
Ambar nampak penasaran dengan apa yang hendak Valdo katakan mengenai Sintia dan rupanya Valdo justru menanyakan apakah Ambar sudah tahu soal hubungan terlarang antara suaminya dan Sintia. Ambar nampak menghela napasnya sebelum menjawab semua pertanyaan Valdo barusan, jawaban dari Ambar itu nyatanya membuat Valdo terkejut, ia tak menyangka kalau Ambar memilih untuk tetap bertahan dengan suaminya padahal ia sendiri sudah tahu kalau Regan bermain api dengan wanita lain.
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Ambar.”
“Valdo, tolong kamu maafkan Sintia, ya?”
“Apa katamu? Memaafkan wanita itu? Tentu saja aku tidak akan memaafkannya, berani sekali dia memperaminkanku begini, aku tidak dapat menerimanya.”
“Terserah kamu saja, aku hanya berpendapat walaupun kamu kecewa dan marah pada apa yang dilakukan oleh Sintia namun jangan pernah membenci manusianya, bencilah sifatnya yang buruk itu.”
“Dan apakah itu alasanmu untuk bertahan dengan suamimu, Ambar?”
“Sudah aku katakan bahwa itu bukan urusanmu, Valdo.”
Akhirnya Ambar mengajak Daisy untuk pulang, Valdo sempat menahan Ambar dan meminta untuk melanjutkan pembicaraan mereka namun Ambar menolaknya, ia tetap membawa Daisy pulang ke rumah karena takut kalau ia
sampai di rumah suaminya sudah kembali dan justru membuat masalah semakin besar lagi.
“Kamu sudah puas mainnya kan, sayang?”
“Iya, Ma.”
Ambar tersenyum dan kemudian mereka sampai juga di rumah, ternyata dugaan Ambar benar karena ketika ia masuk ke dalam pekarangan rumah, dirinya dapat melihat mobil Regan sudah terparkir di garasi yang mana
suaminya itu pasti sudah kembali ke rumah.
“Ayo masuk ke dalam.”
Ambar dan Daisy masuk ke dalam rumah, Regan telah menantinya dengan tatapan tajam dan Regan pun meminta Daisy untuk pergi ke kamarnya karena ada sesuatu yang ingin ia dan Ambar bicarakan. Selepas Daisy pergi ke kamar barulah Regan membawa Ambar untuk bicara di ruangan kerjanya saat ini.
“Sudah aku katakan jangan pergi ke mana-mana ketika aku pergi, kenapa kamu keras kepala sekali, sih?”
“Ini semua bukan kemauanku, Mas. Daisy yang mengajakku untuk jalan keluar.”
****
__ADS_1
Sikap Regan makin menjadi-jadi, ia selalu menekan Ambar hingga membuat wanita itu merasa tidak nyaman apalagi Regan selalu saja mengungkit soal Sakti yang Regan percayai memiliki hubungan spesial dengan Ambar namun Ambar dan keluarganya kompak untuk menutupinya.
“Katakan yang sebenarnya, Sakti itu selingkuhanmu kan?”
“Mas, sudah aku katakan berulang kali kalau Sakti bukan selingkuhanku, aku dan Sakti hanya berteman saja, tidak lebih.”
“Apakah menurutmu itu masuk akal? Seorang pria dan wanita hanya berteman saja? Apakah kamu pikir aku ini bodoh?”
Ambar hanya dapat menghela napasnya dan kemudian ia hendak pergi namun Regan menahan tangannya, Ambar meminta Regan untuk melepaskan tangannya karena ia ingin melanjutkan pekerjaannya membersihkan rumah namun Regan tetap menolaknya.
“Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, Mas?”
“Aku ingin kamu jujur padaku bahwa kamu dan Sakti memiliki hubungan, bukankah memang kenyataannya seperti itu?”
Ambar lelah sekali dengan tuduhan Regan yang tidak masuk akal begini, ia tidak sanggup lagi dengan semua perlakuan Regan ini hingga ia pun meminta Regan untuk menceraikannya saja.
“Kalau Mas menceraikanku maka mas dan Sintia dapat hidup bahagia selamanya kan?”
“Bicara apa kamu ini? Kenapa kamu memintaku untuk menceraikanmu dan membawa-bawa Sintia? Aku mengatakan bahwa aku tidak mencintai, Sintia!”
****
dibolehkan masuk oleh satpam yang berjaga di depan gerbang.
“Maaf Bu, akan tetapi pak Regan tidak memperbolehkan siapa pun masuk ke dalam rumah.”
“Pak tolong saya, saya hanya ingin bertemu dengan anak saya, apakah anda tidak memiliki hati nurani?”
“Bu, tolong saya di sini hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh pak Regan kalau saya tidak menuruti apa yang pak Regan perintahkan maka beliau akan memecat saya padahal saya membutuhkan pekerjaan ini.”
Warsinih pun menghela napasnya panjang, percuma saja ia di sini karena pasti satpam ini tetap saja tak akan mau untuk membukakan pintu untuknya. Warsinih memutuskan untuk pergi menuju kantor Regan, ia bertekad untuk menemui menantunya itu di tempat kerja dan memberikan perhitungan pada pria yang sudah berbuat kurang ajar pada putrinya itu.
“Maaf Bu, namun anda tidak boleh masuk ke dalam.”
“Lagi-lagi aku tidak boleh masuk ke dalam, apakah semua ini karena perintah Regan?”
__ADS_1
“Pak Regan tidak memperbolehkan orang yang tidak bekepentingan masuk ke dalam kantor.”
“Tapi ini adalah urusan penting, aku harus menemuinya sekarang juga.”
****
Ambar menanti anaknya pulang ke rumah namun sejak tadi Daisy belum juga pulang hingga membuatnya khawatir, ponselnya disita oleh Regan hingga ia tidak bisa menghubungi wali kelas Daisy untuk bertanya apakah putrinya baik-baik saja atau tidak. Selain itu Ambar juga dilarang keluar rumah oleh Regan karena menurut pria itu kalau Ambar keluar maka Ambar akan menemui Sakti padahal Ambar sudah menjelaskan semuanya pada Regan namun suaminya itu tetap saja menulikan telinganya.
“Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada Daisy.”
Akhirnya Daisy pulang juga ke rumah dengan diantarkan oleh Sintia, Ambar tentu saja tidak senang ketika anaknya diantarkan pulang oleh Sintia dan ia pun bertanya kenapa Sintia harus repot-repot menjemput Daisy ke sekolah.
“Aku diminta oleh mas Regan untuk menjemput Daisy, apakah aku harus menolak permintaannya, Ambar?”
“Mas Regan keterlaluan, dia memintamu menjemput Daisy namun dia mengurungku di rumah ini.”
“Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak bercerai saja dengan mas Regan? Kalian hanya menyakiti diri sendiri satu sama lain saja.”
“Kalau aku bisa melakukannya maka akan aku lakukan sekarang juga namun mas Regan tidak mau bercerai denganku dan dia malah memutar balikan fakta mengenai diriku di depan mamanya.”
Sintia hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian ia pun berpamitan pergi dari rumah ini karena masih ada keperluan yang lain.
****
Sakti datang ke rumah yang dihuni oleh Ambar untuk memastikan kalau Ambar baik-baik saja namun ketika ia tiba di sana dan mencoba menghubungi Ambar tidak ada jawaban dari Ambar dan ponsel wanita itu tidak aktif yang membuat Sakti menjadi heran sekaligus khawatir kalau sesuatu hal yang buruk menimpa wanita itu.
“Apakah di dalam sana Ambar baik-baik saja?”
Sakti melihat Sintia keluar dari rumah itu dan buru-buru Sakti keluar dari dalam mobilnya dan berlari ke arah Sintia yang membuat wanita itu terkejut.
“Ya ampun Sakti, kamu kenapa berlari begitu?”
“Apakah Ambar ada di dalam? Apakah dia baik-baik saja?”
“Iya dia ada di dalam dan dia baik-baik saja, memangnya kenapa kamu menanyakan itu?”
__ADS_1
“Ponselnya tidak aktif, aku khawatir dia kenapa-kenapa.”
“Apakah kamu jatuh cinta padanya, Sakti?”