Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Kembali


__ADS_3

Siang pun berganti, dan malam sudah tiba. Semuanya sudah tertidur, begitu juga dengan dua senior yang akhirnya memesan kamar lagi. Dan … kembali lagi ke tokoh utama.


.


.


.


Afra Afifah, gadis manusia yang dikenal sebagai gadis monster itu, kini sedang menatap bulan di jendela kamarnya. Ya, hanya sendirian.


Malam yang masih purnama, dan ketenangan selalu tercipta. Angin sepoi-sepoi yang selalu berhembus, dan memberi kesejukan meski malam sudah dingin. Cuaca yang selalu nyaman untuk dinikmati, meski … tidak ada yang benar-benar menikmatinya.


Semuanya … terasa cepat berlalu, dan sudah banyak kejadian-kejadian yang terjadi. Namun, Afra … tidak terlalu berperan di sini. Tokoh utama, kadang perlu menepi jika ada misteri yang harus dipecahkan tokoh pembantu.


.


.


.


Aku … tidak bisa tidur lagi, batin Afra lalu menghela nafas pasrah.


.


.


.


Hihihi


"Kehidupan yang penuh perubahan, ya, Afra!" bisik Ilva tiba-tiba muncul di belakang Afra.


Afra membelalakkan matanya sejenak, lalu kembali ke pandangan normalnya. Menoleh ke belakang, dan menatap sang mata merah, yang sekarang sudah berambut panjang. Tidak seperti dirinya yang tetap pendek.


Mungkin cerpen pendek bisa menjelaskan kenapa Ilva berambut panjang sekarang.


.


.


.


.


.


Ingatan sebelum-sebelumnya, sebelum Afra pergi menuju kawasan netral.


.


.


.


Pagi yang cerah di hutan kawasan terlarang. Nyanyian burung terdengar begitu merdu dan indah, dan suaranya yang terbawa angin sepoi-sepoi membuat pepohonan ikut menari. Daun-daunnya yang berjatuhan menandakan bukti syukur dan pertolongan untuk para binatang kecil di bawah.


Rumah pohon. Rumah yang berada di atas pohon. Tidak, lebih tepatnya … menyatu dengan pohon. Tempat tokoh utama ini tinggal. Sendiri? Ya, mungkin secara mata memang sendirii. Namun…


"Hei, cepatlah bangun, Manusia!"

__ADS_1


"Ah!" teriak Afra seketika terbangun dari tidurnya, dan … langsung mendapati sang alter yang sedang duduk di atas ranjangnya. Tidak, tidak, lebih tepatnya … di atas kaki Afra.


Afra terbelalak dan terkejut. Nafasnya sedikit memburu sejenak tadi. Namun, itu semua langsung menghilang setelah melihat sang mata merah. Ya, Ilva Ilyani.


Alter dari Afra itu, terlihat sangat-sangat berbeda.


"R-rambut mu … kenapa?" tanya Afra membuat Ilva menunjukkan ekspresi datar. Namun, Ilva langsung merubahnya dengan senyuman miring.


Gadis bermata merah itu langsung mendekatkan dirinya ke telinga Afra, dan menghembuskan nafasnya di sana.


"Aku hanya memanjangkannya saja, agar terlihat seperti manusia," jawab Ilva membisikkannya dengan nada dingin dan penuh ketajaman.


Afra tertegun, dan hanya bisa diam. Tak berkata, dan tak menjawab. Sang monster pun menjauhkan dirinya dari gadis manusia, dan kembali tersenyum miring.


"Aku suka, jika kau terus seperti itu, Afra Afifah!" ucap Ilva dengan nada jahatnya, dan tertawa.


***


Sejak hari itu, rambut hitam kemerahannya sudah panjang. Afra hanya bisa menanggapinya dengan diam, dan menjalani harinya sesuai apa yang dilakukan oleh Ilva. Meski, harinya tetap seperti biasanya.


.


.


.


.


Ya, mungkin sampai di sini saja. Ini sudah lebih dari cukup


----------------------------------------------------------


***


Afra, Aura, Yuu, Iylasvi, Phia, Vendry, Sira, dan dua senior bernama Cyrèn dan Tie. Mereka bersembilan sekarang sudah dalam perjalanan menuju akademi Arknest. Ya, meski sebenarnya bisa menggunakan kekuatan teleportasi Aura, tetapi mereka memilih untuk berjalan melewati hutan.


Sebelumnya…


Matahari baru saja terbit, dan menampakkan dirinya. Meski cahayanya selalu bersinar lebih dahulu sebelum kedatangannya benar-benar sempurna. Namun, itulah keunikannya.


"Hoam …,"-Afra mengusap-usap matanya-"… kenapa sepi?"


Suara pintu terbuka pun terdengar, membuat Afra menoleh ke arah pintu dan mendapati salah satu temannya di sana.


"Ah! Kau sudah bangun, ya, Afra? Yang lain sudah di luar!" ujar Yuu yang berada di depan pintu, lalu masuk ke dalam kamar.


Afra masih terduduk di kasurnya. Ya, di penginapan ini, tidak ada ranjang! Semuanya tidur dengan kasur tipis yang diletakkan menempel pada lantai, dan kasurnya tentu bisa digulung. Ah sudahlah! Makan saja tidak pakai meja!


Afra masih diam dan melihat Yuu yang mencari sesuatu di kasurnya.


"Ah! Ini dia!" ucap Yuu langsung mengambil benda panjang berwarna hitam.


Ya, pedang hitam, itulah yang diambil Yuu dari dalam kasurnya. Afra masih dalam kondisi setengah sadar, dan belum memahami maksud perkataan Yuu sebelumnya.


Yuu yang melihatnya langsung kebingungan dan keheranan, "eh, apa kau lupa lagi, Afra?"


Afra tertegun dan terkejut mendengar perkataan Yuu. Dan … Afra langsung tertawa kecil setelahnya.


"Hari ini … hari kembali, ya?" ucap Afra lalu tertawa kecil. Yuu hanya bisa diam dan menghela nafasnya dengan pasrah.

__ADS_1


***


Matahari sudah memunculkan dirinya, meski hanya setengahnya saja. Aura, Iylasvi, Phia, Sira, dan Tie. Mereka berlima sudah berada di luar penginapan, dan menunggu empat sisanya.


Suara bel pintu terbuka pun terdengar, dan dua makhluk pun terlihat keluar dari pintu, disusul dengan satu makhluk. Empat junoir dan satu senior itupun menoleh ke arah pintu.


"Akhirnya datang juga," lirih Sira dengan wajah datarnya, "oh ya, di mana gadis itu?"


"Afra? Mungkin sebentar lagi," jawab Yuu sembari menoleh ke pintu masuk penginapan, dan…


"Hai semuanya! Maaf atas keterlambatannya!" sapa Afra baru saja keluar. Afra pun menghampiri mereka semua.


"Tidak apa-apa, kami baru saja selesai," jawab Vendry dengan wajahnya yang tetap seperti biasa. Dingin dan serius, meski tidak terlalu terlihat sikap dinginnya.


"Selesai apa?" ucap Afra sedikit kebingungan, dan juga penasaran.


"Selesai membayar biaya penginapannya, Afra," jelas Cyrèn sembari mengelus-elus rambut Afra. Afra hanya bisa diam dengan wajah keheranan, begitu juga dengan yang lainnya.


"Baiklah, kita bisa mulai 'kan?" tanya Cyrèn melepaskan tangannya dari kepala Afra dan menatap Vendry.


"Ya, tentu, Senior!" jawab Vendry dan ditanggapi dengan senyuman oleh sang senior.


"Baiklah, cepat keluarkan sihirnya," ucap Sira dengan nada malas dan tidak menatap siapapun. Semuanya terkejut dan langsung menatap Sira yang tidak peduli itu.


"Ah, sepertinya kau ingin gadis penyihir ini melakukan teleportasi, ya?" tanya Cyrèn sembari menatap mata Aura sejenak, lalu kembali menatap Sira.


"A-aku? T-tapi … aku sudah … tidak bisa melakukannya," tutur Aura membuat Sira terkejut, begitu juga dengan para junior yang hanya membelalakkan matanya sejenak.


"A-apa maksudmu, Aura?" tanya Afra penasaran dan kebingungan. Aura pun menundukkan kepalanya dan menatap tanah, dengan kedua tangannya yang disatukan.


"A-aku … sudah kehabisan 'mana' untuk melakukan teleportasi, karena kejadian waktu itu," jawab Aura dengan lirih. Afra hanya bisa diam dan mengangguk kecil.


Sira hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar perkataan Aura, "jadi, kita harus kembali dengan cara yang sama?"


"Bisa iya, bisa juga tidak," jelas Cyrèn membuat semuanya semakin kebingungan. Namun…


"Matahari sudah terbit," gumam Phia membuat semua pandangan tertuju padanya, dan … ia pun langsung berjalan tanpa mempedulikan semuanya.


"Lagi-lagi, ya," lirih Sira lalu berjalan menyusul Phia.


"Phia lebih suka sendirian, ya," ungkap Iylasvi sembari menatap Phia yang sudah berjalan itu.


"Hei, cepatlah!" teriak Sira pada ketujuh murid itu.


***


Akhirnya, Afra, Yuu, Aura, Iylasvi, Vendry, Cyrèn, Tie, Sira, dan Phia. Mereka bersembilan pun memulai perjalanannya untuk kembali ke akademi.


.


.


.


Sekarang…


Matahari sudah berada di pertengahan, antara pagi dan siang. Para murid akademi Arknest ini, mereka sudah sampai dan sedang berjalan di dalam hutan.


Hutan yang hijau dan asri, rerumputan yang tumbuh dengan subur dan memberikan kesan nyaman selama perjalanan, juga angin sepoi-sepoi yang selalu berhembus. Meski … ada sesuatu yang aneh melintas di pikiran dan indra perasa mereka.

__ADS_1


"Aneh,"


__ADS_2