Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Lupakan Saja


__ADS_3

Singkat kalimat, Cyrèn yang masih menyisakan darah di mulutnya langsung memberi perintah. Tie pun mengangguk, dan mereka berdua pun membawa dua juniornya menuju penginapan. Dan …


… sesampainya di penginapan, Aura dan Vendry pun diberi sihir penyembuhan oleh Iylasvi.


Afra, Aura, Yuu, Phia, dan Vendry. Mereka berlima tertidur setelah mendapat banyak kejadian dan, cukup luka … mungkin.


Cyrèn, Tie, Sira, dan Iylasvi. Hanya mereka berempat yang belum tertidur, sampai waktu terbit mulai mendekat.


.


.


.


.


Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut mereka.


-----------------------------------------------------------


Pagi masih ada, dan matahari selalu bersinar. Semangat yang terpancarkan sang mentari, sudah memberikan kesan yang baik bagi penduduk kota. Kerusakan, dan hal-hal yang tidak diinginkan sudah menghilang. Dan semuanya sudah kembali kepada ketidakpedulian yang mendinginkan suasana.


Suasana yang seharusnya dijalani dengan penuh kesenangan itu … terasa suram dan tidak ada artinya untuk seterusnya.


***


Pertengahan hari, di penginapan tempat kesembilan murid akademi Arknest ini berada. Tidak, sepertinya hanya tersisa empat dari sembilan makhluk sekarang.


Sira memejamkan matanya dan menikmati paginya dengan bermimpi, meski tidak ada bayang-bayang yang masuk dalam tidurnya. Vendry berdiam diri di kamar, dan tidak mempedulikan Sira yang tertidur di dekatnya.


Iylasvi, Yuu, dan Phia. Ketiganya pergi keluar dan mencari suasana tenang. Meski … hal buruk bisa saja kembali, sepertinya. Yang tersisa hanyalah empat. Afra, Aura, Cyrèn, dan Tie. Mereka berempat masih berada di kamar inap.


.


.


"Eum … apa kita akan diam saja seperti ini?" tanya Afra memulai percakapan, dengan nada keheranan.


Ya, Tie hanya diam dan tetap pada kebiasaannya. Ranting kecil yang selalu setia ia jepit dengan bibirnya, bagaikan puntung rokok yang masih alami. Pandangannya tetap tertuju keluar jendela, dan tidak melirik siapapun yang ada di ruangan saat ini.


Aura yang duduk di samping Afra hanya menundukkan kepalanya, dan diam. Sedangkan Cyrèn … ia tertawa kecil, dengan raut wajahnya yang menyembunyikan rasa gentarnya.


"Aku tidak bisa menyalahkannya, ya," batin Cyrèn menatap Afra dengan tawa kecil yang masih ia suarakan.


Afra memusatkan rasa herannya pada Cyrèn, dan Cyrèn semakin tertawa demi menyembunyikan rasa gentar dan takutnya. Itu membuat Tie tersenyum tipis, lalu mengambil ranting kecil di mulutnya dengan kedua jarinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita membicarakan tentang dua surat ini?" kata Tie sembari melihat ketiga makhluk yang saling diam itu, dan melemparkan dua surat misi yang ia ambil sebelumnya.


Dua surat yang sekarang berada di tengah-tengah keempat makhluk yang berbeda ras itu, langsung memberi kesan baru bagi mereka.


Aura melebarkan matanya dan memandangi dua surat itu, begitu juga dengan Afra. Dan Cyrèn akhirnya berhenti tertawa.


***


Awalan selalu tertuju pada sang surya, lalu berganti pada purnama, dan kembali lagi pada pusat utama. Ah! Lupakan saja.


Waktu siang sudah lewat, dan matahari sudah mulai menuju senja. Hawa panas selalu menyelimuti hari-hari di kota, dan itu bukanlah sebuah akhir. Yang menjadi akhir adalah … kesembilan murid akademi ini yang sudah kembali berkumpul di penginapan.


Waktu makan siang sudah berlalu, dan mereka masih diam di tempat. Posisi duduk yang melingkar, dengan beberapa wadah makanan dari kayu yang sudah kosong dan seperti baru dibersihkan. Tidak ada yang berbicara, dan semuanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Meski … tidak semuanya.


Afra kembali kepada dirinya, yang penuh pertanyaan. Ia benar-benar heran dan penasaran dengan sikap semuanya. Diam dan tidak saling menatap. Pandangannya hanya satu, yaitu ke bawah, atau keluar jendela, dan ke arah yang tidak ditempati siapapun.


Suara siulan jari pun terdengar, dan pandangan semuanya mengarah pada senior siluman.


Cyrèn mulai menunjukkan ekspresi serius, dan dua surat berbeda lambang pun ia tunjukkan dengan jarinya.


"Biar aku dan Tie jelaskan tentang surat dari penyihir kuning itu!" jelas Cyrèn dengan nada tajam, dan memberikan kesan menakutkan untuk Afra. Ya, meski yang lain hanya menanggapinya dengan wajah tenang ataupun membalas perkataan Cyrèn, tentunya dengan aura keseriusan.


Afra memperhatikan Cyrèn dengan penuh ketegangan. Ya, selang beberapa detik senior berucap, Cyrèn hanya … meletakkan satu surat dengan lambang biru di tengah-tengah. Dan, Tie pun mengambil surat dengan lambang biru itu.


Pandangan ketujuh murid tetap pada sang siluman. Karena … tepat setelah satu detik Tie mengambil suratnya … Cyrèn langsung membuka surat itu tanpa pikir panjang. Surat yang dibungkus dengan amplop itu, ia ambil dan mulai direntangkan.


Begitulah, isi surat yang dibacakan oleh Cyrèn, dengan penuh nada serius, dan … kemalasan. Semuanya tertegun sejenak, setelah mendengar Cyrèn membaca isi surat itu. Cyrèn langsung meletakkan selembar kertas itu dan pandangan ketujuh murid mengikutinya.


Mereka membacanya, termasuk sang tokoh utama yang masih sedikit mencerna keadaan. Tulisan yang sama seperti yang dikatakan Cyrèn sebelumnya, dan itu adalah isi sari suratnya. Mata terbelalak dan tak percaya, itu yang mereka ekspresikan.


Tie pun meletakkan surat dengan lambang biru di dekat selembar kertas dari surat berlambang merah. Pandangan ketujuhnya langsung beralih ke surat yang masih dibungkus amplop itu.


Sang ketua pun mengambil surat itu dan membukanya. Setiap pergerakan terasa menegangkan. Selembar kertas dengan warna yang mirip seperti kulit kayu mulai diletakkan oleh Vendry.


Kosong … itulah yang mereka lihat di selembar kertas itu.


"Apa ini? Kenapa tidak ada tulisannya?" kata Sira dengan kosakata yang normal, dan nada bicaranya yang … dingin. Netranya dikecilkan, dan ekspresinya yang datar hampir mewakilkan keenam murid ini.


Ya, hampir mewakilkan, hanya hampir. Afra masih merasa kebingungan dan sedang mencoba untuk memahami, sedangkan Aura hanya membelalakkan matanya sejenak, dan kembali menunduk. Iylasvi diam terbelalak, sedangkan Yuu dan Phia diam tak berekspresi. Dan …


… Vendry menghela nafas panjang.


"Hanya misi penjemputan, ya, benar-benar tidak dianggap!"


-----------------------------------------------------------

__ADS_1


Tokoh lainnya lagi…



Nama : Cyrène En


Gender : pr


Ras : siluman naga


Kekuatan : pengendali naga (lebih berfokus ke pengguna pedang)


Umur : 160 th \= 16 th


Tinggi : 160 cm


Kelas : II 1


Karakter : labil + susah dijelaskan



Nama : Tie Aphas


Gender : pr


Ras : hewan ; werewolf


Kekuatan : assassin


Umur : 170 th \= 17 th


Tinggi : 162 cm


Kelas : II 2


Karakter : tenang


*Informasi mengenai assassin.


Assassin adalah sebutan bagi werewolf yang memiliki kemampuan untuk menghilang/gerakan cepat. Bagaikan ninja, werewolf yang memiliki kekuatan assassin ini biasanya selalu menyembunyikan identitas aslinya dan jarang bergaul atau bahkan menjauh dari para makhluk.


Assassin \= pembunuh? Informasi bertahap.


*Siluman naga

__ADS_1


Siluman ini adalah siluman yang termasuk ke dalam golongan terkuat dan bisa dibilang paling langka, karena bisa meniru dan menggunakan wujud naga sebagai jati dirinya.


__ADS_2