
Pagi biru, ini sebenarnya tentang sosok biru dan gadis biru. Perjalanan dan apa yang akan keduanya lakukan selama pagi hari berlangsung. Ya, ini baru saja dimulai dengan memakan roti menggunakan tangan ketiga.
"Rasanya tetap sama, tapi .. lebih enak saat dipegang Sira," batin Afra kembali memakan roti dengan lahap.
Entah sejak kapan ia menjadi lebih tenang jika bersama Sira. Ya, meski ia tetap merasakan kehampaan tanpa adanya Aura yang membimbingnya. Mungkin karena pelukan di perpustakaan? Sepertinya begitu.
"Yang penting habiskan saja rotinya, baru bicara," batin Afra lagi sambil menatap sejenak mata Sira, lalu kembali memakan rotinya.
Sira bergeming dan berusaha tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.
"Haah." Sira kembali menghela napas panjang, tetapi Afra tidak memikirkannya.
"Cepat habiskan, dengan begitu kita bisa bicara sejenak," kata Sira membuat Afra berhenti makan sejenak, tetapi ia langsung kembali memakan rotinya dengan lahap. Ia tak menyangka kalau pemikiran Sira akan sama dengan pemikirannya.
.
.
.
.
Mentari pagi sudah menunjukkan diri. Lingkaran kecil berwarna putih yang diselimuti cahaya jingga. Warna kuning berada di luar warna jingga, sedangkan putih menjadi warna langit untuk sementara. Hanya sebagian kecil saja, sisanya tentu berwarna biru.
Pagi itu dingin, tetapi juga hangat. Dingin karena udara dan embun pagi, tetapi hangat karena sinar mentari. Begitulah, warna birunya adalah biru langit juga sosok biru dan gadis biru.
"Oke, kita mulai pembicaraannya," ucap Sira dengan nada serius. Afra tertegun melihat ekspresi wajah Sira.
"B –baiklah," ucap Afra sedikit terbata-bata.
Sekarang, Afra dan Sira sudah berada di kamar inap Afra. Duduk berhadapan dan bersiap untuk memulai pembicaraan tentang masalah 'hilangnya Aura'.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menjelaskan padaku terlebih dahulu?" Afra melebarkan matanya mendengar perkataan Sira.
Sira menyipitkan matanya, "apa kau tidak ingin menjelaskan, apa yang terjadi di perpustakaan?"
"Eum, tapi 'kan, kau ada denganku waktu itu," ucap Afra membuat Sira menghela napasnya dengan kasar.
"Maksudku, saat penyihir mirip pelayan itu bilang 'Kau sudah mendapat jawabannya, Manusia'!" jelas Sira dengan ekspresi dinginnya, meski makna kesal sudah bisa dilihat oleh Afra.
"Eum .. b –baiklah," ucap Afra sedikit ragu untuk menjelaskannya.
.
.
"D –dia … Iliya, Iliya Viely. Kata 'Viely' adalah kata kunci lain dari kata 'Lyvie', aku berpendapat seperti itu. Setelah … hal itu terjadi,"-Afra mengambil napas panjang dan menghembuskan napasnya-"dan pada saat itu, aku melihat sesuatu setelah menatap matanya."
"Em, lalu?" Sira kembali bertanya saat Afra diam sejenak.
"Aku melihatnya," sambung Afra memulai ingatan tentang kejadian ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Kejadian atau lebih tepatnya ingatan yang Afra lihat setelah menatap mata Iliya.
"Aura?" batin Afra bertanya-tanya saat melihat sosok penyihir dengan jubah berwarna biru gelap di sana.
Sosok penyihir itu memanglah Aura, Afra benar-benar tidak salah lihat. Namun, saat ia ingin menggerakkan tubuhnya …
Apa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak?
… ia tidak bisa bergerak.
"Em, tidak ada," ucap Aura lirih, tetapi Afra bisa mendengarnya dengan jelas.
Aura sekarang sedang berdiri dan melihat-lihat buku yang ada pada rak. Melihat dan mencari dari rak buku satu ke rak buku lainnya. Namun anehnya, Aura tidak terlihat seperti mencari buku.
Ya, Aura bahkan tidak menyentuh buku dan hanya mengedarkan pandangannya pada buku-buku sambil berjalan. Berjalan dan terus berjalan sampai pada rak-rak buku berdebu, tempat di mana Afra berdiri.
Meski begitu, Afra tidak berdiri di sana. Ia kini seakan-akan seperti sedang melihat dari sudut pandang sosok lain. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan hanya bisa mengikuti pandangan sosok ini.
Pandangan sosok ini yang senantiasa mengikuti Aura sampai masuk ke dalam lorong gelap ciptaan dua rak buku berdebu dan kotor.
"Aneh." Aura berhenti berjalan. "Tidak mungkin tidak ada di—"
.
"Ya, memang tidak ada di sini, Aura."
.
.
.
Entah bagaimana caranya Iliya bisa tiba-tiba ada di belakang Aura. Namun, hal pasti di sini adalah …
Aku .. tidak bisa bergerak! Ada apa ini? Kenapa aku hanya bisa melihat!
… Afra hanya bisa membatin saja sembari melihat apa yang terjadi.
"K –kau, Iliy—" Iliya semakin menutup mulut Aura.
"Aneh, tapi menarik. Kau masih menyimpan ingatan tentangku, tetapi tidak dengan gadis itu." Ucapan Iliya kini tidak hanya membelalakkan mata Aura, tetapi juga mata Afra.
Apa yang Iliya katakan? batin Afra bertanya-tanya.
"Akh!" Aura berteriak dan berjalan beberapa langkah menjauhi Iliya setelah Iliya melepaskan tangannya dari mulut Aura.
"Kau … apa yang … kau rencanakan!"
Iliya tertawa mendengar perkataan Aura. "Membuatmu hilang sejenak, Aura!"
.
Cahaya kuning seketika tercipta dan menyilaukan pandangan Afra, tetapi Afra masih bisa melihat dengan jelas. Iliya tampak mengeluarkan benda berbentuk segi enam berwarna kuning keemasan.
Benda yang sepertinya merupakan benda sihir itu adalah asal sumber cahaya kuning. Menyilaukan mata dan membuat semuanya tidak jelas, benda sihir itulah penyebabnya.
Afra sudah tidak bisa melihat dengan jelas sekarang. Ia sudah memejamkan mata sepenuhnya karena silaunya cahaya kuning itu. Ia mulai membuka kelopak matanya saat merasakan cahaya kuning itu memudar.
.
A –Aura ….
__ADS_1
.
Afra terbelalak tak percaya saat melihat Iliya tertawa. Cahaya kuning sudah menghilang dan Iliya pun tertawa dengan nada jahat. Aura sudah tidak berdiri di hadapan Iliya.
Aura tidak menghilang dengan sihir teleportasi, tetapi benar-benar hilang. Keberadaannya tidak bisa dirasakan oleh Afra. Ya, Afra sudah menyadarinya sekarang, kalau dirinya bisa merasakan 'mana' milik Aura.
Aura ….
.
Afra menutup mulutnya dan mulai meneteskan air matanya setelah melihat hal tersebut. Iliya berhenti tertawa kemudian mengambil batu berwarna merah muda yang menggantikan tempat Aura berdiri.
"Hilang selamanya," ucap Iliya tertawa kecil kemudian menghancurkan batu itu sehingga menghilang bagai debu.
.
.
.
.
.
.
.
Sampai akhirnya Afra kembali melihat kenyataan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke waktu sekarang.
"Jadi, setelah itu? Sudah, begitu saja?" tanya Sira setelah mendengar panjang lebar kejadian di atas tadi.
Afra menganggukkan kepala kemudian kembali menunduk. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Sira tertegun dan menghela napasnya.
"Oke-oke, aku sedikit paham sekarang," ujar Sira membuat Afra berhenti menundukkan kepalanya.
Afra menatap wajah Sira yang terlihat memikirkan sesuatu. Sira memejamkan mata dan menyiulkan jarinya beberapa kali. Setelah beberapa detik, Sira berhenti menyiulkan jarinya dan membuka matanya, menatap tajam mata Afra.
"Oke, jadi si Liliya itu—"
"Iliya," potong Afra membuat Sira menyipitkan mata.
"Si Iliya itu mengubah Aura menjadi batu lalu menghancurkannya? Atau dia mengubah 'mana'nya menjadi batu itu dan menyerap Aura ke benda sihir itu?"
"Eum .. aku juga tidak tahu, tapi sepertinya kau benar-benar pintar, ya, bisa membuat kesimpulan dengan cepat!" ucap Afra sambil tersenyum kagum dan menatap Sira dengan mata yang berbinar-binar.
Sira tersenyum, "ya! Aku ini pintar tau! Hahaha!"
.
__ADS_1
"Permisi,"