Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Ketika Aku Berubah Pikiran


__ADS_3

Sakti bukannya tidak menyukai apa yang mamanya lakukan untuk membantunya dalam perjuangan mendapatkan cinta dari Ambar namun Sakti hanya khawatir kalau mamanya ikut campur seperti ini maka Ambar akan merasa


terbebani. Kelak walaupun Ambar menerimanya sebagai suaminya namun Sakti tentu saja tidak akan senang karena Ambar pasti melakukan semua itu hanya karena terpaksa.


“Aku hargai kepedulian Mama padaku, akan tetapi tolong biarkan aku berjuang sendiri.”


Ariyani tentu saja sedih dengan ucapan Sakti barusan namun ia dapat memahami kenapa Sakti mengatakan hal tersebut, Ariyani mengatakan kalau Sakti membutuhkan apa pun jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan darinya.


“Kamu mengerti itu kan, Nak?”


“Iya Ma, terima kasih banyak.”


Setelah itu pun Ariyani pergi dari apartemen Sakti, Sakti sendiri menghela napasnya panjang. Ia bersyukur karena mamanya sama sekali tidak menentang keputusannya untuk jatuh cinta pada Ambar dan kini tugasnya adalah meyakinkan Ambar bahwa dirinya layak untuk menjadi suami wanita itu walaupun pasti membutuhkan waktu yang sangat lama namun Sakti tidak akan menyerah untuk memperjuangkan cintanya.


“Baiklah, aku yakin bahwa suatu saat nanti Ambar pasti akan menjadi milikku.”


Keesokan harinya Sakti menemui Ambar di toko, tentu saja Ambar terkejut dengan kedatangan Sakti itu dan kemudian Sakti pun mengatakan meminta maaf pada Ambar kalau mamanya datang ke rumah dan meminta


ibunya untuk menjodohkan mereka, Ambar sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan itu.


“Ambar, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”


“Apa yang hendak kamu tanyakan padaku?”


“Apakah kamu akan membuka hatimu lagi untuk orang lain?”


“Soal itu, aku belum dapat menjawabnya, aku minta maaf.”


Sakti menghela napasnya namun ia berusaha untuk tersenyum di depan Ambar, tentu saja sikap Sakti yang seperti ini membuat Ambar menjadi tidak enak, Sakti sudah membantu dirinya dan keluarga banyak sekali dan saat Sakti ingin menuntut apa yang seharusnya dia dapatkan justru Ambar malah tidak dapat melakukannya.


“Aku minta maaf, Sakti.”


“Kamu tak perlu meminta maaf padaku, Ambar.”


****

__ADS_1


Sintia benar-benar dibuat gila di dalam penjara ini hingga akhirnya seseorang datang untuk menjenguknya. Awalnya Sintia tidak mau menemui orang itu yang ia pikir adalah Valdo namun akhirnya karena dipaksa oleh


petugas maka Sintia pun mau menemui orang yang datang dan tentu saja orang yang datang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Helga.


“Mau apa Tante datang ke sini?”


“Jadi kamu tidak suka kalau aku datang ke sini? Padahal aku datang ke sini untuk membicarakan hal yang baik padamu.”


Sontak saja ucapan Helga barusan membuat Sintia penasaran, ia meminta Helga untuk mengatakan apa yang sebenarnya ingin Helga bicarakan dengannya.


“Kamu pasti ingin bebas dari tempat ini kan?”


“Tentu saja Tante, aku sangat ingin sekali bebas dari tempat ini.”


“Kalau begitu aku dapat membebaskanmu dari sini namun tentu saja ada syarat yang perlu kamu setujui kalau kamu mau bebas dari tempat ini.”


“Apa pun akan saya lakukan demi bebas dari tempat ini, Tante.”


Helga nampak menyeringai dengan ucapan Sintia barusan, ia sudah menduga bahwa pancingannya akan dengan mudah membuat Sintia menjadi tertarik. Helga pun mengatakan bahwa ia bersedia untuk membuat Sintia keluar


****


Sintia dapat menghirup udara kebebasan setelah melakukan perjanjian dengan Helga, tentu saja Sintia bahagia karena sebelum persidangan pra peradilan dirinya telah dibebaskan. Sintia sama sekali tidak menolak permintaan Helga karena memang ia menaruh dendam pada Ambar, ia bersumpah akan menghancurkan wanita itu karena Sintia yakin bahwa semua dalang di balik kehancuran hidup yang ia alami karena wanita itu.


“Ambar, kamu lihat dan tunggu saja, aku akan membuat kamu membayar semua yang telah kamu lakukan selama ini padaku.”


Namun tentu saja sebelum menghancurkan Ambar dan melakukan misinya, Sintia ingin membuat kejutan dengan datang menemui Regan, ia sudah tidak sabar untuk menemui pria yang ia cintai itu di kantor. Ketika tiba di kantor tentu saja Sintia ditolak masuk ke dalam karena memang Sintia sama sekali tidak memiliki kepentingan di sini.


“Berani sekali kamu menghalangiku untuk masuk ke sini, apakah kamu tahu bahwa sebentar lagi aku akan menikah dengan CEO di kantor ini?”


“Kamu jangan sembarangan bicara, pak Regan sudah menikah beberapa hari yang lalu.”


“Apa maksudmu?”


“Ini, lihatlah,” ujar satpam itu memperlihatkan foto Regan dan Sandrina yang telah menikah dan membuat Sintia histeris, ia masih menyangkal dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


“Tidak mungkin, semua ini tidak mungkin terjadi!”


****


Regan baru saja tiba di kantor, ia tidak mau berbulan madu lama-lama dengan Sandrina karena ia masih memiliki banyak pekerjaan di kantor. Baru saja pulang setelah membawa kesepakatan dengan investor asal Singapura mengenai proyek yang tengah perusahaan kerjakan justru Regan malah dikejutkan oleh kemunculan Sintia, Regan berpikir bahwa sebelumnya Sintia masih dipenjara namun kenapa wanita itu malah sudah ada di kantornya?


“Mas Regan.”


Sintia sontak saja berlari menghampiri Regan dan menanyakan apakah Regan sudah menikah dengan Sandrina dan tentu saja Regan mengatakan dengan tegas bahwa ia dan Sandrina sudah menikah, Regan sendiri


menunjukan cincin kawin yang ada di jarinya yang membuat Sintia semakin histeris dan tak dapat menerima semua ini.


“Tidak mungkin, katakan kalau semua ini hanya bercanda, tidak mungkin kalau Mas Regan sudah menikah dengan wanita lain.”


Sintia nampak hilang kendali dan mencengkram kerah kemeja yang dikenakan oleh Regan dan sontak saja pengawal dan satpam Regan mendorong wanita itu hingga Sintia terjatuh ke lantai.


“Bawa wanita tidak waras ini dari kantor, jangan pernah biarkan dia menginjakan kaki di tempat ini lagi,” ujar Regan dengan angkuhnya dan berjalan memasuki gedung kantor.


Sintia nampak tak percaya bahwa dirinya diperlakukan seperti ini oleh Regan, tidak lama kemudian satpam menarik Sintia untuk keluar dari area kantor bahkan dirinya didorong hingga jatuh ke trotoar yang ada di depan kantor.


“Jangan pernah kembali lagi ke sini dasar wanita tidak waras!”


****


Ambar sedang sendirian di toko memikirkan apa yang Sakti katakan padanya tadi siang, ia masih bingung dengan keputusan apa yang harus ia ambil saat ini. Sakti sudah sangat banyak membantunya dan keluarga dan rasanya Ambar terlalu jahat kalau sampai tidak mau membalas kebaikan pria itu.


“Tapi bukan artinya aku dapat menikah dengannya, aku dan mas Regan belum lama berpisah, lagi pula aku tidak mencintai Sakti. Kalau aku melakukannya sama saja aku menyakiti kami berdua, Sakti adalah orang yang


baik dan tidak mungkin aku sanggup melakukan hal buruk seperti itu padanya.”


Ambar menghela napasnya panjang hingga akhirnya pintu toko terbuka dan menampakan seseorang yang tengah menatapnya tajam di sana, Ambar pun terkejut dengan sosok yang berdiri di sana.


“Kenapa kamu bisa ada di sini?”


“Kamu harus mati sekarang, Ambar! Semua ini adalah salahmu!”

__ADS_1


__ADS_2