
Pagi biru, pagi hari yang tercipta atas biru. Bersama intinya, rusak untuk-'Nya'. Sepertinya aneh? Tentu saja aneh! Lebih baik membaca semua paragrafnya sampai tahu makna pagi biru yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Dimulai dari tokoh utama tentunya.
.
…
Afra …
… Afra …
…
.
"Afra!"
.
"Aura!" Afra berteriak sebagai bentuk memulai hari, meski ini tidak disengaja.
Napasnya terengah-engah, pikirannya menjadi terbayang-bayang akan sosok penyihir yang baru saja hilang kemarin. Semuanya karena 'Viely'. Rasa sakit di awal membuka mata membuatnya menciptakan butiran air di pojok matanya.
"Ah, aku .. tidak boleh menangis!" Afra mengusap air matanya yang sudah mengalir di pipinya.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya. Terlihat setitik cahaya masuk melewati celah jendela yang tertutup. Ia pun bangun dan menggulung kasurnya, kemudian membuka jendela dan melihat keluar.
Bangunan-bangunan kota yang tampak gelap, tetapi masih terlihat warna aslinya. Cahaya jingga kekuningan, juga warna putih mulai menghapus kegelapan langit malam. Pagi sudah datang, meski kini tanpa kehadiran 'Aura'.
"Ya, aku harus percaya pada diriku juga! Bahwa aku bisa!" Setelah mengusap kembali sisa-sisa air mata, Afra pun memulai pagi yang masih pagi ini.
__ADS_1
Merapikan ruangan kamar, kemudian membasahi tubuh dengan cairan bening sebagai bentuk membersihkan diri. Pakaian tetap sama, yaitu gaun biru bagai pakaian penyihir. Tersenyum pada pantulan diri, kini Afra sudah siap.
.
"Ya! Aku … pasti bisa,"-Afra melebarkan mata-"iya 'kan?"
.
.
.
Pantulan diri pada cermin, Afra melihatnya dengan mata terbelalak. Bukan tanpa sebab, tetapi karena bayang-bayang ingatan yang muncul dan mengganti pantulan dirinya di cermin.
.
Afra kembali melihat dan mengingat, bagaimana dirinya bisa membaca pikiran juga ingatan dari Iliya, saat ia menatapnya. Namun, ingatan-ingatan itu langsung membuat penglihatannya kabur dan hampir menjatuhkan dirinya ke lantai.
"Ah!" Afra terkejut, tetapi ia sudah berhasil mempertahankan keseimbangan.
Afra melihat dirinya secara nyata, kemudian melihat dirinya yang maya pada pantulan cermin. Ia menatap tajam dan melihat sedikit demi sedikit perubahan pada dirinya. Mulai dari pakaian, kemudian dua permata yang menjadi penjepit rambut.
Permata merah yang menyala, sementara permata biru mengeluarkan kobaran api kecil berwarna biru. Namun, hal yang menjadi inti dari perubahannya adalah aura berwarna biru pada tubuhnya.
Aura yang sama seperti kobaran api biru pada permata birunya, warna biru seperti warna matanya. Namun, lebih menunjukkan ketajaman sejati. Ia mulai menutup mata, lalu membukanya kembali.
.
.
Aura biru yang menyelimuti tubuh Afra seketika berkobar seperti api. Berkobar dan seakan-akan mulai membakar, tetapi tidak ada hawa panas dari auranya itu. Matanya tidak menampilkan kehidupan, hanya ada kekosongan di matanya.
Afra menutup matanya dan membukanya lagi. Aura birunya mulai normal dan tidak berkobar bagai api.
"Ya, ini akan membantuku, selama 'dia' tidak menggangguku untuk saat ini," batin Afra mulai mengalihkan pandangannya dari cermin dengan kakinya yang mulai melangkah.
Berjalan dan menghampiri pintu kamar, kemudian tangannya memegang gagang pintu lalu membukanya. Mata kosong dan pikiran hampa, hanya bergerak tanpa tujuan. Tidak berharap, tetapi hanya melakukan sesuai kebiasaan.
Meski sekarang kekosongan dalam dirinya langsung terisi dengan suara dari sosok lain.
"Noh, makanan!" ucap Sira tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamar Afra dengan tangan yang menyodorkan roti padanya.
Afra bergeming, tetapi matanya mulai memunculkan titik cahaya kehidupan. Ia menatap mata kuning keemasan Sira, kemudian beralih pada roti yang sudah disodorkan untuknya.
"T –terima kasih—" Baru saja Afra ingin mengambil roti di tangan Sira, Sira langsung menjauhkan roti itu dari Afra.
__ADS_1
Sira mengangkat roti itu hingga berada di atas kepalanya dan itu sudah membuat Afra terbelalak. Pandangan Afra akhirnya terpusatkan pada wajah datar Sira.
"Sepertinya aku berubah pikiran," ucap Sira membuat Afra terkejut dan bertanya-tanya.
Afra hanya membelalakkan mata dan tidak berniat untuk membuka suara, tetapi rasanya Sira ingin Afra melakukan hal itu. Sira tersenyum misterius dan menambah tanda tanya di kepala Afra.
"Kau, ingin roti ini 'kan?"
Afra semakin terdiam, tetapi kini ia seperti ingin berbicara. Walau rasanya itu agak aneh. Begitulah pemikirannya untuk saat ini. Saat di mana ia sudah berhadapan dengan Sira yang kata-katanya sedikit sulit dipahami dan dijelaskan.
Afra ingin mengangguk, tetapi itu bukanlah jawaban pasti. Ia bisa mengangguk agar mendapatkan roti itu, tetapi ia bisa juga menggelengkan kepala karena ia bisa membeli roti lain di kota.
"Heh, kau ingin tidak? Hanya ada satu roti ukuran segini!" Sira mempertegas perkataannya, "meski aku sudah makan satu, tapi rasanya aku ingin makan jatah rotimu, Afra!"
Afra terkejut mendengar perkataan Sira. Ia tidak berpikiran kalau Sira benar-benar membelikan roti untuknya.
"Ya, kalau kau tidak mau maka—"
Tanpa pikir panjang, Afra langsung bergerak cepat saat melihat Sira yang mulai bersiap memakan roti itu. Dengan cepat, ia langsung menggenggam pergelangan tangan Sira dan menariknya.
Menarik dan membuat roti di tangan Sira berada di depan mulutnya. Ia langsung menggigit dan memakan roti yang masih berada di tangan Sira itu. Sira membelalakkan mata, tetapi seketika ia menyipitkan matanya saat Afra tidak mengambil roti itu.
Ya, Afra tetap menggenggam pergelangan tangan Sira dan membuat Sira memegang roti yang kini sedang dimakan olehnya.
Pagi biru, inilah kisah antara sosok biru bernama Sira Siveria dan gadis biru bernama Afra Afifah.
"Hoi, kau 'kan bisa makan dengan tanganmu sendiri!" Sira berkata dengan wajah datar dan berusaha menahan rasa lain.
Afra tidak berkata sama sekali. Ia hanya berhenti menggigit roti itu dan menatap sejenak mata Sira, kemudian ia kembali memakan roti itu hingga tersisa setengah. Sira menelan salivanya sendiri.
"H –hei, makan dengan tanganmu!" ucap Sira mulai melirihkan suaranya.
Afra berhenti menggigit roti itu dan kembali menguyah agar benar-benar tidak ada roti yang berada di mulutnya. Setelah menelan roti yang dikunyah, ia mulai membuka suara.
"Aku sudah melakukannya." Afra kembali memakan roti yang masih dipegang Sira itu. Ia semakin menggenggam erat pergelangan tangan Sira.
Sira ingin melepaskan roti itu dari tangannya, tetapi sepertinya ia tidak bisa. Bahkan, ia seperti tidak tenang jika ingin bernapas sekarang.
"Aakh! Seharusnya aku tidak mengerjainya tadi!" batin Sira mulai memejamkan matanya dan membiarkan Afra makan roti dengan tenang.
.
Afra berhenti saat melihat roti yang dimakannya sudah tinggal yang berada di jangkauan genggaman Sira. Afra melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan Sira dan beralih mengambil roti dari tangan Sira.
"T –terima kasih," ucap Afra menundukkan kepalanya dan kembali memakan roti yang sudah ia pegang itu.
__ADS_1
Sira sudah membuka matanya dan melihat Afra yang memakan roti dengan tangannya sendiri. Sira hanya bisa menghela napas panjang dan kembali melihat Afra.
"Haah, benar-benar aneh."