Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Rencana


__ADS_3

Kembali pada kehidupan yang fiksi. Tidak nyata dan hanya berbentuk tulisan. Namun, siapa yang peduli? Kembali pada keseriusan.


Tidak butuh mawar merah, karena yang kuning sudah mencukupi. Mungkin ini adalah pilihan yang harus dijalani oleh penyihir bertanduk bernama Sira Siveria. Ya, meski ia sebenarnya adalah siluman yang memiliki energi sihir seperti penyihir.


Kini dirinya dan Afra sedang duduk dan makan. Keduanya sudah menginjakkan kaki pada jalan melayang yang terbuat dari kayu pohon. Meski bisa disebut jembatan, tetapi sepertinya tidak ada penyangganya.


Ya, intinya Afra dan Sira sudah memasuki kota Sihir wilayah hutan. Meski awalnya ada sedikit masalah, sih. Namun, sepertinya tidak perlu dijelaskan. Karena para penduduk yang melihat keduanya langsung memalingkan wajah dan pura-pura tidak tahu.


Pedagang yang menjual makanan yang keduanya makan sekarang saja hanya membelalakkan mata.


"Aneh sekali, ya,"-Sira menguyah makanannya-"tidak ada yang ghibah atau menyerang kita."


Afra dengan segera menelan makanan yang sudah ia kunyah dan berkata, "eum .. sepertinya begitu."


Sira melirik Afra dan menatapnya dengan tajam. Afra hanya membelalakkan mata sebagai tanda tanya, kemudian Sira mengalihkan pandangannya dan kembali makan. Afra pun membuang rasa tanyanya dan kembali memakan makanannya.


Kursi kayu panjang dengan warna kayu yang masih alami. Jalanan layang yang panjang dan lebar di depan tempat tokoh utama duduk dan makan. Di belakangnya adalah tempat keduanya membeli makanan.


Para penduduk yang semuanya adalah penyihir terlihat berjalan di jalanan layang itu. Melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak menghiraukan Afra juga Sira di sana. Penjual makanan yang baru melayani keduanya hanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Para penyihir yang melihat Afra dan Sira hanya diam, tidak melakukan tindakan ataupun hal lain. Hanya berpura-pura tidak tahu dan kembali melanjutkan aktivitas. Semuanya seperti itu.


"Oke, waktu makan selesai!" ucap Sira beranjak dari tempat duduknya dan menatap mata Afra tajam.


Afra yang baru saja selesai makan langsung tertegun. Namun, Sira langsung menghela napasnya dan mengalihkan pandangan dari Afra.


"Selanjutnya apa? Apa kau tidak punya rencana apa-apa?" tanya Sira dengan nada yang terdengar malas.


Afra berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Ya, aku .. tidak tau harus melakukan apa."


"Ha? Kau benar-benar ingin mencari Aura 'kan? Apa kau nggak tau nyarinya gimana?"

__ADS_1


Afra kembali mengangguk. "Iya. Tapi, aku rasa aku harus mencari sesuatu yang lain."


Sira kembali terkejut mendengar perkataan Afra, tetapi ekspresi wajahnya tetap terlihat malas dan dingin. Kemalasan yang dingin, begitulah.


"Bentar deh, lu mo cari paan?" Afra memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Sira.


Sira terpaksa menghela napasnya lagi dan mengulang perkataannya. "Kamu, mau, mencari, apa, selain, mencari, Aura!"


Afra mengangguk kecil dan menjawab pertanyaan Sira dengan senyuman tipis. Sira sedikit membelalakkan mata sampai akhirnya Afra berbicara.


"Mencari rahasia kerajaan dengan petunjuk 'Lyvie',"-Afra bangun dari tempat duduknya-"aku merasa, kalau Aura akan ada jika aku mencari informasi tentang 'Lyvie'."


Sira tampak tidak mengerti dan mengangkat alisnya sebelah, "huh? Memangnya kau sudah merasakan 'mana' nya?"


Afra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Angin sepoi-sepoi berhembus dan membelai rambut pendek Afra, juga rambut panjang Sira yang kini sudah disanggul. Afra memberikan senyuman sehingga Sira memalingkan wajahnya dari Afra.


"Oke-oke, kita pergi cari infonya!" ujar Sira mengalihkan pandangan dan topik pembicaraan.


Sira langsung berjalan diikuti Afra di belakangnya. Sira dengan ekspresi yang sedikit memerah, sedangkan Afra hanya tersenyum saja.


Mari melihat sesuatu yang lain, di kota Sihir wilayah perbatasan.


Pagi hari sudah menjadi, tetapi awan hitam kembali menyelimuti. Langit biru tampak gelap, meski masih ada cahaya putih di antara dua awan raksasa.


Bangunan-bangunan kota yang materi penyusunnya adalah batuan alam dan kayu. Jalanan kota juga disusun oleh batu-batuan alami berbentuk persegi panjang. Batu dan kayu, hampir tidak ada kaca selain kaca cermin.


"Waktu mengikuti telah sampai," gumam sosok penyihir yang baru saja keluar dari salah satu bangunan di sana.


Bunyi bel pintu masih terdengar meski pintunya sudah tertutup. Bangunan sederhana nan tinggi yang memberikan makna, ia adalah tempat penginapan. Bangunan yang kini sudah ditinggal pergi oleh sosok penyihir itu tetap sama.


Cuaca mungkin tidak mendukung, tetapi itu tidak menghilangkan rasa para penduduk 'tuk beraktivitas. Sosok penyihir yang merupakan perempuan itu sudah berjalan pergi.

__ADS_1


Melangkahkan kaki dan tidak mempedulikan sekelilingnya. Ia hanya berjalan sembari membatin kata-kata.


"Tidak ada tanda-tanda dari 'Lyvie'."


"Semua tampak normal, tetapi terlalu sunyi."


"Walau tetap menjawab, 'kan selalu ada kehampaan dalam hati."


"Tidak ada ego, kecuali bagi mereka yang berhubungan dengan 'Lyvie'."


Ya, itulah kata-kata yang baru saja terucap dalam hati dan benak penyihir perempuan itu. Satu kalimat dijeda tiga langkah, kemudian membatin kata-kata lagi. Dua langkah, kemudian satu langkah dan diakhiri dengan empat langkah sebagai penutup.


Ada empat kalimat yang penyihir perempuan itu ucapkan dan semuanya berhubungan dengan keadaan. Hanya sang pengertian yang bisa memahami.


Penyihir perempuan dengan pakaian berwarna hitam dan biru. Cahaya ada pada biru, sementara hitam sebagai kegelapan. Topi penyihir yang tampak seperti sirip ikan hiu sudah ia hilangkan menjadi ikan-ikan sihir.


Ikan-ikan sihir itu langsung membuat lingkaran di belakang punggungnya, sementara ia tetap berjalan. Rambut panjang berwarna putih miliknya dibelai angin yang berhembus kencang.


Sarung tangan selalu dipakai olehnya. Meski sekarang gaun penyihirnya lebih digunakan untuk menutupi bagian belakang. Sosok lain akan bisa melihat dirinya dengan jelas jika melihat secara berhadapan.


"Rencana, itu bukan hal buruk," gumam penyihir perempuan itu kemudian tersenyum tipis.


Salah satu ikan sihir yang memiliki ukuran lebih besar dari ikan sihir lainnya mulai mendekat. Terbang dengan siripnya mendekati sang penciptanya. Ikan sihir itu menempatkan dirinya di atas jari sang pencipta, yaitu penyihir perempuan.


Kini, penyihir perempuan itu sudah berhenti melangkah dan mulai mendekatkan ikan sihir di atas tangannya. Menuju ke depan salah satu matanya. Sepasang mata merah itu sudah tertutupi salah satunya oleh ikan sihir.


Ikan sihir berwarna merah itu sudah menutupi sebelah mata, sedang tangan penyihir perempuan itu menjadi penutup mulutnya.


Kegelapan menyelimuti, cahaya bersinar. Garis-garis vertikal mulai turun membasahi bangunan dan jalanan kota. Tidak terkecuali hutan yang baru saja diberi jejak oleh penyihir perempuan itu. Namun, penyihir perempuan itu sudah benar-benar pergi sekarang.


Tepat sebelum garis vertikal dari langit turun, dirinya sudah tertelan kegelapan dengan dua kata sebagai pengantar kepergiannya.

__ADS_1


"Killing me." Itulah kata-kata yang diucapkan olehnya.


__ADS_2