
Kota … di dunia bawah. Meski mentari terbit, ataupun purnama yang bersinar … semua makhluk yang ada di sini … hanya akan diam dan tak peduli.
Kepercayaan. Satu kata yang sangat-sangat jarang bahkan tidak pernah terdengar ataupun terucapkan di sini. Ketidakpedulian dan pendirian yang tak mau memikirkan sekitarnya, memberi kesan acuh tak acuh dan … sampai pada titik kesendirian.
***
Lentera kota bersinar terang, meski di sisi lain sedang ada bencana. Dua makhluk dari akademi Arknest ini, sekarang sedang berjalan menuju perbatasan kota Etral dan kota Earth.
Gadis manusia yang dikenal sebagai gadis monster itu, kini sedang dalam perjalanan bersama siluman berambut ungu itu. Setelah … dua assassin dan satu siluman aneh pergi ke pinggiran kota.
Meski masih merasa bingung dan penuh tanda tanya, Afra tetap tenang. Ia berusaha tidak terlalu memikirkannya dan tetap bersikap normal, meski Cyrèn terlihat meliriknya beberapa kali.
"Oh iya, apa aku boleh tau ras mu? Kau tidak terlihat seperti makhluk-makhluk pada umumnya!" pinta Cyrèn membuka pembicaraan dan … memberi sedikit pencerahan, yang sebenarnya … memberi kesan aneh untuk Afra.
"A-aku … dari ras monster," jawab Afra sambil menundukkan kepalanya. Meski sejenak, Cyrèn terbelalak mendengar perkataan Afra, tetapi ia menyembunyikannya dengan anggukan kepala.
"Begitu, ya … pantas saja! Aku tidak merasakan apapun darimu, meski itu tidak selamanya benar, sih…," tutur Cyrèn semakin memberi kesan aneh untuk Afra.
Tidak, bukan kesan aneh. Melainkan … perasaan takut dan gemetaran. Seakan-akan … identitas aslinya kembali dipertaruhkan. Perkatan Cyrèn semakin menyakinkan Afra … tentang dirinya yang bukan monster.
"B-begitu, ya," ucap Afra lirih dan tertawa kecil, dengan tubuhnya yang mulai bergetar.
Cyrèn hanya membalasnya dengan senyumannya, yang … terkesan misterius.
.
.
.
Makhluk-makhluk berlalu-lalang, dan sinar dari lampu jalanan yang menggantung di atas kepala bagai di festival, langsung menghilangkan rasa takut Afra. Ya, cahaya lampu lentera yang sebelumnya minim, sekarang menjadi plus.
Afra mendongakkan kepalanya dengan mata melebar. Takjub, tentu saja! Tali yang menggantung dari atap bangunan ke bangunan lain, dan membentuk garis zig zag, dengan lampu lentera yang mengikat pada tali. Afra benar-benar takjub dan kagum.
"Benar-benar indah, ya," lirih Cyrèn meski tak disadari oleh Afra.
Keduanya pun berhenti sejenak dan melihat lentera yang seakan melayang di atas kepala mereka itu.
.
.
.
Sebelumnya…
Suasana hening. Itulah yang terasa di sini, setelah … tersisa mereka berdua yang bergeming.
Afra yang masih memiliki tanda tanya di kepalanya masih mencoba untuk mencerna situasi, sedangkan Cyrèn … ia melirik Afra dengan senyuman miring. Namun, tanpa terpikirkan oleh Cyrèn, Afra tiba-tiba saja langsung menundukkan kepalanya.
Suasana yang hening sedikit berubah menjadi ketegangan bagi Cyrèn, tetapi tidak bagi Afra yang memang memikirkan hal lain.
__ADS_1
"A-apa aku … boleh bertanya padamu?" kata Afra dengan kepalanya yang tertunduk.
Cyrèn terkejut mendengar perkataan Afra, tetapi ia langsung tertawa-tawa. Afra langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Cyrèn yang masih setia dengan tawa.
"Itu, kau sudah bertanya padaku 'kan?" ucap Cyrèn kembali tertawa-tawa, sampai…
.
.
Aura merah keluar dari tubuh Afra. Cyrèn terkejut dan langsung menghentikan tawanya. Ia benar-benar terkejut dan tak percaya … melihat dan merasakan aura merah itu. Rasa terancam dan berada di ujung jurang.
Afra keheranan dan kebingungan melihat ekspresi Cyrèn yang … seperti ketakutan, "se-sepertinya tidak perlu … aku bertanya-tanya lagi," ucap Afra merasa bersalah dan kembali terpikirkan dengan … sikap-sikap yang sama.
Ya, sikap-sikap yang sama … ketakutan yang tiba-tiba tercipta di mimik wajah mereka yang melihat Afra.
Afra pun kembali menundukkan kepalanya, lalu melirik sebentar keluar jendela. Bintang-bintang terlihat masih berkedip-kedip di langit malam. Cyrèn yang masih sedikit terkejut mulai menenangkan dirinya.
"Ah! Bagaimana, kalau kita pergi ke perbatasan?" tawar Cyrèn membuat Afra melihat dengan wajah penasaran. Afra langsung menganggukkan kepalanya tanpa basa-basi lagi, dan Cyrèn menghela nafas lega.
.
.
.
Sekarang…
Lampion terbang yang bercahaya di langit malam, lentera yang terpasang di sepanjang jalan, dan makhluk-makhluk yang berlalu-lalang dan menyapa dengan anggukan kepala. Suasananya terlihat sangat-sangat berbeda dari biasanya.
"Bagaimana? Indah 'kan?" tanya Cyrèn sambil menatap lampion yang semakin terbang ke atas dan menjauh.
Afra menoleh dan menatap Cyrèn dengan wajah terkejut. Ya, ekspresi wajah Cyrèn tampak senang, meski hanya tersenyum tipis.
"Ya, apa ini alasanmu mengajakku ke sini?" jawab Afra sambil menganggukkan kepalanya, dan bertanya.
Cyrèn langsung menoleh dan menatap mata Afra. Senyuman tipis kembali tercipta di bibirnya. Afra sedikit melebarkan matanya, dan … termenung. Seakan-akan dirinya dihipnotis olehnya.
"Sepertinya begitu," jawab Cyrèn dengan lirih, lalu memalingkan wajahnya dari Afra. Tatapan terpitu, tetapi Afra masih sedikit terkejut.
Sikap Cyrèn perlahan-lahan berubah. Seperti … cahaya lentera yang berhenti bergerak, dan tak goyah oleh angin. Cyrèn pun mulai melangkahkan kakinya dan berjalan, begitu juga dengan Afra yang mengikutinya. Meski setelah beberapa detik melamun.
***
Kepercayaan. Mau diulang-ulang berapa kali pun, hasilnya tetap sama. Kalau kehidupanmu berada di sini. Tidak ada … yang bisa disebut sebagai kepercayaan. Sulit, tak mungkin, dan … hanya ilusi.
.
.
.
__ADS_1
.
Langit malam yang dipenuhi bintang-bintang putih, dan awan-awan hitam yang menyelimuti. Satu sisi penuh cahaya, satu sisi terselimuti kabut, dan sisi yang tersisa … terbakar oleh api. Namun, di sisi kecil yang tak diketahui …
… Ada banyak lingkaran cahaya yang siap mengeluarkan sesuatu dari sisi tersembunyi dunia.
Penyihir berjubah, dengan rambut berwarna merah muda. Netra tiga warna, dan … seorang teman bagi tokoh utama.
"Apa … aku bisa mempercayaimu, Afra?" kata Aura dengan beberapa lingkaran sihir yang berputar di belakangnya.
Bukan hanya satu, melainkan lebih dari itu. Lingkaran sihir berwarna biru yang biasa digunakan untuk teleportasi itu, kini seperti akan digunakan untuk hal lain.
"Terepōtēshonsutā!" lirih Aura seketika … mengeluarkan bintang-bintang dari dalam lingkaran sihir berwarna biru itu.
Bintang-bintang itu langsung melesat dan terbang ke angkasa, dan meninggalkan kilatan cahaya di belakangnya.
.
.
.
Bintang yang melesat dari bawah ke atas, dari tanah ke langit malam, membuat Afra sedikit terkejut dan takjub. Ya, langkah kakinya kembali berhenti melihat bintang-bintang itu.
"Bintangnya … lebih indah dari sebelumnya…," gumam Afra dengan netra birunya yang mencerminkan bintang yang terbang ke langit malam itu.
Bintang-bintang itu terus berterbangan dan melesat menuju langit malam, menembus awan hitam dan menambah sinar bintang-bintang yang tetap setia di tempatnya. Cyrèn yang melihatnya langsung merasakan hal lain, bukan perasaan takjub atau sejenisnya. Namun…
"Kosong…," lirih Cyrèn membuat Afra terkejut. Ya, Afra masih bisa mendengar perkataannya meski itu sangatlah lirih. Dan…
.
.
Bintang-bintang yang sebelumnya menembus langit malam itu, tiba-tiba saja langsung turun dan terjun menjadi bintang jatuh. Ya, bukan bintang terbang yang sebelumnya menembus langit, melainkan bintang jatuh yang akan menghancurkan tanah.
Makhluk-makhluk yang melihat di atas kepala mereka langsung segera pergi dan berlari, meski kebanyakan langsung menyatu dalam kegelapan. Ya, seakan mereka semua sudah menjadi bagian dari kota hidup yang mati ini.
Sampai tersisa sang siluman dan gadis manusia.
"Sepertinya … kepercayaan sedang dipertaruhkan di sini, Gadis monster!" tutur Cyrèn dengan nada tegas dan penuh hawa dingin.
Mata Cyrèn melirik sejenak, dan menatap netra biru Afra. Afra terkejut dengan tatapan Cyrèn yang … benar-benar berbanding balik dengan sebelumnya. Ya, sifatnya yang aneh dan misterius seketika berubah menjadi serius dan dingin.
Tidak, tidak, lebih tepatnya … seperti mengeluarkan sisi lain yang harus setia saat … pertarungan dimulai.
.
.
"Draco daemonium!"
__ADS_1