
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Eh? Jadi, sebenarnya ini adalah waktu yang asli?"
"Yap! Seperti itulah!" jawab Aura dengan senang dan senyuman menjawab pertanyaan Afra.
Hutan gelap yang sudah disinari cahaya bulan, semuanya menjadi lebih baik sekarang. Meski awan hitam masih menyelimuti langit malam, cahaya selalu berada di sana.
Afra dan Sira akhirnya bertemu Aura, meski sepertinya ini bukan waktunya untuk merayakannya. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi memang inilah adanya.
"Kalau begitu, kita harus mencari mereka, ya? Tapi, di mana?" tanya Afra sembari berpikir.
Aura tertawa sehingga mengundang perhatian dan rasa heran. Sira yang awalnya tidak peduli dan terus memperhatikan bangunan akademi, mulai menatap Aura.
"Huh, dugaan ku benar lagi," gumam Sira masih terdengar jelas oleh Afra.
Afra menatap Sira dan memunculkan tanda tanya dalam benaknya. Ia mulai bertanya dengan memiringkan kepalanya sedikit. Sira menghela napasnya dan melanjutkan kata-katanya.
"Aura! 'Mana' di seluruh hutan itu milikmu, ya?" Ucapan Sira merubah senyuman Aura menjadi senyuman seringai.
"Tentu saja!" jawab Aura bersamaan dengan kemunculan lima lingkaran sihir berwarna gradasi yang mengelilingi Afra dan Sira.
Afra dan Sira terkejut saat melihat lingkaran sihir itu, tetapi Aura malah tertawa kecil. Lingkaran sihir berwarna kuning, merah dan biru, ketita warna itu saling menjadi satu kesatuan tanpa menghilangkan jati diri. Gradasi yang masih menunjukkan warna asli.
__ADS_1
Lingkaran sihir itu mulai menunjukkan sesuatu dari sisi lain menuju sisi tempat sang penciptanya berada. Tempat yang masih sama dengan tempat Sira dan Afra. Keduanya saling menunjukkan sikap waspada saat Aura kembali tertawa.
"Oi! Apa yang kau lakukan hah!" tanya Sira malah dibalas dengan tawa yang keras oleh Aura.
Sementara Afra, ia tertegun dan tidak bisa apa-apa selain merasakan tekanan. Tekanan yang berasal dari sesuatu di dalam lingkaran sihir berwarna gradasi itu. Matanya terbelalak dan tubuhnya terasa kaku.
"Hanya membuat mereka berkumpul di sini!" ucap Aura dengan lantang.
Lima lingkaran sihir itu mulai mengeluarkan sesuatu, bukan benda dan sesuatu yang mati. Makhluk, ada lima makhluk yang keluar dari lingkaran sihir gradasi itu.
Makhluk ras penyihir dengan gender perempuan, meski wujudnya lebih cocok disebut gadis. Jubah hitam kehijauan dikenakannya untuk menutupi gaun penyihir. Sepatu boot berwarna hitam coklat seperti kayu.
Rambut berwarna hijau yang masih terlihat meski ditutupi tudung dari jubah. Tongkat sihir panjang dengan tengkorak kepala sebagai inti wujudnya. Jubahnya tampak memiliki sayap kupu-kupu.
Netra merah seperti darah, itulah dirinya yang selalu menyimpulkan senyuman. Meski kini tampak sedikit terkejut.
"Ah …? Aku dipaksa ke sini, ya?" ucap makhluk itu yang biasa disebut sosok hijau, tetapi nama aslinya adalah 'Iylasvi'.
Afra membelalakkan matanya melihat Iylasvi, sementara Sira dibuat terbelalak dengan sosok lain.
"Kau 'kan …." Sira tidak bisa melanjutkan perkataannya, tetapi sosok berwujud gadis itu mulai berkata.
"Akhirnya aku menemukanmu, Tuan," kata sosok gadis yang merupakan ras hewan itu.
Rambut putih seperti salju, tetapi masih ada beberapa helai yang berwarna hitam. Rambutnya panjang sampai di atas dada, sementara warna irisnya adalah orange kekuningan. Bagai buah jeruk, itulah mata gadis itu.
Itulah dirinya, sang burung hantu Phia.
"K –kalian semua .. bagaimana bisa …?" Afra sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat apa yang terjadi.
"Hehe, tentu saja! Aura itu, ya, punya banyak hal tersembunyi tau!" ujar sosok dengan rambutnya yang sama putih dengan Phia, tetapi lebih bercahaya.
Rambut putih pendek dengan telinganya yang ada di atas kepalanya. Telinganya tampak menyatu dengan rambutnya yang panjangnya sampai dada. Pakaiannya tampak seperti ninja, juga dengan jubah hitam dan dikombinasikan warna biru.
Pengguna pedang dan biasa disebut sebagai 'White Assassin', dia adalah Yuu.
Sementara untuk dua sosok yang merupakan ras iblis itu, keduanya saling diam dan hanya tersenyum. Ras iblis tingkat iblis dan ras iblis tingkat setan. Ya, meski sebenarnya ras iblis tingkat setan itu adalah siluman.
"Cih, kenapa kau bawa dia juga, Aura?" tanya sosok lelaki bernama Vendry, ras iblis tingkat iblis sambil menunjuk ke arah Livra, gadis siluman berwujud iblis.
Vendry, iblis pengguna pedang dan selalu menggunakan warna hitam sebagai ciri khasnya. Dimulai dari pakaian, pedang juga rambut. Hanya satu tanduk di kepalanya yang berwarna putih, sementara mata dan beberapa helai rambut depannya berwarna biru gelap.
"Tidak apa 'kan? Dia itu sudah cukup hebat memata-matai para senior!" jawab Aura dengan tegas sambil memberi senyuman seringai.
"Ya," ucap Livra dengan dinginnya.
__ADS_1
Rambut panjang berwarna putih, pakaian hitam yang diselimuti sweater putih. Di bagian dadanya, terdapat aura api terang bagaikan lava. Ada empat tanduk di kepalanya, sedangkan netranya berwarna biru kehijauan.
Kini, semuanya sudah berkumpul. Meski mengundang rasa terkejut juga penasaran bagi Afra dan Sira. Keduanya masih berada di tengah dan dikelilingi oleh enam sosok. Aura, Iylasvi, Yuu, Vendry dan Livra.
Hanya rasa tertegun dan rasa penasaran yang susah diungkapkan.
"A .. apa maksud semua ini, Aura? Apa .. yang sebenarnya terjadi?" tanya Afra dibalas dengan senyuman misterius oleh Aura, sementara Sira sudah benar-benar masuk mode keseriusan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beralih pada istana yang sebenarnya adalah reruntuhan bangunan akademi itu. Reruntuhan yang sebenarnya masih utuh dan hanya rusak beberapa. Namun, hal terpenting di sini adalah siapa yang ada di sini.
"Halo? Kalian berdua diam saja? Tidak ada rasa untuk menyapa ku kah?" tanya Verrine De Luna atau biasa dipanggil dengan nama Luna.
Perempuan dengan ras hewan yang bisa disebut sebagai vampir, karena masuk golongan kelelawar. Namun, ia lebih suka membuat dirinya menjadi kupu-kupu dibanding kelelawar. Netra merah darah dan rambut panjang berwarna putih, juga kulit putihnya yang tampak pucat.
Kini, Luna sedang berada di antara dua perempuan yang memiliki ras berbeda dengannya. Dirinya ras hewan, sementara kedua ras itu adalah ras penyihir dan ras monster. Ya, monster dengan wujud manusia, monster kelas Elivianium.
"Kenapa aku harus menyapamu, Vampir?" Kata-kata Lycé Zayzik, si perempuan dengan ras monster itu membuat Luna mengeluarkan keringat dingin.
Perempuan berpakaian hitam dengan netra dan rambut panjang berwarna merah muda, itulah ciri-ciri singkatnya. Meski yang lebih penting adalah duri-duri tajam di pundaknya itu.
"Ya, kau 'kan tidak ada hubungannya dengan ini!" tegas Iliya Viely, si perempuan penyihir berambut panjang berwarna kuning itu.
Netra kuning dan rambut berwarna kuning, sementara pakaian penyihirnya lebih mirip seperti pelayan. Warna hitam dan putih menjadi saksi atas ini. Meski begitu, Luna malah tersenyum misterius setelah mendengar perkataan Iliya.
__ADS_1
"Aah … aku penasaran dengan yang lainnya,"-Luna melihat ke langit malam-"kira-kira sedang apa, ya, mereka?"
Ya, jangan lupakan kalau ini adalah malam hari yang cerah, karena bulan purnama telah bersinar terang.