
Sakti pergi menemui Regan di kantornya karena ia yakin bahwa mantan suami Ambar itu mengetahui sesuatu hal yang tak ia ketahui namun sayangnya justru saat ia datang ke sana justru dirinya tidak diizinkan untuk menemui Regan karena satpam menganggap bahwa Sakti tidak memiliki kepentingan apa pun di kantor ini. Sakti tentu saja tak menyerah begitu saja hingga ia tetap gigih untuk dapat diizinkan masuk ke dalam kantor ini dan menemui Regan. Nasib baik agaknya berpihak pada Sakti karena ketika Sakti frustasi ia bertemu dengan Fadi yang baru saja tiba di kantor. Pria itu bertanya apa yang Sakti lakukan di sini.
"Kamu suaminya Ambar kan?"
"Iya, saya memang suaminya Ambar."
Fadi kemudian menanyakan apa maksud dan tujuan Sakti datang ke kantor ini. Sakti mengatakan bahwa alasannya datang ke sini untuk bertemu dengan Regan yang mana tentu saja hal tersebut membuat Fadi penasaran kenapa Sakti ingin menemui anaknya. Ketika Sakti mendapatkan pertanyaan itu ia menjawab bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Regan.
"Kalau begitu ikutlah denganku "
Fadi menggiring Sakti untui masuk ke dalam kantor bersama dengannya karena ia tahu Sakti datang ke sini untuk mengatakan sesuatu hal yang penting dan oleh sebab itu ia harus mengetahuinya. Kini Sakti hanya diam dan mengekori langkah Fadi menuju ruangan kerja Fadi dan di sana barulah Fadi mendesak Sakti untuk mengatakan semuanya padanya.
"Sekarang juga jelaskan padaku mengenai apa maksud dan tujuanmu datang ke sini."
Awalnya Sakti tak mau mengatakan apa pun pada Fadi namun akhirnya Sakti mengatakan alasan kenapa ia mau datang ke sini untuk menemui Regan.
"Alasan saya datang ke sini tidak lain dan tidak bukan tentu saja untuk menanyakan secara langsung pada anak anda. Apakah dia tahu sesuatu mengenai keberadaan Ambar."
"Tunggu dulu kenapa kamu menanyakan Ambar padaku? Bukannya kamu selalu bersama Ambar?"
Sakti menggelengkan kepalanya bahwa ia sama sekali tak tahu di mana Ambar berada dan ia meminta Fadi untuk mengatakan sesuatu kalau memang Fadi mengetahui sesuatu.
****
Fadi nampak diam dan memerhatikan ekspresi Sakti saat ini. Ia ingin mencari tahu apakah Sakti saat ini tengah berdusta atau tidak. Akan tetapi setelah melihat ekspresi Sakti yang jujur maka akhirnya Fadi pun percaya dengan yang Sakti katakan. Fadi memberitahukan di mana Ambar berada pada Sakti karena ia merasa kasihan pada pria itu.
"Terima kasih karena anda telah membantu saya."
Fadi menganggukan kepalanya dan Sakti tentu saja langsung pamit. Ia tak mau membuang waktu dan segera pergi dari sini namun baru saja ia membuka pintu nampak Regan berdiri di sana. Regan dan Sakti terkejut, Regan bertanya pada Sakti apa yang dilakukan oleh pria ini di sini.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Sepertinya kamu tak perlu tahu akan hal itu."
Jawaban Sakti tentu saja membuat Regan kesal bukan main dan Regan mendesak supaya Sakti mau membicarakan apa yang tadi Sakti dan papanya bicarakan barusan.
"Jangan memancing amarahku! Katakan sekarang juga!"
"Biarkan dia pergi, Regan!"
Regan nampak terkejut dengan ucapan papanya barusan ia tak menyangka kalau papanya justru malah membela Sakti.
"Kamu mendengarnya kan? Papamu memerintahkan apa?"
Akhirnya Regan tak dapat berkutik lagi dan memilih untuk mengalah karena tak mau membuat papanya marah.
****
"Memangnya kalau kalian pergi, maka kalian akan pergi ke mana?"
Ambar tak dapat menjawab pertanyaan dari pria tua genit ini hingga membuat pria ini menyeringai puas karena yakin bahwa Ambar tak akan bisa mengelak lagi darinya.
"Ambar aku di sini ingin membantumu dan sama sekali tidak memiliki niatan buruk padamu. Kenapa kamu tak dapat merasakan itu?"
Ambar nampak tertawa mendengar ucapan pria itu. Ambar mengatakan bahwa ia tidak dapat bersikap baik pada pria ini karena ia memiliki niatan yang tak baik. Lagi-lagi pria itu tertawa mendengar jawaban dari Ambar barusan karena itu Ambar menjadi muak.
"Memangnya kamu mengetahui apa yang menjadi keinginanku?"
"Tentu saja karena anda ingin saya namun saya tak akan mau dengan anda."
__ADS_1
Pria itu nampak tertawa keras mendengar jawaban Ambar barusan hingga akhirnya pria itu mengatakan bahwa Ambar tak memiliki pilihan yang lain.
"Sayangnya kamu tak memiliki pilihan Ambar. Kamu harus mau menjadi istriku!"
****
Regan tak habis pikir dengan pola pikir papanya yang mau saja memberitahu pada Sakti di mana Ambar berada. Oleh sebab itu maka Sakti pun mengadukan hal ini pada Helga. Helga yang mendapatkan aduan dari Sakti tersebut pun akhirnya langsung melakukan konfrontasi dengan Fadi ketika sang suami baru saja tiba di rumah namun tentu saja ia tak langsung bicara ke pokok permasalahannya. Fadi yang telah terlanjur menaruh curiga pada sang istri kemudian bertanya pada Helga.
"Aku tahu bahwa ada sesuatu yang kamu sedang ingin katakan padaku kan. Lebih baik segera katakan sekarang juga."
Helga nampak menghela napasnya panjang dan kemudian karena suaminya itu sudah terlanjur tahu mengenai maksud dan tujuannya maka sekalian saja Helga langsung bicara pada sang suami mengenai aduan Regan.
"Baiklah kalau memang kamu ingin tahu, ada seseorang yang menceritakan padaku bahwa kamu bertemu dengan Sakti tadi di kantor dan kamu serta pria itu membicarakan soal Ambar. Apakah aku benar soal ini?"
Fadi nampak diam tak dapat mengatakan apa pun ketika Helga menanyakan hal tersebut padanya. Helga yang melihat gelagat aneh suaminya ini pun kemudian kembali mendesak supaya Fadi jujur padanya.
"Katakan padaku yang sebenarnya dan jangan coba untuk berdusta."
"Baiklah kalau memang kamu ingin tahu maka aku akan memberitahukannya."
****
Ambar dan keluarganya memutuskan untuk tetap pergi dari sini karena ia benar-benar tidak dapat lagi menahan diri dengan berbagai pelecehan yang dialami olehnya karena perbuatan pria tua genit ini.
"Jadi bagaimana keputusanmu, Ambar?"
"Saya memutuskan untuk tetap pergi dari sini."
"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu ini Ambar? Apakah kamu yakin akan mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan lagi padahal di sini kamu telah mendapatkan semuanya."
__ADS_1
"Saya yakin sekali. Terima kasih atas kebaikan anda selama ini."
Pria genit ini nampak tidak senang dengan keputusan yang dibuat oleh Ambar ini, ia masih mencoba untuk mengubah keputusan Ambar ini namun sayangnya ia tak berhasil dalam melakukan itu.