
Keheningan tercipta setelah Aura mengatakan kata manusia dengan jelas. Meski begitu, hanya dirinya dan dua nyawa di dekatnya yang mendengar. Meski akhirnya kesunyian tercipta.
Aura yang menyadari ucapannya sendiri langsung menoleh ke arah Afra dan menutup mulutnya sendiri. Ekspresi terkejut dan tertegun ditampilkan Afra.
"M –maafkan aku, Afra! A –aku tidak .. bermaksud seperti it—"
"Ya, Aura,"-Afra menundukkan kepalanya-"aku tahu itu."
Aura tak bisa berkata-kata lagi setelah melihat ekspresi Afra itu, sedangkan Sira hanya menatap kosong dan hampa. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Aura menoleh ke arah Sira.
"Baiklah! Cepat! Tunjukkan perpustakaan yang ada di sini, Siluman!" ucap Aura sambil bertepuk tangan berulangkali sehingga Sira tersadar dari lamunannya.
Ekspresi datar langsung terlihat jelas di wajah Sira, "oke-oke! Akan aku tunjukkan! Dan jangan panggil aku siluman! Namaku Sira, Sira Siveria!" ucapnya sembari menepuk dadanya sendiri.
.
.
.
Singkat cerita, di tanah jalanan yang disusun dengan batu, bangunan-bangunan batu dan kayu sebagai pelengkap. Tak lupa, keramaian penduduk penyihir dan langit yang menjadi putih karena awan-awan. Afra Afifah, Aura dan Sira Siveria memulai perjalanan menuju perpustakaan yang entah ada di mana.
***
"Hei, apa kau benar-benar menunjukkan kami ke arah perpustakaan? Sira!" tanya Aura dengan tegas saat melihat Sira yang memimpin jalan dengan malas.
Sira hanya melirik ke belakang, yaitu ke arah Aura dan Afra berada. Dua gadis itu masih berjalan mengikutinya yang dari tadi hanya melirik ke kanan dan kiri. Terlihat malas dan tidak peduli, begitulah pandangan Aura tentang Sira. Sedangkan Afra hanya ….
"Aku … harus bisa menahan ini, aku harus bisa!" batin Afra masih merasakan sakit dari reaksi obat yang dimakannya, atau mungkin rasa sakit atas kejadian dengan sang alter.
Sira terus berjalan dan tidak mempedulikan ucapaan Aura tadi, begitu juga dengan Aura yang hanya bisa menghela napas kasar. Afra diam dan berjalan mengikuti dengan pandangannya yang mulai hampa.
.
"Oke, sudah sampai nona-nona. Perpustakaan Umum Kota Sihir Wilayah Perbatasan!"
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Butiran bening berukuran kecil tiba-tiba turun dan mengenai penduduk di kota kuno ini, termasuk Afra, Sira dan Aura. Ketiganya dengan cepat langsung masuk ke dalam perpustakaan yang sudah ada di depan mereka.
Suara bel pintu terdengar setelah ketiganya membuka pintu dan masuk ke dalam, kemudian suara penyambutan ikut memasuki pendengaran mereka.
"Selamat datang di perpustakaan kami. Silahkan masukkan data diri sebelum menikmati tulisan pada buku-buku di sini," sambut penyihir resepsionis di perpustakaan itu.
Sekarang ….
Butiran-butiran bening berukuran kecil sudah menjadi lukisan bergerak pada hari ini. Ukuran kecil yang berdatangan secara berkelompok, tetapi turun dengan kerenggangan. Tidak ada suara keras yang dihasilkan olehnya.
Gerimis adalah namanya, butiran bening yang menjadi garis lurus karena pandangan mata. Warna putih padahal bening, hawa sejuk nan basah, ketenangan dan suasana lainnya.
"Haah, entah kenapa aku bisa mengerti tulisan aneh ini," gumam Sira berjalan tanpa menatap ke depan. Matanya menatap dan memandang juga membaca sekilas, tulisan aneh pada buku-buku yang tersusun rapi di rak kayu.
"Huh, pedoman berbicara sopan?" gumam Sira lagi melebarkan matanya sedikit, kemudian mengambil buku yang judulnya baru saja dibaca olehnya tadi.
.
.
"Pergi dan temani saja manusia itu, Penyihir!" lirih Sira dengan nada dingin dan tegas. Aura tertawa kecil dan menjauhi Sira, si penyihir bertanduk itu.
Afra Afifah, si gadis manusia ini masih berjalan dengan perlahan. Mata birunya sedang membaca judul-judul buku pada rak buku yang terbuat dari kayu. Membaca dengan teliti dan seksama, meski akhirnya ia menghela napasnya dengan pasrah.
"Sepertinya tidak ada," ucap Afra lirih kemudian menoleh ke arah lainnya.
Afra mengedarkan pandangannya dan mulai berjalan mencari sesuatu. Ia tidak mencari buku, tetapi mencari benda hidup yang bergerak. Ciri-ciri seperti manusia, tetapi diliputi oleh mana atau energi sihir.
.
"Ah, Aura!"
"Hehe, kau terkejut, ya?" kata Aura yang baru saja mengagetkan Afra, meski hanya dengan memegang pundak Afra.
Afra ikut tertawa kecil, "kau masih menyimpan bukuku 'kan? Aku ingin membacanya sekarang," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aura pun mengangguk dan mengeluarkan lingkaran sihir di tangannya. Dari lingkaran sihir itu, keluarlah buku yang cukup tebal. Buku dengan cover kuno berwarna hitam, lembaran buku berwarna coklat pudar, bagaikan kertas yang selamat dari kobaran api.
Aura pun memberikan buku itu pada Afra. "Terima kasih," ucap Afra lalu menoleh dan mencari tempat duduk.
Aura menepuk bahu Afra, "di sana, kau baca bukunya dengan Sira. Aku akan mencari sesuatu di sini."
Setelah Aura berkata sambil menunjuk ke tempat bangku dan meja panjang yang tersusun rapi, ia langsung meninggalkan Afra. Afra hanya mengangguk kemudian pergi berjalan menuju tempat membaca itu.
Kursi panjang dan meja panjang, terbuat dari kayu dan terdiri dari lima baris. Ada beberapa penyihir yang diam dan membaca dalam hati buku pilihannya. Namun, hanya satu penyihir yang tidak bisa disebut penyihir di sana.
"Huh, pedoman berbicara apanya? Berkata oke saja tidak sopan, ya?" gumam Sira, si penyihir bertanduk atau yang dulunya disebut sosok biru itu mengeluh
Afra yang baru saja berada di dekat Sira sedikit memiringkan kepala saat mendengar perkataan Sira. Meski begitu, pemuda berpakaian elegan itu tetap membaca buku dengan tenang dan sepertinya tidak menyadari kedatangan Afra.
Afra pun duduk di sebelah Sira dan mulai membuka bukunya. Buku tanpa judul dan hanya bersampul hitam kosong, kuno nan buangan, tetapi berisi informasi yang cukup lengkap.
Tentang ras, kerajaan, dunia bawah, semuanya terangkum di buku tebal ini. Meski begitu, Afra hanya bisa membaca lembar-lembar yang sudah memunculkan tulisan. Karena buku tebal nan kuno ini, memiliki sesuatu yang membuat beberapa lembar halamannya tidak memiliki tulisan.
"Baiklah, ada sesuatu yang baru atau tidak, ya?" ucap Afra mulai membuka lembar halaman buku tebalnya.
Sira masih fokus pada bukunya dan belum menyadari bahwa Afra sudah duduk di sampingnya. Beberapa helaan napas terdengar di telinga Afra dan membuatnya melirik ke arah Sira. Ya, Sira lah yang menghela napas sedari tadi.
Afra pun kembali fokus pada bukunya sampai berhasil menemukan lembar halaman yang bertuliskan tulisan kuno. Tulisan yang bahkan terlihat sangat berbeda dari buku lainnya, termasuk buku di tangan Sira.
"Hm? Apa ini?" tanya Afra pada dirinya sendiri saat membaca tulisan pada lembar halaman di buku tebalnya itu.
'Semua tentang kehidupan penyihir', itulah kalimat singkat yang membuat Afra melebarkan mata.
Afra tertegun sejenak saat membaca kalimat itu. Rasa penasaran dan tanda tanya tercipta tercipta di benaknya. Kebetulan atau keberuntungan, sepertinya ia harus membaca paragraf pada lembar halaman ini.
.
.
.
.
Afra dan Sira, keduanya saling membaca buku dengan fokus. Sira yang membaca sambil mengeluh, tetapi juga tidak menyadari bahwa gadis manusia itu ada di sampingnya. Sedangkan Afra hanya membaca fokus dan berusaha memahami maksud tulisan-tulisan di lembar halaman buku tebalnya itu.
.
__ADS_1
.
"Permisi, apa aku bisa melihat daftar pengunjungnya?"