelap Afra. Kosong dan hampa, seakan-akan sudah tidak ada kehidupan lagi bagi pemiliknya.
Ya, itulah mata biru gelap dari gadis manusia bernama Afra Afifah itu.
.
Afra memiringkan kepalanya dan mengeluarkan suara lirih dari mulutnya yang menutup. Sira semakin tertegun dan tidak bisa membuka mulutnya, tetapi pikirannya sudah berkeliaran. Mencoba untuk melawan kehendak raganya.
Sira mulai membuka mulutnya meski bulir keringat mulai tercipta di wajahnya, " … berbeda," ucapnya berhasil menghirup udara dengan benar sekarang.
Afra mengangguk kecil dan kembali membaca bukunya, sementara Sira hanya bisa diam sembari mengumpulkan udara segar. Diamnya saat ditatap oleh Afra seakan membuatnya ikut berhenti bernapas.
Ya, karena sekarang napasnya terasa terputus-putus.
__ADS_1
'Penyihir itu seperti manusia, tetapi tubuh mereka memiliki mana yang tidak dimiliki oleh tubuh manusia biasa. Mana yang dimiliki penyihir itu seperti jiwa pada manusia. Saat mana dalam tubuh mereka lenyap, tubuh mereka juga akan ikut lenyap.
Berbeda dengan manusia yang tidak membutuhkan kekuatan dan energi seperti ini. Hanya dengan otak dan nafsu saja sudah membuat mereka lebih buruk dari semua ras.
Ras penyihir, dipimpin oleh ratu yang bahkan jarang sekali menunjukkan diri. Beberapa dari penyihir membangun kelompok dan beberapa bergerak sendiri. Keluarga kerajaan adalah keluarga paling misterius, karena kebebasan adalah hal yang menjadi keutamaan di sini.
Meski begitu, kehidupan penduduknya malah sangat tertib dan tidak membuat masalah. Tenang dan damai, rukun nan tentram. Bagai ada benang tajam yang tak terlihat melilit leher mereka, mereka pun menjadi patuh tanpa aturan pasti.
Hanya keluarga kerajaan yang memiliki marga, sedangkan penyihir selain keluarga kerajaan kebanyakan tidak menggunakan marganya. Semua penyihir memiliki marga, tetapi kebanyakan malah menyembunyikan marga mereka.
Kehidupan penduduk kerajaan penyihir yang damai, tetapi sangat mencurigakan karena tidak ada peraturan apapun dari kerajaan. Ratu penyihir yang bahkan tidak memberitahukan marganya, apalagi namanya sendiri.
Hanya ada satu petunjuk tentang keluarga kerajaan dan seluruh wilayah kerajaan penyihir, yaitu Lyvie.'
.
"Eh? Lyvie?" gumam Sira terdengar jelas oleh Afra yang baru saja memahami kembali tulisan di lembar halaman buku di tangannya.
Ia sudah membacanya, tetapi ia baca ulang lagi. Dan ia membacanya dalam diam, hanya ia sendiri yang mendengarnya. Namun, ucapan Sira tadi membuatnya terkejut dan tentu saja memunculkan tanda tanya.
Ia menoleh dan menatap mata Sira, "apa kau bisa membacanya?"
"T –tidak, tidak! Aku hanya merasa kalau tulisan itu seperti diubah," jawab Sira merendahkan nada bicaranya.
"Diubah? Eum .. memang sih, tulisannya tidak seperti tulisan sebelumnya,"-Afra kembali melihat buku dan menatap serius tulisan pada lembar halaman tersebut-"hurufnya memang berbeda."
"Hm, aku tadi membacanya secara terbalik." Kata-kata Sira membuat Afra terkejut dan kembali menatap mata keemasan itu.
Sira menutup mulut dan hidungnya dengan satu tangan, sementara matanya tidak menatap balik netra biru Afra. Hanya memberi tatapan sekilas saja.
"Di situ tertulis 'Lyvie', tapi saat pertama kali aku melihatnya aku membacanya 'Viely'."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1