
Sakti tidak mengerti kenapa dirinya diminta oleh sang mama datang ke rumah namun ia pun kemudian tetap saja mendatangi rumah kedua orang tuanya seperti apa yang diminta oleh sang mama. Ketika Sakti tiba di sana
nampak sang mama tengah menunggunya, Sakti tidak mau berbasa-basi dengan sang mama dan mendesak mamanya supaya segera mengatakan kenapa memintanya datang ke sini.
“Sepertinya kamu buru-buru sekali, Nak.”
“Aku tidak memiliki waktu untuk berbincang hal yang tidak penting, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Mamanya Sakti nampak menghela napasnya panjang, kemudian wanita itu pun mengatakan kenapa memanggil Sakti ke sini. Mamanya mengatakan bahwa ia sudah melihat sendiri bahwa Sakti menyukai Ambar, tentu
saja Sakti menolak itu karena menurutnya sang mama keliru ketika mengatakan bahwa ia menyukai Ambar.
“Kamu tidak usah mengelak lagi, Mama tahu yang sebenarnya kalau kamu memang menyukai Ambar.”
Sakti terdiam mendengar ucapan sang mama barusan, ia tidak tahu harus menampik apalagi karena sejujurnya Sakti merasa kalau ia memang menyukai Ambar namun ia tidak yakin akan hal tersebut.
“Kalau memang kamu menyukai Ambar, kenapa kamu tidak berterus terang saja padanya, Nak?”
“Aku tidak tahu apakah aku memang menyukai Ambar atau tidak.”
Mamanya Sakti nampak menggenggam tangan Sakti dan mengatakan bahwa Sakti harus yakin pada dirinya sendiri, kalau memang ia menyukai Ambar maka Sakti harus segera mengambil keputusan.
“Kalau kamu tidak langsung bergerak maka Mama khawatir kalau akan ada orang lain yang akan terlebih dahulu meminang Ambar.”
Ucapan mamanya barusan membuat Sakti terdiam, apa yang mamanya katakan memang benar kalau ia tidak segera bergerak bukan tidak mungkin Ambar akan jatuh ke tangan orang lain dan Sakti tidak mau kalau sampai hal itu terjadi.
“Mama dan Papamu sama sekali tidak keberatan kalau kamu menyukai Ambar.”
“Apa?”
“Iya, Mama dan Papa sudah tahu semuanya jadi kamu tidak perlu mengelak lagi.”
****
Sintia makin menggila, ia meminta untuk bertemu dengan Regan namun tidak diberikan izin oleh satpam yang berjaga di depan rumah hingga akhirnya Helga muncul dan langsung melabrak wanita ini. Sintia tidak peduli
__ADS_1
dengan ucapan Helga barusan, ia datang ke sini untuk bertemu dengan Regan bukan untuk berdebat dengan Helga.
“Aku sudah mengatakan bahwa Regan tidak ada di rumah, kenapa kamu begitu keras kepala sekali?”
“Tante pikir dapat menipuku? Tante tidak dapat menipuku hanya dengan mengatakan kalau mas Regan tidak ada di dalam padahal dia ada di dalam!”
“Berani sekali kamu bicara keras padaku, apakah kamu tahu siapa diriku? Apakah kamu ingin hidupmu hancur setelah ini?”
“Kenapa Tante memerlakukanku begini? Apakah aku tidak cukup baik untuk menjadi menantu Tante?”
“Sampai kapan pun kamu tidak akan pantas untuk menjadi menantuku, Sintia! Sudah cukup anakku gagal berumah tangga dengan Ambar dan aku tidak mau setelah kegagalannya dengan Ambar maka ia harus gagal lagi dalam
membina rumah tangga kalau nekat memertahankan pilihannya.”
Sintia nampak tak percaya ketika Helga mengatakan itu namun Helga sama sekali tidak peduli, ia mengatakan pada Sintia untuk menyerah saja karena ia tidak akan pernah mendapatkan Regan.
“Dan satu hal lagi, kamu harus membereskan masalah yang sudah kamu buat, kamu harus bertanggung jawab membersihkan nama anakku dari media kalau sampai kamu tidak melakukannya maka jangan salahkan aku kalau
sesuatu hal yang buruk akan terjadi padamu.”
****
“Mau apalagi kamu di rumah ini? Lebih baik pergi saja sekarang!”
“Aku mencari Ambar, dia ada di mana?”
“Ambar? Kenapa kamu mencari anakku? Kamu jangan pernah mencari dia lagi!”
Namun Sintia tetap memaksa supaya Warsinih mengatakan di mana Ambar sekarang, Warsinih tentu saja sama sekali tidak mau memberitahu di mana Ambar berada dan malah mengusir Sintia dari rumah ini.
“Kamu pergi sekarang juga atau kamu akan mendapatkan masalah jika tetap nekat ada di sini.”
Sintia pun akhirnya menyerah dan ia pun pergi dari rumah ini, Sintia merasa sedih sekali karena tidak ada teman yang dapat ia ajak bicara dan ketika ia melajukan mobilnya dan ada di lampu lalu lintas dirinya melihat Ambar yang sedang bekerja di toko.
“Bukankah itu Ambar?” lirihnya.
__ADS_1
****
Regan baru saja tiba di rumah dan menemukan mamanya sedang bermain dengan Daisy, Helga nampak tersenyum menyambut kedatangan putranya itu dan kemudian Helga pun mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Regan.
“Apalagi yang ingin Mama katakan padaku?”
“Mama sudah mempersiapkan semuanya, Mama sudah mempersiapkan pernikahanmu dengan Sandrina jadi kamu tidak perlu khawatir lagi soal pernikahanmu dengan Sandrina.”
“Apa maksud Mama soal pernikahanku dengan Sandrina?”
“Tentu saja kamu dan Sandrina akan menikah apa pun yang terjadi, pokoknya kamu harus mengikuti apa yang Mama katakan. Mama melakukan semua ini untuk kebaikanmu, Regan.”
Regan nampak diam dan tidak mengatakan apa pun soal apa yang dikatakan oleh Helga barusan, sikap Regan yang memilih diam ini tentu saja membuat Helga curiga bahwa jangan-jangan Regan tidak berniat untuk melakukan seperti apa yang ia perintahkan barusan.
“Apakah Sintia mengatakan sesuatu padamu? Atau jangan-jangan dia sudah memengaruhimu untuk membantah apa yang Mama katakan?”
“Mama ini bicara apa, sih? Tolong jangan libatkan Sintia dalam masalah ini.”
“Mama hanya tidak ingin kalau wanita itu terus ada di sekelilingmu dan kemudian memberikan pengaruh buruk. Lihatlah semenjak kamu dekat dengan wanita itu, kamu menjadi orang yang menyebalkan.”
“Ma aku ….”
“Pokoknya Mama tidak menerima penolakan, kamu harus menikah dengan Sandrina kalau tidak kamu tidak akan Mama anggap anak lagi.”
****
Ambar terkejut ketika menemukan Sintia ada di toko tempatnya bekerja, Sintia nampak melihat-lihat barang yang dijual di toko ini dan Ambar menanyakan kenapa Sintia bisa ada di sini. Sintia mengatakan bahwa ia tadi hanya kebetulan lewat dan melihat Ambar di sini, Sintia nampak meremehkan Ambar yang kini bekerja untuk keluarganya.
“Kamu datang ke sini hanya untuk menghina pekerjaanku? Lebih baik kamu pergi saja dari sini.”
“Kamu berani mengusir tamu dari toko ini? Aku akan mengadukanmu pada pemilik toko supaya kamu dipecat sekarang juga.”
“Aku tidak ingin mencari masalah denganmu, kalau memang tidak ada hal yang ingin kamu bicarakan silakan pergi.”
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, aku mau minta tolong padamu, Ambar.”
__ADS_1
“Minta tolong soal apa?”