
"Baiklah, aku hanya perlu memeriksa kamar asrama ku dan—"
"Mati!" bisik sesuatu di belakang Afra.
Afra langsung menoleh ke belakang dan mencari suara yang memasuki telinganya itu. Namun, tidak ada apa-apa. Jantungnya berdetak sangat kencang sekarang, setelah mendengar bisikan yang bukanlah dari sang alter.
Afra pun mengambil napas panjang dan menghembuskan napasnya.
"Baiklah, setidaknya masih ada sesuatu yang tersisa, meski takdir sudah berubah!" Afra pun membuka pintu kamar asramanya yang sudah penuh debu dan lumut.
Perasaan tegang dan ketakutan dirasakan oleh Afra, tetapi itu tidak menghentikan niatnya untuk masuk. Langkah kaki mulai dilakukan oleh Afra. Matanya melihat sekeliling dan mencari-cari sesuatu.
Kamar asramanya kini sudah berubah total. Hitam, penuh debu dan lumut. Tanaman-tanaman merambat juga hampir menyelimuti seluruh ruangan kamar. Perasaan takut semakin terasa oleh Afra. Namun, matanya tetap serius melihat dan mencari sesuatu.
Seketika, mata Afra terbelalak setelah pandangannya terarah pada meja belajar. Ia melangkahkan kakinya dan mendekat, kemudian mengusap-usap meja itu. Debu hitam dan kotor mulai menghilang.
"Ada! Bukunya masih ada!" ucap Afra dengan wajah senang.
Buku tebal yang terlihat semakin kuno karena debu telah ditemukan. Ya, buku yang penyihir kuning itu berikan pada Afra. Afra sudah menemukan buku itu sekarang. Meski begitu, sepertinya ada sosok lain yang juga menemukan buku itu. Bersamaan dengan Afra yang kini sudah memegang buku itu.
"Hihi, ternyata benar, ya."
"Siapa itu?" tanya Afra menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apa-apa.
Suara yang sama seperti suara sebelumnya, itulah yang Afra dengar. Namun, sumber suara itu masih belum diketahui dan hanya nada bicaranya saja yang Afra tahu. Nada bicara yang hampir mirip dengan sosok makhluk yang dikenalnya.
"Kau itu … bukan gadis monster …."
Afra kembali menoleh dan mencari, tetapi ia tidak menemukan apapun.
"Kau itu … manusia 'kan? Afra Afifah!" bisik suara itu tiba-tiba terdengar sangat jelas di telinga Afra dan terasa mencekam.
__ADS_1
Perasaan penuh ketakutan dan tidak bisa apa-apa. Afra seakan-akan sudah mati rasa dan tak bisa menoleh ke belakang. Sosok yang membisikkan kata-kata itu sudah berada di belakang Afra saat ini dan sedang tersenyum miring.
"Hihi, mengulang waktu … ide Vi membuatku gila saja, ya," gumam sosok itu membuat Afra terbelalak.
Tubuh yang bergetar dan mati rasa. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Afra, tetapi perasaan lain langsung dirasakan olehnya. Rasa penasaran yang melebihi semua rasa takutnya.
Afra langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap sosok yang tampak gelap itu. Meski begitu, Afra masih bisa melihat dengan jelas rupa sosok itu.
Sesosok penyihir berambut kuning gelap, netra merah dan senyuman seringai di wajahnya. Pakaian penyihir yang dikenakannya hampir mirip dengan pakaian pembantu. Warna hitam dan putih menjadi ciri khasnya dalam berpakaian.
Meski penyihir itu tampak berbeda, Afra masih bisa mengenalinya. Penyihir yang benar-benar sangat ia kenal. Senior pertama yang ia temui. Dan juga senior yang memberi buku itu.
"I –Iliya!" ucap Afra terkejut dan tak percaya.
Iliya Viely, itulah sosok yang sekarang sedang tersenyum jahat pada Afra.
Seketika, kaca jendela yang awalnya masih utuh dan hanya diselimuti tumbuhan merambat langsung pecah. Serpihan-serpihan kaca tersebut hampir mengenai Afra dan Iliya. Mata terbelalak dan perasaan takut, itu yang dirasakan oleh Afra.
Sedangkan Iliya, ia malah semakin menunjukkan wajah jahat dan tertawa.
Sinar bulan menyinari sebagian tubuh Iliya. Tidak ada cahaya lain selain cahaya alami di ruangan tempat mereka berdua berada. Mata merah Iliya yang bersinar membuat Afra semakin gemetar ketakutan.
Berjalan mundur dengan tubuh yang bergetar, hanya itu. Afra basah dengan keringat dingin dan netranya masih terbelalak. Iliya benar-benar berbeda. Meski sifatnya memang agak aneh, tetapi keanehannya tidak seperti ini.
"Hihi."
Tiba-tiba, suara nyaring terdengar setelah tawa dilakukan oleh Iliya. Suara teriakkan dan benda-benda berjatuhan juga hancur lebur. Seperti kaca jendela, tetapi jumlahnya lebih banyak.
Lampu yang menyinari gelapnya lorong dan ruangan mulai redup. Cahaya tidak lagi tercipta di lampu yang sudah retak itu. Jantung Afra mulai berdetak kencang. Perasaan takut semakin menjadi-jadi dan Iliya mulai tertawa-tawa.
"Bagaimana ini? Aku harus apa? Bagaimana ini, bagaimana!" batin Afra terus berjalan mundur dan seketika terpojok oleh dinding ruangan.
__ADS_1
Iliya berhenti tertawa, "hei, kau tau 'kan? Tidak ada manusia yang boleh hidup di sini, ya 'kan, Gadis manusia?"
Suara detakan kembali terdengar. Suara yang membuat tubuh menjadi mati rasa. Suara teriakkan penuh rasa sakit menggema.
"A –aku bukan—"
"Hei, kau benar-benar jujur, ya. Berani menunjukkan kebohongan di depan ku!" kata Iliya menatap tajam mata Afra.
Iliya mulai melangkahkan kakinya dan menghampiri Afra yang sudah terpojok. Setiap langkah yang dilakukan Iliya membuat Afra semakin ketakutan. Napasnya memburu dan detak jantungnya terasa semakin kencang.
"Hei, Manusia … kau benar-benar penuh kebohongan, ya!" tegas Iliya langsung menggenggam pergelangan tangan Afra dan mengangkatnya.
Bagaikan ranting yang menggenggam tangan seseorang di jurang. Afra kini sudah berada di akhir hidupnya. Iliya tersenyum jahat dan semakin menguatkan genggamannya. Rasa sakit mulai dirasakan Afra.
"Akh!" teriak Afra langsung merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Iliya langsung melepas dan melemparkan Afra tepat ke arah jendela.
Afra tidak terjatuh keluar, tetapi menghantam dinding yang ada di sebelah jendela. Pecahan kaca jendela menusuk tubuh Afra dan membuat air merah keluar dari tubuhnya.
"Hihi."
Iliya kembali tertawa melihat kondisi Afra saat ini. Penuh ketakutan dan rasa sakit. Tak berdaya dan tak bisa apa-apa. Buku tebal yang sudah terjatuh mulai diambil oleh sang penyihir. Raut wajah jahatnya sudah memberi kesan bahwa tidak ada lagi sosok Iliya yang dikenal oleh Afra.
"Manusia benar-benar lemah, ya, hihi!" lirih Iliya kembali menusuk mata Afra dengan netra merahnya.
Afra kembali terbelalak dan tak bisa apa-apa, tetapi ada satu perasaan yang sudah mulai mendobrak tubuhnya dan ingin keluar. Afra mulai bangun dan menatap lantai yang sudah basah dengan cairan merah kental dari tubuhnya.
Kulit putihnya kini sudah tergores dengan benda bening dan tajam. Kepalanya tertunduk dan netranya menatap ke bawah. Wajahnya seakan tertutupi bayangan hitam dengan jari-jarinya yang menusuk telapak tangan.
"Hei, Iliya …," panggil Afra dengan nada lirih dan tetap menatap lantai penuh luka.
"Ha? Apa kau memanggilku, Manusia?" jawab Iliya kembali tertawa kecil dan tersenyum jahat.
__ADS_1
Afra diam dan tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya. Hanya tangan dan kakinya, juga beberapa bagian tubuhnya yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Apa … maksudmu dengan manusia, Iliya Viely?"