Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Tokoh Utama


__ADS_3

Masih di waktu yang sama, tetapi di tempat berbeda. Kota Etral, di penginapan tempat ketujuh murid akademi itu berada sekarang. Dua lk beda kelas itu sudah tertidur, begitu juga dengan empat pr. Hanya satu yang masih terjaga.


"Putri tidur kini tidak ingin tidur, ya? Hihi!" ucap Ilva yang sekarang sedang berada di samping Afra.


Afra diam dan tetap melihat keluar jendela dan memandang bulan. Wajahnya terlihat seperti … sudah tak punya apapun. Mata kosong, wajah layu, tak ada senyuman, dan pergerakan tubuh yang minim. Entah kenapa Afra kadang seperti ini saat bertemu dengan Ilva.


Ilva mendekatkan wajahnya ke telinga Afra dan menghembuskan nafasnya. Ia mulai menutup kedua mata Afra dan….


"Setidaknya buka pikiran mu, Manusia!" bisik Ilva dengan nada tajam, meski … Afra hanya melebarkan matanya sejenak.


.


.


Afra Afifah. Tokoh utamanya yang tidak tahu apa-apa. Meski pandai mengingat apapun, bukan berarti ia bisa memahami semuanya. Tanda-tanda pertanyaan selalu muncul dalam benaknya, meski kadang selalu saja sama.


Gadis bermata biru dan berkulit putih. Rambut pendeknya yang hitam kebiruan membuatnya sangat cocok jika memakai pakaian atau gaun putih dengan beberapa warna biru yang menjadi pelengkap. Ya, tidak banyak yang bisa dijelaskan … karena dia manusia.


Sifat polosnya bagai bunga mekar berwarna putih, masih suci … meski sebenarnya sudah ternodai. Ya, penglihatan tentang kematian ayahnya itulah yang memberikan kesan merah darah padanya.


Afra Afifah, gadis manusia berumur dua belas tahun yang sekarang menjadi murid akademi Arknest, akademi tempat empat ras makhluk hidup. Dan ia menyamarkan identitas manusianya dengan menjadi ras monster, sesuai perintah dari Ilva.


.


.


Ilva melepaskan tangannya yang menutup kedua mata Afra dan menjauhkan dirinya. Afra tetap tenang dan diam, lalu menoleh ke arah Ilva. Ilva membalas tatapan Afra dengan raut wajahnya yang tetap sama.


"Berpikirlah, meski kau akan semakin kesakitan karenanya," ucap Ilva membuat Afra melebarkan matanya. Mata kosongnya mulai kembali memantulkan titik sinar cahaya, dan pikirannya mulai kembali aktif.


"A-apa tidak apa? Aku … tidak tahu apa-apa,"-Afra menundukkan kepalanya-"aku … selalu merasa aneh akhir-akhir ini…."


Netra gadis monster yang menjadi bagian dari diri Afra itu terlihat senang. Ia menampilkan senyum miring di wajahnya.


"Sisi lain dari manusia, benar-benar aneh, ya," ucap Ilva dengan nada-nada yang selalu terasa nyaman bagi Afra, meski sebenarnya terdengar sangat menusuk.


.


.

__ADS_1


Ilva Ilyani. Gadis bernetra merah darah yang hidup sebagai sisi lain dari Afra. Rambut hitam kemerahannya kini sudah panjang, dan sudah tidak pendek seperti Afra. Kulitnya putih mulus seperti Afra dan juga wajahnya yang hampir mirip seperti wajah Afra.


Berdasarkan ingatan tentang kejadian sebelum kematian sang ayah, Ilva sepertinya adalah monster yang terlahir sebelum Afra. Ya, ia bukanlah manusia, melainkan monster.


Hidup sebagai sisi lain dari Afra, sebagai alter ego. Terlahir kembali dan menjadi abadi dengan pemilik tubuh asli, meski akan ikut mati saat tubuh tempatnya juga ikut mati.


.


.


Bulan purnama yang menampilkan bayangan sabit, angin malam yang berhembus membawa kesejukan dan hawa dingin. Aura, Iylasvi, Phia, dan Yuu sudah tidur, begitu juga dengan Vendry dan Sira yang tidur di kamar sebelah. Hanya Afra yang masih terjaga di sini.


Memandang bulan yang menyinari gelapnya malam, Afra tersenyum senang … setelah mendengar perkataan Ilva. Meski ia sebenarnya tidak terlalu memahaminya. Setidaknya Ilva menjawab pertanyaannya, itu sudah lebih dari cukup.


"Terima kasih, Ilva," ucap Afra tersenyum pada Ilva. Ilva membalas senyuman Afra lalu menghilang dan pergi.


--------------------------------------------------


Purnama tak selamanya kan ada, begitu juga dengan sabitnya. Setelah malam, akan selalu datang pagi. Keburukan bisa dibalik menjadi kebaikan, begitu juga … sebaliknya.


Hari esok sudah tiba, dan sekarang mentari telah menyinari bangunan kota. Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, Sira, dan Afra, mereka bertujuh sudah terbangun oleh hangatnya sinar matahari. Meski….


Aura hanya bisa diam dan menghembuskan nafas pasrah, setelah mendengar perkataan Iylasvi yang satu kelas dengannya.


***


Akhir-akhir ini, aku jadi terbiasa dengan apa yang ada di sekeliling ku.


Aku bahkan tetap bisa tidur nyenyak, padahal aku tidak tidur di kamar ku atau kamar asrama. Dan juga …


… Aku baru pertama kalinya tidur di lantai bersama dengan yang lain! Benar-benar hal baru!


Meski aku yang tidur paling terakhir, sih….


"Aah, aku benar-benar tidur nyenyak!" ucap Afra sambil tersenyum melihat matahari terbit dari jendela, setelah membatin banyak kata.


Suara ketukan pintu pun terdengar, dan keenam murid yang beberapa saat lalu pergi mencari makan pagi akhirnya kembali.


"Waktunya sarapan, Afra!" sapa Aura yang pertama kali masuk dengan tangan membawa kantung makanan.

__ADS_1


Afra tersenyum dan mengangguk sebagai tanda jawaban 'iya'.


***


Pagi sudah menyapa bangunan kayu dan batu yang tersusun rapi. Para makhluk-makhluk mulai berlalu-lalang di jalanan kota kuno yang menjadi tempat perkumpulan empat ras dari empat kerajaan, dengan golongan-golongan dan tingkatan yang berbeda-beda.


Semuanya terlihat berwarna, meski tidak ada ekspresi yang terpancarkan di wajahnya. Hanya satu konsep yang dipegang teguh, 'jangan urus dan peduli dengan makhluk lain!'


Meski begitu, mentari tetap bersinar dan membangunkan mereka yang masih berada di tempat tidurnya. Dan, di penginapan tempat ketujuh murid akademi Arknest ini berada, akan ada sebuah perundingan yang akan dilaksanakan.


Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, dan Sira. Mereka bertujuh sekarang sedang makan di kamar para gadis. Ya, di kamar tempat tidur Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, dan Phia. Semuanya terlihat fokus dengan apa yang mereka makan dan tidak ada yang berkata sepatah katapun.


Afra hanya bisa berusaha untuk makan dengan tenang dan tidak berbicara, setelah melihat semuanya yang bisa sunyi penuh ketenangan itu.


.


Satu persatu dari mereka telah selesai menghabiskan makanannya, dan … tersisa Afra yang masih belum selesai makan. Afra terkejut dan tertegun saat melihat semuanya menatap dirinya.


"A-ada apa? Kenapa kalian menatapku?" tanya Afra penasaran dan merasa tidak nyaman. Semuanya pun berhenti menatap dan membereskan bekas peralatan makannya.


Afra hanya bisa diam lalu melanjutkan makannya sampai benar-benar habis dan bersih, dan….


"Baiklah, kita bisa mulai lagi kegiatannya!" ucap Vendry saat melihat Afra sudah selesai makan. Afra sedikit terkejut mendengar perkataan yang tiba-tiba itu.


Sedangkan yang lain, mereka terlihat mulai menunjukkan wajah serius. Afra yang masih tak mengerti hanya bisa melihat ke teman pertamanya itu.


"Aura, apa kau bisa menjelaskan padaku?" tanya Afra pada gadis penyihir yang memiliki tiga warna pada matanya itu.


Aura hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar pertanyaan Afra, "apa kau lupa? Tugas kita di sini, Afra?"


Afra kembali terkejut dan tertegun. Ia benar-benar hampir melupakannya, seperti biasanya. Ingatannya benar-benar buruk, sepertinya.


"Tidak, itu sudah tidak penting lagi sekarang!" ujar Vendry langsung membuat semuanya terkejut dan keheranan.


Vendry langsung melemparkan surat yang diberikan Iliya sewaktu di akademi. Ya, surat yang harus diantarkan ke pangeran kerajaan hewan. Dua surat yang memiliki lambang berbeda sebagai perekat kertasnya.


Semuanya masih kebingungan, begitu juga dengan Afra yang dari awal tidak mengetahui apapun. Sampai … kedua surat itu tiba-tiba lenyap dan menghilang.


"A-apa yang terjadi! Kenapa suratnya menghilang!"

__ADS_1


__ADS_2