
"Senior!"
Cyrèn seketika langsung kembali mengarahkan pandangannya ke dalam hutan, dan langsung mendapati juniornya yang bersayap itu.
Cyrèn kembali terbelalak dan tak percaya, melihat Phia yang merentangkan kedua sayapnya dan melindungi dirinya dari … api hitam.
Gadis burung hantu itu seketika langsung terjatuh, dengan tubuhnya yang terbakar api hitam. Cyrèn benar-benar terkejut dan tak percaya.
"Apa … maksudnya ini?" ucapnya lirih dengan pedangnya yang mulai terlepas dari genggaman tangannya.
.
.
"Phia…," lirih Aura kembali terbelalak dan membeku melihat gadis burung hantu itu sudah tidak bergerak.
Cahaya hijau yang baru saja menyelimuti tubuh Yuu perlahan redup setelah Iylasvi memalingkan pandangannya ke arah Cyrèn. Matanya terbelalak dan tubuhnya terasa membeku.
Pedang merah mulai bercahaya, dan menampilkan warna penuh kemarahan. Cyrèn langsung menarik pedangnya dan melesat masuk ke dalam hutan, setelah melihat Phia yang sudah terluka karenanya.
Iylasvi dan Aura hanya bisa diam dan tak tahu harus berbuat apa, setelah melihat anggota kelompoknya sudah tak sadarkan diri. Namun, ini tidak bisa dipertahankan selamanya!
"Aura … aku akan menyembuhkan Yuu dan Phia, kau cepat pindahkan kami ke penginapan!" perintah Iylasvi dengan kepala tertunduk, dan nada yang sudah benar-benar serius.
Aura yang mendengarnya langsung menganggukkan kepalanya, meski perasaannya masih tercampur dan tidak beraturan.
"Terepōto!" teriak Aura langsung memindahkan Iylasvi, Yuu, dan Phia dengan sihirnya. Dan … air mata kembali keluar dari matanya. Namun, ia langsung mengusapnya dan mulai mengepalkan tangannya.
"Aku … harus menyelesaikan ini!" ucapnya dengan penuh keyakinan, meski masih dengan perasaan yang bertabrakan.
.
.
.
Hutan hijau yang terlihat gelap, dan terasa membakar. Api hitam dan biru yang menyelimuti tanah, tetapi tidak membakar daun-daun dan pepohonan di sekelilingnya.
Suara angin terdengar menusuk telinga. Pedang hitam yang terselimuti api itu, semakin lama semakin memburu … dan menebas udara tenang di sekelilingnya.
Kaki yang terus-menerus berpindah tempat, dan tubuh yang semakin cepat menghindari bilah tipis dan tajam. Beberapa goresan yang tercipta di kulit putihnya tidak menggangu pergerakannya yang masih setia menghindar itu.
__ADS_1
"Menghindar bukanlah kemampuanmu, Senior!" gertak Vendry dengan pedang yang terus ia ayunkan pada sang senior.
Tie terus menghindar dan tidak menyentuh bilah tajam ataupun tubuh sang pengguna. Bergerak ke kiri dan ke kanan, dan terus mundur. Seakan-akan terpojok dan tak bisa apa-apa, meski dengan wajah yang tetap tenang.
Ranting kecil masih ia genggam di mulutnya, dengan telinga hewannya yang bergerak-gerak sendiri. Bagai air di dalam api, Tie tidak mempedulikan seberapa banyaknya goresan luka yang sudah tercipta di tubuhnya, dan darah yang mulai mengalir keluar. Dan …
… Angin malam kembali berhembus, setelah beberapa menit menghilang. Entah sejak kapan, Vendry langsung kehilangan konsentrasi dan mendapati Tie yang sudah menghilang. Ya, bagaikan asap yang tertiup angin, keberadaan assassin hitam itu tidak bisa dirasakan sama sekali.
Vendry berhenti melangkahkan kakinya, dan terus melihat sekelilingnya. Pedang yang ia genggam dengan satu tangan itu mulai ia satukan dengan tangan satunya. Dan … api hitam yang menyelimuti pedangnya mulai menyatu dengan api biru.
Suasana hutan seketika bercahaya karena api biru itu, tetapi juga menjadi gelap karena api hitamnya. Vendry menarik nafas dan menghembuskan nafasnya, dengan penuh suara.
"Dark blue!" lirih Vendry digaungkan angin malam yang berhembus.
Pedang hitam yang terselimuti api biru, api hitam yang seakan sudah menyatu dengan pedangnya. Semuanya … seketika membesar dan meluaskan diri ke seluruh penjuru hutan. Membakar apa yang ada, kecuali ruang lingkup kecil untuk penggunanya.
Tidak mungkin sang senior selamat dari kobaran api yang sudah meluas di tengah-tengah hutan itu, tetapi … apa itu benar?
.
.
.
Siluman perempuan dengan rambut panjang berwarna ungu yang diikat. Sepasang tanduk yang menyerupai tanduk naga, dan … netra merah yang menyaingi pedang merah di tangannya.
Cyrèn benar-benar tidak memikirkan apa-apa sekarang. Tubuhnya sudah diselimuti api hitam dan biru yang tidak mungkin dihilangkan, tetapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan, rasa sakit dari jejak sebelumnya juga … ia sudah tidak merasakannya. Hanya ada kemarahan dan satu tujuan yang harus diluruskan olehnya.
"Ini adalah kesalahpahaman, benar-benar kesalahpahaman!" tegas Cyrèn dengan lantang sambil bergerak maju dan mengarahkan pedangnya pada Vendry.
Vendry terbelalak dan membeku sejenak, tetapi dengan segera ia menghilangkan rasa itu. Suara pedang yang saling bertabrakan, dan percikan api nyata yang tercipta dari kedua bilah tajam itu. Cyrèn langsung mengambil langkah mundur dan membiarkan kakinya menginjak api hitam yang menyelimuti tanah hutan.
Nafas memburu, itu yang langsung dirasakan oleh Vendry. Iblis tingkat setan itu seperti menerima tekanan, dan sebuah rasa … yang ingin menghentikan niatnya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, dan entah apa yang menjadi niat sang iblis tingkat setan ini.
"Masalahnya hanya dua surat, tetapi kau … kau!" kata Vendry dengan penuh emosi, dan kebencian.
Api hitam semakin membesar, begitu juga dengan api birunya. Tubuh sang siluman mulai terbakar, dan seharusnya sudah bersimbah darah. Namun, Cyrèn benar-benar tidak merasakan kebencian yang menjadi inti api hitam dan biru itu.
Senyuman seringai mulai tercipta di wajah Cyrèn, dan tawa ia lontarkan dengan penuh nada kejahatan.
__ADS_1
"Seharusnya kau lakukan ini pada penyihir itu, Setan!" tegas Cyrèn seketika membuat Vendry membeku. Tertegun, dan tak bisa mengatakan sepatah katapun.
Mata terbelalak, dan mulutnya yang membuka sedikit. Tubuhnya mulai gemetaran, dan … asap hitam mulai mengelilingi dirinya.
"Tidurlah, dan minta maaf pada kami!" bisik asap hitam itu dengan nada dingin, tetapi terdengar … lembut.
Vendry pun langsung tak sadarkan diri di tanah, dengan api hitam dan biru yang langsung menghilang bersamaan dengan kesadarannya. Sang asap hitam berubah menjadi werewolf bernetra orange, dan sang siluman mulai menyelimuti pedang merahnya dengan pelindung. Dan …
… Lingkaran sihir berwarna biru tiba-tiba muncul di bawah tubuh Vendry.
Kedua senior itu terbelalak dan tak percaya setelah melihat … lingkaran sihir itu menyerap bintang-bintang yang tertanam di dalam tubuh Vendry. Bintang-bintang kecil bagaikan serbuk sari bunga yang bersinar itu langsung terserap ke dalam lingkaran sihir berwarna biru itu, kemudian menghilang. Bersamaan … dengan kedatangan Aura.
Cyrèn dan Tie membelalakkan matanya melihat kedatangan gadis penyihir itu. Nafas yang terengah-engah dikeluarkan oleh Aura, dan … cahaya biru yang menyelimuti tubuhnya terlihat jelas di mata kedua senior itu.
"Cepat tidurkan aku sebelum kutukan ini mengendalikan kalian!" teriak Aura memohon dengan penuh rasa sakit.
Cahaya biru di tubuhnya mulai bersinar terang, dan beberapa lingkaran sihir berwarna biru mulai bermunculan. Cyrèn dan Tie bergeming, dan masih tidak merespon.
"Kumohon, yang salah aku! Aku yang sudah mengendalikannya! Cepat!" tegas Aura membuat kedua senior itu terbelalak.
Bintang-bintang bagaikan bumerang dan shuriken mulai keluar dari lingkaran-lingkaran sihir berwarna biru itu, dan melesat menuju kedua senior itu. Dan tepat setelahnya … suara rantai tiba-tiba terdengar di telinga sang siluman.
Ya, hanya Cyrèn yang mendengarnya, dan juga … rasa sakit yang ia rasakan akibat rantai berdarah Ilva, kembali dirasakannya. Hanya satu detik saja, waktu seakan melambat.
Cyrèn memuntahkan darah dari mulutnya, dan … rantai berdarah tiba-tiba keluar dari tubuhnya. Rantai itu langsung berubah menjadi aliran darah dan masuk ke dalam tubuh Aura. Dan … langsung menghilangkan kesadarannya.
Lingkaran sihir dan bintang-bintang yang sudah berada di depan mata kedua senior itu langsung lenyap, bersamaan dengan Aura yang terjatuh dan tak sadarkan diri. Cyrèn terduduk di tanah dengan darah yang keluar dari mulutnya. Tie membelalakkan matanya dan hanya diam, setelah melihat kejadian satu detik itu.
.
.
.
.
Sementara di penginapan.
Yuu dan Phia sudah tertidur di kamar inapnya, dengan Afra yang berada di samping mereka. Sira diam dan terus menatap keluar jendela, membiarkan Iylasvi menyinari tubuh ketiganya dengan cahaya hijau.
Bintang biru, api hitam dan biru, cahaya kuning, dan sinar merah. Sira melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri. Semuanya benar-benar terlihat jelas, meski hanya cahaya-cahaya samar.
__ADS_1
"Yang salah satu, tapi yang terlibat selalu seribu. Dunia benar-benar aneh!" gumam Sira dengan penuh tanda tanya bagi pendengarnya.