
Warsinih nampak terkejut ketika menemukan Sakti di depan rumah menantunya, tentu saja ia mengenali Sakti karena dulu Ambar dan Sakti pernah satu sekolah ketika masih SMA bahkan hingga mereka kuliah pun di
kampus yang sama namun kemudian Sakti memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika dan Ambar sendirian di Indonesia.
“Sakti? Kamukah ini?”
“Iya Bu, apa kabar?”
“Ya ampun, Ibu senang sekali dapat bertemu denganmu. Tapi apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku ingin menemui Ambar, akan tetapi satpam tidak mengizinkanku masuk, apakah tadi sesuatu hal yang buruk terjadi pada Ambar di dalam?”
“Tentu saja, suaminya memerlakukan Ambar dengan buruk sekali bahkan mertuanya pun sama saja, Ibu sampai kesal bukan main dengan perlakuan mereka semua pada Ambar.”
“Tapi Ibu baik-baik saja kan?”
“Iya tentu saja, kamu tak perlu mengkhawatirkan Ibu.”
“Aku akan mengantarkan Ibu pulang, masuklah ke dalam mobilku.”
“Ah tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”
“Ayolah aku sudah menganggap Ibu layaknya ibu kandungku sendiri, jadi masuklah ke dalam mobilku dan aku akan mengantarkan Ibu.”
Akhirnya Warsinih pun masuk ke dalam mobil Sakti dan Regan masih memerhatikan mereka dari teras rumah, tentu saja Regan penasaran dengan hubungan Ambar dengan Sakti hingga setelah ia masuk ke dalam rumah ia langsung mencari Ambar.
“Katakan padaku, apakah selingkuhanmu itu sudah kenal dengan ibumu?”
“Apa maksudmu, Mas? Aku tidak pernah selingkuh!”
Regan hendak menampar wajah Ambar saking emosinya namun ia menahannya, Regan kemudian mengatakan bahwa selingkuhan Ambar adalah Sakti dan Ambar menolak fakta itu.
“Sakti hanya temanku, bukan selingkuhanku!”
“Kalau memang dia temanmu kenapa selama ini kamu tidak pernah mengenalkannya padaku? Apakah menurutmu aku ini orang yang bodoh, hah?”
“Tidak Mas, kamu tidak mengerti! Sakti pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya dan oleh sebab itu Mas tidak pernah bertemu dengannya, dia baru kembali beberapa bulan yang lalu ke Indonesia.”
****
Warsinih diantarkan Sakti sampai ke depan rumahnya dan ternyata ketika mereka sampai di sana, Warsinih menemukan Sintia yang tengah berbincang dengan suami dan anaknya, Warsinih tentu saja geram dan mengusir Sintia dari rumah ini.
__ADS_1
“Keluar kamu dari rumah ini!”
“Warsinih, kamu kenapa? Kenapa mengusir Sintia?” tanya suaminya yang heran dengan sang istri yang kesal pada Sintia.
“Kamu tanya kenapa aku kesal pada wanita ini? Asal kamu tahu saja kalau wanita ini yang membuat rumah tangga Ambar dan Regan hancur!” seru Warsinih emosi.
“Tidak Pak, itu sama sekali tidak benar, Ibu mengatakan itu karena dia salah paham pada hubunganku dengan mas Regan, Bapak tahu sendiri kan kalau aku dan mas Regan dekat karena dia suaminya Ambar?” bela Sintia.
“Kamu masih saja berani bersilat lidah di depan suamiku, kurang ajar sekali!”
Warsinih hendak menyerang Sintia namun sudah dilerai oleh Sakti yang menahannya, Sintia pun menoleh ke arah Sakti karena baru menyadari kehadiran pria ini.
“Kamu Sakti kan?”
“Iya, Sintia, lama tidak berjumpa.”
“Oh ya ampun, lama sekali kita tidak berjumpa. Kapan kamu kembali ke Indonesia?”
“Sudah beberapa bulan yang lalu.”
“Kalau begitu ayo kita pergi mengobrol di luar, Bu, Pak, kami pamit dulu, ya.”
****
Sintia membawa Sakti menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah keluarga Ambar, di sana mereka sudah memesan makanan dan minuman, Sintia dan Sakti memang sudah saling mengenal karena mereka juga teman
sekolah hingga kuliah. Sakti sendiri nampak penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Warsinih barusan di rumah namun Sintia hanya tertawa mendengarnya.
“Kenapa kamu tertawa? Apakah pertanyaan yang aku ajukan barusan terdengar lucu?”
“Tidak, hanya saja aku sudah mengatakannya Sakti, maksudku… aku dan mas Regan dekat karena dia adalah suami Ambar namun sepertinya ibu salah paham dan akhirnya malah menuduhku yang bukan-bukan.”
“Ngomong-ngomong soal suami Ambar, apakah kamu kenal baik dengannya?”
“Tentu saja, aku kan sering main ke rumah mereka, kenapa kamu bertanya demikian?”
“Tidak, aku hanya ingin tahu saja, apakah suami Ambar itu orangnya tempramental? Apakah mereka menikah bukan karena cinta?”
“Astaga Sakti, kenapa kamu jadi tertarik pada kehidupan rumah tangga orang lain? Atau jangan-jangan kamu mencintai Ambar, ya?”
“Kamu ini bicara apa, sih? Tentu saja tidak begitu, aku bertanya karena aku peduli pada Ambar, kesan yang aku dapatkan pertama kali ketika bertemu dengan suaminya Ambar dia nampak arogan sekali dan sepertinya Ambar tidak bahagia menikah dengan pria itu.”
__ADS_1
“Kamu terlalu mudah menyimpulkan sesuatu, Sakti.”
****
Warsinih masuk ke dalam kamar diikuti oleh sang suami, di sana suaminya bertanya pada Warsinih mengenai apa maksud istrinya mengatakan bahwa Sintia dan Regan memiliki hubungan khusus dan rumah tangga Ambar tidak
baik-baik saja.
“Aku sebenarnya tidak mau memberitahumu soal ini namun bagaimanapun juga kamu harus tahu kebusukan Sintia selama ini.”
“Katakan padaku, apa saja yang kamu tahu.”
Warsinih kemudian menceritakan soal hubungan terlarang Sintia dan Regan yang telah diketahui oleh Ambar dan Ambar pun tersiksa tinggal di rumah itu setelah tahu kalau Sintia dan Regan menjalin cinta terlarang selama ini.
“Kamu tahu bahkan besan kita saja membenci Ambar, dia menampar wajah anak kita dan memakinya dengan kata kasar, apakah menurutmu sebagai seorang ibu aku bisa menerima ketika anakku direndahkan oleh wanita itu?”
Warsinih nampak begitu emosional sekali ketika bercerita hingga ia tidak dapat menahan tangisnya, sementara sang suami kemudian memeluknya dengan erat. Tanpa mereka sadari rupanya adiknya Ambar diam-diam mencuri dengar apa yang barusan mereka tengah bicarakan.
“Apakah aku tidak salah dengar barusan? Ya ampun, kasihan sekali kak Ambar.”
Warsinih segera melerai pelukan dan kemudian mengusap air matanya setelah ia merasa sudah jauh lebih baik dan kemudian pergi keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.
****
Sintia tiba di apartemen tempat ia tinggal namun di depan pintu apartemennya ia menemukan Valdo di sana, Sintia yang sudah terlanjur ada di sana tentu saja tidak dapat berbalik badan dan terpaksa menghadapi mantan kekasihnya itu. Valdo sendiri langsung menghampiri Sintia dan meminta agar mereka dapat bicara sebentar namun Sintia menolaknya.
“Bicara apa lagi? Semua sudah jelas, minggir.”
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu masuk sebelum kita bicara, Sintia.”
“Kalau kamu masih berulah maka aku akan memanggil satpam untuk mengusirmu dari tempat ini.”
“Katakan padaku, apa alasanmu memilih putus denganku.”
“Aku sudah tidak mencintaimu, bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas?”
“Benarkah? Apakah kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya?”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Alasan kenapa kamu ingin putus denganku adalah karena kamu jatuh cinta pada orang lain dan orang itu adalah suaminya Ambar kan? Jawab pertanyaanku!”
__ADS_1