Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kembali Lagi


__ADS_3

Malam hari tanpa bintang, tetapi bulan purnama tampak bersinar terang. Latar hutan yang berada mengelilingi akademi Arknest. Ya, kembali lagi pada masa lalu, itulah yang terjadi pada tokoh utama.


.


.


.


.


.


.


Lingkaran sihir dengan tiga warna itu langsung memindahkan Afra dan Sira menuju hutan. Hutan gelap yang tampak lebih baik dibanding akademi Arknest itu. Namun, keseimbangan seketika menghilang dalam diri Afra.


"Ah!"


Afra langsung kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh, terjatuh dalam kehangatan dari pelukan Sira. Sira langsung menahan tubuh Afra dan membawanya dalam pelukan.


Afra membelalakkan matanya saat ia menatap mata Sira.


"J –jangan menatapku, Afra!" Sira langsung mengalihkan pandangannya dari Afra, tetapi tangannya masih memeluk erat tubuh Afra.


Afra hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Sira yang memerah.


.


.


.


Suara langkah kaki terdengar dari segala arah, menggaung dan terasa mencekam. Afra semakin melebarkan matanya saat Sira mengeratkan pelukannya, meski kini Sira menggunakan satu tangannya untuk mengeluarkan lingkaran sihir.


Lingkaran sihir berwarna biru yang kini siap menyerang gerakan mencurigakan itu. Pandangannya fokus pada satu titik meski suaranya terdengar di arah lain. Afra memandangi wajah Sira yang sudah benar-benar serius itu.


"Hanya sihir, jangan hiraukan," guman Sira menciptakan tanda tanya besar pada benak Afra, tetapi tanda tanya itu langsung menghilang saat sesuatu tercipta di sekelilingnya.


Udara dingin menyelimuti dan menyebar ke segala arah. Lingkaran sihir berwarna biru di tangan Sira tidak menampilkan perubahan sama sekali. Namun, sepertinya ini bekerja?


.


"Baiklah, jangan menggunakan sihirmu secara sia-sia!" Suara langkah kaki pun terdengar setelah kata-kata ini masuk dalam telinga.


Gadis penyihir dengan jubah berwarna hitam, rambut panjang berwarna merah muda yang tampak diikat menjadi dua. Netra unik dengan tiga warna, yaitu kuning merah dan biru.


Gadis itu sudah menunjukkan dirinya dan menciptakan wajah terkejut bagi Afra juga Sira.


"A –Aura!"


Gadis penyihir yang baru saja keluar dari gelapnya hutan dan menghampiri Afra juga Sira, telah menciptakan rasa keterkejutan. Ya, gadis penyihir itu adalah Aura.


Aura tersenyum tipis, "mari kita selesaikan ini semua, Afra!"


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Malam hari, waktu yang terlalu tepat untuk menjelaskannya. Mari membuat sesuatu yang baru. Penjelasan singkat, tetapi tidak terlalu penting. Entahlah, dimulai saja.


.


Gadis manusia bernama Afra Afifah. Rambut pendek sebahu berwarna hitam kebiruan, gaun biru yang kini menjadi identitasnya. Dengan dua permata sebagai penjepit rambutnya, juga aura biru yang menyelimuti tubuhnya.


Afra kini sudah menjalin dan mendapatkan kepercayaan dari Aura, si gadis penyihir yang sebelumnya tak memiliki nama. Entah apa yang terjadi, tetapi meski Afra berada di waktu masa lalu, ini …


Bukan masa lalu di waktu pengulangan. Ini adalah masa lalu, saat Afra pertama kali dibuat mengulangi waktu dengan takdir yang berbeda.


"Apa maksud perkataanmu, Aura?" tanya Afra sambil melepaskan pelukan Sira, tetapi Sira tidak ingin melepaskannya.


"Jangan mendekatinya, Afra," lirih Sira membuat Afra tertegun.


Sira Siveria, lelaki siluman yang lebih mempercayai dirinya adalah penyihir. Waktu pengulangan dengan takdir yang berbeda, ini adalah hasilnya. Namun, hasil ini membuat Sira benar-benar percaya pada Afra.


Banyak kejadian, meski hanya waktu sehari dua hari, satu bulan atau berapapun. Kini Sira tampak tidak ingin membiarkan Afra mendekati Aura.


Afra membelalakkan matanya, sedangkan Sira menunjukkan tatapan tajam pada Aura. "Hah? Apa kau—"


"Sira," potong Afra membuat Sira menghentikan ucapannya dan menatap mata Afra.


"Huh, oke-oke." Sira melepaskan pelukannya dan memberi Afra kebebasan untuk bergerak.


Afra masih berada di dekat Sira meski Sira sudah tidak memeluknya. Ia menggenggam tangan Sira dan pandangannya fokus pada Aura.


"Bisa jelaskan padaku, Aura. Apa yang terjadi sekarang?" Aura tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya! Ini akan menyenangkan, lho!"


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Di bawah cahaya rembulan yang bersinar utuh, meski terlihat awan-awan hitam di sekelilingnya. Ia masih bisa menyinari dan menjauhkan kegelapan awan. Bintang-bintang tidak terlalu menyinarkan dirinya karena awan.


Bangunan yang terbuat dari bebatuan alam, tetapi tampak lebih modern dari bangunan di kota. Namun, keindahannya kini hanya tinggal mimpi. Warna hitam sudah menyelimuti dan beberapa sudutnya sudah menjadi bongkahan.


Kaca jendela yang memantulkan cahaya itu sudah retak, pondasinya telah hancur. Dinding-dinding luarnya ditumbuhi tanaman rambat, sementara yang di dalam diberi sarang kehidupan makhluk melata.


Walaupun demikian, masih ada kehidupan selain makhluk tak berotak.


"Hei, Iliya."


"Ya, Senior Lycé," jawab penyihir perempuan yang dipanggil Iliya itu.


Iliya Viely, sang sosok kuning, ia kini telah berhadapan dengan sosok yang ia panggil senior itu. Ia masih terbang dengan sapu terbangnya, meski ketinggiannya hanya di atas kepala saja.


Lycé Zayzik, itu adalah nama lengkap dari sosok berpakaian hitam itu. Sosok perempuan yang kini menatap bangunan hitam dan sudah hampir tidak berbentuk itu. Bangunan yang dulunya adalah akademi Arknest itu dipandangnya dengan sorot mata tajam.


Senyuman seringai ia simpulkan di wajahnya.


"Apa tujuanmu melakukan semua hal ini?" tanya Lycé dengan nada yang terdengar sama dengan nada Iliya, "kau tau 'kan? Kau tidak bisa menghapus mereka yang terlibat."


Iliya tertawa kemudian melompat turun dari sapu terbangnya. Sapu terbang itu langsung menghilang, setelah Iliya menginjakkan kakinya di lantai keramik yang sudah menyatu dengan tanah.


"Tentu saja! Untuk menunjukkan bahwa manusia itu adalah—"


"Monster, ya 'kan?" potong sosok perempuan lainnya seketika muncul dari kupu-kupu terbang berwarna merah darah.


Kupu-kupu terbang berwarna merah darah yang bersinar, tidak hanya satu jumlahnya. Kupu-kupu itu semakin banyak dan mulai membentuk wujud baru. Sosok perempuan yang bukanlah penyihir, tetapi juga tidak sama dengan ras Lycé Zayzik.


Rambut panjang berwarna putih dan kulit putihnya yang tampak seperti pucat. Netra merah darah dengan pakaian hitam. Di bagian lengannya ada lambang plus berwarna merah. Ini adalah ciri-ciri dari sosok perempuan itu.


"Hai, sesama senior yang sebenarnya sudah lulus. Namaku, Verrine De Luna!"


.


.


.


.


.


.


.


.


"Rye .. Else," panggil sosok perempuan dengan pakaian yang dihiasi garis-garis berwarna emas.


Rambut biru panjang sedada, enam serpihan kaca berwarna hitam di belakang punggungnya. Juga lubang lingkaran berwarna hitam yang melayang di atas kepalanya. Pakaian yang dikenakannya tampak elegan karena aksesoris berwarna emas itu.


Sosok perempuan dengan ciri-ciri di atas itu tampak berdiri di belakang sosok perempuan lain. Sosok perempuan dengan rambut hitam panjang sampai di atas paha. Sepasang tanduk hijau masih terlihat meski perempuan itu memunggungi perempuan yang memanggil dirinya.


Latarnya bukan di bawah, melainkan di atas. Atap bangunan akademi Arknest, itulah latar keduanya berada. Dan sekarang, sosok perempuan yang dipanggil Rye Else itu mulai membuka mulutnya.


"Viesta Olivia, ya …."

__ADS_1


__ADS_2