Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Beringin


__ADS_3

"Huuh." Afra menghembuskan napasnya setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri.


"Hei, Iylasvi. Bagaimana kalau aku memanggilmu Iyla saja? Hihi!" ucap Afra sambil mengayunkan sabit biru yang seketika muncul di genggaman tangannya.


"K –ka –kau …! Ca –cahaya—"


"Hihi," tawa Afra tidak mempedulikan mata yang dikatakan Iylasvi dengan nada terbata-bata.


Afra mengayunkan sabitnya ke arah Iylasvi, meski keduanya berada dalam jarak yang jauh. Bukan sabit birunya yang akan menyerang, tetapi aura biru pada tubuhnya.


Aura biru terang, tetapi juga gelap. Aura yang menyelimuti tubuh Afra itu kini mulai bergerak bagai aliran mana Iylasvi. Kilat biru tampak berkobar, seperti api biru yang membakar tali zig-zag, itulah wujudnya.


Iylasvi membelalakkan matanya dengan detak jantung yang terasa sangat tajam. Terus berdetak kencang dan tidak bisa diperlambat. Rasa takut yang tidak pernah dirasakannya, sekarang dirinya akan merasakan penderitaan.


Penderitaan dari rasa sakit sebelum kematian.


.


"Huh? Apa yang terjadi padamu, Iyla?" tanya Afra dengan nada bicaranya yang kini terdengar seperti nada bicara-'nya'.


Afra mulai melepaskan dirinya dari gravitasi. Ia mengambil posisi duduk pada sabitnya sendiri dan melayang. Bagaikan penyihir yang tidak menyentuh tanah karena menaiki sapu terbangnya.


Afra kini sudah seperti mereka, tetapi tidak menggunakan sapu terbang. Melainkan sabit biru yang kini seperti sudah merubah jati dirinya. Bertingkah laku seperti 'dia', tetapi tanpa merubah warna mata dan rambut.


Aura biru yang berkobar mulai berubah menjadi kupu-kupu terbang nan bercahaya. Biru terang bagaikan bilah sabitnya yang bercahaya. Ia membiarkan beberapa kupu-kupu bertengger pada jarinya.


Afra kini menampilkan wajahnya yang bingung, tetapi juga terlihat seperti menantang. Tidak ada kepolosan, hanya ada ekspresi yang sama seperti ekspresi-'nya'.


"A –apa ini!" Iylasvi tidak percaya saat melihat dirinya yang diselimuti cahaya hijau, tetapi bukan itu saja.


Dirinya kini sudah tidak satu, tetapi dua. Aura biru yang baru saja membuatnya kesakitan itu telah membuat jiwanya terbelah. Dan kini, dirinya sudah menjadi dua. Bagai kembar dengan pemikiran yang benar-benar sama persis.


Iylasvi bangkit dan melihat kedua tangannya. Ia melihat dirinya sendiri, kemudian melihat dirinya yang lain. Dirinya yang lain ikut melakukan setiap tindakannya.


"Apa .. apa ini!" teriak Iylasvi yang terdengar mendua. Suaranya menggaung karena dirinya yang lain ikut berteriak.


"Pftt, hahahaha!" tawa Afra membuat kepanikan Iylasvi teralihkan.


Iylasvi menoleh ke arah Afra, begitu juga dengan dirinya yang lain. Afra terus tertawa sehingga Iylasvi semakin merasakan hal buruk pada dirinya. Tubuhnya semakin bersinar saat Afra tertawa.


Meski itu tidak berlaku pada dirinya yang lain.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Kini beralih pada tokoh laki-laki.


"Dasar beringin sia!" Tiga kata yang menjadi satu kalimat berhasil diucapkan dengan lantang dan tidak ingin memikirkan kembali perkataannya.


Rambut panjang berwarna biru terang, bagai langit biru di siang hari. Rambut yang tampak memberi cahaya pada malam gelap ini. Netra dengan iris kuning keemasan, pakaian penyihir yang terkesan berkelas.


Sepasang tanduk di kepala, itu adalah identitas aslinya. Meski ia tidak ingin mengakui hal itu dan tetap berpikiran dirinya adalah penyihir. Wajah kelelahan dan penuh kekesalan diekspresikan olehnya.


.


Suara teriakkan dengan nada yang tidak mungkin bisa disebut makhluk normal. Monster, itulah makhluk yang menyuarakan suara teriakkan tadi. Dan itulah yang sedang dihadapi tokoh laki-laki ini.


Tokoh laki-laki yang biasa disebut sosok biru, tokoh laki-laki pendamping Afra Afifah. Dialah Sira Siveria.


"Mati kau!" teriak Sira dengan nada penuh amarah.


Stalaktit yang menancap pada tanah. Stalagmit ikut mengiringi. Rerumputan yang menjadi beku, bunga-bunga salju di sekelilingnya. Semua hal tentang es dan salju. Beku dan dingin.


Semuanya tidak berhasil menggores sedikitpun tubuh monster ini.


Monster yang merupakan monster sihir, monster unik di kawasan penyihir. Meski fisiknya tampak sama, tetapi monster sihir sedikit berbeda. Perbedaannya adalah terletak pada inti kehidupannya.


Ya, sihir adalah inti kehidupan monster sihir. Meski begitu ….


"Huh .. huh .. huh …." Sira kini sudah benar-benar kehilangan napasnya.


Ia terus membuang napasnya dengan sia-sia. Tidak ada usaha dan tenaganya yang membuahkan hasil. Monster sihir itu menyuarakan kembali suara teriakkan.


"Apa hanya ini! Kau tidak akan bisa menuju tempat gadis manusia itu jika kau tidak bisa lepas dari wilayah kekuasaanku!" ucap monster sihir itu dengan suaranya yang langsung terkirim ke otak Sira.


Telepati, itu yang dilakukan monster sihir itu untuk berbicara. Sira hanya bisa mengusap keringat di wajahnya dan berkata, "sial!"


Monster sihir dengan ukuran tubuh yang cukup besar. Ukurannya sama dengan ukuran pohon beringin yang kini semakin bersinar. Pohon beringin itu sama sekali tidak terkena dampak dari sihir es Sira.


Monster sihir dengan gigi taring bagian bawah yang mencuat ke atas, sama seperti stalagmit milik Sira. Tubuh besar dengan dua kaki dan dua tangan. Bagai gorila raksasa tanpa bulu.


Sepasang tanduk panjang di kepalanya, kulit tubuh keras dan penuh dengan duri tajam. Warna hitam adalah warna dari kulitnya. Namun, hal pembeda darinya adalah buku sihir yang melayang di tangannya. Itu adalah ciri-ciri monster sihir yang dihadapi Sira.

__ADS_1


"Dasar .. monster!" teriak Sira sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Tanah yang membeku karena sihir Sira seketika bercahaya dan mulai memunculkan garis-garis tak beraturan. Garis-garis yang menjadi asal cahaya dan mulai membentuk pola aneh.


Sampai akhirnya garis-garis itu menjadi pola sihir yang tidak pernah ada sebelumnya. Tanah beku tempat Sira dan monster sihir berpijak, juga tanah di sekelilingnya. Semuanya sudah memiliki pola sihir yang merupakan penciptaan Sira.


.


"Sihir tidak berguna!"


.


Bunyi suara retakan seketika tercipta dan membuat mata Sira terbelalak. Monster sihir itu masih tetap berada pada posisi berdirinya dan tidak berkeinginan untuk berpindah. Tetap berdiri memunggungi pohon beringin bercahaya di sana.


Monster sihir itu baru saja berkata dalam telepati dan membuat Sira terbelalak. Pola sihir raksasa pada tanah yang membeku itu, kini sudah retak dan pecah.


Cahaya terang yang keluar darinya juga lenyap, begitu juga dengan hawa dingin dan hal beku lainnya. Tidak ada lagi bentuk ciptaan sihir Sira sekarang.


"Bagaimana .. bisa …." Sira terduduk di tanah dengan perasaan penuh ketidakpercayaan.


Emosi penuh amarahnya seketika lenyap dan keputusasaan tercipta. Monster sihir itu menyuarakan suara teriakkan dan kembali memberikan telepati.


"Aku adalah penjaga di sini dan aku tidak mungkin dikalahkan olehmu—"


.


.


.


"… Aku membodohi monster sepertimu, ya," bisik Sira yang tiba-tiba sudah berada di belakang monster sihir itu.


Sira kini memunggungi monster sihir itu, begitu juga dengan monster sihir itu. Tidak seperti pada posisi awal yang saling berhadapan. Kini semuanya sudah berbanding terbalik, begitu juga dengan kondisinya.


Monster sihir itu sudah mendapatkan pembekuan pada inti kehidupannya. Dada monster sihir itu kini sudah membeku, bisa terlihat ada pola sihir pada dada monster itu. Buku sihir yang melayang di tangan monster sihir itu kini sudah terjatuh ke tanah.


Monster sihir itu tidak bisa bergerak dan berbicara dalam telepati. Hidup namun mati, itulah kondisinya. Belenggu yang tak berguna, tetapi jiwanya masih menempatinya.


Sira tersenyum misterius, "hancurkan."


"Aaaaaaaaaaarghhh!" Monster sihir berteriak kesakitan saat belenggunya kembali dihidupkan, tetapi langsung diberi rasa sakit dan pembalasan.


Darah hitam pekat dan kental langsung menyentuh tanah yang sudah tidak membeku. Tubuh monster itu perlahan-lahan lenyap dan menghilang menjadi abu. Dibawa terbang oleh angin.


.


"Sekarang, urusanku ada padamu, beringin!"

__ADS_1


__ADS_2