Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Rantai


__ADS_3

"Tapi, aku tidak bisa menerima permintaan mu tanpa syarat, Afra!" bisik Ilva di belakang kepala Afra. Afra semakin melebarkan matanya.


Ilva melebarkan senyumnya, "dan syarat agar kau bisa tenang dan tidak aku kendalikan adalah … darah merah milikmu, Manusia!"


.


"Aaaakkh!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Akh!" teriak Afra seketika terbangun dan keluar dari ruangan gelap penuh penyiksaan itu, "Ilva—"


.


Akh!" Afra berteriak kesakitan. Jantungnya berdetak keras dan itu terasa sangat tajam.


Menusuk dan memberikan rasa sakit ke seluruh tubuhnya. Ia masih dalam kondisi terbaring di tanah dengan netranya yang menatap langit. Tidak ada warna biru, hanya ada warna hitam yang menyelimuti langit.


Angin sepoi-sepoi berhembus melewati pendengarannya. Dan setelahnya, suara bisikan pun datang.


"Jika kau menyebut namaku, maka tubuhmu akan menjadi milikku seutuhnya, Afra. Itulah syaratnya, hihihi," bisik Ilva dari dalam pikiran Afra, tetapi Afra bisa merasakan kalau bisikan itu datang dari telinganya.


Tidak, itu memang dari dalam pikirannya. Namun, angin yang berhembus membuat bisikan itu seakan masuk ke telinga dan baru masuk ke pikirannya. Bisikkan itu menjadi tidak masuk langsung ke dalam pikirannya.


.


"Akh!" Afra kembali berteriak. Tubuhnya benar-benar terasa sakit.


Rasa sakit yang sama bahkan hampir melebihi rasa sakit yang dirasakannya saat di ruangan gelap tanpa batasan itu. Ia berusaha tetap tenang dan mengendalikan dirinya. Rasa sakit itu perlahan mulai menghilang, tetapi pandangannya juga mulai melemah.


Tubuhnya mulai terasa hampa. Seakan, ia sudah tidak memiliki raga sama sekali.


"A –aku …." Afra menghentikan ucapannya dan memilih untuk diam. Ia memejamkan matanya lalu membukanya, menatap langit biru yang tertutupi oleh awan hitam.


"Seharusnya aku tidak melakukan ini, dan tetap mengikutinya," batin Afra.


***


Pagi sudah menyapa, sinar mentari menyinari gelapnya hutan tanpa kayu. Meski begitu, awan hitam tetap menyelimuti langit biru, sehingga cahaya pagi tidak bersinar dengan sempurna.


Sudah tidak ada lagi titik-titik air yang turun dari langit, hanya ada genangan air pada tanah. Tanah alami berwarna coklat yang basah akan air, begitu juga dengan dedaunan hutan. Menciptakan embun yang bercampur dengan sisa air dari awan.


Namun, masih ada hal yang lain di sini. Warna lain yang masuh membekas pada tanah hutan.


.

__ADS_1


Darah, itulah warna lain yang ada di sini. Cairan merah itu tidak menghilang meski air mata dunia sudah menetes semalaman. Ya, walau sebenarnya hanya ada satu tubuh yang terbaring di sana.


.


"Aku … tidak bisa bergerak," gumam Afra memecahkan keheningan.


Gadis manusia ini hanya diam dan menatap langit biru yang diselimuti awan hitam. Awan hitam itu tidak terlihat hitam pekat, hanya saja warna hitam akan tetap terlihat hitam, meski sebatas arsiran kecil yang dihapus. Sehingga bekas hitam bak abu pun tercipta.


Netra birunya masih menatap ke atas, terus dan terus menatap. Membiarkan angin sepoi-sepoi berhembus memasuki telinganya, sampai ia mulai bosan. Ia pun menoleh ke sampingnya, atau lebih tepatnya tempat terakhir kali penyihir kuning terbaring tak berdaya.


"Iliya … menghilang, ya," lirih gadis manusia bernama Afra Afifah ini.


Ia benar-benar tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa lemah sekali. Tidak ada tenaga dan energi untuk hidup dan hanya bisa terbaring. Matanya kembali menatap langit biru yang mulai terlihat jelas, sampai …


.


.


… suara dedaunan yang terkena benda hidup terdengar.


Siapa? batin Afra bertanya-tanya.


Afra mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara itu berasal. Meski tubuhnya tidak bisa berubah posisi menjadi duduk ataupun berdiri, kepalanya masih bisa digerakkan. Ia mulai memfokuskan pandangannya pada dedaunan di sana.


.


.


Suara yang sama kembali terdengar dari dedaunan itu. Bersamaan dengan suara lainnya yang ikut terdengar. Suara benda hidup yang menapakkan kakinya di tanah dan bergerak menuju Afra.


Afra mulai menunjukkan tatapan tajam pada asal suara itu. Detak jantung yang terasa semakin cepat membuat Afra harus bertahan dalam ketenangan. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan sepenuhnya.


.


.


.


… sang sumber suara menunjukkan dirinya.


"A –Afra!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersamaan dengan rintikan hujan yang kembali tercipta dan membasahi udara pagi.


***

__ADS_1


Masih pada waktu pagi hari yang tidak cerah. Awan hitam senantiasa menutupi birunya langit, begitu juga dengan silaunya mentari yang ikut menghilang karenanya. Sekarang, Afra sudah berada di rumah yang tidak bisa ia lihat tampilan luarnya.


Meski sebenarnya sudah diketahui oleh kehidupan lainnya.


.


"Yup! Sudah selesai!" Tiga kata diucapkan oleh gadis berambut merah muda terang dengan jubah bertudung.


Senyuman tercipta di wajah gadis berambut merah muda itu. Netranya yang memiliki tiga warna terlihat sangat indah dan menakjubkan. Ia baru saja selesai melakukan sesuatu pada gadis bermata biru yang terbaring di ranjang itu.


"T –terima kasih, Aura," ucap gadis bermata biru berterima kasih.


"Ya, Afra," jawab gadis berambut merah muda terang bernama Aura itu.


Ya, Aura, itulah gadis berambut merah muda terang dengan netra tiga warna. Pakaian penyihir model jubah senantiasa dikenakan olehnya. Ia tersenyum pada gadis bermata biru bernama Afra itu.


Ya, Afra Afifah, tokoh utama dalam dunia ini. Gadis bermata biru dengan rambut pendek berwarna hitam kebiruan. Ia adalah gadis manusia. Ya, gadis manusia yang kini hanya bisa terbaring di ranjang dengan tubuh lemah.


Rumah yang entah kenapa tidak bisa dilihat bentuk luarnya oleh Afra, itulah tempat di mana gadis manusia ini berada sekarang. Bersama dengan gadis penyihir yang baru saja selesai mengobati Afra.


Tidak, lebih tepatnya … memberi sedikit sihir sebagai pengganti tenaga pada tubuh Afra.


"Baiklah, sepertinya kau harus menceritakan padaku, apa yang terjadi padamu, Afra!" Ucapan Aura membuat Afra tertegun.


.


Gadis berambut hitam kebiruan itu benar-benar tertegun dan tak bisa berkata-kata. Namun, ia tidak bisa diam seperti ini. Ia mulai membuka mulutnya dan bernapas sebentar. Menghirup dan membuang udara dari mulutnya.


"Aku … ingin pergi dari sini, sekarang, Aura!"


.


Gadis penyihir itu terkejut mendengar perkataan Afra. Matanya melebar, begitu juga dengan mulutnya. Spontan, ekspresi wajahnya mulai serius dan kata-kata tegas siap diucapkan olehnya.


"Tidak! Kau harus beristirahat di sini, Afra! Tubuhmu benar-benar hilang!"


.


Sekarang, gadis manusia ini yang kembali terkejut dan tertegun. Kata-kata yang dilontarkan oleh Aura membuatnya tidak bisa membuka mulutnya. Namun, ada sesuatu yang muncul dalam benaknya.


.


"Tapi, Ilva berkata—"


.


"Akh!"


"Afra!" Aura terkejut mendengar suara teriakkan yang dikeluarkan oleh Afra.


Tidak hanya teriakkan, tetapi tubuh Afra langsung mengeluarkan luka dan darah. Darah merah yang menembus pakaian berwarna putih dan biru miliknya. Dan luka terdalam disebabkan oleh rantai hitam yang menusuk tubuhnya.


Aura terbelalak dan tak bisa apa-apa. Namun, sepertinya gadis penyihir ini tidak melihat rantai hitam itu. Hanya Afra yang melihatnya, juga merasakan rasa sakit itu.


"A –aku ambil perban dulu!" ucap Aura langsung beranjak menuju lemari dan mengambil kain berwarna putih, sementara Afra berusaha untuk tenang.


Tenang dan tidak mengeluarkan suara kesakitan, meski tubuhnya sudah basah dengan darah. Ya, ia benar-benar lupa dengan kata-kata itu. Kata-kata perpisahan dari sang alter.


.


"Aku … tidak bisa menyebutkan namanya …" batin Afra sambil menahan rasa sakit yang ada pada dirinya.

__ADS_1


"Aku … benar-benar tidak bisa …!"


__ADS_2