Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kejadian


__ADS_3

Melihat masa lalu, ini adalah ingatan tentang hari-hari yang dilalui Afra dan Sira. Dengan latarnya di kota Sihir wilayah perbatasan, tepat beberapa hari setelah perjanjian dilakukan.


Kejadian yang sepertinya— lebih baik langsung membahas ini saja.


------------------------


Pagi hari yang cerah di penginapan, sinar mentari telah memasuki celah jendela kamar inap Afra. Awan putih tidak terlalu menyelimuti dan membiarkan langit biru terlihat asri. Kini, Afra mulai membuka matanya dan bangun dengan rasa yang baru.


"Hoaam, pagi yang indah!" Kalimat pertama untuk mengawali hari sudah diucapkan oleh Afra.


Gadis manusia bernama Afra Afifah ini mulai melakukan aktivitas paginya. Diawali dengan membereskan tempat tidur dan membiarkan sinar mentari menyinari kamarnya.


Menghirup udara segar dan merasakan angin sepoi-sepoi. Rasa senang dan bahagia dirasakan dengan penuh kegembiraan. Menikmati dinginnya air dan mengenakan pakaian yang sesuai dengan hati.


Dirinya kembali melihat keluar jendela dan merasakan hangatnya sinar mentari.


"Baiklah, waktunya menjalani hari yang baru lagi!" ucap Afra mulai beranjak dari tempatnya dan pergi.


.


.


"Ah! Sira!"


"Oh, hai!" sapa Sira yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia berjalan menghampiri Afra.


"Hai," sapa Afra sambil tersenyum. Sira hanya membalas dengan wajah malasnya.


Afra memiringkan kepalanya dan bertanya, "kau kenapa?"


Sira tak menjawab dan langsung berjalan menuruni tangga. Afra yang merasa tidak sedikit aneh pun hanya diam melihat, sampai Sira menatap tajam dirinya.


"Ikut aku," perintah Sira dengan nada dingin dan wajah yang tampak malas beraktivitas.


Afra menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti Sira yang masih mengusap mata. Sepertinya Sira kurang tidur, itulah yang Afra pikirkan melihat ekspresi Sira. Meski begitu, ia langsung menghilangkan pikiran itu dan kembali pada dunia.


Bunyi bel pintu terdengar saat Sira membuka pintu, kemudian bel berbunyi lagi karena Afra yang terlambat mengikuti Sira. Ia sempat menyapa penyihir resepsionis sejenak sebelum kembali mengikuti Sira.

__ADS_1


"Sira, kita akan ke mana?" tanya Afra sambil terus berjalan di belakang Sira.


Sira tak menjawab sampai akhirnya ia berhenti melangkahkan kakinya. Melirik dan memberi tatapan pada Afra, tertegun juga tidak bisa berkata-kata. Afra hanya bisa membalas tatapan Sira dengan tawa kecil.


"Pergi ke tempat makan yang enak,"-Sira mengulurkan tangannya pada Afra-"pegang tanganku kalau tidak mau tersesat!"


"Terakhir kali ku ajak kau malah pergi ke tempat lain!" sambung Sira dengan nada dingin dan agak kesal.


Afra hanya bisa tertawa kecil kemudian menerima uluran tangan Sira. Ya, yang dikatakan Sira memang benar.


"Baiklah!" ucap Afra memberi senyuman.


Keduanya pun berjalan bersama dengan tangan yang saling menggenggam. Melangkahkan kaki melawan arah tempat mentari berada hingga menemukan tempat tujuan.


Toko roti, inilah tempatnya. Setelah Sira membeli roti, ia mengajak Afra untuk duduk di kursi yang ada di dekat toko roti itu. Keduanya duduk bersampingan dengan bungkusan berisi roti sebagai penengah.


"Nih, makanlah!" Afra menyambut roti yang diberikan Sira.


"Terima kasih," ucap Afra kemudian memakan rotinya, begitu juga dengan Sira.


Suasana pagi yang cukup indah. Para penduduk kota selalu menjalani hari dengan semangat. Beberapa penyihir membeli roti di toko roti yang ada di dekat tempat duduk Afra dan Sira.


Afra pun menghilangkan rasa penasarannya dan kembali makan, sampai akhirnya muncul pemikiran lain. Roti di tangannya sudah habis, begitu juga dengan roti di tangan Sira.


Masih ada satu roti yang tersisa. Afra pun berniat mengambil roti itu, tetapi tangannya malah menyentuh tangan Sira yang sudah lebih dulu menyentuh roti itu. Ia dan Sira pun saling melihat dan menatap.


Bergeming dan tidak ada niat untuk menghentikan tatapan ini, sampai keduanya mengalami perubahan ekspresi. Sira melepaskan kontak mata dan berkata.


"Buatmu saja," lirih Sira mengalihkan pandangannya dari Afra, tetapi ia masih melirik ke arah Afra.


Afra masih mengarahkan pandangannya pada Sira dan tentu, ia kembali menatap mata Sira saat Sira meliriknya. Ia menggeleng cepat dan menatap kembali mata Sira.


"U –untukmu saja," ucap Afra sambil menundukkan kepalanya.


Tangannya masih menyentuh tangan Sira dan Sira mulai mengalihkan sentuhannya. Sira yang awalnya masih menyentuh roti seketika beralih menyentuh tangan Afra. Keduanya pun kembali bertatapan dan menampilkan ekspresi malu.


"B –bagaimana, kalau kita bagi dua saja .. rotinya?" ujar Afra dengan pandangannya yang masih terfokuskan pada mata Sira.

__ADS_1


"Y –ya." Sira mengiyakan perkataan Afra.


Sira pun kembali menyentuh roti di bungkusan itu, tetapi tangannya malah menyentuh tangan Afra yang sudah menyentuh roti itu duluan. Afra membelalakkan mata dan membiarkan Sira mengambil roti itu.


Afra mengalihkan pandangannya dari Sira dan membatin, "aku kenapa? Kenapa rasanya …."


Afra menggeleng cepat dan menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Ia melihat ke arah Sira yang sedang memotong roti itu menjadi dua. Sira pun memberikan roti itu pada Afra dan Afra pun menerimanya.


Sira pun memakan roti bagiannya, sementara Afra hanya memandang roti di tangannya dan tak memakannya. Sira yang awalnya tidak peduli dan hanya fokus memakan roti mulai memberi pertanyaan.


"Ada apa, Afra? Kenapa gak dimakan?" tanya Sira sambil melirik ke arah Afra dan kembali memakan rotinya.


Sira keheranan melihat Afra yang tidak menjawab. Afra bergeming dan masih fokus menatap roti di tangannya. Wajah yang tampak sedih dan mulai kehilangan kehidupan.


"Afra?" panggil Sira masih tidak dijawab oleh Afra.


Sira pun memegang tangan Afra dan kembali memanggilnya. "Afra!" ucapnya dengan nada tegas.


Afra terbelalak dan langsung menatap mata Sira. Keduanya kembali bertatapan dan tidak ada yang berniat mengalihkan pandangan.


"Sira ..," ucap Afra lirih dan tetap menatap mata Sira.


Sira seketika langsung menggelengkan kepalanya saat ekspresinya berubah sekilas. "Ada apa? Kenapa kau tak makan?"


"Eh? Ah! I –ini aku makan!" Afra langsung menggigit dan menguyah roti di tangannya.


Afra memakan rotinya dengan lahap dan tentu ia membiarkan Sira terus melihatnya makan. Sira tersenyum tipis dan kembali memakan rotinya. Keduanya pun saling memakan roti masing-masing sampai habis.


Afra melirik ke arah Sira yang tampak menikmati rotinya. Afra tersenyum kemudian melihat jalanan, sementara itu Sira terlihat melirik Afra. Sira memandang wajah Afra sampai akhirnya Afra menoleh ke arahnya.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan membelai rambut pendek Afra dan juga rambut panjang Sira. Afra, si gadis manusia dan Sira, lelaki penyihir yang sebenarnya siluman itu. Keduanya saling bertatapan dan akhirnya salah satu membuka mulut.


"Sira …," lirih Afra membuat Sira tertegun.


Terlihat jelas perubahan ekspresi Sira yang benar-benar berubah. Rasa malas dan dingin, kedua rasa itu berubah menjadi rasa yang baru. Memerah, mungkin satu kata ini sudah cukup untuk menjelaskannya.


"Aku .. entah kenapa, suka …,"-Afra menundukkan kepalanya-"… denganmu."

__ADS_1


Angin sepoi-sepoi kembali berhembus dan menciptakan suasana. Sira mulai memberanikan diri dan berbicara.


"Aku … menyukaimu, Afra!"


__ADS_2