
Sebelumnya…
.
.
"Permata itu …."
.
"Hihi, kau benar-benar terkejut, ya?"
.
.
.
.
.
.
"Mari persingkat pertemuan ini, Afra Afifah!" kata sang alter menunjukkan wajah jahatnya pada Afra. Bersamaan dengan beberapa rantai yang muncul dan mengarah pada Afra.
***
Bagaikan angkasa, tetapi memiliki udara yang entah darimana asalnya. Hitam dan gelap, tetapi sudah diberkati cahaya merah juga biru yang sedikit aneh. Kubus bercahaya, itulah asal cahaya merah dan biru.
Lantai dengan pola kotak-kotak berwarna putih dan hitam. Lantai yang bisa disebut sebagai tempat berpijaknya makhluk di sana. Meski sekarang, sudah ada benda mati yang menyentuh lantai hitam dan putih ini.
.
.
.
Suara melengking yang selalu menusuk anggota pendengaran dan anggota tubuh lainnya. Suara yang sebenarnya lebih cocok disebut bunyi gemericik. Ya, gemericik yang sebenarnya bukan berasal dari air.
Mungkin lebih tepat disebut nada pertarungan?
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Hihi." Tawa dari sang alter yang terdengar sangat senang. Senang dalam artian bahwa nafsunya sedang berada pada fase bergejolak. Diuji dan diberi tantangan, meski sebenarnya dirinya sendirilah yang memberi tantangan itu.
"Hah … hah … ah …!" Cipratan api bagaikan kilat langsung tercipta setelah benda panjang berbentuk lingkaran yang saling mengikat itu beraksi.
Asal muasalnya yang merupakan logam besi khusus racun kehidupan berwarna merah kental, mulai bereaksi terhadap benda bening berwarna biru gelap. Benda bagaikan kaca cermin dengan bentuk kubus itu saling bersatu dan menghalang, tidak membiarkan ikatan besi berwarna merah itu melaksanakan tugasnya.
"Afra! Jangan bergantung pada benda mati itu!" Sang alter langsung memberikan kata-kata tekanan pada gadis manusia yang dipanggilnya 'Afra' itu.
Lebih tepatnya, nama lengkap gadis manusia itu adalah Afra Afifah. Gadis yang kini berada dalam perlindungan kubus bagai kaca cermin dengan cahaya biru menyelimuti. Kubus yang kini bersatu menjadi perisai dan menghalau rantai besi berwarna merah darah itu.
.
Suara kaca pecah yang berasal dari kubus bercahaya biru malam itu seketika tercipta. Rantai yang basah akan darah itu seketika lenyap, bersamaan dengan satu kubus bercahaya.
"Tch, benar-benar lemah!"
.
Empat kata yang menjadi kalimat penuh penekanan dan penegasan ini langsung membuat mata Afra terbelalak. Ya, gadis berambut hitam kebiruan bernama Afra ini langsung melebarkan matanya. Sebelumnya, ia hanya bisa menghembuskan napas terputus-putus dan suara ketakutan.
Bersembunyi dengan wajah yang ikut disembunyikan, ia sudah merasa tidak tahan. Benar-benar sudah tidak ingin menjadi seperti ini. Benar-benar sudah tidak bisa berdiam diri dan membiarkan sang alter.
.
"Haaah …." Suara napas panjang yang baru saja keluar dari mulut Afra.
Ada jarak sekitar lima meter antara Afra dan sang alter. Meski sebenarnya, jarak ini bisa menjadi sangat dekat atau bahkan sangat jauh. Kubus bercahaya mulai kembali menyendiri dan mengambil posisi di belakang punggung Afra.
Pakaian baru yang entah sudah berapa lama dikenakan olehnya. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dikenakannya. Robek, basah akan darah, semuanya seakan terlupakan begitu saja. Seakan sudah berganti dengan yang suci tanpa memikirkan darimana asalnya.
Warna biru gelap, lebih tertuju pada dalamnya air laut daripada biru gelapnya langit malam. Warna putih menutupi bagian dadanya, meski ada pita merah yang menjadi ciri khasnya. Hiasan permata di rambutnya, ini adalah hal baru baginya.
.
"Ilva … Ilyani." Sebuah nama baru saja disuarakan oleh gadis dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan.
Iris matanya yang berwarna biru mulai menghilangkan titik cahaya. Tanda kehidupan perlahan lenyap dan berganti dengan kekosongan. Mata terbelalak tercipta di wajah sang alter, meski tidak seberapa. Ekspresi yang ditampilkan lebih mengarah pada kebingungan.
"Hah? Apa kau baru bangun, Afra Afifah!" ucap sang alter memberikan tanda seru dan penegasan.
Netra dengan iris merah darah, rambut panjang berwarna hitam kemerahan, pakaian yang selalu diberi aksesoris logam kegelapan. Warna hitam dan merah mendominasi, itulah ciri khas dari sang alter. Alter ego yang sebenarnya adalah jiwa monster bernama Ilva Ilyani.
"Kau … menyuruhku untuk tidak mempercayai siapapun 'kan?" Kata-kata gadis manusia pemilik tubuh asli ini membuat sang alter membelalakkan mata.
__ADS_1
Mata kosong berwarna biru itu menatap mata darah milik Ilva Ilyani. Afra Afifah, itulah pemilik mata biru, pemilik asli tubuh ini. Ilva Ilyani hanyalah jiwa yang menumpang tempat, meski sebenarnya sudah menjadi bagian dari jiwa Afra Afifah sendiri.
"Hihi,"-tersenyum menyeringai-"apa kau akan mengatakan bahwa aku lah yang masuk daftar ketidakpercayaan mu, Afra Afifah!"
.
Ilva Ilyani, nama yang cukup indah. Namun, tidak dengan wujud dan jiwanya. Kekejaman menyelimuti, kejahatan merasuki diri, tidak ada kebaikan yang pasti darinya. Ucapan yang baru saja dilontarkan olehnya itu, langsung memberi dampak keterkejutan bagi Afra Afifah.
"Hei, katakan saja, Manusia!" Ilva langsung memberi penegasan dan perintah pada Afra yang entah akan menurut atau tidak. Namun, memang tidak ada pilihan lain 'kan?
.
"Ya, akan aku katakan, Ilva,"-tersenyum misterius-"kalau aku akan mempercayaimu selamanya."
.
Dialog terjeda, tetapi penuh dengan kejelasan. Ilva tertegun dengan penuh ketidakpercayaan. Afra, gadis bermata biru itu baru saja mengatakan hal yang berlawanan dengan perkataannya. Senyuman lebar penuh kebaikan, meski sebenarnya sudah menampakkan kesan misterius.
"Kau …." Ilva tak bisa melanjutkan perkataannya saat melihat senyuman Afra yang semakin dilebarkan.
.
"Aku tidak akan menghilangkan kepercayaan ini, Ilva Ilyani."
.
Warna biru, cahaya malam yang tak pernah ditampilkan oleh angkasa. Sinar biru gelap, hal-hal yang berwarna setengah ungu itu mulai menyelimuti. Aura biru tercipta di tubuh gadis manusia bernama Afra Afifah.
Kubus bercahaya yang tersusun atas kaca cermin itu mulai memantulkan cahaya biru itu. Memantul dan menyebarkan cahaya itu ke seluruh ruangan gelap tanpa ujung ini. Senyuman semakin ditampilkan dengan penuh ketulusan oleh Afra.
"Kau …!" Ilva mulai memberi penegasan, meski kata-katanya tetap janggal dan tidak jelas. Afra hanya menanggapi dengan senyuman, sementara tangannya mulai menggenggam erat sesuatu.
Kegelapan, biru gelap yang menghasilkan hitam, cahaya membuat warna biru itu menjadi keunguan. Terdapat warna merah sebagai garis dan juga simbol permata. Ya, permata biru dan merah yang menjadi hiasan di rambut hitam kebiruan Afra.
"Ini adalah … bentuk AI (ai), seperti yang kau katakan dulu, Ilva," ucap Afra sambil menunjukkan senyuman tulusnya, juga tangannya yang sudah menggenggam sabit berwarna biru.
Ya, tidak ada warna putih penuh kesucian sekarang. Hanya ada warna biru sebagai belenggu dari bilah tajamnya yang melengkung. Kilauan biru menjadi sinar pelengkap pada bilah tajamnya, sedangkan kegelapan menjadi bagian dari pegangannya. Terdapat bentuk bagai bulan sabit, juga garis merah yang menjadi bentuk dari permata merah di rambut sang alter.
.
"Penampilanku, juga sabit ini,"-mengayunkan sabit birunya dari samping atas ke bawah-"ini adalah bentuk kepercayaan, juga AI (ai) dariku, Ilva Ilyani."
"Aku tidak akan menghilangkan kepercayaan ini," sambung Afra setelah mengatakan dengan jelas dan juga pengulangan. Semua yang dikatakannya itu, membuat Ilva tak bisa apa-apa.
.
Ilva Ilyani, gadis monster yang menjadi alter dari Afra Afifah. Penampilannya tentu sama persis dengan Afra, hanya saja warna merah menjadi identitasnya. Mulai dari rambut, mata dan pakaian. Kegelapan juga merupakan ciri khasnya. Tidak ada tawa kejam jika tidak ada dirinya.
Gadis yang biasa disebut sosok hitam itu hanya diam. Tak menyuarakan apapun dan tak menggerakkan apapun. Diam bagai terkena sesuatu. Meski begitu, matanya masih menampilkan kekejaman. Ya ….
__ADS_1
.
"Aah … benar-benar bodoh, ya, Afra Afifah."