Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Buku Dunia


__ADS_3

Mentari pagi menyambut hari yang baik. Meski awan hitam sudah menyelimuti dan menghalangi cahaya terangnya. Suara penuh kebisingan terdengar menggema, bersamaan dengan hawa dingin di seluruh penjuru.


Akademi Arknest. Ini adalah tempat di mana tidak ada apapun yang dapat dianggap sebagai kenangan dan keindahan. Hanya ada misteri dan hal di luar alur.


Gadis bermata biru itu masih berada di sana. Masih diam dengan wajah tanpa ekspresi, meski kini ia tidak mempedulikan apapun di sekitarnya. Kumuh dan berdebu, tidak layak untuk dihuni. Penuh kotoran juga tanaman merambat. Bangunan akademi benar-benar sudah tak bisa dianggap ada lagi.


Luka dan darah masih menghiasi tubuh juga pakaiannya. Duduk dengan mata yang tertuju pada aksara buku tebal miliknya. Tak acuh terhadap tempat ia duduk juga sekitarnya yang penuh debu, ia masih fokus pada tujuannya.


"Kota Etral," lirih gadis manusia itu lalu menutup buku yang dibacanya.


Pandangannya pun beralih ke arah jendela. Kaca yang sudah pecah dan retak memperlihatkan aura penuh ketidaknyamanan, tetapi itu tidak berpengaruh untuk gadis ini.


"Jadi aku harus kembali ke sana, ya," gumam Afra lalu tersenyum tipis.


***


Buku dunia. Buku yang mencakup seluruh penjuru dunia. Meski kata buku saja sudah bisa menyimpulkan makna ini. Dunia adalah kehidupan dan buku adalah pengetahuan. Keduanya juga berpengaruh, meski dunia selalu menjadi intinya.


Suara kecil tercipta pada tanah yang seketika berubah menjadi coklat kegelapan. Warnanya yang agak terang seketika menggelap saat satu benda kecil menyentuhnya.


Benda kecil yang turun dari langit. Menetes, tetapi tidak mengalir. Hanya meninggalkan genangan setelah selesai. Benda kecil itu mulai memperbanyak dirinya dan merubah tampilan tanah dengan cepat. Meski perlahan, suara yang dihasilkannya sudah membuat pendengarnya tahu siapa dirinya.


Afra Afifah. Gadis bermata biru itu sudah berada di luar dan sedang menyusuri hutan. Genangan kecil ia injak sebagai bukti perjalanannya. Titik-titik bening yang turun menjadi penghias di setiap langkahnya.


Pagi sudah menyapa dan sudah memancarkan kehangatan. Meski kehangatan itu sudah tidak terasa lagi.


.


Apa itu? batin Afra bertanya-tanya.


Langkahnya seketika berhenti setelah mendengar suara. Suara pijakan kaki yang bukan berasal darinya. Butiran bening yang menggenang membuat suara langkah itu semakin terdengar dengan jelas.

__ADS_1


Mata biru gadis itu mulai bergerak-gerak. Melihat dengan seksama apa yang ada di kanan dan kirinya. Seketika, ia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apapun.


.


"Manusia."


"Siapa?" kata Afra langsung menolehkan kepalanya ke belakang.


Kata-kata itu terdengar sangat jelas. Membisik dan memasuki lorong pendengarannya. Namun, sumbernya selalu tidak ditemukan. Kata kosong masih menyelimuti gadis manusia ini. Kebiasaannya yang tak pernah berpikir seakan menjadi sebuah kekuatan untuknya.


"Kau …."


"Siapa itu!" ulang Afra dengan tegas. Ia kembali melihat ke arah yang berlawanan dengan penglihatannya, tetapi ia tidak menemukan apapun.


Buku tebal semakin ia genggam dengan erat. Buku itu tentu ia bawa dan ia pegang dengan kedua tangannya. Netra birunya tampak sama, meski sebenarnya ada titik tersembunyi di balik kekosongan itu.


.


"Manusia 'kan?" bisik suara itu seketika langsung membuat gadis bermata biru itu tertegun.


.


"S –siapa … kau?" tanya Afra sudah terselimuti aura penekanan. Takut, itulah yang dirasakannya sekarang.


Afra masih berada pada posisi. Tidak berbalik dan menatap sosok di belakangnya. Sosok yang setara dengannya. Namun, belum sempat sosok itu membuka mulutnya, Afra tiba-tiba langsung melebarkan matanya.


"Tidurlah, Afra!" bisik suara lain di dalam diri Afra.


Afra seketika langsung terjatuh dan kehilangan kesadarannya, membuat sosok itu terkejut.


"Hei, sadarlah!" teriak sosok itu sebelum kesadaran Afra benar-benar redup.

__ADS_1


***


Takdir. Entah kenapa kata ini selalu tercipta dan tak pernah pudar di benak ataupun di kehidupan. Meski begitu, pengulangan selalu memberi rasa ketidakpuasan. Hanya kembali pada sang inti yang menjadi solusi dan jawaban.


Butiran-butiran bening nan kecil sudah pergi. Meninggalkan genangan di tanah yang sudah sepenuhnya menggelap. Kapas hitam di angkasa mulai berubah menjadi putih dan menampakkan lukisan biru cerah. Cahaya kehangatan kembali terpancarkan dan memberi kehidupan yang baru.


Bangunan kecil yang terbentuk dari kayu yang utuh. Bagaikan pohon yang sudah dibentuk menjadi rumah berukuran kecil tetapi masih bisa mencakup seluruh ruangan. Ya, ruangan penting yang ada di setiap rumah, meski tidak semuanya.


Gadis berambut hitam kebiruan tampak terbaring di atas ranjang. Namun, jari dan wajahnya mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Gadis itupun membuka kelopak matanya dengan mulutnya yang mengeluarkan sedikit suara.


"A –ada … ada di mana aku?" Itulah kalimat yang gadis berambut pendek itu katakan.


Gadis itu mulai mengambil posisi duduk, tetapi ia langsung merasakan sesuatu di sekujur tubuhnya. Ia mulai melihat tangannya dan mendapati perban putih mengikat tangannya. Luka-luka di tubuhnya juga sudah ditutup dengan kain putih. Meski pakaiannya masih tetap bersimbah darah.


Gadis bernama Afra itu mulai mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri. Netra birunya tampak terkejut melihat lingkungan alami ini. Ruang lingkup yang hanya memuat satu ranjang dengan satu lemari juga meja dan benda-benda tanpa nama.


"Apa ini rumah?" tanya Afra penasaran. Ia ingin beranjak dari tempat duduknya, tetapi ia tidak bisa. Tubuhnya masih terasa sakit.


Afra kembali melihat sekeliling dan berhenti pada buku tebal yang ada di sampingnya. Afra sedikit melebarkan matanya setelah melihat buku itu. Meski ada penghalang di tubuhnya, ia mulai meyakinkan diri dan mengambil buku itu.


Lembar demi lembar buku ia buka dan ditatap tajam. Tulisan yang tidak bisa disebut normal, tetapi masih bisa ia baca itu semakin membelalakkan matanya.


"Ini benar-benar buku milikku!" ucap Afra masih terbelalak. Namun, ia seketika langsung mengingat inti alur ini.


"Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku ada di sini? Lalu, tempat apa ini?" tanya Afra langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab sendiri. Dirinya bahkan tidak tahu jawabannya.


Afra pun menoleh ke arah pintu dan langsung mendapati pintu itu yang langsung terbuka, menampakkan sosok gadis berjubah biru. Pikiran penuh tanda tanya kini kembali berubah menjadi perasaan penuh tanda seru. Terkejut dan terbelalak melihat gadis berjubah biru itu.


Rambut panjang berwarna merah muda terang dan netra dengan tiga warna. Warna kuning yang menjadi inti, sedangkan merah sebagai pengikat dan biru untuk penutup.


Gadis dari ras penyihir dengan kekuatan teleportasi. Gadis yang Afra kenal dan sudah dianggap sebagai teman. Ya, sosok teman yang ia kenali sebelum waktu pengulangan. Gadis yang selalu menjadi tempat ia berjalan selain sang alter.

__ADS_1


Matanya yang terbelalak mulai membuat mulutnya terbuka dan mengeluarkan satu kata tentang gadis penyihir itu. Nama dari gadis itu sendiri.


"A –Aura!"


__ADS_2