Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Mengerti?


__ADS_3

"Hai, cewe aneh. Apa kau tidak lapar?" tanya Sira yang ternyata membuka pintu kamar inap Afra. Afra lagi-lagi harus kebingungan mendengar perkataan Sira yang … setiap katanya aneh dan terdengar asing.


"A-apa … yang kau katakan sebenarnya? Aku … tidak mengerti," tutur Afra dengan wajah kebingungan. Ia benar-benar tidak mengerti dan tak paham sama sekali.


Sira menunjukkan wajah datar, "apa aku harus berbicara seperti ini?"


Afra menganggukkan kepalanya sebagai tanda 'iya'. Sekarang Afra bisa mengerti dan tahu maksud perkataan Sira, meski tidak dengan apa yang dirasakan oleh Sira yang masih setia dengan wajah datar.


Sira pun masuk ke dalam dan menghampiri Afra. Ia menatap mata Afra dengan tatapan dingin. Afra hanya bisa membalas tatapan Sira dengan tatapan bertanya-tanya.


"Seharusnya aku tidak kembali ke sini," ucap Sira dengan lirih, tetapi Afra masih bisa mendengarnya.


"Apa maksudmu?" tanya Afra sedikit terkejut dan keheranan.


Sira langsung berbalik dan tak menghiraukan perkataan Afra. Ia langsung memegang gagang pintu dan membukanya, tetapi … pintunya tidak mau terbuka. Sira mengetuk-ngetuk pintunya dengan keras dan mendorongnya, tetapi tetap saja. Pintunya sudah terkunci.


"Sialan!" umpat Sira dengan kesal. Afra hanya bisa diam dengan rasa penasaran dan keheranan melihat sikap Sira. Namun, Afra langsung teringat sesuatu.


"Eum …," ucap Afra membuat Sira langsung menoleh kearahnya, "bukankah kalian pergi mencari makanan? Kenapa kau kembali ke sini?"


Sira tidak menghiraukan pertanyaan Afra dan langsung menunjukkan raut wajah datar.


"Kau itu, ya … bikin kesal tau!" ucap Sira dengan nada kesal.


***


Kota. Suasana pagi. Keramaian. Semuanya menjadi satu.


Bangunan-bangunan yang dibangun tinggi maupun rendah, besar maupun kecil, luas maupun sempit, itu tetap menjadi ciri khasnya. Meski di sini agak berbeda, ya.


Membaca tulisan singkat tentang apa yang terjadi sebelumnya.


.


.


.


Catatan ingatan sebelum ketujuh murid akademi ini mendapatkan tempat inap.

__ADS_1


Setelah ketujuh murid akademi ini masuk ke dalam kota, mereka melihat beberapa penduduknya adalah ras hewan. Iya, hanya beberapa, karena ternyata ada ras selain ras hewan di sini, dan itu artinya….


"Ini kota Etral, ya," ucap Vendry membuat semuanya berhenti melangkahkan kakinya dengan wajah terkejut.


Ya, kota Etral. Kota di mana semua ras berkumpul dan bersosialisasi. Meski sebenarnya … tidak ada yang benar-benar bersosialisasi. Suasana ramai penduduk, tentu! Hanya saja tidak ada yang berkomunikasi di sini. Ya, tidak ada kecuali jika ada yang mengajak.


Kota Etral adalah kota pinggiran yang digunakan sebagai kota bebas. Ya, karena setiap kerajaan mempunyai aturan untuk tidak mengijinkan ras lain masuk, kecuali jika ada hal-hal yang benar-benar penting. Namun, bukan hanya tentang keberadaan mereka yang berada di kota Etral, tetapi….


"Hei, Anak Akademi!"


Ketujuh murid akademi ini pun menoleh ke belakang dan … melihat sesosok makhluk dari ras siluman berambut biru gelap. Makhluk itupun menghampiri mereka bertujuh.


"Kalian semua … anak akademi Arknest, ya?" tanya makhluk itu membuat semuanya terkejut, tetapi sang ketua tentu tidak menunjukkannya.


"Ya, bagaimana kau tahu?" tanya Vendry sebagai yang paling tahu dari semuanya yang hanya bisa diam dengan netra dan rungu mereka.


Meski sejenak, makhluk dari ras siluman bergender pr itu terlihat menatap dan melirik satu-satu dari ketujuh murid akademi ini, termasuk Afra yang ditatap dengan tatapan aneh.


"Karena … aku juga murid akademi Arknest!" jawab siluman perempuan itu dengan senyum ramah.


Semuanya tampak curiga dan merasa ada yang aneh, kecuali Afra yang masih merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dan ya, tanpa Afra sadari, siluman perempuan itu tersenyum dengan menampakkan gigi taringnya pada Afra.


Ketujuh murid akademi ini pun pergi meninggalkan siluman perempuan itu yang … terlihat merencanakan sesuatu. Senyuman tipis, netra merah, rambut panjang berwarna biru gelap yang agak keunguan, apa benar … ia murid akademi?


Setelah ketujuh murid akademi ini berjalan agak jauh, mereka menyadari sesuatu. Ya, apa yang akan mereka lakukan? Apa akan terus melanjutkan perjalanan?


Singkat cerita, setelah berunding to the point, mereka sepakat untuk nencari penginapan. Lalu, setelah menemukan penginapan, keenam murid akademi ini pun mencari makanan di kota. Ya, Afra lah yang tidak ikut. Dan … Sira akhirnya memilih kembali ke penginapan untuk melihat keadaan Afra karena … ya terpaksa. Sampai akhirnya terkunci berdua di kamar inap.


***


Sementara di tempat kelima murid akademi Arknest, di pasar kota Etral.


Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, dan Vendry baru saja selesai membeli makanan, tetapi … ada masalah.


"Hai, kalian! Kita bertemu lagi, ya," ucap siluman perempuan yang sebelumnya bertemu dengan mereka.


Semuanya menatap tajam mata siluman perempuan itu, tetapi siluman perempuan itu malah menunjukkan wajah kebingungan.


"Eh, hanya lima saja?" ucap siluman perempuan itu membuat api tercipta dari salah satu murid. Iylasvi tersenyum miring.

__ADS_1


"Ya, memangnya kenapa? Kalau mau mencari sisanya cari saja sendiri!" ucap Iylasvi dengan lantang. Siluman perempuan itu tampak kebingungan, meski sebenarnya wajahnya saja terlihat seperti… memikirkan hal lain.


"Baiklah, sepertinya aku harus mencari mereka! Siapa tahu … ada sesuatu yang tak terduga akan terjadi," ujar siluman perempuan itu membuat semuanya semakin menaruh kayu pembakaran. Siluman perempuan itupun pergi dengan kata-kata perpisahan yang menandakan … akan pertemuan kembali.


***


Hidup. Kehidupan yang baik adalah menjadi bumi, dan bukanlah matahari. Matahari terlihat bergerak, padahal ia hanya diam. Sedangkan bumi terlihat sama dan tidak terlihat berjalan, padahal … ialah sang tokoh utamanya. Mengerti?


Kembali kepada Afra dan Sira yang … masih terkunci berdua di kamar. Dengan kepala tertunduk dan raut wajahnya yang masih kebingungan. Sedangkan tatapan dingin dan penuh kekesalan hanya dirasakan oleh Sira.


"Akh! Sialan!" ucap Sira sambil mengacak-acak rambut biru terangnya yang panjang. Afra hanya bisa diam dengan penuh tanda tanya melihat Sira yang lebih aneh darinya.


Sira langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia memukul-mukul pintu itu dengan keras, tetapi … tidak ada yang merespon dari luar.


"Sialan! Sialan!" teriak Sira bagaikan orang gila yang kehilangan separuh hidupnya. Afra yang mulai merasa … sedikit bersalah langsung ikut bangun, tetapi malah direspon dengan wajah datar oleh Sira.


"A-aku akan membukanya, tetapi kau … tutup mata saja, ya," ucap Afra dengan nada terbata-bata. Sira hanya menatar datar lalu menjauh dari pintu.


Afra pun mendekati pintu, dan menoleh ke arah Sira.


"Aku tidak akan melihatnya, kalau mau meledakkannya juga tidak apa-apa," ucap Sira dengan nada malas sembari melihat ke luar jendela. Afra hanya bisa diam lalu kembali melihat ke arah pintu.


Baiklah, aku seharusnya bisa membantu daripada diam dan bersikap seperti ini terus! batin Afra.


Seketika, pintu kamarnya langsung terbuka sebelum Afra menggenggam gagang pintunya. Dan … Aura terlihat berada di depan pintu.


"Afra!" ucap Aura dengan wajah yang terlihat khawatir.


Afra terkejut dan keheranan, dan yang lainnya pun datang.


"Semuanya aman, ya," ucap Vendry membuat Afra semakin kebingungan.


Yuu terlihat membuang nafas lega, Iylasvi tersenyum senang, sedangkan Phia terlihat menyimpulkan senyuman tipis. Sira yang mendengar suara mereka langsung menoleh dan menatap tajam semuanya.


"Gila!" umpat Sira dengan nada lirih. Semuanya terlihat tidak mempedulikan Sira dan hanya menunjukkan senyuman sekilas pada Afra dan masuk ke kamar.


"Baiklah, kita bisa makan sekarang!" ucap Iylasvi dengan nada senang sambil menunjukkan makanan yang dibawanya.


Singkatnya, mereka bertujuh pun makan di kamar inap para gadis, meski dengan perasaan berbeda. Namun, masih ada hal yang ganjil dan bukan genap. Makhluk dengan telinga serigala, rambut hitam panjang, netra orange dengan mulut yang memegang ranting kecil … terlihat mengamati ketujuh murid akademi dari luar jendela. Tentu saja di jarak yang sangat jauh.

__ADS_1


"Waktu pulang, ya," gumam makhluk dari ras werewolf itu.


__ADS_2