Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Mencari Suamiku


__ADS_3

Sandrina menemui Helga dan mengadukan semua kelakuan Regan yang sangat membuatnya kesal, Helga meminta Sandrina untuk bertahan dengan Regan karena ia akan membicarakan ini dengan anaknya. Sandrina pun mengiyakan apa yang Helga katakan dan Helga sungguh bersyukur karena menantunya ini mau bertahan dengan sikap Regan yang membuat orang naik darah. Helga tentu saja tidak akan tinggal diam, ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan aduan seperti ini dari Sandrina dan tentu saja Helga harus segera mencari Regan dan bicara dengan tegas pada anaknya itu mengenai apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.


“Untuk apa Mama datang lagi ke sini? Apakah Mama tidak lihat kalau aku sedang bekerja?”


“Mama datang ke sini karena ada sesuatu yang perlu Mama bicarakan denganmu.”


“Tidak bisakah kita bicara nanti saja setelah aku selesai bekerja?”


Helga menggelengkan kepalanya, ia mengatakan bahwa tidak dapat menunggu lebih lama lagi, Helga pun kemudian mengungkapkan semuanya pada Regan bahwa ia tidak suka kalau Regan mengabaikan Sandrina dan bersikap tidak baik pada wanita itu padahal ia dan Sandrina sudah menikah. Regan menghela napasnya berat, Regan mengatakan bahwa ia sudah berulang kali mengatakan kenapa ia bersikap begitu pada Sandrina namun mamanya ini tetap saja tak mau mendengarkannya.


“Bukankah Mama sudah tahu apa jawabannya? Kenapa masih saja menanyakan hal itu padaku?”


“Regan, kamu harus tahu bahwa saat ini hubunganmu dan Ambar sudah tidak sama lagi seperti dulu jadi jangan harap kamu dan Ambar dapat kembali bersatu.”


Regan hanya tersenyum menanggapi ucapan mamanya yang mana tentu saja Helga penasaran dengan apa yang sebenarnya Regan tengah lakukan ini.


“Kenapa kamu tersenyum begitu? Mama tahu bahwa ada sesuatu yang kamu sembunyikan sekarang.”


“Bukan apa-apa, hanya saja Mama mengatakan kalau aku dan Ambar tidak akan bisa kembali bersama maka lihat saja nanti apa yang akan terjadi.”


“Mama tahu kalau kamu pasti tengah merencanakan sesuatu saat ini, katakan.”


****


Hingga hari sudah malam, Sakti belum juga kembali ke rumah yang mana tentu saja Ambar khawatir bukan main dengan perginya Sakti, ia sudah mencoba menelpon Sakti namun ponsel Sakti tidak aktif yang mana tentu saja membuat Ambar jadi gelisah karena memikirkan pria itu.


“Apakah kamu bisa menghubungi Sakti, Nak?”


“Tidak Bu, ponselnya tidak aktif.”


“Sebenarnya dia ada di mana sekarang,” gumam Warsinih yang juga khawatir dengan keadaan menantunya yang sampai saat ini belum juga pulang dan ponselnya tidak dapat dihubungi.


Maka kemudian mereka pun memutuskan untuk menunggu hingga besok hari karena percuma saja kalau mereka melapor pada polisi karena harus menunggu sampai 24 jam baru mereka dapat melapor kehilangan Sakti. Sepanjang malam Ambar tidak dapat tidur karena memikirkan Sakti, ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada pria itu.

__ADS_1


“Tidak, kamu jangan berpikiran buruk seperti itu Ambar, belum tentu semua yang ada dalam pikiranmu itu benar.”


Ambar berusaha memejamkan matanya untuk tidur namun usahanya itu sia-sia saja karena ia tetap tidak dapat tertidur bahkan hingga matahari bersinar kembali di pagi hari, Ambar pun kemudian memutuskan untuk segera berangkat bekerja dan berpamitan pada kedua orang tuanya.


“Kamu nampak tidak baik-baik saja pagi ini, Nak.”


“Aku baik-baik saja, Bu, tak perlu mengkhawatirkanku.”


****


Sintia datang ke toko tempat Ambar bekerja dan Ambar pun menceritakan apa yang terjadi pada Sakti semalam, Sintia nampak terkejut dan mengatakan bahwa ia akan membantu mencari di mana Sakti berada.


“Kamu tidak perlu khawatir, Ambar.”


“Terima kasih, Sintia.”


Sintia pun kemudian berpamitan pada Ambar untuk pergi mencari Sakti, Ambar meminta Sintia jika sudah menemukan Sakti tolong untuk mengabari dirinya.


“Tentu saja aku akan segera memberikan kabar, jangan khawatir.”


“Halo Tante.”


“Kenapa kamu menelponku?”


“Aku hanya ingin bertanya mengenai sesuatu, ini soal Sakti.”


“Kenapa dengan pria itu?”


“Apakah Tante yang sudah menculik Sakti?”


“Bicara apa kamu? Untuk apa aku melakukan itu?”


“Oh jadi bukan Tante pelakunya.”

__ADS_1


“Tapi aku curiga mengenai Regan, karena tadi dia bersikap aneh sekali.”


Sintia pun kemudian dapat mengorek sesuatu dari Helga mengenai kemungkinan dalang di balik semua ini adalah Regan, Sintia pun segera menutup sambungan teleponnya dan memikirkan segala kemungkinan itu.


“Bisa saja memang mas Regan dalang di balik semua ini, akan tetapi tentu saja aku harus memastikannya terlebih dahulu.”


****


Regan mendatangi sebuah tempat yang jauh dari permukiman, ia turun dari dalam mobilnya dan berjalan menuju sebuah bangunan terbengkalai yang mana di dalam sana ada orang suruhannya yang berjaga, Regan diarahkan menuju sebuah ruangan di mana seseorang berada dengan posisi tangan dan kaki terikat.


“Bagaimana rasanya disiksa seperti ini, hm?” seringai Regan saat menarik paksa rambut pria yang tengah tak berdaya di kursi ini.


“Aku sudah tahu kalau kamu adalah dalang di balik semua ini,” lirih pria itu yang tidak lain adalah Sakti.


Regan tertawa kencang dan kemudian Regan mengatakan bahwa ia sudah memperingatkan Sakti sebelumnya namun pria ini tetap tidak mau mengindahkan peringatannya maka Regan tidak memiliki pilihan lain selain harus melakukan hal ini.


“Kamu sendiri yang memilih semua ini, Sakti. Jadi nikmatilah penderitaanmu ini.”


Regan kemudian menyuruh kedua orang suruhannya lebih menyiksa Sakti lagi kalau perlu buat dia mati sekarang juga, Regan nampak menyeringai saat melihat penyiksaan itu hingga ponsel yang ada di saku celananya berdering dan ia melihat sebuah nama tertera di sana yang tidak lain adalah Sintia, Regan kemudian berjalan agak menjauh untuk menjawab telepon dari wanita ini.


“Mau apa kamu menelponku?”


“Aku ada di depan kantormu, namun kata satpam Mas sudah pulang apakah benar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Mas.”


****


Sintia sudah janjian bertemu dengan Regan di sebuah café yang mana ketika Regan tiba di sini Sintia sudah terlebih dahulu tiba dan menantinya di salah satu meja, Regan langsung berjalan menuju tempat di mana Sintia menunggunya dan ia duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita ini.


“Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku, Sintia?”


“Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi sekarang, tolong Mas Regan katakan yang sejujurnya kalau Mas tahu mengenai penculikan Sakti kan?”


“Kenapa aku harus mengatakan itu padamu?”

__ADS_1


“Aku tahu kalau Mas adalah dalang di balik penculikan Sakti, jadi mengakulah sekarang juga.”


“Lantas kalau memang aku pelakunya, apa yang hendak kamu lakukan?”


__ADS_2