Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Pagi Biru (3)


__ADS_3

"Oke, jadi si Liliya itu—"


"Iliya," potong Afra membuat Sira menyipitkan mata.


"Si Iliya itu mengubah Aura menjadi batu lalu menghancurkannya? Atau dia mengubah 'mana'nya menjadi batu itu dan menyerap Aura ke benda sihir itu?"


"Eum .. aku juga tidak tahu, tapi sepertinya kau benar-benar pintar, ya, bisa membuat kesimpulan dengan cepat!" ucap Afra sambil tersenyum kagum dan menatap Sira dengan mata yang berbinar-binar.


Sira tersenyum, "ya! Aku ini pintar tau! Hahaha!"


.


"Permisi," ucap sosok lain dari balik pintu kamar.


Afra dan Sira mengarahkan pandangan pada pintu kamar bersamaan. Afra yang merasa aneh mulai menoleh dan memfokuskan pandangannya pada Sira.


Afra terkejut melihat ekspresi Sira yang mulai menunjukkan hawa dingin dan tajam.


"Kau hanya bersama Aura 'kan?" tanya Sira langsung dijawab anggukan kepala oleh Afra.


"Hm." Sira mulai bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Afra setelah beberapa detik.


Sira mulai berjalan menuju pintu bersamaan dengan Afra yang mengikuti di belakang. Gagang pintu mulai dipegang dan pintu pun dibuka. Nampak sosok penyihir laki-laki dengan pakaian penyihir berwarna hijau.


Pakaiannya hampir mirip dengan model pakaian yang dikenakan Sira.


"Eh? Apa ini kamarmu?" tanya lelaki penyihir itu sambil memiringkan kepala dan melihat ke dalam kamar. Mata penyihir itu seketika bertatapan langsung dengan mata Afra.


Afra langsung tertegun dan menghindari tatapan mata lelaki penyihir itu. Ia langsung bersembunyi di belakang punggung Sira. Sira tidak terlalu memikirkannya.


"Sepertinya kau mencari manusia ini, ya, Penyihir?" Lelaki penyihir itu tertawa mendengar perkataan Sira.


"Ya, hanya ingin melihat,"-lelaki penyihir itu tersenyum miring-"manusia seperti apa yang masih hidup kali ini."


.


Udara dingin tercipta dan sebilah es tajam baru saja menggores wajah laki-laki penyihir itu. Itu adalah perbuatan Sira dan sekarang ia sudah menunjukkan wajah serius.


"Apa kau ingin melakukan hukum yang berlaku di dunia ini?" tanya Sira menatap tajam lelaki penyihir itu.


Lelaki penyihir dengan pakaian berwarna hijau dan mengenakan kacamata itu mengusap darah yang mengalir di pipinya.


"Memang, manusia itu tidak boleh hidup di dunia ini, tetapi itu juga ada kriterianya," jawab lelaki penyihir itu membuat Sira terkejut.


Afra hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Ia merasa ketakutan dalam dirinya. Lelaki penyihir itu terasa tidak asing. Afra merasakan aura sosok lain dari lelaki penyihir itu. Tidak, tidak, aura lelaki itulah yang terasa sama dengan sosok lain.


"Kriteria, apa maksudmu?" Lelaki penyihir itu kembali tersenyum miring, tetapi kini lebih terasa misterius.


"Coba pikirkan. Jika manusia tidak boleh hidup di dunia ini, lalu kenapa gadis manusia di belakangmu itu bisa bertahan hidup?"

__ADS_1


"Hah?" Pertanyaan lelaki penyihir itu membuat Sira kebingungan, meski wajah Sira tetap menunjukkan aura tajam.


Sementara itu, Afra yang sedari tadi mendengar pembicaraan Sira dan lelaki penyihir itu hanya bisa diam. Berusaha untuk tidak bersuara dan melihat. Tangannya mulai meremas pakaian Sira.


Sira tentu menyadarinya, tetapi ia hanya bisa diam. Aura biru yang menyelimuti tubuh Afra semakin bisa dirasakan dengan jelas oleh Sira saat lelaki penyihir itu mempertanyakan hal aneh.


.


"Manusia itu lemah dan tidak bisa apa-apa. Hanya otak dan nafsu, itu yang membuat mereka kuat. Namun juga, itu membuat mereka harus lenyap dari dunia ini!"-lelaki penyihir itu tertawa-"ya, meski kini terlahir kembali satu manusia setelah 'hari itu' terlaksana."


.


Sira semakin dibingungkan dengan kata-kata lelaki penyihir itu. Meski begitu, wajahnya semakin menampilkan ketidaksukaan dan kebencian.


"Ya dan ya! Jadi, apa maumu hah! Yang lain saja tidak mempedulikan kehadiran cewe ini!" Sira kembali mengarahkan bilah esnya pada wajah lelaki penyihir itu.


"Hanya mengecek kata-kata penyihir resepsionis itu yang berkata 'manusia dengan aura aneh' dan 'siluman dengan sihir yang sama seperti penyihir'!"


.


Jawaban lelaki penyihir itu membuat Sira semakin mempertajam auranya. Tanpa ragu ia kembali menggores wajah lelaki penyihir itu dengan bilah esnya, meski lelaki penyihir itu malah tersenyum senang.


"Baiklah, sepertinya sudah selesai aku melihatnya."


.


"Aku penghuni baru penginapan ini, tetapi mungkin aku akan jarang keluar. Jadi jangan harap bisa melihatku untuk kedua kalinya!" ucap lelaki penyihir itu menampilkan wajah dingin kemudian masuk ke dalam kamar itu.


Sira masih menunjukkan ekspresi tajam dan dingin meski lelaki penyihir itu sudah tidak dilihatnya lagi. Sira menghela napasnya kemudian menoleh ke arah Afra.


"Sudah am—"


.


Afra bergeming dan tidak menatap dunia. Matanya terpejam dan badannya sedikit membungkuk. Kedua tangannya semakin meremas pakaian Sira dengan rasa bergetar. Mulutnya seperti ingin mengeluarkan suara, tetapi tertahankan karena badan yang bergetar.


"Sira …."


.


Kini, Sira bergeming mendengar Afra yang mengucapkan namanya. Rasa takut menyelimuti Afra dan menciptakan aura biru yang mulai berkobar. Meski begitu, aura biru itu tidak berkobar bagai api.


Malah lebih mirip seperti api besar yang terkena hujan deras.


Sira tersenyum dan mengelus rambut biru Afra, "tenanglah, Afra. Kau .. masih bisa bertahan," ucapnya dengan nada yang sedikit menurun saat di akhir.


.


"Apa .. alasan Afra bisa bertahan hidup adalah …,"-Sira memeluk tubuh Afra-"… karena aura ini?"

__ADS_1


.


Batin Sira sembari memeluk Afra yang masih gemetaran akan ketakutan dalam dirinya. Afra terus merasakan rasa takut itu, tetapi dengan perlahan rasa takut itu mulai menghilang.


Rasa nyaman dan aman tercipta setelah Sira memeluknya.


.


"Entah kenapa … rasanya nyaman," batin Afra membalas pelukan Sira kemudian tersenyum.


Afra dan Sira saling berpelukan lagi, meski sekarang ada sosok lain yang mengetahuinya. Tidak seperti di perpustakaan waktu itu, kini ada sosok lain selain Afra dan Sira.


.


.


.


.


.


.


.


"Waah, benar-benar pasangan serasi, sesuai dengan 'ramalan'," kata lelaki penyihir itu melihat Sira dan Afra berpelukan menggunakan sihir.


Sihir berbentuk layaknya genangan air yang menampilkan gambaran akan kejadian. Bagai cermin yang memperlihatkan sesuatu yang tidak melihatnya secara langsung. Sihir itulah yang membuat lelaki penyihir itu bisa melihat Afra dan Sira.


Lelaki penyihir itu tersenyum misterius, "meski begitu …."


.


.


.


"… Yang seharusnya terjadi harus tetap terjadi," sambung lelaki penyihir itu yang kini sudah berubah wujud menjadi perempuan berambut putih.


Perempuan penyihir dengan pakaian penyihir berwarna hitam dan biru. Warna putih juga menjadi pelengkap pada pakaiannya. Model yang hampir sama dengan Sira, tetapi lebih ditujukan untuk perempuan.


Meski sebenarnya pakaian penyihir itu tampak seperti pakaian prajurit. Rambut panjang berwarna putih, topi lebar berwarna hitam dengan ujung lancipnya yang tipis. Topi itu bagai sirip ikan.


Tangannya selalu mengenakan sarung tangan, sementara wajahnya tetap menampilkan raut serius. Tidak ada candaan baginya dan hanya ada hawa dingin.


Itulah perubahan yang terjadi pada lelaki penyihir itu. Perubahan dari wujud palsu menuju wujud asli, sifat banyak bicara berubah menjadi tanpa kata-kata. Benar-benar perubahan drastis.


"Meski begitu, ada baiknya juga," ucap penyihir perempuan itu menghilangkan sihir yang menampilkan Afra dan Sira yang masih berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2