Afra, A Life From AI

Afra, A Life From AI
Hilang


__ADS_3

"A –apa … yang kau katakan tadi, Sira?" tanya Afra membelalakkan mata dan merasakan keterkejutan.


.


"Hm? Yang mana? Di situ tertulis atau—"


"Bukan yang itu, tapi saat kau mengucapkan kata lain dari 'Lyvie'," potong Afra membuat Sira paham.


"Oh, 'Viely'!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lebih baik melihat hal lainnya.


***


Masih pada pagi hari yang tidak berseri, tetapi kini sudah menjelang siang walau tetap tidak seterang api. Awan putih nan gelap tampak di sana, menutup dan meneteskan butiran air dingin.


Genangan tercipta, tetapi dengan cepat mengalir di celah bebatuan jalanan. Suara nyanyian bagai orkestra terdengar dari butiran-butiran air yang jatuh itu. Menyejukkan dan menenangkan, meski membuat pendengarnya harus mengurung diri.


Tidak ada siapapun di jalanan kota, hanya ada kekosongan yang diisi alunan nada air hujan. Semua penduduknya sudah masuk dan berdiam diri di rumah juga bangunan yang ada. Duduk dan melihat setiap detiknya hujan tersebut turun.


.


.


.


Kamera pun terfokuskan pada bangunan ini, yaitu perpustakaan.


"Aneh."


.


Satu kata baru saja keluar dari mulut salah satu pengunjung yang ada di antara rak buku. Lirih namun tajam, meski tidak ada yang mendengar selain sang pengucap. Ya, karena hanya ada sang pengucap di sana.


Mengucapkan untuk didengar sendirian, mungkin sedikit aneh, tetapi memang itulah kenyataannya. Rak buku yang terlihat tidak terurus dan cukup berdebu. Meski warna kayunya masih terlihat jelas, tetap saja.


"Tidak mungkin tidak ada di—"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


"Ya, memang tidak ada di sini, Aura."


***


Suara nada basah semakin terdengar, tetapi itu malah menciptakan rasa penuh kesunyian. Butiran-butiran air masih diturunkan oleh awan dan membuat semuanya basah. Sampai tidak ada yang berani untuk keluar dari bangunan tempat berteduh.


.


.


.


Nada lainnya terdengar lebih cepat dan keras, bersamaan dengan kilatan yang terlihat mewarnai gelapnya langit siang. Beberapa penduduk melihat keluar atau menatap ke atas, berpikir dan mulai menyadari sesuatu.


"Aah, sepertinya kita terjebak di sini," ucap Sira kembali mengeluh dan mengeluarkan napas panjang sebagai tanda kebosanan.


"I –Iya, sepertinya begitu." Afra menjawab meski ucapan Sira bukanlah pertanyaan. Pandangannya masih terfokuskan pada buku, meski sudah beralih ke halaman lain.


Walau sebenarnya pikirannya masih terbayang-bayang akan kata 'Viely', ia mencoba untuk tetap tenang dan menghilangkan pikiran buruk itu. Pikiran yang sebenarnya seperti firasat itu.


"Hm." Sira mulai menatap dan ikut membaca tulisan di lembar halaman buku Afra. Ada beberapa kata yang bisa dibaca olehnya, sedangkan sisanya ….


"Tulisan apa sih itu? Aku tidak bisa membacanya meski sudah melihat ingatan berulang kali," batin Sira kesal.


.


Ada beberapa bahasa yang bisa digunakan sebagai mantra sihir.'


"Eh?"


"Ada apa, Sira?" Afra menatap Sira yang tampak terkejut.


"B –bukan apa-apa! Kita lanjutkan membacanya!"


Afra hanya mengangguk kecil dan kembali mengarahkan pandangannya pada bukunya, begitu juga dengan Sira. Meski begitu, ekspresi Sira tampak terkejut dan memikirkan sesuatu yang lain.


Keringat dingin yang terlihat keluar di wajah Sira, mata keemasan tanpa hawa dingin menusuk. Sira benar-benar terkejut akan sesuatu, tetapi sepertinya Afra tidak menyadarinya.


Bukan tentang keterkejutan Sira saja, tetapi kalau ternyata Sira bisa membaca tulisan di bukunya. Ya, meski ia tahu juga itu tidak perlu dipikirkan. Bukankah buku ini bisa dibaca semua orang? Itulah pikirannya sekarang.


'Bahasa yang bisa digunakan sebagai mantra sihir.


Satu, bahasa keseharian. Hanya beberapa makhluk saja yang memakainya karena kurang efektif dan mudah dibaca pergerakannya.


Dua, bahasa Aoi. Bahasa ini termasuk kategori yang mudah untuk dilafalkan, tetapi penggunanya malah hanya beberapa makhluk saja. Masih lebih banyak yang menggunakan bahasa ini daripada bahasa keseharian.


Tiga, bahasa Franç. Bahasa yang kebanyakan penggunanya bukanlah dari ras penyihir. Ini disebabkan karena mana dalam tubuh penyihir tidak kuat untuk merapal mantra dengan bahasa ini. Ini termasuk kategori yang mustahil bagi ras penyihir.


Empat, bahasa Espà.


Lima, bahasa Deus.


Enam, bahasa Irgis.


Tujuh, bahasa Pycсkи.


Empat, lima dan enam adalah bahasa yang biasa digunakan para penyihir. Sedangkan bahasa ketujuh adalah bahasa yang sangat langka dan biasanya tidak diucapkan secara langsung.'

__ADS_1


.


.


.


Afra mengangkat alisnya sebelah dan menunjukkan tanda tanya di kepalanya. Matanya masih menatap buku yang masih terdapat tulisan di sana. Sira hanya diam dan menggaruk kepalanya sendiri karena ketidakpahaman.


"Akh! Aku tidak paham!" keluh Sira sembari mengacak-acak rambutnya.


Afra hanya diam dan tidak terlalu memikirkan apa yang dilakukan Sira. Ia masih memberikan tanda tanya pada dirinya sendiri. Mempertanyakan tentang buku yang masih ditatap olehnya itu.


Buku sudah ia tutup dan pandangannya menjadi terfokuskan pada sampul buku itu. Kuno dan terlihat lusuh, tetapi menyimpan misteri yang cukup aneh. Walau dianggap tidak berguna, tetapi sebenarnya ini sangatlah berguna. Hanya saja ….


"Meski sudah tertulis nama bahasanya, tetapi kenapa … tidak ada sampel mantranya? Apa karena cukup rahasia?" batin Afra bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


.


Suara helaan napas kembali terdengar dan itu membuat Afra langsung menoleh ke sumber suara. Sira adalah sumber suara tersebut dan sekarang dia sedang mengeluarkan napas penuh kebosanan.


"Hoaaam, aku pergi saja, ya?" Sira mulai bangkit dari duduknya, tetapi dengan cepat Afra langsung menggenggam tangan Sira.


Sira menatap malas wajah Afra, "apa?"


"Aura," lirih Afra yang masih bisa didengar jelas oleh Sira.


"Huh?"


Tanpa mempedulikan Sira, Afra mulai mengambil posisi berdiri dan langsung menarik Sira pergi meninggalkan tempat duduk. Buku kuno di meja seketika lenyap ditelan cahaya api berwarna biru yang merupakan bentuk dari AI.


Ya, cahaya itu adalah cahaya yang dikeluarkan oleh Afra agar buku itu masuk ke dalam dimensi miliknya. Dimensi di mana ia biasa bertemu dengan sang alter. Namun, hal yang lebih penting sekarang adalah …


.


.


.


.


.


.


.


"K –kau, Iliy—"


Suara yang tertahankan masih bisa didengar meski hanya untuk dua penyihir di sana. Penyihir perempuan dengan pakaian pelayan yang sedang menutup mulut gadis penyihir dengan jubah, hanya mereka berdua saja.


"Aneh, tapi menarik. Kau masih menyimpan ingatan tentangku, tetapi tidak dengan gadis itu," ucap penyihir perempuan berpakaian pelayan itu sambil terus menutup mulut gadis penyihir berjubah.


Gadis penyihir itu hanya bisa meronta-ronta dan berusaha mengeluarkan suara keras dari mulutnya. Rak-rak buku yang tak terawat dan penuh debu, gelap juga tidak ada siapapun di sana.


Hanya ada dirinya dan penyihir perempuan itu.


"Akh!" Gadis penyihir itu langsung mengambil napas meski harus terputus-putus. Penyihir perempuan itu baru saja melepaskan tangannya yang menutupi mulutnya.


"Kau … apa yang … kau rencanakan!" tegas gadis penyihir berusaha mengatur napasnya yang sudah terputus-putus itu.


Senyuman seringai tercipta di wajah penyihir perempuan itu. Matanya yang merah seketika bersinar, menyinari gelapnya tempat keduanya berada. Diapit oleh dua rak buku dengan ketinggian sekitar dua setengah meter, berdebu dan kotor. Gelap lagikan sunyi.


Hanya ada kedua penyihir itu di sana.


"Membuatmu hilang sejenak, Aura!"

__ADS_1


__ADS_2