
"Sira …," ucap Afra membuat Sira tertegun. Jantungnya seketika berdetak lebih keras dari sebelumnya. "Aku .. punya pertanyaan."
Sira bergeming dan tidak menunjukkan ekspresi selain mata terbelalak. Pipinya tampak semakin memerah saat Afra menyentuhnya. Wajahnya dan wajah Afra kini berdekatan. Dan ia langsung mendapatkan sentuhan bibir dari Afra.
Ciuman, itulah yang dilakukan Afra. Afra dengan keinginannya sendiri melakukan hal itu lagi setelah melakukannya pada saat bangun pagi. Namun, bagi Sira ini adalah ciuman yang ketiga kalinya.
"Ah …." Suara napas yang dikeluarkan Afra setelah selesai mencium bibir Sira.
Ia mulai menurunkan tangannya dari wajah Sira dan menjauhkan wajahnya. Wajahnya tampak menampilkan ekspresi yang sama seperti Sira, meski hanya sedikit saja. Mulutnya mulai membuka.
"Yang kita lakukan tadi, hanya hal biasa 'kan?" tanya Afra dengan wajah polosnya yang kini sedikit memerah.
Ia merasakan apa yang dirasakan Sira, meski ia tidak mengekspresikan dengan berlebihan. Ya, karena dirinya memang tidak tahu tentang apa yang dilakukannya. Yang ia tahu hanya 'menempelkan bibir' saja.
"I –itu bukan hal biasa! Apa kau pikir ciuman itu hal yang biasa-biasa saja hah!" jawab Sira tampak kesal, tetapi wajahnya yang memerah membuat Afra tidak mengerti.
"Ciuman .. itu namanya, ya?" ucap Afra sambil tersenyum senang pada Sira, tetapi itu membuat Sira semakin terbelalak dan memerah.
Meski sebenarnya Afra sudah tahu akan hal tentang 'ciuman', tetapi ia tidak berpikir bahwa ternyata seperti ini. Hanya tahu nama namun tak tahu maknanya, begitulah.
"Argh! Sudahlah!"-Sira memalingkan wajahnya dari Afra-"kau benar-benar bodoh ternyata! Kau bahkan sampai mencium bibirku tiga kali!"
"T –tiga? Bukankah hanya dua?" tanya Afra seketika terbelalak dan menampilkan kesan tidak percaya.
Sira yang mendengarnya langsung menoleh kembali ke arah Afra dan memberi tatapan tajam. "Tiga kali, lho! Kau mencium ku dengan gila saat malam itu!"
Afra terbelalak mendengar perkataan Sira. Wajahnya kini tidak sama lagi seperti Sira. Ekspresi wajah yang ditampilkan olehnya kini, bagai ekspresi saat dihadapkan pada sesuatu. Sesuatu yang sama sekaki tidak baik.
"A –apa … warna mataku—"
"Ya! Warna matamu merah waktu itu, Afra!" potong Sira semakin menciptakan rasa ketidakpercayaan bagi Afra. Sira tidak menyadarinya karena dirinya sudah terselimuti perasaan yang lain.
Ketidakpercayaan, tetapi lebih condong kepada rasa malu. Sira langsung mengalihkan pandangannya dari Afra.
"Hmph! Lebih baik aku cari tempat dan makanan saja!" Sira mulai berjalan dan berniat meninggalkan Afra, tetapi Afra langsung menggenggam erat tangan Sira.
Sira seketika merasakan sesuatu yang lain setelah Afra menggenggam erat tangannya. Tekanan dan sesuatu yang gelap. Sira langsung menoleh dan mendapatkan tatapan kosong dari pemilik mata biru gelap itu.
"A –Afra—" Ucapan Sira seketika terpotong karena Afra.
__ADS_1
Ya, gadis bermata biru itu langsung memeluk erat lelaki penyihir dengan tanduk. Tekanan dan sesuatu yang gelap, rasa takut juga ketidakpercayaan. Bukan tentang memerah, tetapi tentang menggelap.
"Sira …." Afra semakin mengeratkan pelukannya dan Sira pun membalasnya.
"Tenanglah, Afra …," bisik Sira pelan. "Aku bisa merasakan, rasa takut itu," sambung Sira berkata dalam hatinya.
Sira kini sudah berada dalam ketenangan. Pikirannya langsung memberi perintah untuk menenangkan Afra yang sudah terlarut ketakutan. Entah apa hal yang membuatnya seperti itu.
Sira bahkan tidak tahu, tetapi Sira bisa merasakannya. Bahkan terasa sangat jelas. Ego dan rasa malu yang menjadi kekesalan pribadinya langsung disingkirkan. Pemikirannya hanya satu, yaitu menghilangkan rasa ketidaknyamanan pada diri Afra.
Afra mulai merasakan ketenangan dan kenyamanan. "Terima kasih, Sira," ucapnya lirih.
Afra dan Sira pun berhenti berpelukan. Keduanya saling menatap dan memberi senyuman. Sira mulai membuka pembicaraan.
"Okelah!" Afra menampilkan ekspresi bertanya-tanya mendengar perkataan Sira.
"Bagaimana kalau kita cari makanan bersama? Kemudian kita cari informasi-informasi penting tentang tempat ini?"
Afra bergeming mendengar perkataan Sira, tetapi ia langsung tersenyum dan mengangguk. "Ya!"
Keduanya pun kembali berjalan dan masuk lebih dalam ke kota Sihir wilayah hutan ini. Berjalan dan mencari pohon utama yang menjadi tempat berpindah. Ya, pohon yang menjadi tangga masuk menuju kota Sihir wilayah hutan ini.
Meski Afra dan Sira sudah berada di wilayah hutan, keduanya masih belum menginjakkan kaki di kotanya. Karena, kotanya itu ada di atas kepala mereka saat ini.
"Sepertinya ini tempatnya,"-Sira tersenyum tipis-"pohon para penyihir."
Mengalihkan pandangan menuju tokoh yang terjebak di masa lalu.
Masih pada pagi hari, tetapi latar kali ini adalah tempat terakhir kali pertarungan si tokoh utama. Ya, masa lalu yang masih tidak jelas dan tidak bisa diungkapkan. Meski begitu, satu tokoh ini membuat semua ini harus dijelaskan.
"Lalalalalala …." Suara nyanyian yang terdengar sama dan berulang kembali terdengar.
Suara langkah kaki yang sedikit tersamarkan oleh rerumputan, warna hijau menjadi identitasnya. Nyanyian terus dikeluarkan olehnya bersama dengan iringan butiran bening dari langit.
Gaun penyihir berwarna hitam keabu-abuan juga sedikit menampilkan kesan biru, sepatu boot yang terbuat dari kulit dikenakannya. Warna coklat pada sepatunya tampak seperti warna kayu.
Gaun penyihir yang dikenakannya ia tutupi dengan jubah penyihir. Tudung dari jubahnya ia gunakan sebagai penutup kepala, tidak seperti kebiasaan penyihir lainnya. Jubah hitam dengan sayap kupu-kupu di bagian punggungnya.
Jubah itu lebih menutupi badan bagian belakang daripada bagian depan.
__ADS_1
"Aah! Benar-benar membosankan!" ucap gadis dengan ciri-ciri di atas. Ia menghentikan nyanyian dan juga langkahnya.
Netra merahnya menatap bosan langit pagi yang tampak ditutupi awan hitam. Rambut hijaunya tidak terlalu terlihat karena ditutupi oleh tudung. Tongkat sihir panjang dengan tengkorak kepala di bagian atasnya ia pegang di tangannya.
"Rasanya seperti masa lalu sekali!" batin gadis itu yang tentunya adalah penyihir. Dan ia biasa dipanggil dengan sebutan sosok hijau.
Ya, sosok hijau bernama Iylasvi.
"Ah, kau …."
"Pembunuh!"
Suara benturan seketika tercipta. Dua lingkaran sihir adalah penyebabnya. Gadis penyihir bernama Iylasvi itu mendapati sosok lain yang dikenalinya, tetapi sosok itu langsung berkata dan menyerangnya.
Ia tentu dengan sigap langsung menangkis lingkaran sihir berwarna biru itu dengan tongkatnya, sehingga penggunanya mengambil lompatan mundur menjauhinya. Tawa kecil keluar dari mulut sang pengguna lingkaran sihir berwarna biru.
"Hei, sepertinya kau terjebak di sini, ya? Sihirmu sudah jelas bukan sihir waktu!"
"Terjebak? Begitu ya!" Iylasvi menampilkan ekspresi yang lebih baik dari sebelumnya, meski sebenarnya ia mengekspresikan ekspresi mengejek.
"Jadi sekarang kita terjebak di masa lalu? Bagus sekali!" Si pengguna lingkaran sihir berwarna biru itu terbelalak.
"Kau!" Pengguna lingkaran sihir berwarna biru yang merupakan gadis penyihir itu meninggikan suaranya.
Gadis penyihir yang mengenakan pakaian bertudung. Warna merah muda dan hitam menjadi warna pakaiannya. Rambut merah muda yang tampak diikat menjadi dua. Meski rambut panjang itu tertutupi oleh tudung, bagian yang diikat dibiarkan keluar dan terlihat.
Itulah ciri-ciri gadis penyihir itu, meski ciri khasnya terdapat pada warna iris pada matanya. Ya, tiga warna iris pada mata gadis penyihir itu. Kuning, merah dan biru, itulah urutannya.
"Haha, ternyata benar. Kau yang melindungi manusia itu, ya?" tanya Iylasvi sambil tersenyum mengejek.
Gadis penyihir itu tampak kembali terbelalak, tetapi raut wajah emosi seketika berubah. Berubah menjadi senyuman seringai. Ia memiringkan kepala dan mengekspresikan senyuman itu pada Iylasvi.
"Ya, dan kau adalah penyihir yang punya hubungan juga dengan Iliya. Tebakanku benar 'kan?"
Iylasvi tampak terkejut, tetapi ia langsung menampilkan ekspresi yang sama dengan gadis penyihir itu.
"Tentu saja! Meski sepertinya aku akan memihak mu saja mulai sekarang …?" Gadis penyihir semakin menunjukkan senyuman seringainya.
"Kalau begitu, perkenalkan,"-Gadis penyihir itu membungkuk tiga puluh derajat-"namaku Aura."
__ADS_1