Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Bercerita


__ADS_3

Sementara di belakang tempat berdiri Lycé, Iliya, Viesta, Luna, Xiania dan Rye. Ada tiga perempuan yang tampak sibuk dengan urusan masing-masing.


Cyrène En, perempuan siluman pengendali naga itu tampak memandang cahaya senja. Sedang Tie Aphas, perempuan werewolf yang biasa disebut assassin itu, kini terlihat santai menikmati ranting kecil di antara dua bibirnya.


Sementara Kisami Ki, si penyihir perempuan yang selalu mengatakan hal aneh itu, kembali berkata-kata.


"Sudah waktunya, tetapi bukan semestinya," gumam Kisami membuat semua pandangan tertuju padanya.


Kisami tidak peduli dan mulai mengenakan topi penyihir di kepalanya. Lycé, Iliya, Viesta, Luna, Xiania, Rye, Tie dan Cyrèn, mereka berdelapan masih menatap Kisami dengan tatapan berbeda makna.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kini, semuanya kembali pada tokoh utama. Bercerita, sudah waktunya untuk melakukan ini. Meski sepertinya, secara singkat saja sudah cukup untuk menceritakannya. Namun, di mana latar tempat kali ini?


.


' "K –kawasan terlarang?"


"Ya! Kita ada di kawasan terlarang, Afra!" ujar Eria membuat Afra benar-benar terbelalak. '


.


Kawasan terlarang, inilah latar kali ini. Dengan setting malam gelap dan hanya disinari cahaya dari bintang-bintang. Pohon raksasa yang di dalamnya dibuat rumah, itulah tempat Afra berada saat ini.


Kini, Afra sedang melihat keluar jendela yang berbentuk lingkaran. Memandang dan memperhatikan bintang-bintang juga pohon yang terlihat. Sendirian? Tentu saja ia sendirian di kamar ini.


Hanya di kamar, karena di ruangan lain masih ada sosok lain selain dirinya. Di mulai dari Eria selaku pemilik tempat ini, lalu ada Aura, Yuu, Iylasvi. Namun, tidak hanya itu saja.


.


' "E –Eria …," panggil Afra lirih.


"Ya?" jawab Eria sambil tersenyum.

__ADS_1


"A … apa Sira .. ada di sini?" Eria terdiam mendengar perkataan Afra.


Afra mulai merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, kerisauan dan tidak tenang. Namun, Eria segera menjawab pertanyaannya.


"Anak itu masih tidur, dia ada di bawah." Eria terlihat menundukkan wajahnya. Afra hanya bisa diam dan mengangguk. '


.


Ya, Sira yang masih tidur di kamar bawah dengan Vendry, Livra dan Phia sebagai penjaga. Meski tampaknya, Sira sudah dibiarkan tidur sendiri di kamar sekarang.


Aku … masih tak paham, batin Afra memulai suasana malam.


Hanya sedikit yang bisa dilihat Afra, tetapi pikirannya terlalu memuat banyak gambaran. Meski berupa kata-kata saja, ia bisa membayangkan apa yang terjadi. Kejadian apa yang terjadi sebelum akhirnya ia terbangun di sini.


"Aku .. ingin jawaban," gumam Afra sambil menundukkan kepalanya dan melihat kedua tangannya.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu, di luar pohon raksasa yang menjadi rumah bagi Eria. Rumah yang di dalamnya terdapat sang tokoh utama dan tokoh laki-laki pendampingnya.


"Ya, Tuan," jawab Aura sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Hei, hei .. sudahlah! Jangan bersikap formal seperti itu!" ujar Eria membuat Aura berhenti menunduk.


Aura melihat Eria sejenak, kemudian menoleh ke kanan dan kiri. "Hm?"


"Oh! Mereka berlima ku suruh berkeliling …? Begitulah!" jawab Eria membuat Aura sedikit membelalakkan mata.


"Mereka yang meminta kok! Tenang saja!" sambung Eria hanya bisa dibalas helaan napas oleh Aura.


Aura mengalihkan pandangannya dan menjadikan pohon besar sebagai tempat fokus. Pohon besar yang merupakan rumah Eria dan ada Afra di sana. Tidak lupa, ada Sira Siveria yang sedari tadi belum tersorot pandangan.


Aura terlihat menampilkan ekspresi wajah yang berbeda dari sebelumnya. Eria menepuk pundak Aura, "ada apa, Aura?"


Aura menoleh dan memberi tatapan mata, "aku merasa, kalau …."


Aura tak bisa melanjutkan perkataannya, tetapi Eria cukup penasaran. Aura akhirnya menundukkan kepalanya, menciptakan rasa heran juga penasaran untuk Eria.


"Aku … merasa kalau dia, menjalani waktu dengan benar," ujar Aura dengan nada lirih.


Eria sedikit melebarkan matanya, kemudian kembali kepada ketenangan. "Apa kau bisa menjelaskannya dengan lebih baik, Aura?"


"A –ah! Baik!" Aura tampak terkejut dan menatap mata Eria sejenak, kemudian kembali menundukk.


Eria tertawa kecil melihat keterkejutan Aura, "haha, aku sudah paham kok, tenang saja!" ujarnya tidak membuat Aura berhenti menunduk.


"Jadi, meski Oliv sudah mengulang-ulang waktu pun, waktu kehidupan Afra tetaplah sama dan tidak berubah? Begitu 'kan?

__ADS_1


Dimulai dari mengulang dan merubah takdir, kemudian kembali mengulanginya dan merubah takdirnya lagi. Dan terakhir, saat perlawanan—"


"Eng … lebih tepatnya, umurnya seperti tidak berubah dan tetap sama," ujar Aura menatap Eria setelah mendengar perkataan Eria tadi.


Eria tertegun dan tidak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Mendengar perkataan Aura membuatnya benar-benar tidak percaya.


"Apa batu itu—" batin Eria seketika terpotong karena suara angin.


Ya, suara angin yang berhembus pelan melewati telinganya. Ia berhenti berpikir dan mulai mengalihkan topik pembicaraan, sembari melihat ke pohon besar yang merupakan rumahnya.


Aura terlihat memiringkan kepalanya sedikit melihat Eria yang tersenyum misterius.


"Kau sudah tahu 'kan, tentang Else, Oliv dan Sami? Mereka bertiga itu ada di pihak ku, sama dengan kau yang sudah membawa lima teman masa lalu Afra ….


Sebagai bawahan," ucap Eria kemudian menoleh dan memberi tatapan tajam pada Aura.


Aura menelan ludahnya sendiri dan Eria kembali melanjutkan perkataannya.


"Afra adalah manusia, sementara Sira adalah siluman. Yah, meski sepertinya anak laki-laki itu punya kehidupan lain sebelum kehidupan ini,"-Eria mendongakkan kepalanya dan melihat langit malam-"dan salah satu bawahan mu, Aura ….


Dia adalah pihak mereka," jelas Eria panjang lebar dan langsung memberi tatapan tajam pada sosok yang bersembunyi di balik pohon.


Sosok perempuan siluman yang menggunakan wujud iblis. Dibuktikan dengan empat tanduk di kepalanya, rambut panjang berwarna putih dan kekuatan lava sebagai identitasnya. Sosok itu tersenyum miring pada Eria yang telah menyadari kehadirannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kembali kepada rumah pohon, atau lebih tepatnya kembali pada sang tokoh utama. Afra Afifah, itulah namanya. Kini, dirinya tetap sama dan hanya bisa terdiam. Duduk di ranjang dengan kaki yang belum menyentuh lantai.


Matanya menatap kedua tangannya sendiri, fokus dan tidak teralihkan. Tenang tanpa pergerakan apapun, sehingga tidak ada tanda kehidupan di matanya.


"Aku … akan mencari jawabannya sendiri," gumam Afra memecahkan keheningan.


Bangkit dan pergi meninggalkan tempat dirinya duduk, ia mulai berjalan keluar dari kamar. Melihat kanan dan kiri, kemudian mengambil jalan lurus yang merupakan anak tangga menuju bawah. Meski matanya tampak kosong, ia benar-benar fokus dan tenang.


Ia kembali menoleh ke kanan dan kiri juga ke belakang. Berjalan dan melangkahkan kaki mengikuti lorong yang ada, hingga akhirnya ia menemukan pintu.


"Sepertinya di sini," gumam Afra mulai menyentuh kenop pintu itu, tetapi ia merasakan suatu kehadiran di belakangnya.


Afra terkejut saat dirinya tiba-tiba ditutup mulutnya dan langsung ditarik ke belakang, meninggalkan kesunyian juga menetapkan terbelalak nan kegelapan. Dirinya dibawa menuju ruangan gelap yang kemudian langsung memunculkan cahaya biru.


Afra kembali terbelalak dan langsung melihat sekelilingnya, sampai akhirnya pandangannya terhenti pada sosok yang menariknya.


"Sira!"

__ADS_1


__ADS_2