Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Bibir


__ADS_3

Ada … ada di mana aku? Tempat ini .. bukannya—


.


"Afra .. Afifah."


.


Kegelapan yang bukanlah kegelapan malam. Bukan hutan dan bukan tempat di dunia bawah. Dimensi kegelapan, tempat yang hanya milik 'dirinya'. Ruang hampa tanpa benda apapun.


Hanya ada dua kehidupan di sana.


"Ilva …," ucap Afra setelah menoleh dan menatap siapa yang menyebut namanya.


Keheningan tercipta, tidak ada perkataan yang keluar dari mulut Afra. Begitu juga dengan sang alter --Ilva Ilyani-- yang kini menatap mata Afra dengan tatapan tajam.


Ilva tersenyum miring, "sepertinya kau sudah mendapat hal baru, ya, Manusia!"


"Perubahan yang sangat langka untuk kepolosanmu itu!" sambung Ilva membuat Afra tertegun.


Afra melebarkan matanya sejenak, kemudian menundukkan kepala. "Aku .. tidak mengerti maksud perkataanmu, Ilva."


"Heeh, apa kau tahu? Kau sepertinya akan mendapat sikap baru dari lelaki aneh itu!" Afra kembali terbelalak mendengar perkataan Ilva.


Ia mendongakkan kepalanya, "apa maksudmu—"


.


.


.


.


.


.


.


"Carilah sampai kau melakukannya untuk kedua kalinya, Manusia!"


.


.


.


.


.


.


.


--------------------------

__ADS_1


Kicauan burung terdengar. Mentari pagi sudah menyinari hari dan memberi cahaya yang terang di ufuk timur. Meski kini ia sudah berada pada sudut tiga puluh derajat. Itu tidak membuat perubahan yang berarti di sini.


.


"Argh .. apa …?"


Lelaki dengan pakaian penyihir dan rambut panjang, juga sepasang tanduk di kepala yang berwarna biru. Mata kuning keemasan dan wajah yang tampak baru saja selesai menikmati mimpi kosong.


Sira Siveria, ia baru saja membuka matanya dan melihat dunia. Meski pandangannya langsung menatap wajah sayu Afra yang tertidur di sampingnya.


Sira membelalakkan matanya melihat wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Afra. Ekspresi baru ditampilkan olehnya. Memerah, mungkin satu kata ini sudah cukup untuk menyebut ekspresi itu.


Sira mengatupkan bibirnya dan berusaha untuk tidak mengizinkan kata-kata apapun keluar dari mulutnya. Ia mengambil sikap bergeming. Memandang wajah Afra yang masih tertidur pulas membuat dirinya semakin menampilkan ekspresi itu.


Memerah, itulah intinya.


Sira terus memandangi wajah Afra dan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Memandang dan terus melihat sampai akhirnya terfokuskan pada bibir Afra. Matanya seketika terbelalak.


.


" 'Kau benar-benar menarik, Sira!' "


.


Satu kalimat itu tiba-tiba muncul di benak Sira. Bayangan dan gambaran tentang siapa yang mengatakan hal itu, juga mulai dilihatnya dengan jelas. Dan gambaran tentang sesuatu yang tidak pernah terbesit di pikirannya, sudah benar-benar ia rasakan sebelumnya.


" 'Sira …. Aku, benar-benar tertarik padamu!' "


.


Detak jantung seketika membisik pendengaran Sira. Tiap detakan yang bahkan tidak pernah terasa itu mulai menunjukkan diri. Menciptakan setrum kejut dan rasa gugup bagi Sira.


Respon dan tanggapan, hanya itu yang dilakukan Sira. Pikirannya terasa kosong dan hampa, seakan-akan dirinya sudah terbawa suasana oleh gambaran dalam pikirannya.


"Afra …," gumam Sira saat bibirnya sudah hampir menyentuh bibir gadis yang dipanggilnya 'Afra' itu.


Sira memejamkan matanya dan melepaskan tangannya yang masih memegang pipi Afra. Ia menjauhkan wajahnya dari Afra dan mulai mengalihkan pandangannya dari Afra.


Langit biru yang cerah ia pandang dan tatap. Helaan napas ia keluarkan sebagai obat kesadaran. Ia kembali menoleh ke arah Afra, kemudian ia menggeser posisinya agar berbaring sedikit lebih jauh dari Afra.


Ya, meski sebenarnya ia hanya kembali pada posisi berbaring awalnya.


"Hei, cowo bodoh! Apa yang kau lakukan hah! Mau melakukan adegan gila itu kah!"-Sira menutupi matanya dengan satu tangannya-"apa kau akan melakukannya karena cewe itu sudah membuatmu melakukannya semalam hah!"


.


Sira membatin, seakan-akan sedang berbicara dengan dirinya yang lain. Padahal jati dirinya hanya satu, tetapi caranya membatin seakan seperti sedang menghadapi sosok lain.


Meski demikian, Sira mulai membuka mulutnya dan mengeluarkan napas panjang. Ia mulai mengeluarkan satu kata dari mulutnya.


"Ya …," gumam Sira sambil menurunkan tangannya yang menutupi matanya.


Sira mulai membuka penglihatannya dan melihat rerumputan, kemudian melanjutkan perkataannya.


"Aku … ingin melakukannya …!" Sira membelalakkan matanya mendengar perkataannya sendiri.


Kedua tangannya sontak langsung mengacak-acak rambut biru panjangnya. Sepasang tanduk tidak menghalangi pergerakannya.

__ADS_1


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kau bodoh, Sira!" batin Sira mengolok-olok dirinya sendiri, "kau itu tidak su-ci!"


"Haha, lagipula namaku Sira sekarang, Suci bukan namaku," batin Sira lagi sambil menampilkan wajah tidak peduli. Ia membatin dengan nada dan emosi yang berbeda dari sebelumnya.


Sira benar-benar seperti menganggap dirinya ada dua, padahal dirinya hanya satu. Ia pun memukul kepalanya sendiri meski pelan. Ia kembali membatin dan berakting dengan memainkan dua peran sekaligus.


"Hoi!" Sira akhirnya tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tubuhnya ikut bergetar saking lamanya ia menggeleng.


Sira mengambil napas panjang dan menghembuskan napasnya perlahan. Ketenangan mulai menyelimuti dirinya, meski gambaran tentang semalam masih menghantui pikirannya.


"Oke-oke, lupakan saja tentang kejadian itu. Lagipula, itu 'kan hanya mimpiku …?" Sira membuat ucapannya menjadi kalimat tanya.


Matanya kembali terbelalak dan wajahnya tampak memerah. Detak jantungnya mulai menciptakan suara yang cukup keras, meski hanya dirinya saja yang bisa mendengar.


"Nggak woi! Semalem dia beneran—"


"Ng …." Jantung Sira semakin berdegup kencang setelah mendengar suara yang dihasilkan oleh Afra.


Sira merasakan tangan lembut Afra yang menyentuh tangannya. Ia terbelalak dan langsung menoleh ke arah Afra. Afra masih memejamkan matanya, tetapi kini mulutnya tampak membuka sedikit.


Sira tertegun sejenak dan menelan salivanya. Detak jantungnya semakin dirasakan dengan jelas olehnya. Berdetak, berdegup dan terus menghasilkan getaran nada pada dirinya.


Wajahnya tampak memerah, rasa gugup sudah menyelimuti. Namun, entah dari mana asalnya, keberanian muncul dalam dirinya. Keberanian untuk membalas apa yang dilakukan oleh Afra padanya.


Meski sebenarnya itu bukan Afra yang melakukannya. Hanya raganya, bukan jiwanya.


.


"Afra …," gumam Sira mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Afra.


Tangannya mulai menggenggam tangan Afra. Posisi berbaring miring kembali dilakukan olehnya. Afra dan Sira, keduanya kembali berdekatan. Sira dengan kesadarannya, sedangkan Afra masih dalam mimpi-nya.


Sira mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Afra. Ia berhenti sejenak dan menatap mata Afra yang terpejam. Sayu, itulah yang terlihat. Meski begitu, mulut Afra yang masih membuka meski hanya sedikit sudah membuat Sira tidak tahan.


Pemikiran Sira hanyalah, 'balaslah sesuatu yang pantas untuk dibalas!'.


"Aku …."


.


Sira memejamkan matanya dan mengeratkan genggaman tangannya. Bibirnya yang kini sudah tepat di depan Afra mulai ia dekatkan. Sampai akhirnya bibirnya bersentuhan dengan bibir Afra, tepat di saat Afra membuka matanya.


.


Sira langsung membuka matanya dan terbelalak. Mata kuning keemasan miliknya langsung mendapatkan tatapan terbelalak oleh Afra. Dirinya dan Afra, keduanya masih saling dalam posisi bersentuhan bibir.


Sira mulai mengubah niatnya untuk terus menempelkan bibirnya pada bibir Afra, tetapi …


"Sira …." Afra langsung mencium bibir Sira saat Sira berhenti menciumnya.


Sira terkejut dan terbelalak, tetapi entah kenapa ia langsung membalas ciuman Afra. Keduanya saling berciuman dengan otak yang sepertinya hanya merespon saja. Ya, merespon dan memberi tanggapan balik tanpa berpikir panjang.


.


Sampai akhirnya keduanya berhenti bersentuhan, pemikiran keduanya langsung berjalan.


"Eh?"

__ADS_1


.


"Eeeeehh!"


__ADS_2