Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Tak Mau Dijodohkan


__ADS_3

Ambar sangat penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Sintia darinya dan rupanya Sintia menginginkan supaya Ambar mau membantunya dalam bicara pada Regan untuk pria itu mau tetap melanjutkan hubungan mereka


hingga menikah. Ambar tentu saja tidak paham pada awalnya kenapa Regan dan Sintia hubungannya bisa renggang dan mengakibatkan Sintia sampai harus memohon padana untuk bicara pada Regan namun akhirnya Ambar paham setelah Sintia menceritakan semuanya secara detail. Ambar mengatakan bahwa dirinya tidak dapat


membantu apa pun soal hal tersebut namun Sintia berkeras bahwa Ambar adalah orang yang dapat membantunya dalam memulihkan hubungannya dengan Regan.


“Aku sangat mohon padamu Ambar, tolong aku.”


“Aku sudah mengatakannya padamu Sintia, aku tidak dapat melakukannya. Aku minta maaf.”


Sintia nampak marah dengan jawaban yang Ambar berikan barusan, Sintia menuduh bahwa Ambar melakukan semua ini karena Ambar membencinya akibat dirinya dan Regan memiliki hubungan spesial. Ambar tentu


saja terkejut dengan ucapan Sintia barusan padahal faktanya bukanlah seperti itu, karena suara gaduh yang ditimbulkan oleh Sintia maka Warsinih pun keluar rumah dan mendapati Sintia di sana, tentu saja Warsinih geram bukan main dan langsung mengusir Sintia dari rumah ini.


“Apa yang kamu lakukan di rumah ini? Lebih baik pergi sekarang juga!”


Sintia mengatakan bahwa ia akan pergi namun ia mengancam bahwa Ambar tidak akan pernah dapat kembali dengan Regan setelah ini, Ambar tentu saja hanya dapat menghela napasnya dengan apa yang dikatakan oleh Sintia barusan sementara Warsinih nampak kesal dan memaki Sintia dan mengatakan kalau wanita itu sudah sangat tidak waras.


“Ya ampun, harusnya dia dimasukan saja ke rumah sakit jiwa, kamu baik-baik saja, Nak?”


“Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir.”


“Syukurlah kalau begitu, wanita itu benar-benar membuat darah Ibu mendidih.”


Ambar pun menenangkan ibunya yang masih kesal dengan kedatangan Sintia yang tiba-tiba dan langsung membuat sebuah keributan yang mengganggu hari mereka.


****


Sementara itu keesokan harinya ketika Ambar hendak pergi dari rumah, secara tidak sengaja ia bertemu dengan seseorang yang tidak lain adalah mamanya Sakti. Awalnya Ambar tidak mengenali mamanya Sakti karena


memang mereka berdua jarang bertemu dan Ambar tidak pernah main ke rumah Sakti selama mereka menjadi teman di sekolah.


“Kamu Ambar kan?”


“Iya, anda siapa, ya?”


“Kamu tidak mengenali saya?”

__ADS_1


Ambar pun akhirnya mengenali mamanya Sakti dan mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah, nampak mamanya Sakti mengikuti langkah kaki Ambar masuk ke dalam rumah dan mereka berdua pun duduk


di sofa ruang tamu. Ambar menawarkan mamanya Sakti untuk minum namun wanita itu menolaknya dan mengatakan bahwa ia tidak akan lama-lama di sini.


“Jadi sekarang kamu tinggal di sini, ya?”


“Iya Tante, ini semua berkat Sakti.”


“Iya, Tante juga tahu karena Sakti juga sudah bicara pada Tante dan itulah yang membawa Tante ke sini.”


“Kenapa memangnya Tante?”


“Tante sudah lama sekali tidak bertemu denganmu, Sakti sepertinya begitu bahagia dapat bertemu denganmu setelah ia kembali ke sini.”


Ambar hanya diam dan menunduk dengan ucapan mamanya Sakti barusan, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada mamanya Sakti hingga akhirnya mamanya Sakti pun menanyakan sesuatu padanya.


“Kalau Tante boleh tahu, apakah kamu masih sendiri?”


****


Sakti terkejut ketika datang ke rumah Ambar ternyata ia menemukan sang mama di sana yang tengah berbincang dengan Ambar. Ambar sendiri terkejut dengan kedatangan Sakti namun mamanya tidak, justru mamanya


“Tapi Ma, aku kan baru saja datang.”


“Jangan membantah apa yang Mama ucapkan.”


Sakti menghela napasnya dan kemudian mau tidak mau mengikuti apa yang mamanya katakan, Ambar mengantarkan mereka sampai ke gerbang depan. Sakti dan mamanya sudah masuk ke dalam mobil Sakti dan kini Sakti ingin mengantarkan mamanya pulang ke rumah dulu baru ia akan pulang ke apartemennya.


“Apakah kamu tidak mau bermalam di rumah saja, Nak?”


“Aku tidak mau, Ma.”


“Kamu masih marah pada papamu?”


Sakti terdiam mendengar ucapan mamanya barusan, mamanya Sakti kemudian menggenggam tangan Sakti namun Sakti hanya diam saja.


“Kalau Mama bicara dengan papa supaya mau menerima hubunganmu dengan Ambar, apakah kamu mau kembali tinggal bersama kami?”

__ADS_1


Sakti nampak terkejut dengan ucapan mamanya barusan, ia mengatakan bahwa ia dan Ambar tidak memiliki hubungan apa pun namun mamanya tahu apa yang Sakti rasakan sebenarnya.


“Kamu tak perlu berbohong pada mamamu sendiri, Nak.”


****


Sintia mencoba menghubungi nomor ponsel Regan namun Regan sama sekali tidak mau menjawab telepon darinya hingga membuat Sintia merasa frustasi, ia memutuskan untuk menemui Regan di kantornya besok pagi apa


pun yang terjadi. Sintia sudah menanti di kantor di mana Regan bekerja sejak pagi sebelum pria itu datang dan ketika Regan datang, buru-buru Sintia menghadang mobil yang dikemudikan oleh pria itu hingga membuat Regan langsung menginjak pedal rem agar tidak menabrak Sintia yang berdiri di depan sana menghalangi jalannya.


“Apakah dia sudah tidak waras?”


Regan turun dari dalam mobilnya dan mengatakan kalau Sintia tidak waras namun Sintia tidak memedulikan hal itu, ia melakukan semua ini supaya dirinya dapat bicara dengan Regan. Satpam yang melihat itu langsung menarik Sintia pergi namun Sintia menolak dan mengatakan bahwa Regan tidak dapat melakukan hal ini padanya.


“Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Mas, aku hamil anakmu!” jerit Sintia yang membuat Regan terkejut dengan ucapan Sintia barusan.


Regan menghampiri Sintia dan meminta Sintia jangan bicara sembarangan di depan umum seperti ini namun Sintia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak sembarangan bicara, ia memang hamil anak Regan dan ia meminta


Regan mempertanggung jawabkan semuanya.


****


Sakti bermalam di rumah keluarganya seperti yang mamanya minta semalam, hari sudah pagi dan Sakti sudah bersiap untuk pergi dari rumah ini namun mamanya mengatakan bahwa sebelum pergi Sakti harus sarapan


dulu.


“Aku bisa sarapan di luar, Ma.”


“Ayolah jangan begini, ada sesuatu yang ingin Mama dan Papa bicarakan di meja makan.”


Sakti menghela napasnya panjang dan akhirnya mau tidak mau ia pergi ke meja makan bersama dengan mamanya, di sana sudah ada papanya yang duduk menunggu istri dan anaknya datang dan ketika mereka sudah duduk di kursi masing-masing, pria itu langsung buka suara.


“Papa sudah mendengar semuanya dari mama semalam, apakah benar kalau kamu sekarang sedang jatuh cinta pada seorang wanita?”


“Tidak, semua itu tidak benar.”


“Kalau begitu Papa bisa menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa kan?”

__ADS_1


“Aku menolak itu!”


__ADS_2