Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Arknest


__ADS_3

Waktu terus berjalan, dan kini … di kawasan netral ini … tahun ajaran baru akademi Arknest akan dimulai besok. Meski ini baru satu minggu sejak Afra sampai di kawasan netral dan berakhir di akademi Arknest ini.


Ya, sepertinya hari penerimaan murid baru saja selesai setelah satu minggu lamanya. Dan sepertinya, atau memang ya … Afra tiba di kawasan netral tepat saat hari pertama tes penerimaan murid baru akademi Arknest.


Satu minggu sebelumnya sebelum Afra tiba di kawasan netral, penerimaan murid baru akademi Arknest baru saja diumumkan. Dan tentu, semua makhluk sudah menantikan kedatangan hari penerimaan ini. Namun, ada beberapa tes yang harus dilakukan agar bisa diterima di akademi Arknest ini.


Akademi Arknest, ini adalah akademi yang dibangun oleh empat kerajaan, yaitu dari kerajaan penyihir, kerajaan hewan, kerajaan siluman, dan kerajaan iblis. Akademi ini didirikan sebagai bentuk perdamaian dan keamanan dari keempat kerajaan. Hanya ras iblis, siluman, hewan, dan penyihir yang diperbolehkan masuk dan menjadi murid akademi Arknest ini.


Kenapa hanya empat ras saja? Bagaimana dengan ras monster? Ya, sepertinya ras monster tidak ikut serta dalam hal-hal yang berhubungan dengan kawasan netral. Karena … hanya ras monster yang mendapatkan kekuasaan di kawasan terlarang.


Meski begitu, sepertinya larangan ras monster itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Lagipula, tidak ada yang mengatakan kalau ras monster tidak bisa menjadi murid di akademi Arknest ini.


***


Hari sudah malam, dan tentu bulan sudah bersinar. Makhluk-makhluk di kawasan netral sepertinya banyak yang beraktivitas di malam hari daripada siang. Ya, meski begitu … untuk murid-murid akademi Arknest tentu saja akan beraktivitas esok paginya. Lagipula, memang besoklah hari dimulai nya kelas di akademi Arknest ini.


Afra sekarang sudah memahami dan mengerti beberapa tentang kawasan netral dan terlarang, juga tentang ras makhluk-makhluk yang ada di dunia bawah. Afra juga sudah diajak berkeliling akademi Arknest dengan Aura.


"Buku yang diberikan Iliya ternyata berguna juga, ya," ucap gadis bermata merah itu sembari melihat Afra yang masih fokus membaca buku yang diberikan Iliya.


Ya, sekarang Afra sedang membaca buku yang diberikan oleh Iliya. Walau sebenarnya ada beberapa tulisan yang tidak bisa dibaca olehnya, tetapi … gadis bermata merah itu membantu membacakannya. Entah sejak kapan gadis bermata merah itu baik pada Afra.


"Akhirnya selesai!" ucap Afra sambil menutup buku tebal itu dan menyandarkan tubuhnya di kursi, "walaupun aku suka membaca, tapi kali ini aku sudah tidak ingin membaca lagi!"


Afra pun mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Gadis bermata merah itu tersenyum tipis melihat Afra yang terlihat kelelahan itu.


"Setidaknya … aku tidak harus menjelaskan panjang lebar padamu sekarang!" ujar gadis bermata merah itu sembari melihat keluar jendela. Rembulan bersinar terang sekali malam ini. Afra pun ikut melihat keluar jendela dan melihat bulan yang bersinar terang itu.


Gadis bermata merah itupun menoleh ke arah Afra dan tersenyum tipis.


"Selamat malam, Afra…," ucap gadis bermata merah itu dengan nada lirih dan langsung menghilang di hadapan Afra. Afra pun tersenyum sebagai tanda balasan.


"Selamat malam juga, Ilva…," ucap Afra menyebutkan nama gadis bermata merah itu. Ya, Ilva. Ilva Ilyani, itu adalah nama dari gadis bermata merah itu.


---------------------------------------------------------


Ras penyihir, ras siluman, ras hewan, ras iblis, dan ras monster. Itulah ras makhluk yang hidup di dunia bawah. Tidak ada yang namanya manusia, meski sekarang takdir sudah berubah.

__ADS_1


Afra Afifah, gadis manusia yang terlahir di dunia bawah ini sekarang sudah tahu mengenai dunianya. Dan sekarang ia sudah berada di kawasan netral dan menjadi murid baru akademi Arknest.


.


.


.


.


A-apa … aku kembali lagi ke sini?


"Ya, Afra Afifah!" bisik Ilva tiba-tiba muncul di belakang Afra. Afra langsung menoleh dan mendapati dirinya yang lain itu.


Ya, sisi lain dari dirinya, Ilva Ilyani. Si gadis bermata merah yang dulu selalu muncul di dalam pikiran Afra.


"Kau mengajakku lagi, ya … Ilva?" tanya Afra sambil tersenyum pada Ilva. Ya, sekarang Afra sudah tidak merasa takut lagi, dan bahkan ia merasa tenang saat bersama dengannya.


"Ya, sepertinya begitu. Aku hanya ingin mengatakan tentang batu itu saja," jawab Ilva mengalihkan pandangannya dari Afra lalu kembali menoleh ke arah Afra.


Ilva pun tersenyum menyeringai.


Heeh


"Apa kau tidak merasakan batu itu sudah menyatu dengan tubuhmu?" tanya Ilva menatap serius mata Afra.


Afra tertegun mendengar perkataan Ilva.


A-apa yang dikatakan Eria benar? batin Afra bertanya-tanya, sampai….


"Bangunlah, Afra … kelas mu akan dimulai sekarang!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


"Ah!" teriak Afra seketika langsung terbangun dari tidurnya. Ia langsung melihat pantulan dirinya di cermin karena letak tempat tidur dan cermin nya berhadapan.


Afra menoleh ke arah jendela dan melihat matahari baru saja terbit. Cahayanya masih belum terlalu banyak. Walau begitu, Afra tersenyum senang melihat matahari terbit itu. Ya, keindahannya tetap terasa bagi Afra.


"Baiklah, aku akan siap-siap untuk pergi ke kelas!"


***


Matahari sudah bersinar terang di langit, dan kini Afra sudah siap untuk memulai kelas pertamanya. Ya, ini juga adalah hal yang baru bagi Afra. Mengingat … ini adalah dunia tanpa manusia.


"Yap! Aku rasa aku siap sekarang!" ucap Afra sambil tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, "baiklah! Aku sudah siap!"


Setelah Afra bersiap-siap, ia pun langsung keluar dari kamarnya dengan perasaan senang. Afra pun mulai berjalan menyusuri lorong sembari melihat sekelilingnya. Afra melihat beberapa makhluk-makhluk yang baru keluar dari kamar asramanya, dan beberapa ada yang sudah berjalan di depan Afra.


Ada yang dari ras penyihir, yaitu yang mengenakan jubah atau pakaian penyihir. Beberapa ada yang membawa tongkat dan buku sihir. Sementara ras iblis, kebanyakan dari mereka memiliki telinga runcing dan bertanduk. Ada juga yang memiliki ekor atau juga memiliki sayap hitam.


Sedangkan untuk ras siluman dan hewan, tentu saja wujud manusia mereka akan menyesuaikan. Misal saja jika ras hewannya adalah singa, maka telinganya akan mirip seperti singa.


"Sepertinya aku sudah terbiasa dengan ini," ucap Afra dalam hati sambil tersenyum dan berjalan mencari letak kelasnya.


Tiba-tiba saja, Afra tanpa sadar menabrak makhluk yang berjalan di depan nya, tetapi … tubuh Afra malah menembus makhluk itu. Afra pun terkejut dan langsung menoleh ke arah makhluk itu. Makhluk bertelinga runcing dengan tanduk berwarna biru kehijauan dan tinggi badannya melebihi tinggi Afra. Rambut hitamnya yang panjang tentu menunjukkan kalau dia adalah perempuan. Ya, makhluk itu adalah ras iblis!


"Ma-maafkan aku! Aku tidak berjalan dengan baik!" ucap Afra spontan meminta maaf dengan perasaannya yang mulai takut. Namun, iblis perempuan itu tidak mempedulikan Afra dan langsung berjalan pergi.


"A-apa … dia marah?" tanya Afra pada dirinya sendiri.


Seketika, suara dengungan tiba-tiba terdengar sangat keras di seluruh penjuru lorong asrama. Afra langsung menutup kedua telinganya karena merasa kesakitan mendengar dengungan itu.


"Afra!"


Afra langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara yang memanggilnya, dan Afra langsung terkejut melihat Aura yang sedang berlari menuju Afra.


"Cepat ikut aku!" ucap Aura langsung menggenggam erat tangan Afra, "Terepōto!"

__ADS_1


__ADS_2