Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Dua Surat


__ADS_3

"Tidak, itu sudah tidak penting lagi sekarang!" ujar Vendry langsung membuat semuanya terkejut dan keheranan.


Vendry langsung melemparkan surat yang diberikan Iliya sewaktu di akademi. Ya, surat yang harus diantarkan ke pangeran kerajaan hewan. Dua surat yang memiliki lambang berbeda sebagai perekat kertasnya.


Semuanya masih kebingungan, begitu juga dengan Afra yang dari awal tidak mengetahui apapun. Sampai … kedua surat itu tiba-tiba lenyap dan menghilang.


"A-apa yang terjadi! Kenapa suratnya menghilang!" ucap Iylasvi terkejut saat melihat kedua surat itu menghilang, dan … Yuu langsung berdecih kesal.


"Assassin!" ucap Yuu langsung merasa kesal dan mulai memercikkan api amarah. Semuanya menatap Yuu yang … terlihat mengepalkan tangannya dengan erat.


Sira melipat tangannya dan menatap Yuu dengan tajam, "sepertinya, perkataan siluman itu, memang benar, ya," ucapnya agak … terdengar aneh di telinga keenam murid yang mendengarnya.


***


Mentari pagi di pertengahan garis horizontal dan vertikal, awan-awan putih bagai kapas melayang di angkasa lepas, dan angin transparan yang akan selalu memberi kehidupan bagi semuanya.


Kota kuno penuh batu dan kayu yang disusun menjadi bangunan-bangunan arsitektural, dan tidak ada kehidupan selain makhluk-makhluk yang hanya akan berbicara saat ada yang menyapa saja.


Berlalu-lalang, berjalan entah pergi atau kembali, melihat sekitarnya dan berhenti saat ada yang menarik. Benar-benar membosankan, mungkin. Takdir dunia tidak ada yang tahu.


Perihal dua surat dengan lambang berbeda yang ditujukan untuk pangeran kerajaan hewan, itu sudah tidak penting lagi sekarang. Karena … itu sudah hilang. Dan hasil yang langsung muncul adalah….


'Assasin'


.


.


.


Sekarang, Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, dan Sira sudah berada di keramaian kota. Semuanya sepakat setelah Vendry memutuskan untuk mencari assassin yang dimaksud oleh Yuu. Mereka saling berpencar sendiri-sendiri, kecuali Afra dan Aura yang tetap bersama.


Mungkin, melihat apa yang terjadi sebelumnya bisa membantu dan memberi petunjuk.


.


.


Sebelumnya…

__ADS_1


Suasana hening tercipta, setelah Sira mengatakan bahwa apa yang dikatakan 'siluman perempuan' itu, memang benar adanya. Namun, Afra masih tidak mengerti tentang satu hal di sini.


"A-apa maksudmu dengan assassin, Yuu?" tanya Afra penuh tanda tanya dalam benaknya. Yuu masih mengepalkan tangannya dan menundukkan kepalanya.


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang," jawab Yuu semakin mengeraskan kepalan tangannya.


Ras hewan dari bangsa werewolf itu benar-benar kesal dan marah, ya. Kedua telinganya yang berada di atas kepalanya itu menunjukkan tanda-tanda kebencian. Ya, benar-benar penuh dengan kebencian.


Semuanya bergeming melihat ekspresi Yuu yang biasanya ceria itu, kini berubah menjadi penuh api mistis.


"Cari dan temukan! Tidak ada gunanya diam!" tegas Phia memecahkan keheningan, meski hanya membuat semua mendongakkan kepalanya.


Perasaan bodoh terlintas di benak beberapa murid akademi ini. Bagaimana bisa mereka hanya diam saja setelah melihat apa yang terjadi?


Sang ketua kelas mulai menyiulkan jarinya, "berpencar sendiri-sendiri dan temukan assassin itu!"


Perintah penuh keyakinan dan ketegasan dari Vendry membuat semuanya langsung memercikkan api perjuangan.


"Baiklah! Kita mulai permainannya!" terang Iylasvi dengan penuh semangat. Satu persatu dari mereka pun keluar dari kamar dengan cara berbeda.


Sang serigala pergi menjadi kabut putih, sementara ketua kelas langsung menyelimuti dirinya dengan api hitam dan menghilang. Tersisa empat dari mereka setelah burung hantu pendiam itu langsung menghilang setelah keduanya.


"Terepōto!" ucap Aura tanpa basa-basi langsung memindahkan mereka berempat keluar dari kamar penginapan.


Tersisa dua teman yang masih diam di tempat itu. Manusia yang mengatakan pada semuanya kalau dirinya adalah monster itu terlihat masih kebingungan. Penyihir berambut merah muda itu langsung memegang pundak temannya itu.


"Ayo, kita cari bersama!" ajak Aura dan tersenyum. Afra langsung mengiyakan dengan anggukan kepala.


.


.


Sekarang…


"A-Aura, apa kau bisa jelaskan sebentar padaku? Aku … masih agak bingung," pinta Afra sambil menunjukkan wajah bingungnya.


Aura terkejut dan tak percaya mendengar perkataan Afra itu, "a-apa kau benar-benar tidak mengerti dari awal, Afra?"


Anggukan kepala pun dilakukan Afra, dan itu membuat Aura menghembuskan nafas pasrah.

__ADS_1


"Tentang dua surat yang hilang, kau seharusnya tau 'kan?" kata Aura membuat Afra tertegun. Ia seperti mengingat sesuatu yang lain. Sesuatu … yang berhubungan dengan 'dua surat' itu, tetapi itu hal yang lain.


"A-aku … tentu saja! Aku tau kok! Aku sudah tau! Iya, sudah!" ucap Afra spontan dan mengulang-ulang ucapannya. Aura keheranan dan merasa sedikit aneh melihat temannya yang sepertinya … menyembunyikan sesuatu.


"Kalau begitu, aku akan mencari assassin di sana, ya!" pungkas Aura seketika langsung mengeluarkan lingkaran sihir di bawah kakinya.


Aura pun langsung menghilang setelah lingkaran sihir itu bercahaya. Afra hanya bisa diam dan menghela nafas lega.


Jadi begitu, ya … sekarang aku sudah mengerti! batin Afra penuh keyakinan.


***


Sementara itu, di waktu yang sama, tetapi di tempat lainnya.


Sesosok makhluk dari bangsa werewolf terlihat sedang duduk di atap bangunan dan melihat pemandangan makhluk-makhluk yang berlalu-lalang. Netra orange yang hampir mirip seperti api itu terlihat mengawasi gerak-gerik disekitarnya.


Ya, rambut panjang berwarna hitam dengan telinga di atas kepalanya, netra orange bagaikan api yang menyerupai warna jeruk, dan mulutnya yang memegang ranting kecil. Kulit putih bening dan raut wajah yang tampak tidak ingin basa-basi.


Werewolf perempuan itu tersenyum tipis, dan mengambil ranting kecil di mulutnya dengan kedua jarinya. Bagaikan puntung rokok setelah dihisap, ia meniup nafasnya dengan perlahan.


"Kebiasaan buruk senior, cukup mengejutkan bagiku," kata werewolf perempuan itu sembari membuang ranting kecil di tangannya dan beralih, memegang dua surat dengan lambang berbeda.


***


Di tempat lainnya pula, werewolf perempuan lainnya yang lebih muda dari sebelumnya terlihat. Ia melompat dan berlari dari satu atap bangunan ke atap bangunan lainnya. Dengan tangan yang siap menarin pedang, ia melirik tajam sekelilingnya sembari melangkahkan kakinya dengan cepat.


Rambut putih panjang dengan telinga di atas kepalanya. Telinga berbulu yang warna putihnya sedikit diimbangi oleh warna hitam. Netra biru langitnya yang tajam, dan raut wajah yang benar-benar serius. Ya, ia adalah salah satu dari murid akademi Arknest.


Yuu, bangsa werewolf yang sepertinya, adalah sesosok assassin. Ya, assassin yang masih cukup misteri. Lompatan demi lompatan, dan tatapan demi tatapan, ia lakukan dengan perasaan penuh kebencian dan kekesalan.


"Assassin! Kau tidak bisa lari begitu saja dari sebangsa mu!" ucapnya dengan penuh keseriusan.


Angin berhembus semakin kencang saat Yuu berlari dengan pantasnya. Cahaya putih sekilas terlihat saat beberapa makhluk melihatnya berlari. Sampai ia berhenti di salah satu atap bangunan dan melihat sekelilingnya.


"Kau tidak bisa menjauh lagi!" kata Yuu bak terbakar api yang baru saja tercipta dari kayu-kayu kering.


***


Kembali lagi ke tokoh utama. Polos dan tidak tahu apa-apa, itu memang menjadi ciri khasnya. Namun, bukan berarti ia tidak bisa apa-apa. Masih ada pemikiran dalam hatinya.

__ADS_1


Gang kecil di antara dua bangunan besar. Lorongnya yang gelap meski cahaya mentari sudah bersinar memberi kesan, kalau dirinya bukan tempat yang nyaman. Dan, gadis bermata biru ini terlihat sedang sendirian di gang kecil itu.


"Ilva, tolong bantu aku … mencari assassin semalam!"


__ADS_2