Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Kehilangan


__ADS_3

Pengacara Helga dan timnya berusaha keras untuk membuat media berhenti memberitakan hal buruk mengenai klien mereka yang kini akan dipanggil menjadi saksi dalam kasus penghilangan nyawa Warsinih. Polisi mau tak mau harus memroses kasus ini karena mendapatkan tekanan dari pemerintah dan juga masyarakat, walaupun Helga dijamin bahwa ia tidak akan sampai dipenjara dan akan terhindar dari proses hukum yang berlaku dan menjalankan semua ini sebagai sebuah formalitas belaka namun tetap saja Helga merasa tak nyaman dengan sorotan buruk media padanya.


“Apakah kalian ini tidak dapat bekerja dengan baik? Kenapa mereka masih memberitakan hal buruk mengenai diriku?”


“Kami sudah berusaha Nyonya, saya yakin tak lama lagi pemberitaan buruk di media akan segera mereda.”


Helga menghela napasnya kesal, ia sudah muak dengan semua ini dan ia bersumpah akan melakukan sebuah pembalasan yang kejam untuk semua orang yang sudah bersekongkol untuk membuatnya menderita seperti ini.


“Kalian semua akan membayar atas yang telah kalian lakukan padaku, aku tak akan membiarkan kalian semua lolos.”


Fadi nampak bahagia dengan posisi Helga yang tak dapat berkutik lagi karena tekanan dari masyarakat dan rencananya berhasil namun tentu saja ia tahu bahwa Helga akan melakukan segala cara supaya dirinya tidak dtahan oleh polisi dan oleh sebab itu maka Fadi harus menyiapkan rencana selanjutnya supaya Helga tidak dapat untuk menghindari proses hukum yang berlaku.


“Kamu jangan senang dulu, karena semua ini tidak akan berakhir seperti apa yang kamu inginkan.”


“Kita akan lihat saja nanti, Helga, aku tidak akan membiarkanmu lolos dari jeratan hukum kali ini.”


Helga mengepalkan kedua tangannya dan kemudian ia pergi meninggalkan sang suami menuju kamarnya, di dalam kamar itu Helga mengeluarkan sebuah obat dari dalam laci mejanya dan nampak memandangi obat tersebut.


“Aku sebenarnya tak mau melakukan hal yang jauh seperti ini namun kamu sendiri yang membuatku tidak memiliki pilihan lain.”


****


Ambar tentu saja bahagia kalau memang Helga adalah dalang di balik kematian ibunya maka Ambar meminta keadilan hukum ditegakan dan tidak pandang bulu pada siapa pelakunya. Ambar sendiri sering dimintai keterangannya oleh wartawan mengenai apa harapannya mengenai kasus yang membuat ibunya meninggal dunia.


“Saya harap siapa pun pelakunya dapat diadili dan dihukum sesuai dengan apa yang sudah ia lakukan.”


Setelah mengatakan pernyataan itu maka Ambar menolak dengan tegas untuk memberikan pernyataan lain pada wartawan yang masih ingin mengorek apa saja yang ingin Ambar katakan pada media namun Amabar tak mau buka suara dan terus menghindari wartawan dan masuk ke dalam rumah. Untuk sementara Ambar dapat bernapas lega karena ia bisa mengutarakan harapannya pada wartawan dan ia harap dengan ini maka proses hukum dapat berjalan dengan seadil-adilnya tanpa harus memandang siapa pelakunya.


“Bu, semoga saja kali ini dirimu akan mendapatkan keadilan atas apa yang sudah ia lakukan padamu.”

__ADS_1


Ambar jadi sedih sendiri ketika mengingat ibunya, ia masih merasa bersalah karena tidak ada saat ibunya mengembuskan napas terakhir dengan cara yang tragis seperti itu.


“Bu, aku merindukanmu,” isak Ambar.


Ambar membiarkan dirinya menangis untuk beberapa saat hingga akhirnya ponselnya berdering, ia melihat ada nama seseorang di sana namun Ambar nampak ragu apakah ia harus menjawab telepon ini atau tidak.


****


Sintia datang menemui Ambar dan berusaha menjadi teman yang baik untuk wanita ini namun Ambar nampak tidak begitu suka dengan kedatangan Sintia apalagi saat ini perut Sintia sudah membesar yang mana setiap kali Ambar memikirkan hal itu, hatinya juga gelisah dan was-was kalau anak yang dikandung oleh Sintia itu memang anak kandung suaminya.


“Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku, Ambar? Apakah kamu begitu membenciku?”


“Bukan begitu Sintia, hanya saja saat ini aku tak mau diganggu oleh siapa pun, tolong kamu paham dengan ucapanku ini.”


“Aku susah payah datang ke sini dan mencarimu namun kenapa kamu malah bersikap acuh begini paadaku, Ambar?”


“Sintia, aku tak bermaksud melakukan itu.”


“Tolong jangan temui aku, Sintia.”


Sintia berusaha untuk memeluk Ambar namun Ambar malah mendorong Sintia hingga wanita itu terjatuh ke lantai dan merintih kesakitan, nampak perut Sintia berdarah dan membuat Ambar menjadi panik.


“Ya ampun, Sintia.”


Ambar pun segera membawa Sintia menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisi Sintia saat ini. Ambar khawatir sekali kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada anak yang tengah dikandung oleh Sintia.


“Semoga saja dia dan anaknya baik-baik saja.”


****

__ADS_1


Ambar menelpon Sakti dan mengabarkan bahwa ia telah tidak sengaja melakukan hal yang tidak baik pada Sintia dan kini ia tengah berada di rumah sakit menunggui Sintia. Sakti mengatakan bahwa dirinya akan segera datang ke sana dan meminta Ambar untuk jangan panik dulu. Ketika Sakti datang nampak Ambar masih berdiri gelisah di depan ruang di mana Sintia yang tengah ditangani oleh tim dokter.


“Apa yang terjadi pada Sintia, Ambar?”


Maka Ambar pun menceritakan semuanya pada suaminya tanpa menyembunyikan apa pun, Ambar merasa bersalah karena sudah berbuat hal yang tidak baik pada Sintia namun Sakti mengatakan bahwa semua ini bukanlah salah Ambar.


“Tolong kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, Ambar.”


“Tidak Sakti, semua ini adalah salahku. Andai saja aku tidak mendorongnya maka semua ini tak akan terjadi, aku takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada anak yang tengah dikandung olehnya.”


Tidak lama kemudian dokter keluar dari dalam ruangan dan Ambar serta Sakti pun segera menghampiri dokter tersebut untuk bertanya mengenai kondisi Sintia saat ini.


“Bagaimana kondisi Sintia, dokter? Apakah dia baik-baik saja?”


“Kondisi ibunya baik-baik saja namun saya memiliki kabar yang tidak enak, anak yang tengah dikandung olehnya tidak dapat kami selamatkan.”


****


Sintia perlahan mengerjapkan kedua matanya dan yang pertama kali ia lihat ketika sadar adalah sosok Valdo. Sintia pun kemudian menanyakan kenapa dirinya ada di sini namun Valdo tak menjawab pertanyaannya.


“Valdo, kamu….”


“Sekarang aku sudah tidak perlu menunggu sampai anak itu lahir untuk menceraikanmu.”


“Apa maksudmu? Ini adalah anakmu, Valdo.”


Sintia merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia memegangi perutnya, ia nampak panik ketika tahu bahwa perutnya tidak lagi membesar dan ia bertanya pada Valdo apa yang sebenarnya terjadi.


“Dokter mengatakan bahwa anak yang kamu kandung sudah tidak dapat diselamatkan dan oleh sebab itu mereka mengambilnya.”

__ADS_1


Sintia nampak menggelengkan kepala dan histeris saat tahu anak yang dikandungnya sudah meninggal dunia, Ambar yang melihat dari luar ruangan inap nampak bersedih hati dan menyesali perbuatannya.


“Aku minta maaf, Sintia.”


__ADS_2