Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Waktu Malam


__ADS_3

Di penginapan kota Etral, ketujuh murid akademi ini sudah berkumpul … dan sedang menikmati makanan bersama. Ya, bersama dua senior yang ternyata adalah … tujuan mereka.


Ya, tujuan utama mereka bertujuh … yang awalnya dimulai dari dua surat untuk pangeran kerajaan hewan.


***


Sarapan bersama sudah selesai, tetapi keheningan masih tercipta. Masih ada beberapa hal di sini … yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, tiga kejadian yang menimpa mereka bertujuh. Tidak, bukan tujuh … tetapi sembilan.


Dari sang tokoh utama, itu sudah terungkap. Namun, bagaimana dengan dua lainnya?


.


.


.


"Hei, bisa kita mulai 'kan, penjelasannya?" ucap Sira memulai pembicaraan, dan memecahkan keheningan setelah sarapan. Namun…


Tidak ada yang merespon perkataan Sira, meski sebenarnya … mereka meresponnya dengan diam. Tanpa kata, tetapi tetap bergerak. Ya, beberapa menundukkan kepalanya, dan sisanya diam dengan raut wajah … entahlah, siapa yang tahu.


"Aku meminta maaf atas semua ini. Aku benar-benar meminta maaf!" ucap Vendry mengepalkan tangannya dan membuat darah keluar dari telapak tangannya. Pandangannya menatap tangannya yang sudah berdarah itu.


Aura terbelalak mendengar perkataan Vendry.


"A-aku juga! Seharusnya aku yang paling disalahkan di sini! Aku … tidak bisa mengendalikan kekuatanku!" Aura berkata dengan kepalanya yang tertunduk, dan memejamkan matanya.


Iylasvi memalingkan wajahnya dan menunduk, "aku juga … bersalah di sini," lirihnya dengan bibir bawahnya yang digigit.


Hening. Keheningan kembali tercipta. Namun, ini tidak bisa untuk selamanya … seperti ini.


"Tidak, itu tidak benar seutuhnya! Jika bukan karena kau, mungkin aku harus reinkarnasi nantinya!" tutur Cyrèn mencoba menghilangkan rasa bersalah ketiga juniornya itu, dan, "terima kasih!" sambungnya sambil tersenyum.


Aura, Iylasvi, dan Vendry memandang Cyrèn sejenak, lalu kembali menundukkan kepala. Namun, Afra juga … ikut menundukkan kepalanya.


"A-aku … minta maaf, karena … sudah menyerangmu…," ucap Afra lirih, tetapi didengar dengan baik oleh semuanya.


Cyrèn tersenyum pada Afra, "tidak apa-apa, kok! Kau juga … tidak ingat apa-apa 'kan?" katanya tanpa memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, "lupakan saja, ya, yang terjadi semalam!"


Para junior mengangguk sebagai jawaban, dan kembali diam. Cyrèn hanya bisa tersenyum, agar perasaan penuh bersalah mereka hilang. Hanya Sira yang menunjukkan wajah kesal dan tak acuh, sedangkan sang assassin hitam…


"Lupakan hal yang buruk, dan ingatlah hal yang baik. Meski kadang keduanya saling terbalik," kata Tie memberi motivasi, meski masih memberi kesan keheningan pada keenam junior itu.


Tie pun kembali pada kebiasaannya, dan melihat keluar jendela. Sira beranjak dan pergi ke kamarnya, dan … sunyi pun kembali.


.


.


.


.


.


Mungkin, ini perlu dijawab dan dilihat yang sebenarnya.

__ADS_1


.


.


.


.


Ini adalah kejadian yang terjadi kemarin malam. Ya, waktu malam … yang salah.


.


.


"Afra…," ucap Aura masih tak tahu harus berkata apa, setelah melihat Afra yang terjatuh ke tubuhnya itu. Dan juga … Cyrèn yang sudah basah dengan darah itu.


"Apa … yang harus kulakukan?" batin Aura seketika meneteskan air matanya.


Suara tangisan dalam diam, tentu tidak bisa terdengar. Hanya bisa mendengar sedikit, dari titisan air mata yang terjatuh. Kesunyian malam memberi banyak ruang untuk suara kecil itu terdengar.


Suara langkah kaki mulai terdengar. Semakin terdengar, dan semakin mendekat. Namun, air mata yang mengalir keluar masih menyelimuti gang kecil itu. Tak peduli apa dan siapa yang menyuarakan hal lain, rasa sedih akan tetap terus diutarakan di sini.


"Aura!"


Gadis penyihir itu langsung melihat ke depan, dan mendapati penyihir lain yang memanggilnya itu.


"Iylasvi…," lirih Aura dengan air mata yang masih menetes. Iylasvi langsung berlari menghampiri, dan terbelalak.


Tak percaya, dan tak tahu harus apa. Tubuh telungkup dan basah dengan darah. Iylasvi benar-benar terkejut, sedangkan Aura masih dalam tangisannya.


"Iyla, sihir penyembuhan!" perintah Sira dengan cepat, dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Iylasvi. Meski, setelah satu detik Iylasvi termenung.


Cahaya hijau menyelimuti tubuh Cyrèn. Perlahan-lahan, air merah mulai menghilang, dan kesadaran sang siluman mulai kembali. Jari jemari mulai bergerak perlahan, dan suara lirih yang masih merasakan sakit pun terdengar.


"Akh … serangan macam apa itu?" ucap Cyrèn di awal kesadarannya.


Cyrèn membangunkan tubuhnya yang masih memiliki luka dalam, dengan rasa sakit yang cukup terasa. Aura masih dalam posisinya, dengan Afra yang tak sadarkan diri pada tubuhnya.


Cahaya hijau pun mulai redup, dan Iylasvi mulai membuka mulutnya, "syukurlah," ucapnya lalu menghela nafas lega.


Rasa sakit masih dirasakan Cyrèn, tetapi ia tidak mempedulikannya. Melihat kondisi Afra yang sudah tak sadarkan diri, ia pun menoleh ke arah siluman sihir.


"Namamu Sira 'kan? Apa kau bisa bawa gadis monster ini ke penginapan?" pinta Cyrèn pada siluman sihir itu. Sira pun mengangguk dan melihat ke arah Aura.


Aura masih meneteskan air matanya, tetapi Sira tidak terlalu memikirkannya. Ia pun memegang pundak Aura dengan tangannya yang dingin.


"Biarkan aku membawanya, kalian cepatlah pergi ke hutan!" perintah Sira dengan nada dingin dan penuh keseriusan. Aura hanya bisa diam dan mengangguk kecil.


***


Kejanggalan. Keanehan. Ketidaktahuan. Kepastian yang tidak pasti. Dan … kepercayaan.


Bulan masih bersinar, dan suasana kota masih penuh dengan keheningan. Tidak ada satupun makhluk yang keluar, kecuali para murid akademi ini.


Setelah beberapa menit Sira dan Iylasvi bertemu, dan bertarung dengan alasan bahwa … Iylasvi kehilangan pemikirannya, mereka berdua memutuskan untuk menuju tempat naga siluman yang mereka lihat.

__ADS_1


Ya, bintang-bintang yang berjatuhan dan naga yang melahap semuanya. Itu terlihat jelas di mata mereka. Namun, setelah langkah kaki dikerahkan sampai tujuan, mereka berdua harus mendapati … hal yang tidak terduga.


Sekarang, Sira sudah membaringkan tubuh Afra di kamar inapnya. Aura dingin dan beku, acuh tak acuh dan tidak ingin memikirkan apapun. Hanya satu pikiran yang harus ia pikirkan.


"Dunia ini benar-benar aneh," gumam Sira sembari menatap wajah Afra yang … terlihat menyedihkan itu.


Tanpa ekspresi, dan terlihat mati. Meski … pikiran lain sempat melewati diri Sira.


.


.


Sementara itu, dua gadis penyihir dan satu siluman perempuan sudah melesat menuju hutan di pinggiran kota. Langkah kaki yang menapaki jalanan rata yang tersusun dari batu, juga menginjak dan memberi bekas di dinding dan atap bangunan.


Bagaikan setengah assassin yang memotong jalur angin, Cyrèn melangkahkan kakinya dengan penuh kecepatan di atap-atap dan dinding-dinding bangunan. Melawan gravitasi, dan tidak memikirkan dua gadis penyihir yang tertinggal di belakangnya.


"Benar-benar kesalahpahaman!" batin Cyrèn dengan kedua gigi taringnya yang ia gesekkan.


Cahaya merah mulai bersinar, lurus dan mengarah ke angkasa. Cyrèn menarik pedangnya dan menebaskannya ke langit, sehingga naga siluman miliknya muncul dan menutupi sebagian cahaya bulan.


Aura dan Iylasvi. Mereka berdua saling berlari dengan tangan yang saling bergandengan. Beberapa air mata masih membasahi wajah Aura, dan itu menghambat dirinya untuk berlari.


Kedua gadis penyihir itu, mereka sama-sama kekurangan sihir. Ya, dengan Cyrèn yang berada jauh di depan mereka, akan sangat lama mereka mengejar dan menyamainya.


"Kalian! Naik dan pergi ke sana lebih dulu!" teriak Cyrèn mulai menginjakkan kakinya di udara. Lingkaran-lingkaran kecil bagaikan gelombang air muncul di bawah kaki Cyrèn. Dan…


Angin mulai membantu dirinya untuk berlari menuju tujuannya.


Sang naga mulai terbang menuju kedua gadis penyihir itu. Kedua penyihir itu tampak terkejut, dan belum bersiap-siap. Rasa penuh ketegangan tercipta, dan…


"Terbang!" teriak Iylasvi langsung mengeluarkan lingkaran sihir di bawah kakinya dan kaki Aura.


Seketika, mereka berdua langsung terpantul ke atas dan tepat sebelum sang naga melewati mereka. Aura dan Iylasvi langsung mendarat tepat di atas tubuh naga siluman itu. Nafas mereka langsung memburu dan terputus-putus. Namun, situasinya sedang tidak bisa digunakan untuk istirahat.


Sang naga dengan cepat berbalik dan terbang mengikuti Cyrèn yang sudah jauh di depan, dengan Aura dan Iylasvi di atas tubuhnya. Naga itu terbang dan meliukkan tubuhnya bagai ular.


.


.


Membelah angin malah yang berhembus, ketiganya pun sampai di hutan pinggiran kota. Terlihat api hitam dan biru yang menyelimuti tanah alami dan asri di sana. Cyrèn menapakkan kakinya di tanah dengan penuh rasa tidak nyaman.


Perasaan tegang dan penuh bahaya dirasakan Cyrèn saat ini, tetapi itu bukanlah sebuah masalah. Matanya mulai melirik dan melihat sekelilingnya, dengan pedang merahnya yang siap untuk dilepaskan.


Sang naga mulai menghilang, dan kedua gadis penyihir itu turun ke tanah. Perasaan yang bercampur aduk dan tidak bisa dikatakan dengan jelas. Aura benar-benar tidak ingin berada di arena kematian sekarang.


Tiba-tiba, angin kencang langsung berhembus melewati ketiga makhluk itu. Api hitam dan biru mulai menyebar, tetapi seketika langsung lenyap dan menghilang. Cyrèn dengan cepat langsung menarik pedangnya dan bersiap untuk menembus hutan. Namun…


Bayangan putih tiba-tiba melesat melewati Cyrèn dan dua gadis penyihir di belakangnya. Werewolf putih bernetra biru, sang assassin yang sekarang sudah terpental dan tak berdaya di tanah.


Dua gadis penyihir itu terkejut setelah menoleh ke belakang, begitu juga dengan Cyrèn yang benar-benar terbelalak itu.


"Sebenarnya … ada apa di sini?" tanya Cyrèn dengan raut wajahnya yang mulai membeku, dan tak bisa apa-apa. Namun, bukan berarti ia benar-benar tidak bisa apa-apa 'kan?


"Senior!"

__ADS_1


__ADS_2